Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
...****************...
Pagi datang tanpa benar-benar terasa seperti pagi. Mataku terbuka, tapi pikiranku masih tertinggal di malam tadi di suara napas Hana yang tertidur di ujung panggilan, di musik yang kupilih dengan hati-hati, dan pada satu kebohongan kecil yang sengaja kubiarkan tumbuh.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Linda.
> “Pagi sayang. Kamu kesiangan ya? Aku berangkat duluan.”
Aku menatap layar cukup lama sebelum akhirnya membalas singkat.
> “Iya. Maaf semalam ketiduran.”
Kalimat itu terasa hambar.
Dan entah kenapa, lebih mudah diketik daripada dirasakan.
Di kamar mandi, air mengalir lama. Aku membiarkannya membasahi wajah, seolah bisa meluruhkan sesuatu yang menempel di dada. Tapi tetap saja—ada yang berbeda. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan, padahal secara fisik semuanya masih sama.
Di kantor, Linda kembali ceria. Tertawa, bercanda, menyentuh lenganku seperti biasa. Orang-orang melihat kami seperti pasangan yang utuh—serasi, hangat, tanpa retak.
Dan aku… ikut tertawa.
Tapi kali ini, rasanya seperti berdiri di dua tempat sekaligus.
“Ka,” bisik Linda saat jeda live,
“nanti pulang bareng kan?”
Aku ragu sepersekian detik.
“Iya,” jawabku akhirnya.
Ragu itu kecil. Tapi nyata.
Siang menjelang sore, ponselku kembali bergetar.
Nama Hana muncul.
Aku tidak langsung mengangkat.
Kupandangi layar itu lama—seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupelajari cara menilainya.
Akhirnya, aku menjawab.
“Assalamualaikum, Han.”
“Waalaikumsalam… ganggu nggak, Ka?”
“Nggak. Kenapa?”
“Aku cuma mau bilang… makasih ya soal semalam.”
Suaranya lebih tenang. Lebih stabil.
“Aku tidurnya nyenyak banget.”
Aku tersenyum tanpa sadar.
“Syukur kalau gitu.”
“Hari ini aku mau coba beresin lemari,” katanya pelan.
“Pelan-pelan. Nggak mau buru-buru.”
“Bagus,” jawabku.
“Semua memang nggak harus cepat.”
Ada jeda.
Jeda yang tidak canggung, tapi juga tidak sederhana.
“Ka…”
“Iya?”
“Kamu capek nggak sih jadi orang baik?”
Pertanyaan itu menampar pelan.
Aku tertawa kecil.
“Mungkin.”
“Hati-hati ya,” katanya.
“Orang baik sering lupa jaga dirinya sendiri.”
Setelah panggilan itu berakhir, aku terdiam lama.
Linda masih di ruangan sebelah, tertawa dengan tim.
Hana kembali ke dunianya—beres-beres kenangan dan kehilangan.
Dan aku?
Aku berdiri di tengah.
Tidak sepenuhnya pergi.
Tidak sepenuhnya tinggal.
Malam itu, saat mengantar Linda pulang, tangannya menggenggam tanganku erat.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya tiba-tiba.
“Kayak jauh.”
Aku terdiam.
Lampu jalan memantul di kaca mobil, membelah wajah kami dengan cahaya dan bayangan.
“Capek mungkin,” jawabku akhirnya.
Linda menatapku lama.
Lalu tersenyum senyum yang biasanya menenangkan ku.
“Jangan capek sendirian,” katanya.
“Kamu punya aku.”
Aku mengangguk.
Tapi di kepalaku, suara lain ikut bergema:
Orang baik sering lupa jaga dirinya sendiri.
Dan malam itu, aku sadar garis itu masih ada.
Tapi sudah mulai kabur.
Dan aku belum tahu apakah aku ingin menariknya kembali, atau membiarkannya menghilang.
...----------------...
Sesampainya di kos. tiba tiba aku teringat ibuku. aku sudah lama tidak telpon yang biasanya selalu berikan kabar saat awal hampir setiap hari telpon sekarang aku sibuk. dengan segala rutinitas ku.
"assalamualaikum Bu.. "
aku vc bapak dan ibu terlihat di ponselku
"Walaikumssalam.. kamu sibuk banget ka.. sampai ga kabar kabar sama kami.. sehat kamu nak?
" Alhamdulillah sehat Bu .. pak.. ibu sama bapak gimana?"
"Sehat.. ibu bapak sehat.. tapi kebetulan banget kamu telpon ka.. kalau bisa sebelum bulan ramadhan kamu pulang dulu KA.. puasa di rumah seminggu aja terus kalau mau balik kerja lagi balik deh.. bisa ga ya begitu nak?"
Aku terdiam cukup lama setelah ibu berkata begitu.
Kalimatnya sederhana, tapi rasanya seperti mengetuk sesuatu yang lama terkunci di dadaku.
“Kenapa Bu?” tanyaku pelan.
“Biasa aja,” ibu tersenyum lembut di layar. “Ibu kangen. Bapak juga. Kamu jarang pulang sekarang.”
Bapak mengangguk di samping ibu. Rambutnya makin banyak uban. Entah sejak kapan.
“Kamu kerja jangan lupa istirahat, Ka,” kata bapak. “Jangan kejar dunia terus, nanti capek sendiri.”
Aku menelan ludah.
“Iya, Pak… maaf. Akhir-akhir ini memang sibuk.”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sibuk seperti apa.
Sibuk dengan perasaan. Sibuk menjaga keseimbangan yang rapuh. Sibuk berbohong kecil yang mulai terasa berat.
“InsyaAllah sebelum Ramadan aku pulang, Bu,” kataku akhirnya.
“Bener ya?” mata ibu langsung berbinar.
“Iya. Seminggu aja. Aku rindu masakan ibu.”
Ibu tertawa kecil, bahagia yang sederhana.
“Ya Allah… akhirnya anak ibu pulang.”
Panggilan itu berakhir dengan doa-doa yang selalu sama, tapi entah kenapa malam ini terdengar lebih panjang. Lebih dalam.
Aku merebahkan tubuh di kasur kos yang terasa sempit.
Pikiranku berlari ke mana-mana.
Pulang.
Rumah.
Ramadan.
Linda tidak pernah suka aku lama pulang kampung.
Katanya ribet, jauh, dan bikin kami jarang bertemu.
Hana…
Aku bahkan belum pernah membayangkan mengajaknya masuk ke cerita itu.
Ponselku kembali bergetar.
Pesan dari Linda.
> “Sayang, kamu udah sampai kos?”
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
> “Udah. Capek. Mau tidur.”
Singkat. Aman. Dingin.
Tak lama, pesan lain masuk.
Nama Hana.
> “Ka, aku udah beresin lemari. Capek tapi lega.”
Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
> “Alhamdulillah. Pelan-pelan aja ya.”
Aku mematikan layar.
Menatap langit-langit kamar yang gelap.
Aku sadar satu hal malam itu.
Aku mulai kembali mengingat rumah—
tempat segalanya dulu lebih sederhana.
Tempat nilai, batas, dan tujuan hidup pertama kali diajarkan.
Dan mungkin…
aku memang sudah terlalu jauh berjalan
tanpa benar-benar tahu
ke mana seharusnya aku pulang.