Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama: Menuju Ujung Dunia
Langkah kaki Satya Wanara kini terasa lebih mantap. Di punggungnya, Toya Emas Angin Langit terbungkus kain mori putih, tak lagi mencolok namun auranya tetap menggetarkan. Setelah 3 tahun menimba kearifan di bawah bimbingan Sunan Kalijaga, Satya bukan lagi sekadar pemuda liar dengan ilmu silat tinggi; ia kini adalah ksatria yang hatinya telah disirami cahaya ketenangan.
Sebelum memulai pengembaraannya, Satya melangkah menuju lereng gunung yang asri, tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Dharmasanya dan Nyai Ratna Sekar. Suasana makam begitu sunyi, hanya deru angin di sela pohon kamboja yang menyambutnya.
Satya bersimpuh. Ia tak lagi marah atau bersikap konyol seperti saat ia masih menjadi buronan. Dengan khusyuk, ia melantunkan ayat-ayat suci yang diajarkan Kanjeng Sunan, mengirimkan doa terbaik untuk orang tuanya yang menjadi korban fitnah keji masa lalu.
"Ayah, Ibu... nama kalian telah bersih. Majapahit telah mengakui pengabdianmu," bisik Satya sambil mengusap nisan kayu jati tersebut. "Sekarang, izinkan anakmu melangkah. Aku tidak akan membiarkan ada Dharmasanya lain yang difitnah, atau ada rakyat kecil yang tertindas oleh kuasa kegelapan."
Ia mengambil segenggam tanah makam, menciumnya, lalu menebarkannya kembali. Sebuah janji tanpa suara telah terpatri di dadanya.
Di batas Kadilangu, dua sosok legendaris telah menunggu. Sunan Kalijaga berdiri dengan jubah cokelatnya yang sederhana namun berwibawa, sementara Eyang Sableng Jati duduk di atas batu besar sambil mengunyah tebu, kakinya bergoyang-goyang tidak keruan.
Satya mendekat, lalu bersujud di kaki Sunan Kalijaga.
"Guru, hamba mohon pamit. Doakan agar hamba tidak tersesat oleh pujian, dan tidak lari karena ancaman," ucap Satya dengan nada rendah.
Sunan Kalijaga tersenyum tipis, tangannya mengusap kepala Satya. "Dunia ini luas, Satya. Kau akan menemui orang-orang yang lebih jahat dari Gajah Pradoto, namun kau juga akan menemui kebaikan di tempat yang tak terduga. Ingatlah, pedangmu hanya untuk memutus rantai kedzaliman, bukan untuk memutus silaturahmi."
Satya mengangguk mantap. Ia lalu beralih ke Eyang Sableng Jati. Belum sempat Satya bicara, Eyang Sableng sudah melompat turun dan menjitak dahi Satya.
"Heh, bocah ubi! Jangan sok sedih begitu," gerutu Eyang Sableng, meski matanya nampak sedikit berkaca-kaca. "Kalau nanti kau bertemu pendekar yang ilmunya aneh-aneh, jangan pakai otot saja. Pakai otakmu yang sedikit itu! Dan satu lagi... jangan lupa kirimkan ubi bakar kalau kau mampir di pasar!"
Satya tertawa kecil, ia memeluk guru lamanya itu dengan erat. "Eyang, jaga kesehatan. Jangan sampai encokmu kambuh saat mengejar belalang."
Dengan bekal seadanya dan hati yang penuh, Satya membalikkan badan. Ia mulai berjalan menuju ufuk timur, tempat di mana matahari terbit. Bayangannya memanjang di atas tanah Majapahit yang kini mulai damai, namun ia tahu di pelosok-pelosok desa, masih banyak "taring" yang bersembunyi.
"Ilmu yang tidak diamalkan adalah beban bagi tanah..."
Kalimat Sunan Kalijaga terus terngiang. Satya melompat ringan ke atas sebuah pohon besar, memandang luasnya cakrawala. Di kejauhan, terlihat asap membumbung dari sebuah desa terpencil yang nampaknya sedang dalam kekacauan.
Satya tersenyum nakal, jari-jarinya mempererat pegangan pada Toya Emasnya.
"Sepertinya ada yang butuh bantuan 'cukuran' gratis," gumamnya.
Dengan satu hentakan kaki, ia melesat bak kilat, menghilang di balik rimbunnya hutan. Pengembaraan Satya Wanara, Sang Pendekar Toya Emas yang telah mengenal Tuhan, baru saja dimulai.