Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemimpin Perang
Cahaya senja merambat masuk melalui jendela tinggi, memantul lembut pada cermin besar di kamar kerajaan. Lexus berdiri di belakang Anastasia, kedua lengannya melingkar di pinggang istrinya.
Anastasia bersandar di lengan Lexus.
“Aku rindu pertarungan,” ucapnya pelan.
Lexus menarik tangannya perlahan dari pelukan istrinya. Anastasia membuka mata, kebingungan menyelinap di wajahnya.
“Ada apa, suamiku?” tanya Anastasia lembut.
Lexus menatapnya lama, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.
“Aku tidak memberimu izin untuk berperang.” kata Lexus dengan nada tak menerima bantahan.
Anastasia melangkah maju, menatap Lexus tanpa gentar.
“Tidak, suamiku.” ucap Anastasia dengan ketegasan yang tak luntur.
“Anastasia…” suara Lexus merendah. “Aku sungguh tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya. Cukup sekali kau hampir meninggalkanku.”
Anastasia menggeleng pelan. Kedua tangannya terangkat, memegang wajah Lexus dengan keyakinan yang tak meminta izin.
“Membayangkan kalian bertarung saja sudah membuat istrimu ini dalam bahaya,” katanya perlahan. “Jangan tahan aku, kumohon izinkan aku ikut berperang.”
Sorot mata Lexus melemah. Ia mengenal perempuan di hadapannya bukan hanya sebagai permaisuri, bukan hanya sebagai pejuang, tetapi sebagai belahan jiwanya. Jika Anastasia telah bersikeras, dunia pun tak sanggup membelokkannya.
Anastasia menggenggam tangan Lexus, menyatukan jemari mereka seolah mengunci takdir.
“Aku tidak bisa hidup tanpamu, Lexus. Dalam hidup dan kematian, kita akan selalu bersama. Itu sumpahku sebagai istrimu.”
“Jangan katakan itu,” bisik Lexus, menahan getar di dadanya. “Aku tidak akan membiarkanmu terluka.”
Ia menarik Anastasia ke dalam pelukannya. Pelukan dua jiwa yang telah memilih satu sama lain sejak lama. Tidak ada keraguan, tidak ada tuntutan, hanya kepercayaan yang sunyi namun tak tergoyahkan.
Lexus melepaskan pelukan istrinya. "Aku akan ke ruang pertemuan. Beristirahatlah..." katanya lembut dan penuh cinta.
Anastasia mengangguk pelan.
___
Prajurit Imperial Agartha memenuhi ruang pertemuan. Zirah prajurit berkilau di bawah cahaya obor, wajah-wajah tegang menunggu keputusan yang akan menentukan hidup dan mati ribuan jiwa.
“Berapa jumlah prajurit di perbatasan barat?” tanya Lexus.
Suaranya dingin, rendah, namun memerintah. Tidak perlu ditinggikan untuk ditaati.
Jenderal Aras melangkah maju, “Sekitar dua ribu prajurit telah berjaga di perbatasan barat, Yang Mulia.”
Lexus menatap peta di meja batu, lalu mengangkat tangan dan menunjuk dua titik strategis.
“Setengah pasukan susulan bergerak malam ini. Ke titik ini dan ini. Jangan menunggu fajar!”
“Dilaksanakan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Aras tanpa ragu.
Lexus lalu mengangkat pandangan.
“Pangeran Lian, Pangeran Leonardo, dan Pangeran Evan akan memimpin peperangan ini.”
Pangeran kembar menunduk serempak. Sikap mereka tenang, tanpa kebanggaan berlebih seolah medan perang adalah bahasa yang telah lama mereka pahami.
Namun Pangeran Evan terdiam.
Tatapan Lexus langsung mengarah padanya, tajam dan menguji.
“Ada apa, Pangeran Evan?”
Evan mengangkat wajahnya perlahan. “Selama ini mereka tinggal di hutan. Hamba hanya khawatir apakah mereka mampu memimpin perang sebesar ini.”
Beberapa prajurit menegang. Kaisar Alexius langsung berbalik.
“Pangeran Evan!” tegurnya menggelegar.
Namun Lexus tidak bereaksi. Ia tidak menegur, juga tidak membela. Ia hanya memalingkan pandangan, menunggu reaksi putra-putranya.
Rahang Pangeran Leo mengeras. Wajahnya memerah menahan bara amarah, jari-jarinya mencengkeram gagang pedang hingga uratnya menonjol.
Pangeran Lian melangkah maju dengan tenang. Tidak ada api, tidak ada emosi berlebih. Namun ketenangan, lebih berbahaya dibanding apa pun.
“Merendahkan kesatria lain sebelum peperangan dimulai,” ucapnya pelan, jelas terdengar di seluruh ruangan, “adalah tanda ketakutan yang belum disadari, Pangeran Evan.”
Ruangan membeku.
“Kepemimpinan tidak diukur dari tempat seseorang dibesarkan,” lanjut Lian, matanya lurus menatap Evan tanpa kedengkian, “melainkan dari kemampuannya bertahan ketika keputusan harus diambil di atas darah dan kematian.”
Ia menatap semua orang, seolah memberi penegasan bahwa hutan tidak melunturkan darah yang mengalir di tubuhnya.
“Jika tinggal di hutan dianggap kelemahan, maka biarlah medan perang menjadi hakimnya. Tidak ada gelar dan silsilah. Yang ada hanya siapa yang mampu berdiri sampai akhir.”
Lian mengangkat dagunya, bukan sebagai kesombongan melainkan penegasan etika.
“Saya menyarankan Pangeran Evan untuk lebih banyak membaca kitab etika prajurit. Bab tentang kepemimpinan sebelum perang. Itu pelajaran dasar.”
Keheningan menyelimuti ruang pertemuan. Para jenderal dan prajurit terdiam, sebagian menahan napas, sebagian lain menunduk kagum. Kata-kata itu tidak keras, namun menghantam lebih kuat daripada bentakan.
Wajah Kaisar Alexius memerah. Bukan karena marah pada Pangeran Lian, melainkan karena kenyataan pahit. Putra kebanggaannya mematahkan harga dirinya di hadapan semua orang.
Pangeran Leo menyeringai tipis, menambahkan dengan nada santai namun menusuk.
“Dan jangan terlalu sering melewatkan pelajaran etika, Pangeran. Pedang memang penting… tapi logika otak jauh lebih mematikan.”
Beberapa prajurit saling berpandangan, menahan reaksi. Pangeran Evan mengepalkan tangannya, kukunya menekan telapak hingga memucat. Darahnya terasa naik ke wajah… malu, marah, dan terhina karena semua prajurit istana menyaksikannya.
“Cukup.”
Suara Lexus memotong udara seperti bilah pedang yang dijatuhkan ke meja batu. Semua kepala menunduk seketika.
“Tempat ini bukan arena adu mulut,” lanjut Lexus dingin. “Ini ruang keputusan hidup dan mati. Kalian tidak perlu membuktikan apa pun di sini.”
Ia menatap ketiga pangeran satu per satu.
“Buktikan kekuatan kalian di medan perang. Jangan membuang waktu. Persiapkan diri kalian dan berangkatlah.”
“Baik, Yang Mulia.” jawab ketiganya serempak.
Mereka menunduk hormat, lalu meninggalkan ruang pertemuan dengan langkah tegas. Satu per satu mulai meninggalkan ruangan, hingga menjadi sunyi.
Alexius menarik napas panjang, lalu menoleh pada kakaknya. “Maafkan sikap Pangeran Evan, Kakak.”
Lexus tidak segera menjawab. Ia berdiri, merapikan jubahnya, lalu menatap Alexius dengan pandangan dingin.
“Seorang anak dilahirkan seperti kain putih yang tak bernoda,” katanya pelan namun tajam. “Jika anak tumbuh dengan iri hati dan kebencian di hatinya, maka cara orangtuanya mendidik yang perlu diperbaiki, Adikku.”
Lexus menunduk hormat, lalu melangkah keluar dari ruang pertemuan.
Jenderal Aras menghampiri Pangeran Lian dan Leo di depan kandang kuda kerajaan. Api obor bergetar pelan, memantulkan bayangan besi dan kulit pelana di dinding batu.
“Apakah kita sudah bisa berangkat, Pangeran?” tanyanya, menunduk hormat.
Pangeran Lian mengangguk penuh wibawa. Tatapannya tenang, suaranya mantap.
“Pastikan seluruh prajurit mengingat formasi. Tidak ada yang bergerak di luar perintah.”
“Dilaksanakan, Pangeran.” jawab Jenderal Aras tanpa ragu.
Pangeran Lian dan Leo berdiri berhadapan sejenak. Dalam diam mereka menyatukan gelang di pergelangan tangan masing-masing, gelang kembar tiga yang satu lagi kini jauh di Hutan Moonveil. Anyaman akar pohon tua buatan tangan Anastasia, bak doa sang ibunda yang selalu mengiringi langkahnya.
Keduanya menaiki kuda masing-masing. Pangeran Lian mengelus leher kudanya dengan gerakan tenang.
“Kau adalah kakiku,” ucapnya penuh wibawa, “dan aku adalah tanganmu.”
Leo menepuk sisi kudanya, senyum tipis tersungging di wajahnya.
“Mari kita berjuang bersama,” katanya singkat, penuh keyakinan.
Tali pelana ditarik, kuda-kuda mengikik pelan, lalu berpacu seirama menembus malam. Langkah mereka menyatu seperti dua denyut jantung yang telah lama selaras.
Pangeran Evan berdiri mematung. Matanya mengikuti punggung kedua pangeran itu hingga lenyap dalam gelap.
Ibunda benar,* batinnya berdesis. Pangeran Lian akan mengambil segalanya dariku.*
Bahkan Jenderal Aras, jenderal perang Imperial Agartha meminta persetujuan pada Pangeran Lian. Bukan padanya, putra mahkota Imperial Agartha.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author