Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Iblis yang Terlahir Kembali
Bab 13: Iblis yang Terlahir Kembali
Suara sirine polisi semakin mendekat, namun bagi Reihan, dunia telah menjadi sunyi senyap. Hanya ada detak jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang dan dinginnya darah ibunya yang mulai mengering di kemejanya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang memerah. Eleanor—wanita yang baru saja ia ragukan, wanita yang baru saja ia maki—mati untuk melindunginya dari pria yang selama ini ia panggil "Ayah".
Surya Atmadja berdiri gemetar, namun tangannya masih berusaha mengarahkan senapan itu kembali ke arah Reihan. "Jangan mendekat, Reihan! Aku yang membesarkanmu! Aku yang membuatmu menjadi pria terhormat!"
Reihan tertawa. Itu bukan tawa manusia; itu adalah tawa dari dasar neraka. "Pria terhormat? Kau membuatku menjadi anjing yang menjilati tangan pembunuh orang tuanya sendiri, Surya."
Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, Reihan menerjang. Ia tidak peduli pada moncong senapan itu. Surya melepaskan tembakan kedua, namun pelurunya hanya menyerempet bahu Reihan. Reihan tidak meringis. Ia justru mencengkeram leher Surya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meraih laras senapan itu dan mematahkannya dengan kekuatan yang didorong oleh adrenalin murni.
"Reihan, hentikan! Kau akan membunuhnya!" teriak Arini, namun ia sendiri tidak berani mendekat. Ia melihat sosok suaminya telah bertransformasi. Tidak ada lagi Reihan sang direktur yang rapi; yang ada hanyalah malaikat pencabut nyawa.
Reihan menghempaskan Surya ke tanah, tepat di atas gundukan tanah makam Eleanor yang masih basah. Ia menduduki dada pria tua itu dan mulai mendaratkan pukulan demi pukulan.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Ini untuk ayahku!" Bugh!
"Ini untuk ibu yang kau buang!" Bugh!
"Dan ini untuk hidupku yang kau jadikan lelucon!" Bugh!
Wajah Surya sudah tidak berbentuk lagi, darah mengalir dari hidung dan mulutnya, namun Reihan belum berhenti. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pisau lipat perak kecil yang selalu ia bawa—sebuah simbol kekuasaan.
"Kau sangat mencintai uang, kan, Surya?" bisik Reihan, suaranya kini tenang namun mematikan. Ia menekan ujung pisau itu ke telapak tangan Surya. "Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat. Itu terlalu murah. Aku akan memastikan kau hidup cukup lama untuk melihat seluruh asetmu disita, namamu dihina, dan kau membusuk di sel yang paling gelap tanpa sepeser pun rupiah untuk menyuap sipir."
Reihan kemudian berpaling ke arah Arini. Matanya masih merah, penuh kegilaan. Ia mendekati istrinya yang sedang gemetar ketakutan.
"Kau..." Reihan menarik Arini berdiri, mencengkeram lengannya begitu kuat. "Kau tahu segalanya dan kau membiarkanku hidup dalam kepalsuan ini?"
"Aku baru tahu, Reihan! Aku juga korban di sini!" tangis Arini pecah.
Reihan menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci yang mendalam dan gairah posesif yang sakit. Tiba-tiba, ia menarik Arini ke dalam ciuman yang brutal di tengah hamparan mayat ibunya dan tubuh Surya yang sekarat. Ciuman itu terasa seperti besi dan darah.
"Kita berdua sudah terkutuk, Arini," bisik Reihan setelah melepaskan tautan bibir mereka. "Mulai malam ini, tidak ada lagi cinta. Hanya ada kehancuran. Dan kau akan tetap berada di sampingku untuk melihat bagaimana aku meruntuhkan dunia yang dibangun ayahmu ini."
Bima tiba di lokasi bersama pasukan polisi tepat saat Reihan berdiri di samping tubuh Surya yang sudah tak berdaya. Polisi langsung mengepung tempat itu.
"Tangan di atas!" teriak petugas.
Reihan tidak melawan. Ia perlahan mengangkat tangannya yang berlumuran darah, namun ia masih menggenggam dokumen asli kepemilikan saham itu. Ia menatap Bima dengan senyum menghina, seolah ingin mengatakan bahwa meski Bima menyelamatkan nyawa Arini, Reihan-lah yang memenangkan jiwa wanita itu dalam kegelapan.
Tiga hari kemudian.
Surya Atmadja dinyatakan selamat namun cacat permanen dan langsung menjadi tersangka utama kasus pembunuhan berencana serta korupsi besar-besaran. Dirgantara Group terguncang hebat.
Arini duduk di ruang tamu rumah mewahnya—rumah yang kini terasa seperti monumen kemenangan yang berdarah. Reihan masuk, mengenakan setelan jas hitam baru. Ia tampak lebih dingin dari es.
"Aku sudah mengurus semuanya," ucap Reihan tanpa menatapnya. "Bianca sudah ditangkap di bandara saat mencoba melarikan diri ke Singapura. Ayahmu akan membusuk di penjara seumur hidup."
Arini berdiri, mendekati suaminya. "Lalu kita? Apa yang tersisa untuk kita, Reihan?"
Reihan menoleh, menatap Arini dengan mata yang kosong. Ia berjalan mendekat, menyudutkan Arini ke dinding, tangannya merayap ke leher Arini dengan posesif. "Yang tersisa adalah hutang, Arini. Ayahmu berhutang nyawa orang tuaku padaku. Dan karena kau adalah miliknya yang paling berharga... kau yang akan membayar bunganya selamanya."
Reihan mencium Arini dengan penuh kekasaran, sebuah tindakan yang bukan lagi didasari rasa rindu, melainkan sebagai bentuk penaklukan. Di balik kemewahan itu, Arini menyadari bahwa ia memang telah berhasil menghancurkan ayahnya, namun ia juga telah melepaskan iblis yang jauh lebih besar dalam diri suaminya sendiri.
Pernikahan mereka kini resmi menjadi neraka yang paling indah.
Konflik baru dimulai! Reihan kini menjadi tiran yang tidak mengenal ampun.