NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 27: The High Arbiters

Beberapa minggu setelah kehancuran Sektor Utama, kedamaian di Flower’s Patisserie terasa sangat rapuh. Caspian masih dalam masa pemulihan, namun itu tidak menghentikannya untuk tetap menjadi orang paling berisik di toko. Ia kini memiliki kursi khusus di sudut toko dengan bantal sutra dan nampan berisi croissant tak terbatas sebagai "biaya kompensasi" atas luka-lukanya.

​Pagi itu, saat Reggiano sedang sibuk membersihkan oven, pintu toko terbuka. Namun, bukan lonceng riang yang berbunyi, melainkan suara dentingan logam yang berat dan dingin.

​Seorang pria jangkung dengan jubah kulit hitam panjang masuk. Wajahnya tertutup topeng perak tanpa lubang mata, namun ia berjalan dengan presisi yang mengerikan. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen yang memancarkan aura ungu tua—warna yang sama dengan lili hitam Aristhos, tapi jauh lebih pekat.

​"Reggiano Herbert," suara pria itu bergema, bukan melalui udara, tapi langsung di dalam kepala semua orang di ruangan itu. "Kau telah memutus rantai keteraturan. Sektor Utama runtuh, dan sekarang 'The High Arbiters' telah terbangun."

​Caspian, yang tadi sedang asyik mengunyah, langsung duduk tegak. Ia menjentikkan koin peraknya, namun koin itu mendadak membeku di udara dan jatuh ke lantai dengan suara denting yang mati.

​"Wah, wah... gayanya keren juga," gumam Caspian, suaranya sedikit gemetar namun tetap berusaha konyol. "Reggi, sepertinya tamu ini bukan mau beli roti gandum. Dia punya aura seperti orang yang tidak pernah makan karbohidrat selama seribu tahun."

​Reggiano melangkah maju, tangannya secara insting meraba pergelangan tangan tempat tanda mawarnya berada. "High Arbiters? Aku tidak pernah mendengar nama itu di daftar faksi kota ini."

​"Kami bukan faksi kota ini, Eksekutor," pria bertopeng itu mengangkat gulungannya. "Kami adalah penjaga keseimbangan antar-dimensi. Dengan membunuh Aristhos, kau telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang mulai menarik entitas dari Luar Batas (The Outer Beyond). Kau pikir kau menyelamatkan adiknya? Kau justru baru saja membuka pintu bagi mereka yang ingin memanen seluruh dunia ini."

​Pria itu melemparkan gulungan perkamen ke atas meja kasir. "Direktur Aristhos hanyalah seorang penjaga gerbang kecil. Sekarang, pemilik gerbang yang sebenarnya ingin bertemu denganmu. Di Kota Tanpa Langit (The Skyless City)."

​Sebelum Reggiano bisa menjawab, pria itu menghilang menjadi kepulan asap perak, meninggalkan aroma belerang dan bunga layu di dalam toko.

​Caspian berdiri dengan susah payah, memegangi bahunya yang masih diperban. Ia mendekati gulungan itu dengan tatapan serius yang jarang terlihat. "Kota Tanpa Langit... Reggi, itu bukan di dimensi ini. Itu adalah tempat di mana para buronan dimensi dan dewa-dewa yang terlupakan berkumpul. Kalau High Arbiters sudah turun tangan, artinya reputasimu sebagai pembantai sudah sampai ke telinga mereka yang 'di atas'."

​Reggiano membuka gulungan itu. Isinya bukan tulisan, melainkan peta hidup yang terus bergerak, menunjukkan sebuah menara hitam raksasa yang menembus awan merah di dunia yang asing.

​"Caspian," ucap Reggiano sambil menatap peta itu. "Kau bilang kau ingin petualangan yang tidak membosankan?"

​Caspian menyeringai, meskipun wajahnya sedikit pucat. Ia mulai melipat lengan kemejanya yang baru. "Yah, daripada cuma duduk di sini dan jadi gemuk karena kue Seraphine, kurasa melihat Kota Tanpa Langit tidak ada buruknya. Lagipula, aku dengar di sana mereka punya kasino dimensi yang sangat seru."

​Seraphine muncul dari dapur, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. "Jika kalian pergi ke sana, kalian tidak akan bisa kembali dengan cara biasa. Kalian akan menjadi buronan dari realitas ini sendiri."

​Reggiano mengambil sabitnya, yang kini berdenyut dengan energi merah-hitam sisa pertarungan terakhir. "Aku sudah menjadi buronan sejak aku memutuskan untuk melindungi Elena. Tidak ada bedanya."

Toko roti sudah terkunci rapat. Di luar, hujan deras mengguyur Distrik 7, menyamarkan suara desis energi yang masih tersisa dari gulungan perkamen di atas meja. Reggiano duduk di kursi kayu yang berat, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, menatap rintik air yang membasahi kaca dengan pandangan yang seolah menembus batas waktu.

Caspian, untuk sekali ini, memilih untuk diam. Ia duduk di lantai sambil mengasah koin peraknya dengan selembar kain beludru, namun telinganya tetap tertuju pada percakapan yang akan terjadi.

"Seraphine," Reggiano memulai, suaranya berat oleh beban ketidakpastian. "Pria bertopeng itu... dia menyebut tentang 'Luar Batas'. Aristhos memang gila, tapi dia manusia. Pria tadi... dia tidak terasa seperti makhluk hidup. Apa sebenarnya yang sedang kita hadapi?"

Seraphine berbalik perlahan. Cahaya lampu gantung di toko roti meredup, memberikan panggung bagi pendar hijau zamrud yang keluar dari jemarinya. "Dunia yang kau pijak ini, Reggiano, hanyalah selembar daun di pohon raksasa Yggdrasil. Kita semua merasa aman karena ada 'Hukum Realitas' yang menjaga agar daun-daun ini tidak saling bergesekan. Namun, dengan membunuh Aristhos menggunakan kekuatan Final Harvest yang meluap... kau tidak hanya membunuh seorang pria. Kau merobek membran yang memisahkan daun kita dengan kegelapan di luar sana."

"Jadi aku penyebabnya?" Reggiano mengepalkan tangannya.

"Kau adalah pemicunya, tapi bukan penyebabnya," sahut Seraphine lembut. Ia melangkah mendekat dan meletakkan tangannya di atas meja, tepat di samping gulungan perkamen itu. "Aristhos telah melakukan dosa besar dengan mencoba membangkitkan jiwa melalui jalur mekanis. Itu menciptakan bau 'busuk' yang tercium sampai ke Kota Tanpa Langit. Para High Arbiters adalah mereka yang memastikan bahwa tidak ada satu dimensi pun yang menjadi terlalu kuat atau terlalu hancur. Mereka melihatmu sebagai anomali—sebuah virus yang memiliki kekuatan murni Eden tapi dengan tangan seorang eksekutor."

Caspian menyela tanpa mengangkat kepalanya. "Artinya, mereka ingin 'menghapus' Reggi agar keseimbangan kembali normal. Sangat membosankan. Selalu saja soal keseimbangan. Kenapa mereka tidak sesekali membiarkan kekacauan terjadi? Itu jauh lebih estetik."

Seraphine melirik Caspian sekilas sebelum kembali menatap Reggiano. "Ada rahasia yang tidak sempat Aristhos ketahui, Reggiano. Ibumu, Elena Senior, bukan hanya seorang peneliti. Dia adalah salah satu dari The Chosen Seeds—benih pilihan yang seharusnya dibawa ke Kota Tanpa Langit untuk ditanam kembali. Dia melarikan diri bukan hanya dari Aristhos, tapi dari para Arbiters yang ingin mengubahnya menjadi jantung abadi bagi kota mati mereka."

Reggiano tersentak. "Maksudmu... Elena sekarang adalah target mereka bukan karena eksperimen keabadian, tapi karena dia adalah benih yang mereka anggap sebagai 'milik' mereka?"

"Tepat," jawab Seraphine. "Dan Kota Tanpa Langit adalah penjara bagi semua benih yang pernah mereka kumpulkan. Jika kau pergi ke sana, kau tidak hanya akan melawan Arbiters. Kau akan menantang seluruh sistem yang mengatur jalannya alam semesta ini."

Reggiano berdiri, auranya kembali menajam. "Mereka menyebut tentang 'pemilik gerbang'. Siapa dia?"

Seraphine terdiam cukup lama, hingga suara hujan di luar terasa sangat bising dalam kesunyian itu. "Dia disebut The Grand Gardener. Dia bukan tuhan, tapi dia memiliki kekuatan untuk memangkas seluruh galaksi jika dia merasa galaksi itu sudah tidak produktif. Dan saat ini, dia melihat Distrik 7, toko roti ini, dan adikmu... sebagai cabang yang harus dipangkas."

Caspian bersiul panjang. "The Grand Gardener? Kedengarannya seperti kakek-kakek yang hobi menyiram tanaman, tapi aku ragu dia memakai celemek bunga-bunga. Reggi, kalau kita ke sana, kita akan melawan tukang kebun tingkat dewa."

Reggiano menatap Seraphine dalam-dalam. "Nona Florence, jika saya pergi... apakah Anda bisa menjaga tempat ini? Bukan hanya toko, tapi keberadaan Elena di dunia ini?"

Seraphine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kesedihan ribuan tahun. "Aku adalah akar dari taman ini, Reggiano. Selama aku masih bernapas, tidak ada satu pun bayangan dari Kota Tanpa Langit yang bisa menyentuh Elena tanpa melewati mayatku. Tapi ingatlah, jika kau gagal di sana, realitas ini akan dianggap 'cacat' dan mereka akan menghapusnya secara total."

Reggiano mengangguk. Ia beralih menatap Caspian. "Siapkan dirimu, Baron gadungan. Kita tidak akan menyusup dengan jas mahal kali ini. Kita akan masuk ke sana untuk merobek langit mereka."

Caspian berdiri, menyimpan koinnya ke dalam saku, dan merapikan perbannya. "Sudah kubilang, aku lebih suka gaya yang kasar kalau soal berurusan dengan orang-orang yang merasa diri mereka suci. Tapi Reggi... satu hal yang harus kau tahu tentang Kota Tanpa Langit."

"Apa?"

"Di sana tidak ada waktu. Kau bisa berada di sana selama satu jam, tapi saat kembali, Elena mungkin sudah menjadi nenek-nenek. Atau kau berada di sana seribu tahun, tapi di sini hanya lewat satu detik. Kau siap dengan risiko itu?"

Reggiano menatap pintu kamar Elena di lantai atas, lalu kembali menatap sabitnya yang kini berpendar merah redup.

"Aku akan membunuh waktu itu sendiri jika itu berarti aku bisa kembali padanya tepat waktu," jawab Reggiano dingin.

Seraphine mengangkat tangannya, dan perlahan-lahan, ruang di tengah toko roti mulai melintir. Bunga-bunga mawar di sekeliling ruangan mekar secara instan, kelopaknya berubah menjadi debu bintang yang membentuk portal hitam-emas yang dalam.

"Jalan telah terbuka," ucap Seraphine. "Kota Tanpa Langit menunggu sang Eksekutor yang membawa benih kehidupan."

Langkah Pertama Menuju Dimensi Luar.

Reggiano dan Caspian berdiri di depan portal yang akan membawa mereka keluar dari dunia manusia menuju tempat di mana para dewa dan buronan bersembunyi.

Reggiano melangkah mendekat ke arah Seraphine. Di telapak tangannya, sebuah kunci perak kuno dengan ukiran sulur pohon yang rumit—kunci pemberian Malachai—berpendar dingin. Ia meraih tangan Seraphine dan meletakkan kunci itu di sana, menutup jemari wanita itu dengan mantap.

"Nona Florence," suara Reggiano terdengar rendah, bergetar dengan kesungguhan yang mendalam. "Ini adalah kunci terakhir dari Malachai. Ia memegang akses langsung ke jantung Yggdrasil yang paling dalam. Saya menitipkannya kepada Anda. Gunakan ini hanya jika situasi di toko ini sudah tidak bisa lagi tertolong oleh sihir atau kekuasaan Anda. Jika High Arbiters melampaui batas, kunci ini akan memanggil seluruh murka alam untuk melindungi tempat ini."

Seraphine menatap kunci itu dengan khidmat, merasakan denyut energi purba yang mengalir darinya. "Saya mengerti, Tuan Herbert. Ini adalah amanah yang berat. Selama kunci ini ada di tangan saya, toko ini adalah benteng yang tak akan goyah."

Reggiano kemudian menoleh ke arah portal yang berputar di tengah ruangan. "Dan satu hal lagi. Teruslah hubungi saya. Caspian akan mengatur jalur komunikasi melalui celah dimensi. Saya perlu tahu bahwa Elena baik-baik saja, setiap detik, setiap tarikan napas."

Seraphine mengangguk lembut. "Suara saya akan selalu sampai ke telinga Anda melalui akar-akar dunia, di mana pun Kota Tanpa Langit itu berada."

Caspian, yang sudah berdiri di ambang portal, menjentikkan koin peraknya untuk terakhir kali di dunia ini. "Sudah selesai dramanya? Ayo, Reggi. Kalau kelamaan, portal ini bisa berubah jadi lubang hitam dan kita malah berakhir di perut monster dimensi."

Reggiano menarik napas panjang, menyesuaikan genggamannya pada sabit emasnya yang kini berpendar merah pekat. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah masuk ke dalam kegelapan emas portal tersebut, diikuti oleh Caspian yang melambai santai ke arah Seraphine.

Perjalanan di Antara Ruang dan Waktu

Di dalam portal, sensasi yang dirasakan Reggiano seperti ditarik oleh ribuan benang tak kasat mata. Cahaya dan kegelapan berganti dengan kecepatan yang menyakitkan mata. Namun, di tengah kekacauan itu, ia bisa mendengar bisikan halus Seraphine di benaknya, sebuah pengingat bahwa ia masih terhubung dengan rumahnya.

"Reggiano... bisakah Anda mendengar saya? Komunikasi pertama berhasil terbangun. Di sini Elena baru saja terbangun dan menanyakan Anda. Saya memberitahunya Anda sedang pergi mencari bahan roti yang sangat langka..."

Reggiano tersenyum tipis di tengah badai dimensi. "Terima kasih, Seraphine. Tetaplah bicara."

Tiba-tiba, tarikan itu berhenti. Reggiano dan Caspian terhempas ke sebuah permukaan keras yang terasa seperti logam dingin.

Selamat Datang di Kota Tanpa Langit

Saat debu perak menipis, Reggiano berdiri dan melihat pemandangan yang mustahil. Mereka berada di sebuah balkon luas dari batu hitam yang melayang di angkasa. Di atas mereka, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dan tidak ada bintang. Yang ada hanyalah sebuah pusaran awan berwarna ungu tua dan merah darah yang terus bergejolak, diterangi oleh petir statis yang tidak bersuara.

Di bawah mereka, sebuah kota raksasa membentang tanpa ujung. Bangunan-bangunannya berbentuk menara tajam yang terbuat dari kristal gelap dan logam kuno, saling terhubung oleh jembatan cahaya yang melengkung secara tidak masuk akal. Ribuan sosok berjubah melayang di antara gedung-gedung, dan aroma yang tercium adalah campuran antara kemenyan tua dan energi listrik yang tajam.

"Yah... setidaknya mereka punya selera arsitektur yang gotik," ucap Caspian sambil membersihkan jas birunya yang kini kembali ke warna aslinya. Ia menatap ke arah pusat kota, di mana sebuah menara raksasa berdiri paling tinggi, dengan sebuah mata mekanis besar di puncaknya yang terus berputar mengawasi segalanya. "Itu pasti Menara Arbitrase. Tempat 'The Grand Gardener' bermain-main dengan takdir."

Reggiano tidak memperhatikan keindahan kota itu. Matanya langsung tertuju pada sesosok makhluk yang sudah menunggu mereka di ujung balkon. Makhluk itu menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya terbuat dari kaca transparan yang berisi galaksi kecil yang berputar.

"Eksekutor Exclusive. Sang Pelayan Roti. Dan sang Pengelana Dimensi," suara makhluk itu terdengar seperti ribuan lonceng yang berdentang bersamaan. "Selamat datang di tempat di mana waktu mati dan penghakiman dimulai. Saya adalah Proctor 01, pemandu kalian menuju persidangan realitas."

Reggiano mengangkat sabitnya, membiarkan ujungnya menyentuh lantai balkon hingga mengeluarkan percikan api merah. "Aku tidak datang untuk diadili. Aku datang untuk memastikan tidak ada lagi yang mengganggu keluargaku."

Proctor 01 tidak bergeming. "Keberanian yang menarik. Namun di kota ini, sabitmu hanyalah sepotong logam jika kau tidak bisa membuktikan bahwa realitasmu layak untuk tetap ada. Mari, Grand Gardener ingin melihat seberapa tajam 'duri' yang telah merobek membran Sektor Utama itu."

Petualangan di Kota Tanpa Langit Dimulai.

Reggiano dan Caspian kini harus menavigasi kota yang penuh dengan hukum yang tidak masuk akal ini untuk mencapai Menara Arbitrase.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!