Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Berdarah
Istana Naga Langit, Aula Teratai.
Musik sitar yang lembut mengalun di udara, menemani gemerincing gelas emas dan tawa para pejabat tinggi. Wangi dupa cendana kelas satu berusaha menutupi ketegangan politik yang kental di ruangan itu.
Pangeran Ketiga Qin Yu duduk di kursi kehormatan di sisi kanan takhta Kaisar yang kosong (Kaisar sedang "sakit"). Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, namun matanya yang sipit menyiratkan kekejaman yang tersembunyi.
Di balik lengan jubah sutra ungunya, tangannya meremas selembar kain sutra hitam.
"Jangan minum anggur ketiga."
Pesan itu datang entah dari mana tadi pagi, muncul begitu saja di atas bantalnya saat dia bangun. Tidak ada penjaga yang melihat penyusup. Itu saja sudah cukup membuat Qin Yu berkeringat dingin.
"Yang Mulia Pangeran Ketiga," suara seorang pria tua membuyarkan lamunannya.
Itu Menteri Li. Pria yang setia melayaninya selama sepuluh tahun. Pria yang disebut dalam surat itu sebagai pengkhianat.
"Hamba mendengar Yang Mulia sedang pusing karena urusan perbatasan," Menteri Li tersenyum ramah, menuangkan anggur dari kendi perak ke gelas Qin Yu. "Ini adalah Anggur Embun Pagi yang difermentasi 50 tahun. Sangat baik untuk menenangkan saraf."
Qin Yu menatap menteri tua itu. Wajahnya tampak tulus.
"Terima kasih, Menteri Li," Qin Yu tersenyum tipis. "Kau selalu perhatian."
Dia meminum gelas pertama. Aman. Dia meminum gelas kedua. Aman.
Menteri Li menuangkan gelas ketiga.
"Untuk kejayaan Kerajaan Qin, dan kesehatan Yang Mulia Pangeran," ucap Menteri Li, mengangkat gelasnya sendiri.
Jantung Qin Yu berdegup kencang.
Surat itu... apakah itu benar? Atau hanya upaya musuh untuk membuatnya mencurigai sekutu sendiri?
Qin Yu mengangkat gelas ketiga itu ke bibirnya. Dia melihat kilatan kemenangan yang sangat tipis di mata Menteri Li—kilatan yang mungkin tidak akan dia sadari jika dia tidak sedang waspada.
Qin Yu berhenti.
"Menteri Li," kata Qin Yu pelan. "Kau tahu aku sangat menghargaimu."
"Tentu saja, Yang Mulia."
"Kalau begitu, kau tidak akan keberatan jika aku membagikan anggur lezat ini denganmu, kan?"
Qin Yu menyodorkan gelasnya ke bibir Menteri Li. "Minumlah. Dari gelasku."
Wajah Menteri Li berubah pucat dalam sekejap. Senyumnya kaku. "Y-Yang Mulia... itu tidak pantas... hamba tidak layak minum dari gelas naga..."
"MINUM!" bentak Qin Yu, suaranya menggelegar mematikan musik.
Seluruh aula terdiam.
Menteri Li gemetar. Dia tahu dia ketahuan. Tangan kanannya tiba-tiba bergerak ke balik jubahnya, menarik sebuah belati.
"MATI KAU TIRAN!"
Menteri Li menerjang.
Tapi Qin Yu lebih cepat. Dia adalah kultivator Ranah Pondasi Awal. Dia melempar gelas anggur itu ke wajah Menteri Li.
Cesss!
Cairan anggur itu mendesis saat menyentuh kulit wajah Menteri Li, membakar dagingnya hingga melepuh hitam.
"ARGHHH!" Menteri Li menjerit, menjatuhkan belatinya.
"Racun Ular Hitam," desis Qin Yu dingin. "Sangat mematikan. Bahkan satu tetes bisa membunuh gajah."
Para pengawal kerajaan segera menyerbu, menahan Menteri Li yang berguling-guling kesakitan.
"Siapa yang menyuruhmu?!" teriak Qin Yu, mencengkeram kerah menterinya.
"Pangeran Mahkota... akan... menang..." Menteri Li tertawa gila, lalu menggigit racun di giginya dan mati seketika.
Qin Yu melepaskan mayat itu dengan jijik. Dia berdiri, menatap seluruh pejabat yang ketakutan.
"Bersihkan sampah ini," perintahnya.
Tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya tertuju pada sutra hitam di lengan bajunya.
Aliansi Gerhana.
Mereka tahu. Mereka tahu segalanya.
Tengah Malam - Kamar Tidur Pangeran Ketiga.
Qin Yu tidak bisa tidur. Dia duduk di tepi ranjangnya, sebuah pedang pusaka di pangkuannya. Lampu-lampu dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela yang terbuka.
Dia menunggu.
Dia tahu pengirim surat itu akan datang menagih "bayaran".
Angin berhembus pelan, menggerakkan tirai sutra.
Saat tirai itu turun kembali, sesosok bayangan sudah duduk di kursi di sudut ruangan, seolah-olah dia sudah ada di sana sejak awal.
Jubah hitam. Topeng putih polos. Aura yang menyatu dengan kegelapan.
Sarjana Mo.
"Keamanan istana ini menyedihkan," suara Han Luo terdengar berat dan mengejek. "Aku bisa membunuhmu sepuluh kali dalam perjalanan dari jendela ke kursi ini, Pangeran."
Qin Yu mencengkeram pedangnya, tapi tidak menyerang. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Aliansi Gerhana," kata Qin Yu. "Kalian menyelamatkan nyawaku hari ini."
"Kami menyelamatkan investasi kami," koreksi Han Luo. "Menteri Li hanyalah pion kecil. Pangeran Mahkota punya sepuluh pion lain di sekitarmu."
Qin Yu menelan ludah. "Apa yang kalian inginkan? Uang? Jabatan?"
"Uang hanyalah alat. Jabatan hanyalah beban," Han Luo berdiri, berjalan perlahan mendekati Pangeran. "Kami menginginkan Akses."
Han Luo meletakkan sebuah gulungan kertas di meja.
"Ini adalah daftar nama mata-mata Pangeran Mahkota di jajaran militermu. Hadiah perkenalan dari kami."
Mata Qin Yu membelalak melihat daftar itu. Ada nama jenderal kepercayaannya di sana.
"Dan sebagai gantinya," lanjut Han Luo. "Aku butuh kau memberikan izin khusus bagi seseorang bernama Tuan Jin untuk membuka rumah lelang di ibukota tanpa pajak dan tanpa pemeriksaan."
"Tuan Jin?"
"Dia adalah... rekan kami. Kami butuh saluran dana yang bersih."
Itu permintaan yang sangat sederhana untuk nyawa seorang Pangeran. Terlalu sederhana.
"Hanya itu?" tanya Qin Yu curiga.
Han Luo tertawa pelan. Dia mendekatkan wajah topengnya.
"Dan satu hal lagi. Di masa depan... aku mungkin butuh akses ke Perpustakaan Terlarang Kerajaan. Saat aku memintanya, kau akan memberikannya tanpa banyak tanya."
Qin Yu terdiam. Perpustakaan Terlarang berisi teknik kultivasi leluhur kerajaan. Tapi dibandingkan nyawanya?
"Sepakat," kata Qin Yu tegas.
"Bagus. Senang berbisnis denganmu, Yang Mulia."
Han Luo berbalik menuju jendela.
"Tunggu!" panggil Qin Yu. "Siapa kalian sebenarnya? Apakah kalian dari Kekaisaran Pusat?"
Han Luo berhenti di bingkai jendela, siluetnya berlatar bulan purnama.
"Kami adalah gerhana yang menelan matahari palsu. Ingat itu."
Wush.
Dia menghilang.
Qin Yu jatuh terduduk di ranjangnya, napasnya memburu. Dia merasa baru saja melakukan transaksi dengan iblis. Tapi dia tersenyum.
"Dengan bantuan iblis ini... takhta itu pasti milikku."
Keesokan Harinya - Markas Han Luo.
Han Luo melepas topengnya. Wajahnya pucat karena penggunaan Langkah Hantu secara berlebihan untuk menembus formasi istana (dibantu oleh Raja Ulat Sutra yang memakan benang energi formasi).
"Langkah pertama selesai," gumamnya.
Pangeran Ketiga sudah dalam genggaman. Sekarang Han Luo punya pelindung politik terkuat di ibukota.
Dia melihat ke arah pot Anggrek Wajah Hantu. Tanaman itu tumbuh besar setelah "makan" aura ketakutan di istana semalam.
"Sekarang, saatnya mencari Jantung Beku Seribu Tahun."
Berdasarkan Peta Reruntuhan Kedua, pintu masuknya ada di sumur tua di taman belakang Istana Musim Dingin.
Istana itu disegel karena "hantu".
"Hantu es..." Han Luo menyeringai. "Aku suka hantu."
Tapi sebelum dia ke sana, dia harus melakukan satu hal lagi.
Mengunjungi "Keluarga" barunya di Ibukota.
Atau lebih tepatnya... mengunjungi Cabang Sekte Pedang Awan di ibukota, di mana Long Tian (yang juga mengambil cuti) sedang berada sekarang untuk mengunjungi "kerabat jauh"-nya (Plot Armor yang memberinya warisan keluarga).
"Ayo kita lihat apakah Protagonis kita sudah membuat masalah di kota ini."
selalu ditunggu lanjutannya 💪💪💪👍👍👍