NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Hutan Fitnah

Langit di atas Desa Sunyi mendadak berubah menjadi abu-abu pekat, seolah-olah tinta hitam tumpah di atas hamparan Terra yang jujur. Hujan turun tanpa peringatan, menghantam dedaunan jati dengan suara gemuruh yang menulikan. Arkananta berdiri di ambang pintu belakang, menatap jalur setapak yang menghilang masuk ke dalam rapatnya vegetasi hutan. Jas hitamnya kini tersampir di bahu, menutupi kemeja putihnya yang mulai lembap oleh uap air.

"Akses utama telah diblokade oleh unit berat instruksi Kireina, Nayara. Mereka sedang melakukan instalasi perimeter untuk mobilisasi buldoser fajar besok," ucap Arkan, suaranya terdengar berat, bersaing dengan deru air.

Nayara mendekat, membenahi letak sapu tangan kusam di saku Arkan. "Dan satu-satunya jalur penetrasi menuju panti sebelum isolasi total adalah menembus vegetasi ini? Apakah sistem fisik Anda mampu mentoleransi ini, Arkan? Saya mendeteksi inflamasi pada sendi Anda akibat suhu ekstrem semalam."

Arkan menoleh, menatap mata abu-abu istrinya yang mencerminkan kecemasan sekaligus keteguhan. Ia bisa merasakan denyut di gusi bawahnya—sisa dari beban frekuensi suara yang ia serap dari Nayara saat kunjungan Kireina tadi. "Integritas panti itu memiliki valuasi lebih tinggi daripada rasa sakit di struktur tulangku. Inisiasi keberangkatan sekarang."

Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan hijau. Bau tanah basah yang menyengat segera menyerbu indra penciuman mereka, bau yang sangat dikenal Nayara sebagai aroma masa kecilnya, namun bagi Arkan, ini adalah bau medan perang yang baru. Setiap langkah sepatu kulit mahalnya kini tenggelam ke dalam lumpur cair yang liat, menghapus kilap yang melambangkan status kasta tingginya di High Tower.

"Arkan, di atas sana... terdeteksi pendaran merah," Nayara mendongak, matanya yang memiliki Truth Eye menangkap pendaran cahaya merah kecil yang bergerak di sela-sela ranting pohon tinggi.

"Visual terkonfirmasi. Drone pengintai unit taktis Erlangga," bisik Arkan tanpa menghentikan langkah. Ia menarik Nayara lebih dekat, melindunginya dengan jas hitam yang ia bentangkan sebagai perisai dari air hujan. "Mereka sedang melakukan dokumentasi untuk memicu narasi publik. Tujuannya adalah memperlihatkan pewaris Empire Group terdegradasi di medan lumpur demi subjek panti."

"Jika pergerakan kita terpantau, mengapa kita tidak melakukan manuver sembunyi? Mengapa tetap menggunakan jalur dalam jangkauan radar mereka?" tanya Nayara, napasnya mulai berat akibat udara yang semakin tipis di bawah rimbunnya pohon.

"Karena penghindaran akan dikonstruksi sebagai tindakan asusila di area isolasi. Kita harus mempertahankan postur tegak, Nayara. Biarkan lensa itu mencatat bahwa anomali cuaca dan lumpur ini tidak memiliki daya untuk merusak integritas kita," Arkan mencengkeram dahan berduri dengan tangan kosong untuk membuka jalan, mengabaikan rasa perih saat duri itu menggores telapak tangannya.

Mendadak, Arkan tersentak. Ia merasakan kulit punggungnya mendadak panas dan gatal secara intens. Ia melirik Nayara dan melihat istrinya itu merintih pelan; sebuah ranting berduri baru saja mencambuk bahu Nayara yang hanya tertutup kain tipis. Melalui resonansi Shared Scar, Arkan menarik rasa perih itu ke tubuhnya sendiri hingga napasnya tersengal.

"Pertahankan ritme langkah, Nayara. Amankan genggamanmu pada tanganku. Jangan lakukan pemutusan kontak," perintah Arkan, suaranya parau menahan sakit yang berpindah.

Tiba-tiba, sebuah suara statis pecah dari atas pohon, berasal dari pengeras suara drone yang membuntuti mereka. Itu adalah suara Kireina yang diputar secara digital, terdengar melengking dan penuh penghinaan. "Observasi yang menarik, Arkananta! Anda terlihat seperti subjek tanah yang kehilangan arah. Apakah Nyonya Besar perlu mengerahkan unit evakuasi untuk menjemput putra mahkota yang sedang melakukan simulasi domestik dengan residu panti?"

Nayara berhenti sejenak, wajahnya mengeras. Ia meremas butiran tasbih kayunya hingga retakan barunya terasa menusuk ujung jarinya. "Abaikan distorsi auditori itu, Arkan. Itu hanyalah proyeksi suara dari entitas yang kehilangan kemanusiaannya."

"Suara itu tidak masuk dalam sistem pendengaranku, Nayara. Fokusku hanya pada frekuensi napasmu," Arkan menarik Nayara melewati parit lumpur yang cukup dalam. Saat itulah, sepatu mahal Arkan terlepas, tertanam di dalam lumpur hitam yang pekat. Arkan tidak berhenti. Ia membiarkan kakinya yang hanya berkaus kaki menginjak tanah Terra yang kasar dan tajam.

"Arkan! Sepatu Anda mengalami separasi..."

"Biarkan material itu tertimbun di sini, Nayara. Saya tidak memerlukan atribut mewah untuk menempuh jalur integritas ini," ucap Arkan sambil terus menarik istrinya.

Mata batin Nayara tiba-tiba menangkap sesuatu di depan sana, di balik semak belukar yang rimbun. Sebuah benda logam mengilat terpancang di tanah, terlihat asing di tengah hutan alami itu. "Arkan, deteksi visual di depan! Ada anomali logam!"

Arkan mendekati patok itu dan membersihkan lumpur yang menutupi permukaannya. Di sana terukir logo Empire Business dengan kode registrasi pertambangan. Rahangnya mengeras hingga otot pipinya berkedut hebat.

"Variabel tersembunyi ditemukan... likuidasi panti bukan sekadar isu citra atau sentimen personal ibu saya. Ada deposit mineral berharga di bawah fondasi 'Cahaya Sauh'. Mereka berencana menghapus memorimu demi ekspansi margin keuntungan," geram Arkan.

"Analisis yang akurat, Arkan," suara dari drone itu kembali terdengar, kali ini diikuti oleh tawa yang dingin. "Struktur panti itu berdiri di atas valuasi aset yang melampaui nyawa penghuninya. Opsi Anda sederhana: evakuasi jalur buldoser, atau terkubur bersama data Unit Nol."

Nayara menatap patok itu dengan kebencian yang mendalam. "Mereka tidak akan menyentuh satu unit bata pun selama detak jantung saya masih terdeteksi."

Hujan semakin menderu, mengubah jalan setapak menjadi aliran sungai lumpur yang licin dan berbahaya. Arkananta mencengkeram patok besi berlogo Empire Business itu hingga buku jarinya memutih, seolah-olah ia sedang mencekik leher sistem yang mencoba menghancurkan masa lalu Nayara. Di atas mereka, drone pengintai masih berputar-putar, suaranya yang berdengung seperti lalat raksasa yang mengerubungi bangkai.

"Arkan, perhatikan kaki Anda! Ada indikasi perdarahan aktif di antara lumpur itu!" seru Nayara dengan nada panik. Ia berlutut di tanah yang basah, mengabaikan gaunnya yang kini sudah berubah warna menjadi cokelat gelap.

Arkan melirik ke bawah, ke arah kakinya yang tanpa sepatu. Sebuah akar jati yang tajam baru saja merobek kaus kakinya, meninggalkan luka sayat yang dalam. "Luka ini merupakan bentuk inisiasi Terra bagi mereka yang terlalu lama terisolasi di lantai kaca High Tower."

"Jangan melakukan supresi terhadap rasa sakit. Saya memiliki akses terhadap rasa perih itu, Arkan!" Nayara meraih sapu tangan kusam dari saku Arkan dan dengan gemetar mencoba membalut luka itu. "Setiap tekanan pada langkah Anda memicu nyeri di ulu hati saya. Shared Scar ini memberikan data yang jujur."

Arkan menarik napas manual yang berat, mencoba menstabilkan resonansi di antara mereka. Ia membelai kepala Nayara yang basah kuyup. "Jika demikian, jadilah pilar kekuatanku. Ambil posisi tegak, Nayara. Kita tidak boleh memperlihatkan degradasi di depan lensa mereka."

"Dokumentasi yang sangat dramatis," suara Erlangga kini muncul dari pengeras suara drone, penuh dengan sarkasme yang memuakkan. "Pewaris takhta bersimbah darah di kaki seorang yatim. Visual ini akan menjadi berita utama besok: 'Kehancuran Arkananta demi Obsesi Irasional'. Anda sedang menghancurkan masa depan politik Anda secara sistematis, Arkan."

Arkan mendongak, menatap langsung ke arah lensa kamera drone itu dengan tatapan yang begitu dingin hingga seolah mampu membekukan sirkuit elektronik di dalamnya. "Erlangga, sampaikan pesan ini pada Nyonya Besar. Jika dia menginginkan lahan ini, dia harus melakukan terminasi padaku di bawah fondasinya. Martabatku tidak berada pada kursi High Tower, melainkan pada janji proteksi yang kubuat untuk wanita ini."

"Arkan, durasi kita terbatas. Mari kita lanjutkan penetrasi. Saya mendeteksi aroma asap kayu bakar... koordinat gerbang belakang panti sudah dekat," bisik Nayara sambil membantu Arkan berdiri tegak.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih berat. Setiap tarikan napas Arkan kini terasa seperti bara api di paru-parunya, sebuah kompensasi karena ia terus-menerus menarik rasa lelah dan mual Nayara ke dalam tubuhnya sendiri. Hutan jati itu seolah menjadi labirin tanpa akhir, namun bau asap kayu bakar yang khas dari dapur Panti Asuhan "Cahaya Sauh" menjadi navigasi spiritual yang tak terlihat.

Mendadak, sebuah provokasi fisik terjadi. Drone itu menukik rendah, sengaja menyambar ranting-ranting di atas kepala mereka hingga guguran air dan dahan mati jatuh menimpa bahu Nayara. Arkan dengan sigap memeluk Nayara, menggunakan punggungnya sendiri untuk menahan hantaman dahan tersebut.

KREK!

Tasbih kayu di tangan Nayara berbunyi nyaring. Satu butir kayunya pecah akibat tekanan pegangan Nayara yang terlalu kuat saat melihat Arkan meringis kesakitan. "Cukup! Hentikan agresi ini!" teriak Nayara ke arah langit.

"Abaikan, Nayara. Jangan berikan mereka validasi dengan air mata," Arkan berbisik di telinga istrinya, suaranya parau. "Terapkan Silent Dignity. Ingat protokol itu."

Akhirnya, rimbunnya pohon jati itu terbuka, menampakkan dinding bata merah tua yang kokoh namun kusam. Panti Asuhan "Cahaya Sauh" berdiri di sana, seperti benteng terakhir kemanusiaan di tengah kepungan konspirasi. Di depan gerbang kayu, terlihat Mang Asep yang berdiri siaga dengan sebuah obor yang apinya menari-nari ditiup angin, seolah sudah menunggu kedatangan mereka.

"Tuan Arkan! Non Nayara!" seru Mang Asep, suaranya bergetar melihat kondisi mereka yang memprihatinkan.

Arkan melepaskan rangkulannya pada Nayara setelah mereka berada di bawah naungan atap teras panti yang bocor di beberapa titik. Ia menoleh ke arah hutan, di mana drone pengintai itu kini terbang menjauh, tugasnya untuk mengambil gambar "kehancuran" mereka telah selesai.

"Mang Asep, aktivasi protokol penguncian total. Jangan izinkan entitas luar masuk sebelum saya melakukan koordinasi dengan Ibu Fatimah," perintah Arkan sambil menyandarkan tubuhnya ke pilar bata merah.

Nayara menatap sapu tangannya yang kini merah tertutup darah Arkan dan hitam terkena lumpur. Ia memandang panti asuhan itu, lalu memandang suaminya yang berdiri tanpa sepatu namun dengan kepala yang tetap mendongak tegak. "Mereka mendapatkan visual yang mereka inginkan, Arkan. Besok kita akan menjadi subjek ejekan di Astinapura."

"Biarkan mereka melakukan perayaan hari ini, Nayara. Karena dokumentasi ini akan menjadi bukti otentik bahwa saya adalah satu-satunya orang yang berani berpijak di tanah demi melindungi kebenaran," Arkan menggenggam tangan Nayara yang dingin. "Darah dan lumpur ini... adalah medali integritas kita yang sesungguhnya."

Di dalam panti, sayup-sayup terdengar suara anak-anak yang sedang mengaji, sebuah kontras yang tajam dengan kebisingan teknologi yang baru saja mengejar mereka. Di balik dinding bata merah ini, Arkan dan Nayara menyadari bahwa perang mereka bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal mempertahankan setiap jengkal memori yang coba dihapus oleh kekuasaan.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!