Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA19
Waktu terus berlalu tak terasa magrib sudah tiba, hujan tak kunjung reda. Jam tujuh malam Saras datang seorang diri, Rizki entah ke mana, Miranda juga malas menanyakan.
Nadia menjelang magrib sudah pulang, seperti biasa Nadia ada kelas malam. “Benar-benar perempuan hebat,” gumam Miranda.
Karena tidak ada pekerjaan dan tidak ada acara makan malam, Miranda berada di kamar Amora, melihat Amora yang sedang masa lucu-lucunya, pipinya semakin gemoy, makin hari makin mirip Saras.
Jam delapan malam Raka datang. Dia langsung melihat Amora.
“Bagaimana, Mir, kondisi Amora?” tanya Raka. Sejak Miranda memukul Rizki entah kenapa Raka jadi bersikap ramah pada Miranda, mungkin dia takut dipukul.
“Dia makin mirip Saras,” tentu saja itu dia katakan dalam hati.
Dengan tersenyum Miranda berkata, “Amora sehat, pipinya makin cubby, sepertinya Nadia sangat baik mengurus Amora.”
“Berkat kamu juga, Mir,” sahut Raka ringan.
“Terima kasih,” balas Miranda.
“Aku ganti baju dulu,” pamit Raka.
Miranda menganggukkan kepala. Raka menuju kamarnya. Miranda kembali menatap Amora. Miranda terlihat tenang, tetapi dalam kepalanya sudah tersusun beberapa rencana.
“Kamu istirahat saja, Mir, aku lagi kangen sama Amora, aku mau tidur di sini,” ujar Raka dengan nada ramah.
Miranda menganggukkan kepala, lalu melangkah keluar dari kamar Amora. Dia melihat jam dinding sudah jam sembilan malam dan Rizki belum juga pulang. “Sepertinya dia lagi pesta sama Melisa,” pikir Miranda.
Miranda masuk ke kamarnya, bermain media sosial, melihat beberapa postingan Melisa yang tampak sedang berbahagia. Dua hari yang lalu Melisa lulus S2, semua orang mengucapkan selamat pada Melisa.
Tampak Melisa menggunakan gelang berlian dan kalung berlian, Miranda hanya tersenyum sinis melihat hal itu.
“Inilah putri keluarga Sukmana, cantik, cerdas, dan bermartabat,” ucap seorang selebgram terkenal.
Miranda melihat gambar kiriman dari Nabil.
“Apa aku posting saja ini foto ciuman Melisa dengan Rizki,” pikir Miranda kesal.
Namun setelah dipikir berulang, Miranda mengurungkan tindakannya sambil berkata pelan, “Belum saatnya.”
Miranda melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh. Terdengar suara deru mobil. Kamar tamu yang sekarang ditempati Miranda dekat dengan gerbang, dengan jelas Miranda menyaksikan mobil Rizki masuk, Bi Mirna membuka dan menutup gerbang.
Miranda mematikan lampu dan pura-pura tidur. Miranda malas melayani Rizki, toh sebentar lagi juga dia akan diceraikan, jadi buat apa pula melayani suami yang sudah jelas-jelas selingkuh.
Walau samar, Miranda mendengar Rizki sedang mengobrol dengan Saras, dan sepertinya Saras seperti biasa melayani Rizki. Dalam kepala Miranda berpikir, “Apa bagusnya si Rizki, lelaki tak berguna, pengkhianat, celup sana celup sini, ah apa si Saras enggak tahu kalau Rizki punya hubungan spesial dengan Melisa.”
Memikirkan hal itu membuat Miranda sesak, dan dia mencolokkan headset lalu mendengarkan musik. Setidaknya dengan begitu dia tidak mendengar obrolan Rizki dan Saras.
Ponsel Miranda berdering, nama Nabil muncul di layar. Dia segera mengangkatnya.
“Bagaimana?” tanya Nabil tanpa basa-basi.
“Sesuai dengan perkiraan kamu,” jawab Miranda pelan.
“Bagus. Kamu harus tetap tenang, jangan emosi. Kamu harus bisa mengendalikan diri. Ingat, tujuan kamu itu uang,” ucap Nabil dengan nada datar.
“Uang, uang, uang saja dalam kepala kamu itu, Bil,” gerutu Miranda kesal.
“Iyalah, uang itu lebih jujur ketimbang lelaki buaya,” balas Nabil singkat.
Sambungan terputus. Miranda meletakkan ponselnya di atas ranjang lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku harus tenang,” ucapnya lirih, berusaha menenangkan diri.
Jam sebelas malam. Miranda terbangun karena pendengarannya menangkap suara aneh dari arah kamar Saras. Hujan di luar turun rintik-rintik, membawa udara dingin yang menempel di kulit. Suasana seperti ini terlalu sunyi untuk rumah sebesar ini.
Miranda meraih ponselnya. Sebuah notifikasi masuk, sebuah video baru terkirim. Tangannya gemetar saat membuka layar. Seketika matanya membelalak.
Mulutnya sampai terbuka lebar. “Astaga, Saras,” gumamnya hampir tak bersuara.
Dia mengucek matanya, lalu mendekatkan ponsel lebih dekat ke wajahnya, memastikan apa yang dilihatnya bukan khayalan. Semakin diperhatikan, tenggorokannya terasa kering.
“Ini sih adegan hot jeletot,” bisiknya dengan napas tercekat.
Dengan tangan bergetar, Miranda segera menyimpan video itu. Tubuhnya terasa panas, jantungnya berdegup semakin cepat. Tanpa sadar, ponselnya masih berada dalam mode rekam.
Matanya tak sanggup menatap layar terlalu lama. Dia menutup wajah dengan jari, lalu mengintip sedikit di sela jemarinya.
“Ya Tuhan, adegan apa lagi ini,” gumamnya panik.
Tak tahan, Miranda melempar ponsel itu ke atas bantal, napasnya memburu. Dadanya naik turun, pikirannya kacau, antara marah, terkejut, dan sadar bahwa potongan video itu bisa menjadi senjata paling berbahaya yang pernah dia miliki.
Tiga puluh menit sepertinya cukup untuk merekam itu semua. Kalau diteruskan, ponsel Miranda bisa meledak. Miranda mematikan ponselnya. Dia sudah mendapatkan jawaban siapa sebenarnya lelaki yang selingkuh dengan Saras, dan Miranda hanya bisa bergidik ngeri.
Udara semakin dingin. Miranda malam ini harus tidur dengan nyenyak, karena besok pasti tidak akan sama lagi, dan yang harus Miranda lakukan hanya bersikap wajar.
Pagi tiba tanpa drama. Sesuai perkiraan Miranda, walau Miranda tidak melayani Rizki sarapan dan masih bermalas-malasan di kamar tamu, mereka tidak akan memarahi Miranda. Bukan karena mereka baik, tapi karena uang dari Pak Karman belum cair dan sepertinya hari ini cair.
Miranda keluar dari kamar tamu jam tujuh pagi. Semua orang akan berangkat kerja. Tampak Saras wajahnya lesu. “Bagaimana tidak lesu, habis berapa ronde semalam, coba,” pikir Miranda.
Rizki tampak murung, entah apa yang dia pikirkan, padahal hari ini suntikan dana dari Karman Wijaya akan segera masuk. Ayah Anton belum keluar kamar, biasanya dia rutin berolahraga pagi.
Miranda melangkah ke kamar Amora, bermain-main dengan Amora.
“Keponakanku,” ucap Miranda, “sebentar lagi aku akan meninggalkan kamu. Hal yang paling berat bagiku adalah meninggalkan kamu, tapi kamu bukan anakku. Bapak kamu sangat menyayangi kamu. Kalau mereka tidak menyayangi kamu, aku akan menculik kamu.”
Amora tampak menguap, seolah malas mendengar ocehan Miranda.
Tak lama kemudian Nadia datang. Kali ini dia memakai baju gamis yang bagus dan sepertinya mahal.
“Mbak, biar saya yang urus Amora.”
Miranda melihat Nadia. Kali ini dia tidak seperti hari kemarin. Kemarin dia ramah, sekarang tampak dingin. Tapi Miranda tidak peduli dan hanya berkata, “Baiklah, aku pergi.”
Miranda pergi ke kamarnya lalu menonton drama Korea, karena nanti sore akan ada drama yang sebenarnya.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa jam delapan malam sudah tiba. Nadia tidak pulang seperti biasanya. Raka, Rizki, dan Saras datang bersamaan.
Tak lama kemudian Anton, Saras, Rizki, Raka, dan Nadia makan malam, dan Miranda tidak diajak. Miranda tidak peduli. Setelah tahu Rizki selingkuh, rasa cinta dan harapan pada Rizki pun sudah hilang. Miranda sedang menikmati hidup di tengah kepalsuan.
Terdengar gelak tawa dari ruang makan, seolah ingin menunjukkan pada Miranda, lihatlah, Miranda, kami bisa bahagia tanpa kamu.
Tepat jam sembilan malam, pintu kamar Miranda diketuk. Miranda melangkah lalu membuka pintu.
“Neng, ditunggu Pak Anton di ruang tengah,” ucap Bi Mirna. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan tangis.
“Baiklah,” jawab Miranda, lalu melangkah ke ruang tamu.
Dia melihat Anton sedang duduk. Rizki dan Nadia duduk berdampingan. Saras dan Raka juga berdampingan. Dan tersedia satu kursi untuk Miranda, seolah Miranda akan dihakimi.
“Duduklah,” perintah Anton singkat.
Miranda mengedarkan pandangan. Dia melihat ada dua pria kekar berdiri di dekat dinding.
Anton menatap Miranda tajam, lalu berkata, “Miranda, Rizki malam ini akan menceraikanmu.”