Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Nama yang menyesatkan
Hingga malam melarut, Dimas sama sekali tak diberi celah untuk melewati ambang pintu kamar. Zora mengurung diri, membentengi hatinya di balik kayu jati yang membisu. Ia tak peduli pada ketukan pintu yang kian melemah, atau teriakan frustrasi Dimas yang memanggil namanya hingga serak. Sunyi itu mencekam, bertahan hingga fajar menyingsing.
Saat pintu akhirnya berderit terbuka keesokan paginya, napas Zora tercekat. Tubuhnya terpaku melihat Dimas yang tertidur meringkuk di lantai dingin, tepat di depan kamarnya. Rasa bersalah seketika menyeruak, menghujam ulu hati.
Dimas tersentak bangun, lalu terburu-buru berdiri meski badannya kaku.
"Zora..." suaranya parau. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan kemeja yang ia kenakan masih sama,saksi bisu kekacauan kemarin.
"Maafkan aku, Mas," ucap Zora lirih, nyaris tak terdengar.
Tanpa kata, Dimas langsung merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Erat, seolah takut Zora akan menguap jika ia melepaskannya. "Enggak, aku yang minta maaf. Jangan seperti ini lagi, ya? Aku takut... aku sangat takut kehilanganmu."
Zora hanya diam. Tangannya menggantung kaku di sisi tubuh, sama sekali tak membalas pelukan suaminya. Dingin.
"Mandilah. Aku akan siapkan sarapan untukmu dan..." Zora menjeda kalimatnya, tenggorokannya mendadak perih. "...Safira," lanjutnya dengan suara yang bergetar.
"Kamu sudah tidak marah lagi, 'kan, Sayang? Soal Safira, dia sebenarnya..."
"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin dengar lagi," potong Zora cepat. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Lagipula, itu masa lalumu. Aku tersadar, sebelum ini kita hanyalah dosen dan mahasiswi. Aku tidak benar-benar mengenalmu di luar hubungan itu. Mungkin, aku hanya terlalu terkejut dengan kenyataan yang ada."
"Tapi Zora, kamu salah paham!" Dimas mencoba meraih bahu Zora, namun istrinya itu menghindar halus.
"Mas, aku ke dapur dulu."
Zora melangkah pergi, melarikan diri dari kebenaran yang mungkin lebih pahit dari dugaannya. Ia lebih memilih bersembunyi di balik kesibukan daripada memberikan Dimas ruang untuk bicara.
Seolah badai kemarin tak pernah terjadi, Zora mulai berkutat dengan bahan makanan di dapur. Aroma nasi goreng kencur dan telur dadar,menu favorit Dimas,mulai memenuhi ruangan. Namun, gerakannya mekanis, seolah jiwanya sedang tidak berada di sana.
Saat ia sedang menata piring dengan tangan yang sedikit gemetar, Safira muncul. Gadis kecil itu mengucek matanya yang masih sembap, wajahnya masih khas bangun tidur.
"Tante... aku mau susu," rengeknya pelan.
Zora menghentikan gerakannya. Ia menatap gadis kecil yang merupakan personifikasi dari rahasia suaminya itu. Zora mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dada.
"Safira biasa minum susu apa?" tanya Zora, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meski hatinya remuk.
"Susunya ada di kamar, Tante," sahut Safira polos.
Zora melangkah menuju kamar tamu,ruangan yang dulu ia tempati sebelum menyandang status sebagai istri Dimas, dan kini menjadi ruang bagi Safira.
"Baiklah, Safira tunggu di sini. Tante buatkan dulu susunya."
Safira mengangguk patuh, lalu duduk di meja makan, menatap hidangan yang mengepulkan uap hangat dengan mata berbinar. Sementara itu, Zora bergegas masuk ke dalam kamar.
Zora menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Di pojok lemari, koper kecil berisi perlengkapan Safira terbuka separuh. Di atas nakas, sebuah kotak susu tergeletak begitu saja. Saat Zora hendak meraihnya, netranya menangkap sebuah bingkai foto yang diletakkan menghadap ke tempat tidur.
Tangan Zora bergerak gemetar mengambil bingkai itu. Di sana, sebuah potret keluarga kecil tampak begitu bahagia. Ada ayah, ibu, dan seorang anak kecil,Safira.
"Itu Dimas... ayah kandung Safira."
Zora tersentak, hampir menjatuhkan bingkai di tangannya. Ia menoleh cepat dan menemukan Dimas sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan sendu.
"Lebih tepatnya, Dimas Danureta," lanjut Dimas pelan.
"Apa?" Zora mengerutkan dahi, lidahnya mendadak kelu.
"Ayah kandung Safira memang bernama Dimas. Jika selama ini dia memanggilku Papa, itu karena nama kami serupa, Zora."
"Jadi...?" Mata Zora mulai berkaca-kaca. Pertahanannya runtuh seketika.
Dimas melangkah mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Zora dengan sangat lembut. "Apa karena Safira memanggilku 'Papa' yang membuatmu begitu tersiksa? Aku bisa bicara padanya untuk..."
"Mas, kenapa bisa? Aku pernah melihat akta kelahiran Safira di tas kerjamu. Aku pikir..."
"Kamu pikir dia benar-benar darah dagingku?" potong Dimas halus.
Zora mengangguk pelan, lalu isakan pertamanya pecah. Bahunya terguncang hebat saat menyadari betapa jauh ia telah tersesat dalam prasangka.
"Ya Allah, Zora... bagaimana bisa pikiranmu lari sejauh itu?" Dimas menghela napas panjang, ada nada lega sekaligus perih di suaranya.
"Bagaimana aku tidak salah paham, Mas? Di akta itu, nama ayahnya tertulis jelas namamu!" balas Zora. Kali ini bukan lagi isakan, melainkan tangisan keras yang menumpahkan segala sesak yang ia pendam seharian.
"Memang benar namanya Dimas, tapi bukan suamimu ini, Sayang. Dia Dimas Danureta. Apa kamu tidak membaca nama lengkapnya sampai selesai?"
Zora tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat deretan huruf di kertas resmi itu, lalu menggeleng lemah di sela tangisnya.
"Coba ingat kembali. Siapa nama lengkap suamimu ini?" Dimas menangkup wajah Zora, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang dalam.
Zora terdiam sejenak, bibirnya bergetar. "Rahardian Dimas Setya."
"Tuh, kamu ingat," bisik Dimas lembut sembari menghapus air mata di pipi Zora dengan ibu jarinya.
Tangis Zora meledak lebih hebat. Ia meraung, menenggelamkan wajahnya di dada Dimas. Rasa malu, lega, dan sesal bercampur aduk menjadi satu. Asumsinya yang liar telah membangun tembok tinggi yang menyiksa batinnya sendiri, padahal kenyataannya hanyalah sebuah kebetulan yang pahit.
Tangis Zora perlahan mereda, menyisakan sesak yang masih tertinggal di dadanya. Dimas tidak melepaskan tangannya dari wajah Zora. Ia justru semakin mendekat, mengunci pandangan istrinya dengan tatapan yang kini berubah; tidak lagi sedih, melainkan ada kilat jahil yang berbahaya.
"Sudah selesai menangisnya?" tanya Dimas pelan, suaranya kini terdengar berat dan dalam.
Zora hanya bisa mengangguk kecil sambil sesenggukan, tidak berani menatap mata suaminya. Rasa malunya kini jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya.
"Kamu tahu, Zora... seumur hidupku jadi dosen, aku baru kali ini melihat mahasiswi kesayanganku ini begitu ceroboh dalam membaca data. Padahal dulu nilaimu A, 'kan?" Dimas menyentil pelan dahi Zora, membuat wanita itu meringis kecil.
"Maaf, Mas... aku benar-benar tidak fokus," cicit Zora.
Dimas melepaskan tangkupannya, lalu bersedekap. Ia mundur selangkah, memerhatikan Zora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi.
"Hanya maaf? Kamu sudah mendiamkanku seharian, membiarkanku tidur di lantai seperti kucing jalanan, dan menuduhku punya anak rahasia. Rasanya permintaan maaf saja tidak cukup, Sayang."
Zora menelan ludah. "Terus... Mas mau apa?"
Dimas mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir keras. "Hmm, karena ini kesalahan fatal dalam analisis data, aku harus memberimu hukuman."
"Hukuman?"
"Pertama," Dimas melangkah maju satu tindak, membuat Zora mundur hingga punggungnya menempel ke lemari. "Hari ini, jangan harap kamu bisa menghindar dariku. Ke mana pun aku pergi, kamu harus ikut. Bahkan saat aku mandi, kamu harus menyiapkan bajuku tepat di depan pintu."
Wajah Zora memanas. "Mas!"
"Kedua," Dimas memangkas jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Aroma parfum Dimas yang maskulin bercampur aroma keringat tipis menyerbu indra penciuman Zora. "Aku ingin penalti atas pelukan yang kamu abaikan tadi. Aku mau bunga bunganya, Zora. Bunga bunganya pelukan yang berkali-kali lipat."
Zora bisa merasakan napas Dimas di permukaan kulitnya. "Maksudnya?"
"Artinya, setiap kali aku memanggilmu hari ini, kamu harus memelukku. Tanpa protes. Kalau kamu menolak sekali saja, aku akan membacakan seluruh isi akta kelahiran Safira di depan telingamu sampai kamu hafal setiap hurufnya."
Dimas tersenyum miring, senyum kemenangan yang membuat jantung Zora berpacu tidak karuan.
"Bagaimana, Nyonya Rahardian? Mau jalankan hukumannya sekarang, atau mau aku tambah dengan hukuman ketiga?"
Zora menunduk, menyembunyikan senyum yang mulai merekah di bibirnya yang masih gemetar. "Hukuman ketiganya apa?" tanya Zora dengan suara yang hampir menghilang.
Dimas mendekatkan bibirnya ke telinga Zora, berbisik dengan nada yang sangat "menggigit".
"Hukuman ketiganya... Rahasia. Akan kuberikan setelah Safira tidur malam nanti."
Bersambung...
Kena prank deh kalian 😅😅😅😅😅
Selagi menunggu novel ini update, mampir juga ke karya temanku ya
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍