Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut Keadilan
Di ruang tengah rumah panggung yang sederhana itu, Mak Sari menahan pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
Vertigo lamanya kambuh, tapi melihat putrinya, Kinar Hidayat, bersimpuh di lantai sambil terisak, rasa sakit itu ia telan bulat-bulat. Tangan keriputnya yang hangat mengusap punggung Kinar yang bergetar.
"Mak, Kinar nggak berguna... Maafin Kinar, Mak," suara Kinar parau, timbul tenggelam dalam tangis.
"Begitu Mas Suryo jadi pejabat teras, begitu uangnya jutaan, dia bilang Kinar cuma beban. Dia kasih surat cerai, dia usir kami... bahkan Lastri, darah dagingnya sendiri, nggak dia anggap."
Kinar merasa dadanya sesak. Bertahun-tahun ia mendampingi Suryo Wibowo merintis usaha dari nol, dari jualan di lapak kaki lima sampai jadi Juragan Besar yang disegani di kota.
Tapi apa balasannya? Saat sukses, Kinar dibuang seperti ampas tebu. Ia pulang ke rumah orang tuanya membawa aib janda, merasa gagal membalas budi, malah menambah beban pikiran orang tua.
Mata Mak Sari memerah. Hatinya seperti diiris sembilu. "Nduk, bangun. Jangan ngomong begitu," bisiknya tegas meski suaranya bergetar menahan amarah.
"Bapakmu memang cuma pensiunan guru SD, kita orang kampung, tapi kita bukan orang yang bisa diinjak-injak."
"Bapak, Ibu, Kinar... ayo makan dulu. Nasi sudah matang. Kasihan Lastri sama Kinar pasti lapar dari perjalanan jauh," suara lembut Mira Utami, istri Kang Jaka, memecah ketegangan.
Ia muncul dari dapur membawa nampan berisi nasi hangat yang mengepul.
Abah Kosasih Hidayat, yang sedari tadi duduk diam di kursi rotan tua dengan rahang mengeras, akhirnya berdiri. Ia memandang putri dan cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang mendalam dan kemurkaan yang tertahan.
"Makan dulu," titah Abah singkat. "Perut nggak boleh kosong kalau mau perang. Urusan harga diri, biar Abah yang pikirkan nanti."
Di meja makan kayu jati yang sudah kusam itu, hidangan yang tersaji jauh dari kata mewah. Hanya sayur lodeh terong, ikan asin, dan sambal terasi.
Tapi aromanya, aroma rumah, membuat air mata Kinar kembali menetes, kali ini karena haru.
Sulastri kecil, atau Lastri, duduk tenang di samping Kang Jaka. Matanya yang bulat dan bening mengamati sekeliling.
Rumah kakeknya ini tidak semegah "rumah gedong" milik ayahnya yang lantainya marmer dingin. Di sini lantainya masih ubin jadul, dindingnya batako ekspos, tapi Lastri bisa merasakan sesuatu yang tidak dimiliki rumah ayahnya: Kehidupan.
Tak ada yang tahu bahwa ada sukma Dewi Sri yang berdenyut samar dalam nadi Sulastri, yang membuatnya peka pada apa yang tak kasat mata.
Ia tahu kenapa di rumah gedongan ayahnya, tanaman tak pernah berumur panjang. Sekuat apa pun pupuk ditabur, daun-daun akan tetap layu dan meranggas.
Tanah di sana seolah menjerit kepanasan, 'tak sudi' memberi hidup pada pemilik rumah yang hatinya hangus oleh ambisi duniawi.
Tapi di sini? Meski perabotnya tua, udaranya sejuk. Energinya bersih.
Selama Kakek, Nenek, Pakdhe dan Budhe baik sama Ibu, aku akan pastikan lumbung padi mereka nggak akan pernah kosong, batin Lastri.
Ia menyentuh pinggiran meja makan. Tanpa ada yang menyadari, serat kayu tua di meja itu tampak sedikit lebih mengkilap, seolah baru saja dipoles minyak terbaik.
"Lastri sayang, mau Budhe suapin?" tawar Mira lembut. Ia menatap iba pada keponakannya yang kurus itu. "Kamu pasti capek."
Lastri menggeleng pelan, tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Nggak usah, Bi. Lastri sudah besar, bisa makan sendiri."
"Kita makan bareng-bareng ya, biar berkah."
Mira dan Mak Sari saling pandang, terenyuh. Anak sekecil ini bicaranya sudah seperti orang tua, mandiri dan sopan.
Sangat kontras dengan sepupu-sepupunya di keluarga kaya sana, anak-anak Bagyo dan Darso, yang manja, sering melempar makanan, dan tantrum kalau keinginannya tidak dituruti.
Setelah makan malam selesai, piring-piring kotor diangkut ke belakang. Abah Kosasih memanggil Kang Jaka ke ruang tengah. Suasana berubah serius.
"Jaka," suara Abah berat, "Adikmu diinjak-injak. Kita tidak bisa diam saja. Mentang-mentang Suryo sekarang punya kuasa, dia pikir bisa buang anak orang sembarangan."
"Siap, Bah. Nggak usah disuruh, tangan Jaka sudah gatal," jawab Jaka, matanya menyala. "Apa perlu Jaka kumpulin anak-anak karang taruna buat datengin rumahnya malam ini?"
"Jangan malam ini. Besok pagi," potong Abah. Ia menatap tajam ke arah kalender dinding.
"Kita main cantik tapi sakit. Pertama, siapkan mobil pick-up. Bawa speaker masjid atau toa. Kita arak keliling kampung tempat dia tinggal."
"Kita umumkan ke tetangga-tetangga elitnya kalau Juragan Suryo Wibowo itu orang kaya baru yang lupa kulit."
Abah menarik napas panjang. "Kedua, urusan harta. Suryo kaya karena usaha bareng Kinar. Abah akan tuntut harta gono-gini."
"Kalau dia nggak mau bagi adil, kita bawa ke pengadilan. Dia pikir pensiunan guru kayak Abah buta hukum? Tinta pulpen itu lebih tajam dari golok kalau dipakai dengan benar."
Malam semakin larut. Kinar sudah masuk kamar untuk menidurkan Lastri, tapi bocah itu diam-diam menyelinap keluar menuju halaman belakang.
Di dekat sumur, Mira sedang sibuk membersihkan ikan gurame hasil pancingan Jaka di sungai sore tadi. Baunya amis, tapi Mira telaten mengerjakannya.
"Budhe..." panggil Lastri pelan.
Mira menoleh, tersenyum kaget. "Lho, Nduk? Kok belum tidur? Di sini bau amis, sayang. Masuk gih."
Lastri tidak beranjak. Ia malah jongkok di sebelah Mira, menatap wajah Budhenya yang lelah namun tetap cantik itu. "Budhe Mira, apa yang paling Budhe pengen sekarang?"
Mira tertawa kecil, mengusap keringat di dahi dengan lengan bajunya. "Budhe? Budhe cuma pengen punya anak yang pintar, cantik, dan penurut kayak kamu, Lastri."
Lastri memiringkan kepala. "Cuma itu? Budhe nggak mau uang banyak? Bapak aja ninggalin Ibu karena pengen uang banyak lho."
"Uang bisa dicari, Nduk. Rezeki itu sudah ada yang atur. Tapi kehadiran anak... itu anugerah yang nggak bisa dibeli," desah Mira, ada nada getir dalam suaranya.
Sudah lima tahun ia menikah dengan Jaka, tapi rumah mereka masih sepi dari tangis bayi.
Lastri tersenyum misterius. Ia mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh tangan Mira seolah sedang membersihkan debu.
"Budhe orang baik. Jangan sedih ya," ucap Lastri. "Sebentar lagi bakal ada dedek bayi di perut Budhe."
Saat jari Lastri menyentuh kulit Mira, tidak ada kilatan cahaya, tidak ada suara guntur. Hanya rasa hangat yang menjalar cepat, membuat rasa lelah di tubuh Mira mendadak sirna.
Dan di bawah kaki Lastri, di sela-sela semen sumur yang retak, tunas rumput liar yang tadinya kering kerontang mendadak tegak, hijau segar, dan berbunga kecil dalam hitungan detik.
Mira tentu saja tidak melihat rumput itu. Ia hanya menganggap ucapan Lastri sebagai doa tulus seorang anak kecil. "Aamiin... Makasih ya, peri kecil Budhe."
"Sekarang Lastri bobo gih, besok bakal jadi hari yang panjang."
Keesokan paginya, matahari belum tinggi ketika halaman rumah Abah Kosasih sudah ramai. Keluarga besar Hidayat berkumpul.
Bukan untuk pesta, tapi untuk menuntut keadilan.
Solidaritas orang kampung itu nyata. Mendengar Kinar dicerai sepihak dan diusir tanpa harta gono-gini yang layak, Pakdhe, Budhe, dan sepupu jauh semua datang.
Mereka tidak terima "Mantan Bunga Desa" mereka diperlakukan bak sampah.
Sebuah mobil pick-up bak terbuka sudah siap. Spanduk kain sederhana dibentangkan di sisi mobil, bertuliskan cat pilox: "ORANG KAYA LUPA DARATAN - KEMBALIKAN HAK ISTRIMU!"
Abah Kosasih mengenakan batik lengan panjang terbaiknya dan peci hitam, memegang tongkat komando imajiner. Wajahnya tenang tapi mematikan.
"Semuanya dengar," Abah memberi arahan. "Kita ke sana bukan untuk anarkis. Kita ke sana untuk memberi pelajaran moral."
"Kalau satpamnya halangi, jangan dipukul, tapi diteriaki saja. Biar tetangga elitnya pada keluar dan nonton."
Kinar menggendong Lastri naik ke kabin depan mobil. Jantungnya berdegup kencang, tapi melihat wajah tegar ayahnya dan sorot mata berani kakaknya, rasa takutnya lenyap.
Rombongan pun bergerak.
Saat mobil keluar dari jalan desa menuju jalan raya kota, Jaka menyalakan toa. Suaranya menggema, memecah keheningan pagi.
"KEPADA YANG TERHORMAT JURAGAN SURYO WIBOWO! YANG RUMAHNYA GEDONG TAPI HATINYA KOSONG! KAMI DATANG MENJEMPUT KEADILAN!"
Lastri melihat keluar jendela kaca mobil. Ia melihat langit cerah di atas mereka, seolah semesta merestui "serangan fajar" ini.
Di pangkuan ibunya, Lastri menggenggam tangan Kinar erat-erat.
Tenang saja, Bu, batin Lastri. Hari ini tanaman keberuntungan Ayah akan mulai layu satu per satu.