NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama yang Berbeda

Malam semakin larut. Tamu-tamu sudah pulang. Bagas sudah pamit dengan pelukan erat dan pesan berkali-kali agar Arga hati-hati. Rumah besar itu kembali sunyi. Hanya diterangi lilin-lilin yang masih menyala di ruang tamu dan kamar.

Arga berdiri di depan pintu kamar yang sudah ia hiasi sederhana untuk malam pertama mereka. Tidak ada yang mewah. Hanya ranjang dengan seprai putih bersih, bunga-bunga mawar merah dan putih di sudut ruangan, dan lilin-lilin aromaterapi yang menyebarkan wangi melati.

Tangannya gemetar saat memutar gagang pintu.

Safira sudah ada di dalam. Duduk di tepi ranjang dengan kebaya yang masih ia kenakan. Sanggul rambutnya sudah ia lepas, rambut hitam panjangnya terurai indah di punggung. Wajahnya terlihat sangat cantik di bawah cahaya lilin yang redup.

Saat Arga masuk, Safira mengangkat wajahnya. Dan air mata langsung mengalir di pipinya.

"Arga..." suaranya bergetar.

Arga menutup pintu pelan, berjalan menghampiri Safira dengan langkah yang sedikit canggung. Ini bukan pertama kalinya ia menghabiskan malam pertama dengan seorang wanita. Dulu dengan Ratih ia juga punya malam pertama. Tapi entah kenapa malam ini terasa sangat berbeda. Terasa lebih sakral. Lebih bermakna.

"Kenapa menangis?" tanya Arga sambil duduk di samping Safira.

"Karena... karena aku bahagia," jawab Safira sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. "Aku tidak pernah menyangka... tidak pernah membayangkan bisa merasakan ini lagi. Menikah secara sah dengan orang yang aku cintai. Rasanya... rasanya seperti mimpi."

Arga meraih tangan Safira yang dingin, menggenggamnya dengan lembut. "Ini bukan mimpi. Ini nyata. Kamu istriku sekarang. Safira Maheswara."

Mendengar nama barunya, Safira menangis lebih keras lagi. "Safira Maheswara..." ia mengulang dengan suara yang penuh ketakjuban. "Aku... aku punya nama keluarga. Punya suami. Punya... punya seseorang yang sah menjadi bagian dari hidupku."

"Dan aku punya istri," Arga tersenyum sambil mengusap air mata di pipi Safira. "Istri yang paling cantik. Paling tulus. Paling... paling berharga."

Safira memeluk Arga tiba-tiba. Memeluknya dengan sangat erat sampai Arga merasakan tubuhnya yang dingin menempel erat di dadanya. Tapi kali ini dingin itu tidak menakutkan. Justru menenangkan. Seperti pelukan yang sudah lama ia tunggu.

"Kamu adalah berkah terbesar dalam hidupku," bisik Arga di telinga Safira. "Saat aku hampir mati karena luka yang Ratih buat, kamu datang. Kamu menyelamatkanku. Dan sekarang... sekarang kamu sudah resmi jadi milikku. Selamanya."

"Selamanya," Safira mengulangi sambil menangis di bahu Arga. "Aku akan di sampingmu selamanya."

Mereka berpelukan cukup lama. Menangis bersama. Bahagia bersama. Sampai tangis mereka perlahan mereda.

Lalu Safira melepaskan pelukan, menatap Arga dengan mata yang masih basah tapi sudah tersenyum. "Arga... boleh kita... boleh kita shalat dulu? Shalat malam pertama kita sebagai suami istri?"

Arga tersenyum lembut. "Tentu. Ayo."

Mereka mengambil wudhu. Lalu berdiri berdampingan di mushala kecil di sudut kamar. Arga menjadi imam, Safira di belakangnya.

Shalat malam itu terasa sangat khusyuk. Bacaan Arga gemetar di beberapa ayat karena menahan tangis. Safira di belakangnya menangis dalam diam, air matanya menetes ke sajadah.

Setelah salam, mereka duduk bersimpuh dengan tangan terangkat.

"Ya Allah..." Arga memulai doanya dengan suara yang bergetar. "Terima kasih telah mengizinkan hamba menikahi wanita yang hamba cintai. Terima kasih telah memberi hamba kebahagiaan ini. Hamba mohon... berkahilah pernikahan kami. Lindungi kami dari segala bahaya. Dan... dan jika memang kami tidak boleh bersatu lama, berikanlah kami waktu untuk bahagia bersama. Walau sebentar."

Safira menangis mendengar doa suaminya. Ia juga mengangkat tangannya lebih tinggi, berdoa dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Ya Allah... hamba tahu hamba tidak layak mendapatkan kebahagiaan ini. Hamba yang dulunya jin, yang seharusnya tidak mencintai manusia. Tapi Engkau telah memberikan hamba kesempatan ini. Hamba mohon... jangan ambil kebahagiaan ini terlalu cepat. Biarkan hamba merasakan cinta ini sedikit lebih lama. Dan... dan jika Arga harus menderita karena mencintai hamba, ya Allah, hamba mohon... ambil saja nyawa hamba. Jangan biarkan dia sakit. Jangan biarkan dia sekarat perlahan. Hamba yang salah. Hukumlah hamba."

"Jangan," Arga langsung meraih tangan Safira, menurunkan tangannya yang masih terangkat. "Jangan berdoa seperti itu lagi. Kumohon."

Safira menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku tidak sanggup melihatmu sakit, Arga. Aku tidak sanggup..."

"Kita akan hadapi bersama," Arga menggenggam kedua tangan Safira dengan erat. "Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama. Bukan kamu sendirian. Bukan aku sendirian. Tapi kita. Suami dan istri."

Safira mengangguk sambil menangis. "Ya... bersama."

Mereka kembali ke kamar, duduk berdampingan di ranjang. Tangan saling menggenggam. Hati saling terhubung.

"Arga," Safira berbicara pelan. "Aku... aku ingin berterima kasih padamu."

"Untuk apa?"

"Untuk berani mencintaiku. Untuk tidak takut padaku. Untuk... untuk menerima aku apa adanya meski aku bukan manusia sempurna."

Arga menatap Safira dengan tatapan yang sangat lembut. "Kamu lebih dari sempurna bagiku, Safira. Kamu yang mengajariku apa itu cinta yang tulus. Cinta yang tidak menuntut. Cinta yang menerima. Dan aku... aku yang harus berterima kasih padamu."

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Kamu menyelamatkan hidupku," Arga menjawab dengan suara yang penuh emosi. "Saat aku ingin mati karena luka yang Ratih buat, kamu datang. Kamu mendengarkanku. Kamu menemani aku. Kamu mencintaiku saat aku merasa tidak layak dicintai. Dan sekarang... kamu jadi istriku. Istri yang resmi. Istri yang sah. Apa lagi yang lebih berharga dari itu?"

Safira menangis lagi. Tapi kali ini tangisan bahagia. Ia memeluk Arga dengan erat, wajahnya bersandar di dada suaminya. Mendengar detak jantung yang hangat. Detak jantung yang membuatnya merasa hidup.

"Aku mencintaimu, Arga. Sangat mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Safira. Lebih dari apapun di dunia ini."

Mereka berbaring di ranjang dengan posisi saling berhadapan. Tangan saling menggenggam di antara mereka. Menatap mata satu sama lain di bawah cahaya lilin yang mulai meredup.

"Ini pertama kalinya aku tidur berdampingan dengan seseorang sejak... sejak Arjuna meninggal," Safira berbisik. "Rasanya... hangat. Meski tubuhku dingin, tapi hatiku hangat."

"Aku juga merasakan kehangatan," Arga membalas sambil mengusap rambut Safira dengan lembut. "Bukan kehangatan fisik. Tapi kehangatan jiwa. Kehangatan yang membuatku merasa... utuh."

Safira tersenyum. Senyum yang sangat indah sampai membuat Arga terpesona. "Arga... boleh aku tidur di pelukanmu?"

"Tentu saja. Kamu istriku. Kamu boleh tidur di manapun kamu mau."

Safira bergerak lebih dekat, kepalanya bersandar di dada Arga. Tangan Arga memeluknya dengan lembut, melindungi. Seperti melindungi harta yang paling berharga.

"Selamat malam, suamiku," bisik Safira dengan suara yang sudah mulai mengantuk.

"Selamat malam, istriku," Arga membalas sambil mencium puncak kepala Safira.

Dan malam itu, malam pertama mereka sebagai suami istri, mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain. Tidak ada yang lebih. Tidak ada yang kurang. Hanya dua jiwa yang saling mencintai, tidur dengan damai dalam kehangatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

***

Arga terbangun saat cahaya matahari pagi mulai masuk melalui celah tirai. Matanya perlahan terbuka, masih mengantuk. Lalu ia merasakan sesuatu di pelukannya.

Dingin. Tapi lembut.

Ia menoleh. Dan hatinya hampir berhenti berdetak karena bahagia.

Safira. Istrinya. Masih tidur dengan damai di pelukannya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Napasnya pelan dan teratur. Rambut hitam panjangnya terurai di bantal putih.

Indah. Sangat indah.

Arga tidak bergerak. Ia hanya menatap wajah Safira dengan senyum yang tidak bisa ia hilangkan. Menatap istri yang baru semalam resmi menjadi miliknya.

Untuk pertama kalinya sejak berpisah dengan Ratih, ia tidak merasa sendirian lagi. Untuk pertama kalinya, ia bangun dengan perasaan bahagia. Dengan alasan untuk tersenyum.

"Terima kasih, ya Allah," bisiknya pelan. "Terima kasih telah memberiku dia."

Safira perlahan membuka matanya. Dan saat mata mereka bertemu, ia tersenyum. Senyum yang membuat pagi ini terasa lebih indah.

"Selamat pagi, suamiku," bisik Safira dengan suara serak yang lucu.

"Selamat pagi, istriku," Arga membalas sambil mencium kening Safira.

Mereka berbaring sebentar lagi, tidak mau melepaskan pelukan. Menikmati pagi pertama mereka sebagai suami istri.

Pagi yang indah.

Pagi yang penuh harapan.

Pagi yang sayangnya tidak akan bertahan lama.

Karena di luar sana, takdir sudah menyiapkan ujian yang sangat berat untuk cinta mereka.

Ujian yang akan menentukan apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan.

Atau akan hancur sebelum sempat tumbuh.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!