Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bertemu Kembali
Di malam hari setelah makan siang Aruna masuk ke dalam ruangnya, dia makin puas melihat kabut yang makin jauh dari pandangannya, begitupun dengan barang-barang yang ada di setiap lantai juga hampir semuanya tak berwarna abu lagi.
Aruna berjalan-jalan di ladang obat, dan benar saja tanaman obat yang digunakan Tuan Muda Yi tumbuh dengan subur, bukan Tidak ingin membantu mengobatinya, tapi penyakit itu bukan cuman dengan Akupuntur, dia harus mandi dengan rendaman obat yang harus dilakukan dua kali seminggu.
Jika dia memulai mengobatinya hari itu, maka perjalanan mereka akan lebih lama untuk tiba di Ibu Kota, Tuan Muda Yi juga tidak dalam kondisi kritis, jika mereka ditakdirkan untuk bertemu pasti mereka akan dipertemukan. Aruna juga melarang Tabib Gu untuk memberikan secarik kertas yang berisikan bahan obat-obatan. Karena dia merasa aneh, karena jika seseorang terkena racun itu mereka tidak akan merasa sakit, mungkin ada penyakit lain yang bersarang di tubuhnya.
Setelah puas berjalan-jalan, Aruna menuju kamarnya dan segera mandi, lalu tidur dengan menggunakan piyama sehingga tidurnya makin nyenyak.
Setelah puas tidur Aruna keluar dari ruangnya setelah mencuci muka. Karena perbedaan waktu yang berbeda, di luar baru saja menunjukkan pukul 1 dini hari.
Aruna keluar dari tenda dan melihat beberapa orang tua dan anak muda yang sedang berjaga malam, dia juga melihat ada satu tenda yang tidak jauh dari tenda mereka.
"Paman sejak kapan tenda itu ada di sana?" tanya Aruna kepada Paman Ji Min.
"Oh itu sekitar dua jam yang lalu, ada apa? Apakah mereka berbahaya?" Dia beranjak dari duduknya dan langsung mengambil pedangnya.
"Eh tidak, tidak. Aku hanya bertanya, mereka juga tidak berbahaya," Aruna merasakan Aura yang dikenalnya, dan hanya ada satu orang yang memiliki aura seperti itu.
"Haah, syukurlah!" Paman Jimin menyimpan kembali pedangnya.
"Paman aku pergi ke sana untuk menyapa!" Aruna ingin menanyakan perkembangan penyelidikan mereka.
Paman Jimin terkejut mendengarnya, kemudian bertanya. "Apakah tidak bahaya? Bagaimana kalau kamu ke sana besok pagi saja?"
Aruna mengerti maksud dari ucapan Paman Jimin, mau bagaimanapun dia seorang gadis, tidak pantas menghampiri seorang pria di tengah malam, di zaman itu reputasi seorang wanita sangat dijaga, ada celah sedikit saja meraka tidak akan bisa hidup dengan tenang, dan jika reputasi sudah hancur sangat sulit untuk menikah.
"Paman kamu tenang saja, tidak akan terjadi apapun!"
"Em baiklah, tapi kamu harus tetap berhati-hati."
"Ya"
Aruna segera pergi menghampiri pria yang sedang duduk di samping tenda, Orang itu tak lain pria bertopeng yang dia temui di hutan.
Pria bertopeng juga sudah melihat Aruna saat keluar dari tenda, walau posisi mereka sedikit berjauhan dia masih bisa melihat wajah Aruna, terlihat sangat menggemaskan dengan muka bantalnya.
Setelah pertemuan mereka pertama kali, dia selalu memikirkan Aruna yang membuat jantungnya berdebar-debar. Dia berharap untuk bertemu Aruna lagi, tak di sangka setelah meninggalkan Kota Qingle mereka benar-benar bertemu di tengah jalan.
Dia meminta kedua rekannya untuk membuat tenda tidak jauh dari perkemahan Desa Suning, dia bisa mengetahuinya hanya dengan melihat gerbong kereta mereka.
Kedua rekan itu adalah wakilnya sekaligus pengawal pribadinya, ke kuatannya lebih rendah dua tingkat darinya. Keduanya bingung dengan tingkah aneh yang terjadi pada Tuan mereka, apalagi kali ini mereka diminta untuk membuat tenda, suatu hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, jikapun terpaksa untuk menginap di tengah jalan mereka hanya akan tidur di bawah atau dia atas pohon.
Melihat Aruna yang jalan mendekat kearahnya, membuat jantungnya makin berdebar, wajah putihnya yang ada dibalik topeng sudah memerah sampai ketelinga.
"Hai Tuan bertopeng, kita bertemu lagi" Aruna menyapanya setelah sampai di sampingnya, dan duduk di atas batu didekat apa unggun.
Pria bertopeng menghela nafas panjang, dan menangkan perasaan aneh yang dia rasakan. "Ya. Nona, apakah Anda butuh sesuatu?" dia tidak tau harus membahas apa, jadi dia langsung bertanya tujuan Aruna datang menghampirinya di tengah malam.
"Tidak, saya hanya ingin tau perkembangan penyelidikan kalian. Apakah orang-orang itu ingin membuka mulut?" Orang yang dimaksud Aruna para penguntit yang mereka kalahkan di dalam hutan.
Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab. "Kami belum sempat, mereka keburu bunuh diri!" suaranya terdengar sedikit menyesal, padahal mereka akhirnya menemukan orang-orang mereka.
Aruna tak menyangka orang-orang itu rela mati hanya untuk tutup mulut, tapi begitulah jika seseorang sudah sangat setia dengan majikan mereka, maka nyawa pun diberikan begitu saja.
"Hmm, mungkin saat ini mereka tidak akan menampakkan diri, setelah mengetahui banyak dari mereka yang telah musnah." Aruna sudah membantai dua cabang mereka tanpa jejak, mungkin saat ini orang besar yang ada dibaliknya sedang gelisah dan was-was.
"Ya, makanya saya dipanggil kembali ke Ibu Kota untuk melapor!"
Aruna terdiam, jika dia yang turun tangan maka masalah penculikan itu akan dia temukan sampai ke akar-akarnya dalam waktu singkat. Tapi dia tidak ingin ikut campur terlalu jauh, masih banyak hal yang dia harus lakukan saat tiba di tempat tujuan.
Melihat Aruna melamun, dia mengingatkan "Nona, cuaca sangat dingin, kenapa tidak kembali ke dalam tenda?" Dia juga baru sadar Aruna menggerai rambut panjangnya tanpa hiasan, benar-benar sangat alami. Dia juga sangat suka aroma harum yang tercium, dia berpikir itu aroma itu berasal dari kantong wewangian.
"Hmm, mantelku sudah cukup tebal." ucapnya santai, sambil menatap bintang yang bertebaran di langit, hal yang tidak bisa dilihat di Zamannya.
Keduanya terdiam, tapi pikiran mereka memikirkan banyak hal. Tiba-tiba aruna melihat tongkol jagung di dekat api, dia mengingatkan jagung yang tumbuh subur di dalam ruangnya, dan ternyata dia belum pernah mengambilnya untuk dibakar, selama ini dia hanya memakannya saat dia buat masak sayur.
"Nona, bolehkah saya tau Nama Anda?" Dia memberanikan diri untuk bertanya setelah berperang batin antara bertanya atau tidak. Inilah pengalaman pertamanya berdeketan dengan seorang wanita muda.
Aruna menepuk jidatnya, mereka sudah bertemu dua kali dan mengobrol panjang lebar tapi belum memperkenalkan diri, pantas saja selama dia berbicara dia merasa sangat kaku, ternyata itulah penyebabnya.
"Panggil aku Aruna!" dia memang tidak terlalu suka berbica formal.
"Aruna! Nama yang unik!" Dia merasa nama Aruna berbeda dari yang lainnya. "Namaku Yuan Zhi!"
"Yuan Zhi!" Aruna merasa namanya sedikit ribet untuk disebut, apalagi dia sudah terbiasa memanggil nama warga Desa Suning yang sangat mudah. Nama orang Kota dan orang Desa benar-benar berbeda pikirnya.
"Kenapa?" tanyanya dengan bingung melihat Aruna terdiam sambil mengerut. Apakah namanya semenakutkan itu? Oh dia hampir lupa, jika namanya sudah terkenal dimana-mana. Hanya mendengarnya saja orang-orang akan beringkat dingin.
"Oh tidak kenapa! Emm bagaimana kalau aku panggil kamu A Yan?" Tanya Aruna sambil tersenyum.
Pria itu tertegun, A Yan? Panggilan itu adalah nama kecilnya, orang tua dan kerabat dekatnya memanggilnya seperti itu. Tapi setelah orang tuanya meninggal, dia tidak pernah lagi mendengar panggilan itu, karena dialah yang melarang mereka.
"Ehh kamu tidak suka ya? Kalau begitu aku akan....!"
"Baik!" dia segera memotong ucapan Aruna yang ingin mengubah kembali panggilannya. Tadi dia terdiam karena sedikit mengenang masa lalu.
Aruna senang mendengarnya, nama itu sedikit menggemaskan baginya. "Oh baiklah kalau begitu. Aku akan kembali dulu," ucapnya sambil berandaku dari duduknya, pantatnya sedikit keram duduk di atas batu.
"Hmm, baiklah!" balasnya sedikit enggan, entah kapan mereka akan bertemu lagi, mengingat tugasnya yang tak ada habisnya.
Aruna tiba-tiba mengeluarkan tiga nasi kotak dan meletakkan di atas batu. "Makanlah dengan rekanmu!" Setelah mengatakan Aruna pergi tanpa menoleh.
Yuan Zhi yang sempat tertegun kembali sadar, dia bukan terkejut karena batu penyimpanan itu, Tapi sikap Aruna yang secara terang-terangan memperlihatkannya, jika ada orang jahat yang melihat pasti mereka memburu Aruna karena serakah.
Dia mengambil nasi kotak dan membukanya, tak menyangka isinya nasi beserta lauk pauknya. Dia menelan ludah mencium aromanya yang sangat menggiurkan, tiba-tiba dia merasa lapar, sudah berapa lama dia tidak makan dengan baik.
"Keluarlah! Jangan sampai telinga kalian berjamur" Ucapnya kepada dua bawahannya yang berada di dalam tenda, dia mengatahui jika kedua orang itu sudah menguping pembicaraannya dengan Aruna.
Keduanya keluar dari tenda sambil tertawa canggung karena ketahuan menguping, "Tuan, kami tidak sengaja. Telinga kami hanya sedikit sensitif dengan suara."
"Ya Tuan, kami berani bersumpah. Kami benar-benar tidak bermaksud untuk menguping!" yang satunya juga ikut membela diri takut Tuanya menghukum mereka.
"Hmm duduklah!" Dia tidak marah, karena keduanya tidak berbohong, orang-orang yang memiliki tenaga dalam memang memiliki pendengaran yang sangat tajam, meski suara itu sangat kecil.
Keduanya duduk, tapi mata mereka sudah tertuju dengan nasi kotak yang ada di tangan Tuan mereka. Yang sedikit lebih tinggi bernama Xiao Ting, dan yang lebih pendek bernama Xiao Ding, nama itu diberikan oleh Yuan Zhi.
"Ini makanlah!" pinta Yuan Zhi sambil memberikan nasi kotak.
Keduanya mengambil kotak nasi dan memakannya setelah melihat Tuan mereka makan lebih dulu. Mata mereka terbelalak disuapan pertama, tak menyangka ada makanan seenak ini, bahkan masakan terbaik Koki Istana tidak seenak itu.
Mereka makan dengan lahap dan menghabiskannya tanpa sisa sedikitpun. Mereka baru sadar, ternyata mereka benar-benar sedang kelaparan. Setelah makan, Yuan Zhi masuk ke dalam tenda untuk Istirahat dan kedua rekannya yang berjaga. Dia berbaring dan menutup mata, dan seketika bayangan Aruna yang tersenyum muncul dalam pikirannya.
lanjut thorr💪💪💪