Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Adrian
Setibanya di rumah, Adrian langsung mencoba t-shirt putih pemberian Hanin yang bertuliskan 'Seoul', Adrian sangat menyukainya.
Adrian terlihat tampan memakai t-shirt oleh-oleh dari Hanin, "Mm .. ganteng juga perasaan gue pakai ini, Hanin Hanin kamu masih tetap seperti dulu, bisa aja kalau pilihin baju buat aku, selalu aja matching dengan kulit aku, seandainya kita bisa sama-sama lagi" gumam Adrian sambil berkaca.
Kemudian Adrian juga memisahkan beberapa oleh-oleh dari Hanin untuk diberikan pada Davina, dan sedikit buat cemilannya sendiri.
Adrian kemudian mengganti kaos barunya dengan kaos oblong yang biasa ia pakai, lalu kemudian tidur sambil memeluk t-shirt pemberian Hanin.
Keesikan paginya, hari ini adalah hari jum'at, Adrian pergi ke kantor membawa motor maticnya, lalu mampir di kantor Davina yang bersebelahan dengan kantornya untuk memberikan oleh-oleh dari Hanin dan mengambil pesanannya.
"Hmm, mungkin aku sebaiknya berterus terang dengan Davina kalau Hanin yang di kagumi dia adalah mantan istri aku, setidaknya aku bisa bangga.. walau pun sekarang ini statusnya hanya mantan" gumam Adrian.
Di lobby kantor Adrian pun bertemu dengan Davina, "Pagi cantik .. aku mau ambil pesanan," ujar Adrian to the point.
Davina hanya tersenyum, lalu memberikan tas yang berisi masakannya, "Terima kasih ya.. ini uangnya Vin sekalian" ujar Adrian. "Sama-sama mas" ujar Davina lembut.
"Oh iya Vin, aku punya sesuatu buat kamu, ini dari orang yang kamu kagumi" ujar Adrian tersenyum.
Mata indah Davina terbelalak melihat bungkusan besar berisi coklat-coklat impiannya,
"Mas, ini kan mahal-mahal coklatnya.. dari siapa sih?" tanya Davina sedikit kepo.
"Hayo dari siapa coba? semua ini dari mbak Hanin, kenalkan?" ujar Adrian tersenyum.
"Hahh? kok bisa mas di kasih ini semua dari mbak Hanin, memang sih dia baru dari Korea Selatan kemarin" ujar Davina yang masih bingung.
"Mm, iya.. terima dulu dong, nanti aku cerita ya.." ujar Adrian sambil memberikan bingkisan. Davina pun mengangguk.
Adrian kini sudah ada di ruangan kerjanya, ia tidak sabar mencoba sarapannya,
"Bismillah .. pasti ini enak ya Allah" gumamnya sambil menyantap lontong opor buatan Davina.
"Mm.. ,enaknya ya Allah, bisaan masaknya Davina ini, udah cantik, pintar masak lagi, "gumam Adrian, sambil menyantap habis tak tersisa sarapannya.
Waktu pun telah berganti sore, Adrian pun dengan riang kembali ke rumah. Setelah itu ia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk sekedar pamer t-shirt yang dipakainya dari Hanin..
"Aku nggak mau ibu dan mbak Astrid selalu menganggap Hanin rendah di mata mereka, Hanin berbeda sekarang walau pun penghasilannya melebihi aku" gumam Adrian.
Tiba di rumah ibunya, Adrian langsung masuk menuju kamar ayahnya yang sudah terlihat sehat dari strokenya..
"Ayah .. "sapa Adrian tersenyum. "Eh kamu nak datang.. "ujar ayahnya. Adrian lalu mencium punggung tangan ayahnya. Setelah berbincang sejenak Adrian menuju ruang tengah.. dan tampak di sana ada mbak Astrid, ibu dan keponakannya.
"Wah, bagus euy Adrian bajunya wangi baru nih.. siapa yang dari Korea Selatan?, perasaan Sita ada di rumah" ujar mbak Astrid.
"Oh, ini pemberian.. oleh-oleh t-shirt dari Hanin, kebetulan dia baru pulang dari sana, mantan istri aku tambah tajir sekarang" ujar Adrian dengan santai.
Lalu ia memberikan coklat made in Korea pada keponakannya, "Fin ini coklat mau nggak?" tanya Adrian. "Makasih om, "ujar Alfin sambil menerima coklat dan kue.
"Kamu ini ya Adrian, sukanya menghayal.. mana ada perempuan bodoh, mandul mendadak tajir melintir kecuali ya dia menjual tubuhnya sama laki-laki hidung belang" ujar Astrid sadis. Adrian hanya menggelengkan kepalanya.
"Mbak salah besar, omongan mbak 100 persen salah!" ujar Adrian meledek kakaknya.
"Ahh, kamu itu tahu apa Adrian.. aku inikan perempuan, jadi tahu mana perempuan malas, bodoh dan perempuan yang cerdas" ujar Astrid dengan sombong.
Adrian pun lalu tertawa lebar mendengar pernyataan Astrid.
"Hanin sekarang beda mbak, buktinya aku sering main ke ruko pribadinya, aku kagum sama dia masih menerima aku baik, dia rendah hati, tambah cantik dan juga tajir, seandainya saja Hanin mau kembali lagi" ujar Adrian memanas manasi Astrid dan ibunya.
"Adrian, kamu mau mencampakkan Sita ya? dia udah banyak berkorban, "ujar Astrid.
"Aku nggak mau punya istri penipu mbak, bisanya ya bercinta aja, selebihnya ya jorok.. hiii amit-amit deh!" ujar Adrian tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Ya tetap aja kamu harus menikahi Sita, terus apa Hanin kejar-kejar kamu lagi, iya?" tanya ibu Hemas.
"Bu, Hanin itu sudah move-on dari aku.. dan dia menganggap aku hanya sebagai teman baik, bahkan pacar aku yang lain jadi fansnya" ujar Adrian sambil tersenyum.
"Adrian, Adrian kamu ini ya .. punya pacar baru lagi, jelas ibu dan ayah nggak merestui, ibu bilang putuskan segera!" ujar bu Hemas.
"Aku nggak akan mau putusin dia bu, dia baik, dia juga cantik, pintar masak dan lebih dari Sita yang ibu bangga-banggakan itu, aku akan menikahinya dengan atau tanpa restu dari ibu" ujar Adrian dengan tegas.
"Dasar kamu ini anak durhaka Adrian.. nggak mau nurut sama ibu!" ujar bu Hemas, Adrian pun seperti tidak menanggapi ucapan ibunya.
"Ya udahlah aku pamit dulu bu" ujar Adrian sambil menyalami tangan ibunya, lalu berjalan ke kamar ayahnya.
"Yah, kalau aku nikah lagi dengan perempuan teman kerja, janda cantik boleh ya ayah?" ujar Adrian dengan sengaja bicara keras.
"Boleh nak, boleh .. asal dia juga serius sama kamu Adrian" ujar ayahnya dari balik kamar. "Makasih yah, aku pamit dulu" ujar Adrian tersenyum lebar, sambil melirik kakaknya dan ibunya. Wajah Astrid pun berubah cemberut.
Adrian lalu pulang ke rumahnya.
"Ting .. Ting.." ,Adrian melihat notifikasi pesan yang masuk dan ternyata dari Sita,
Sita : Mas, lagi di mana?
Adrian tidak membalas pesan Sita yang ternyata sudah ada di rumahnya, Adrian pun masih dalam perjalanan menuju pulang.
Tiba di rumah, Adrian sempat curiga karena pagarnya terbuka.. ia pun merasa bahwa Sita ada di dalam rumahnya.
Dan benar saja, setelah Adrian menutup pintu ia masuk ke kamarnya dan melihat Sita sudah memakai hot lingerie di depannya, tanpa basa-basi Adrian pun menutup lagi pintu kamarnya dan tidur di sofa ruang tengah.
Sita lalu mengejar Adrian, lalu dengan santai ikut berbaring di ruang sofa ruang tengah bersama Adrian yang sudah memakai boxer tidurnya,
"Ngapain sih kamu ikut kesini, udahlah jangan ganggu aku, aku butuh tidur.. besok aku dinas luar kota" ujar Adrian kesal karena Sita dengan sengaja merapatkan tubuhnya ke dada Adrian.
"Mas, aku cuma kangen" ujar Sita sambil mulai membuka boxer Adrian dan menyentuh milik Adrian.
"Please Sit, cukup! terus terang Sit.. aku menyesal pernah berhubungan intim dengan kamu di luar nikah, aku nggak mau lagi seperti ini ngerti kamu?" ujar Adrian melepaskan tangan Sita yang memegang erat miliknya.
"Mm, jadi kamu nolak aku mas?" tanya Sita sambil terus berusaha memancing hasrat Adrian.
"Udahlah Sit, mending kamu pulang atau tidur sendiri saja di kamar aku, JANGAN GANGGU AKU LAGI, NGERTI??" ujar Adrian. Sita pun menangis dan kembali ke kamar Adrian.
Waktu telah berganti pagi, Adrian lalu melaksakan sholat subuh sementara Sita tampak tertidur pulas di kamar dengan tubuh setengah telanjang dan mendengkur keras.
Adrian pun bergegas berganti baju, bersiap untuk pergi lalu ia menuliskan sebuah pesan di kertas untuk Sita,
"Sita, aku jalan dulu ya.. aku dinas ke Jakarta, kalau kamu pulang nanti tolong rumah jangan berantakan, jangan jorok, kunci pintu rumah da juga pagar depan", isi pesan Adrian.
Setelah itu Adrian pun pergi, sebenarnya Adrian berbohong pada Sita.. Adrian tidak pergi keluar kota, melainkan pergi mencari rumah Davina, karena alamatnya sudah ia temukan dari data ASN di kantornya.
Adrian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kota Bandung yang pagi ini tampak lengang.. kemudian dengan mengikuti googlemaps ia sampai di sebuah kawasan perumahan mewah sekitar jalan Antapani Bandung timur,
Tampak Adrian berhenti di sebuah rumah 2 lantai bergaya klasik, "Mm.. sepertinya ini rumah Davina, apa dia sendiri ya?, atau dengan orang tuanya? I don't know" gumamnya dalam hati.
Adrian pun turun dari mobil, lalu memijit bel pintu rumah tersebut, tak lama tampak olehnya seorang laki-laki muda tampan membuka pagar dan menghampiri Adrian..
"Pagi, maaf mau tanya apa ini benar rumah Davina?" tanya Adrian.
"Benar mas, mas mau ketemu kakak saya?" ujar laki-laki muda tadi.
"Oh, syukurlah ternyata dia adiknya" gumam Adrian dalam hati, lalu Adrian menjawab pertanyaannya.
"Mm, iya mas.. saya Adrian teman kantor Davina" ujar Adrian sambil tersenyum. Adrian pun dipersilahkan masuk lalu menunggu di teras yang asri itu.
****