NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:34.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.17

Malam itu, hujan turun deras di Sekte Awan Putih, seolah langit berusaha mencuci dosa yang baru saja terjadi di Hutan Kabut.

Di dalam gubuknya yang gelap, Shen Yu duduk bersila. Ia tidak berlatih. Ia takut.

Setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah Han Hu yang mengering. Ia merasakan sensasi haus memuakkan saat nyawa manusia disedot habis ke dalam tangannya. Yang paling menakutkan bukan pembunuhan itu sendiri, melainkan betapa nikmatnya rasa itu.

"Aku bukan iblis..." bisiknya berulang kali, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku Shen Yu. Anak petani Desa Qinghe."

Tiba-tiba, Giok Retak di dadanya bersinar redup. Cahayanya tidak lagi hijau murni, tapi bercampur dengan urat-urat merah samar.

Kesadaran Shen Yu tersedot masuk ke dalam ruang mental Giok itu.

Ruangan itu dulunya kosong melompong. Namun sekarang, setelah menyerap vitalitas dari empat kultivator, sebuah pintu batu di sudut ruangan terbuka sedikit.

Di balik pintu itu, hanya ada satu benda yang tergeletak di atas altar debu. Sebuah buku tua bersampul kulit hitam yang tampak seperti kulit manusia.

Shen Yu mendekatinya dengan gemetar. Judul buku itu tertulis dalam bahasa kuno yang anehnya bisa ia baca

"Catatan Penyesalan — Raja Iblis Langit Berdarah"

Shen Yu membuka halaman pertama.

"Kepada pewarisku yang sial... Jika kau membaca ini, artinya kau telah mencicipi darah. Kau telah merasakan betapa manisnya jalan pintas itu, bukan? Mengambil hidup orang lain untuk memperpanjang hidupmu sendiri.

Namaku Xue Sha. Dulu aku membakar setengah dunia demi keabadian. Tapi ketahuilah satu hal, Nak: Darah menuntut darah. Semakin banyak kau minum, semakin haus kau akan menjadi, sampai tidak ada lagi manusia di matamu, hanya makanan.

Jangan jadi sepertiku. Kendalikan Giok ini, atau Giok ini yang akan mengendalikanmu."

Shen Yu menutup buku itu dengan napas tercekat. Tubuhnya menggigil.

Raja Iblis. Benda di dadanya adalah warisan seorang Raja Iblis. Dan ia baru saja mengambil langkah pertama untuk menjadi monster yang sama.

"Tidak," Shen Yu mencengkeram dadanya. "Aku butuh kendali. Aku harus mematikan suara lapar ini."

Keesokan paginya, Shen Yu pergi mencari satu-satunya orang yang pernah memperingatkannya tentang "suara" di dalam dirinya.

Paviliun Kitab.

Su Ling sedang duduk di beranda belakang perpustakaan yang menghadap ke taman bambu sunyi. Di tangannya terdapat sebuah seruling bambu hijau. Ia tidak memainkannya, hanya mengusap permukaannya dengan jari-jari lentiknya.

"Kau datang lagi," sapa Su Ling tanpa menoleh. "Dan kali ini, bau darah di jiwamu lebih pekat. Kau sudah membunuh, Shen Yu?"

Shen Yu tidak menyangkal. Ia berjalan mendekat dan duduk di lantai kayu, berjarak dua meter dari gadis itu.

"Kau benar, Su Ling. Ada monster di dalam diriku. Dan dia lapar," aku Shen Yu jujur, suaranya sarat kelelahan. "Kau bilang kau bisa mendengar 'kebisingan' di hatiku. Bisakah kau... membantuku mendiamkannya?"

Su Ling memutar wajahnya ke arah Shen Yu. Mata putihnya yang buta seolah menatap menembus daging, langsung ke inti jiwa Shen Yu yang sedang bergolak.

"Kenapa aku harus membantumu?" tanya Su Ling datar. "Seorang calon iblis lebih baik dibiarkan gila dan mati sendiri."

"Karena aku masih ingin menjadi manusia," jawab Shen Yu lirih. "Aku punya orang tua yang menungguku pulang. Aku tidak bisa pulang sebagai monster."

Hening sejenak. Hanya suara hujan rintik-rintik yang terdengar.

Su Ling menghela napas pelan. "Kau punya suara yang jujur saat sedang putus asa. Itu menyebalkan."

Gadis itu mengangkat serulingnya. "Ada sebuah lagu. Melodi Pembersih Hati. Ini bukan teknik kultivasi, hanya lagu biasa. Tapi ibuku dulu memainkannya untuk menenangkan ayahku saat... saat dia kehilangan kendali."

"Ajari aku," pinta Shen Yu.

"Tidak gratis," potong Su Ling.

Shen Yu meraba sakunya. "Aku punya beberapa Batu Roh sisa, atau..."

"Aku tidak butuh batumu," Su Ling menggeleng. Ia menunjuk ke arah tembok tinggi yang mengelilingi area sekte. "Aku lahir buta. Aku besar di perpustakaan ini. Aku tahu semua tentang dunia dari buku, tapi aku tidak pernah 'melihatnya'. Orang-orang bilang bunga sakura di musim semi itu indah, atau matahari terbenam itu megah. Bagiku, itu hanya kata-kata kosong."

Su Ling mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Jadilah mataku, Shen Yu. Setiap kali kau datang untuk belajar musik, ceritakan padaku tentang dunia di luar tembok itu. Ceritakan warnanya, bentuknya, cahayanya. Bukan seperti buku teks, tapi seperti yang kau lihat."

Shen Yu tertegun. Permintaan yang begitu sederhana, namun terdengar begitu kesepian.

"Hanya itu?"

"Hanya itu."

"Baiklah," Shen Yu mengangguk mantap. "Aku setuju."

Su Ling tersenyum tipis—senyum yang kali ini terlihat sedikit lebih hidup. Ia menempelkan seruling ke bibirnya.

Tuuuu...

Nada pertama mengalun. Rendah, lembut, dan jernih seperti air mata air pegunungan.

Saat Shen Yu mendengarkan nada itu, denyut merah dan rasa lapar di Giok Retak perlahan mereda. Rasa panas di darahnya mendingin. Pikirannya yang kacau perlahan menjadi tenang, seperti danau yang permukaannya kembali rata setelah badai.

Sore itu dihabiskan dengan pelajaran musik yang canggung. Shen Yu yang terbiasa memegang cangkul dan parang, kini harus belajar meniup seruling bambu dengan lembut.

"Salah. Napasmu terlalu kasar. Kau meniup seperti mau menyalakan tungku," omel Su Ling, memukul bahu Shen Yu dengan tongkatnya.

"Ini susah!" keluh Shen Yu, tapi ia tidak berhenti mencoba.

Setelah dua jam berlatih, Shen Yu meletakkan serulingnya. Napasnya kini jauh lebih teratur.

"Sekarang giliranmu," tagih Su Ling. "Ceritakan padaku. Seperti apa langit hari ini?"

Shen Yu menatap langit sore yang baru saja reda dari hujan. Awan kelabu mulai pecah, membiarkan sinar matahari oranye menerobos celah-celahnya, menciptakan bias pelangi tipis di atas hutan bambu.

"Langitnya... seperti luka yang mulai sembuh," kata Shen Yu perlahan, mencari kata-kata yang tepat. "Warnanya abu-abu lembut, tapi ada goresan emas di pinggirnya. Dan di sana, ada jembatan cahaya tujuh warna yang muncul malu-malu. Warnanya seperti... rasa permen buah yang berbeda-beda."

Su Ling mendengarkan dengan intens, kepalanya sedikit miring, membayangkan lukisan di kepalanya yang gelap.

"Seperti permen..." gumamnya pelan. "Kedengarannya manis."

Untuk pertama kalinya sejak masuk sekte, Shen Yu merasa benar-benar tenang. Tidak ada intrik, tidak ada pembunuhan, tidak ada ambisi. Hanya dua orang cacat satu buta mata, satu cacat jiwa yang saling melengkapi di beranda tua.

1
༄⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😈👿😈Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡🤬😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👻👻👻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👿😈👿Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😁😁😁Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄🙄🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🥹🥹🥹Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!