Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pernikahan Kai & Yuki
Seminggu kemudian, pagi itu datang dengan langit yang cerah dan udara yang terasa lebih ringan dari biasanya. Hotel milik Kai—bangunan megah yang berdiri anggun di pusat kota—dipenuhi rangkaian bunga putih dan pita lembut berwarna gading. Para staf bergerak cepat namun rapi, memastikan setiap sudut tampak sempurna. Hari itu bukan sekadar perayaan, melainkan awal baru bagi dua hati yang telah melewati luka dan ketakutan.
Yuki berdiri di depan cermin di ruang rias, mengenakan gaun sederhana namun elegan. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya potongan yang jatuh lembut, menegaskan keanggunannya tanpa menutupi ketulusan yang terpancar dari matanya. Ai tertidur di boks kecil di sudut ruangan, pipinya kemerahan, napasnya teratur. Yuki menatap bayinya dengan senyum yang penuh harap. Ia mengusap pipi kecil itu, berbisik, “Hari ini Mama memulai hidup yang baru, Nak.”
Ibu Kai masuk dengan langkah pelan, membawa selendang tipis. “Kau terlihat cantik,” katanya, suaranya hangat dan mantap, seperti selalu. “Bukan karena gaunnya. Karena kau terlihat tenang.”
Yuki menoleh dan tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu. Kalau bukan karena Ibu… mungkin aku masih terjebak di tempat yang gelap.”
Ibu Kai menggeleng pelan. “Kau yang melangkah sendiri. Kami hanya menemani.”
Di ruangan lain, Kai berdiri di depan jendela, jas hitamnya rapi, dasi terikat dengan sederhana. Ayahnya menepuk bahunya, memberi isyarat dukungan tanpa banyak kata. Kai menarik napas panjang, bukan karena gugup semata, tapi karena ia tahu, hari ini adalah janji yang harus ia jaga seumur hidup. Bukan hanya kepada Yuki, tetapi juga kepada Ai.
Upacara digelar di aula utama hotel, dipenuhi cahaya natural yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Tamu-tamu berdiri ketika Yuki melangkah masuk, Ibu Kai menggandengnya dengan penuh kebanggaan. Langkah Yuki mantap, meski dadanya berdebar. Saat matanya bertemu dengan Kai di ujung lorong, dunia terasa mengecil. Tidak ada bayangan masa lalu, tidak ada gema ketakutan—yang ada hanya tatapan yang berkata, kita aman, kita bersama.
Janji diucapkan dengan suara yang tenang namun penuh makna. Kai menggenggam tangan Yuki, merasakan getar halus yang kemudian mereda. “Aku berjanji,” ucapnya, “menjadi tempat pulang yang aman, menjadi teman yang setia, dan menjadi ayah yang menjaga Ai dengan sepenuh hati.”
Yuki menahan air mata, lalu menjawab dengan suara yang jujur, “Aku berjanji belajar percaya lagi, berjalan bersamamu, dan membangun rumah yang penuh kehangatan—untuk kita.”
Saat cincin terpasang, tepuk tangan memenuhi ruangan. Ai, yang terbangun oleh suara ramai, mengeluarkan suara kecil seolah ikut menyambut. Yuki tertawa lembut, dan Kai menggendong Ai sejenak setelah prosesi, memperkenalkan dirinya dengan bisikan pelan di telinga bayi itu, “Papa di sini.”
Resepsi berlangsung hangat. Tidak berlebihan, namun penuh tawa dan obrolan yang tulus. Ibu Kai mengawasi dari kejauhan, senyumnya tak lepas, sementara Ayah Kai menepuk bahu Kai dengan bangga. Yuki, yang biasanya mudah cemas di keramaian, hari itu tampak tenang seolah setiap langkahnya disangga oleh kehadiran Kai di sisinya.
Sore menjelang, cahaya matahari menyentuh lantai marmer, memantulkan kilau lembut. Yuki berdiri di dekat jendela, menggendong Ai, memandang kota dari ketinggian. Kai menghampiri, meraih tangan Yuki. “Terima kasih sudah berani,” katanya.
Yuki tersenyum, menatap mereka berdua di pantulan kaca. “Terima kasih sudah menunggu.”
Malam itu, setelah tamu-tamu pulang dan aula kembali hening, mereka bertiga duduk di sofa kecil di suite hotel. Ai tertidur di antara mereka, napasnya teratur. Tidak ada pidato, tidak ada sorotan lampu hanya keheningan yang terasa seperti rumah. Yuki menyandarkan kepala di bahu Kai, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan masa depan tanpa bayang-bayang ketakutan.
Hari itu bukan penutup cerita. Itu adalah halaman pertama dari kehidupan yang ingin mereka tulis bersama dengan langkah yang pelan, janji yang dijaga, dan cinta yang tumbuh setiap hari.
Pagi berikutnya datang tanpa terburu-buru. Cahaya matahari menyusup lewat tirai tipis, menaburkan warna keemasan di lantai kamar. Yuki terbangun lebih dulu, refleks menoleh ke sisi tempat tidur. Kai masih tertidur, napasnya teratur, satu lengannya melingkar pelan seolah menjaga. Di tengah mereka, Ai meringkuk dengan tenang. Pemandangan itu membuat Yuki tersenyum kecil—bukan senyum yang dipaksakan, melainkan yang lahir dari rasa aman.
Yuki bangkit perlahan agar tidak membangunkan keduanya. Ia menyiapkan air hangat, lalu kembali duduk di tepi ranjang, menatap wajah Kai yang terlihat jauh lebih lembut saat tidur. Di benaknya, terlintas betapa cepat hidup berubah ketika keberanian dan kepercayaan berjalan beriringan. Ia mengusap rambut Ai, lalu berbisik, “Hari ini kita mulai rutinitas baru, Nak.”
Kai terbangun beberapa menit kemudian. Ia memicingkan mata, melihat Yuki sudah siap dengan pakaian sederhana. “Pagi,” katanya, suaranya serak tapi hangat.
“Pagi,” jawab Yuki, menoleh. “Kamu tidur nyenyak?”
Kai mengangguk, lalu melirik Ai. “Lebih dari nyenyak. Rasanya… seperti pulang.”
Mereka sarapan bersama di ruang makan kecil suite. Tidak ada formalitas, hanya roti panggang, buah, dan teh hangat. Kai menyendokkan bubur untuk Ai, yang menyambutnya dengan antusias. Yuki tertawa melihat pipi kecil itu belepotan. “Pelan-pelan,” katanya.
Kai mengelap lembut, “Kita belajar bareng, ya.”
Menjelang siang, mereka pulang ke rumah. Ibu Kai sudah menunggu di teras, matanya berbinar. “Akhirnya pulang juga,” ucapnya, lalu memeluk Yuki sebentar. “Rumah ini jadi lebih hidup.”
Yuki mengangguk, sedikit terharu. “Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha menjaga semuanya.”
Hari-hari berikutnya mengalir dengan ritme baru. Kai kembali ke kantor, tapi pulang lebih awal bila bisa. Yuki menata ulang sudut rumah, membuat ruang kecil untuk bermain Ai, menaruh pot tanaman di dekat jendela. Ibu Kai sering menemani, kadang mengajak Yuki mencoba resep baru atau sekadar duduk minum teh sore. Tidak ada paksaan untuk melupakan masa lalu—yang ada hanya kebiasaan kecil yang perlahan menguatkan.
Suatu sore, Kai pulang membawa sebuah buku bergambar. Ia duduk di lantai, mengajak Ai melihat warna-warna. Yuki memperhatikan dari dapur, hatinya terasa hangat. Ketika Ai tertawa kecil, Kai ikut tertawa, dan suara itu memenuhi ruangan seperti janji yang ditepati.
Malam hari, setelah Ai tertidur, Yuki dan Kai duduk di balkon. Angin berembus ringan. “Aku masih belajar,” kata Yuki pelan. “Kadang takut itu muncul lagi.”
Kai mengangguk, tidak memotong. “Kita belajar bareng. Kalau kamu lelah, bilang. Kalau aku terlalu keras, ingatkan.”
Yuki menatapnya, lalu tersenyum. “Terima kasih sudah sabar.”
“Terima kasih sudah berani,” balas Kai.
Beberapa minggu kemudian, rutinitas itu menjadi kebiasaan. Yuki mulai kembali menulis di buku catatannya hal kecil yang dulu ia tinggalkan. Ibu Kai mengajak berkebun, menanam bunga yang mekar bergantian. Ai mulai merangkak, mengejar bayangan cahaya di lantai, dan setiap langkah kecilnya disambut sorak sederhana.
Suatu hari, Yuki menerima pesan singkat dari masa lalu yang mencoba mengusik. Tangannya sempat gemetar, namun ia tidak menyimpannya sendirian. Ia menunjukkan pada Kai. Mereka duduk, membicarakan langkah yang tenang dan tegas. Tidak ada teror, tidak ada kemarahan hanya batas yang jelas. Malam itu, Yuki tidur lebih nyenyak karena ia tidak lagi sendirian memikul beban.
Waktu berjalan. Musim berganti. Rumah itu dipenuhi suara kecil, langkah yang semakin yakin, dan tawa yang tidak lagi terasa asing. Yuki belajar bahwa berdamai bukan berarti melupakan, melainkan memilih hari ini dengan keberanian yang baru. Kai belajar bahwa melindungi tidak selalu dengan kekuatan, kadang cukup dengan hadir dan mendengar.
Di suatu pagi yang cerah, Ai mengambil langkah pertamanya di ruang tamu. Yuki menahan napas, Kai berdiri siap menyambut. Ketika Ai jatuh dan bangkit lagi, mereka berdua tersenyum. Itu sederhana, tapi bagi mereka, itu adalah tanda: mereka sedang membangun sesuatu yang akan terus tumbuh pelan, jujur, dan penuh harap.