NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga atau Bukan

"Eh, lo udah bangun. Makan dulu gih, perawatnya baru nganter belum lama tadi. Si Dreven lagi ada urusan, jadi lo dititipin dulu sama kita." ujar Kaendra sambil mengembangkan senyumnya.

Shahinaz mengangkat alisnya heran. Selama seminggu dia mengenal Kaendra, sifat dan karakternya bukan seperti ini. Dia tipikal laki-laki pengganggu dan sinis terhadap lawan bicaranya. Lalu ketika Shahinaz mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya ada Kaendra dan Arsenio saja di dalam ruangan ini. Arsenio saja sedang tertidur di sofa sekarang.

"Kok lo jadi baik banget sama gue?" tanya Shahinaz sambil menyipitkan matanya.

"Lo lagi sakit aja, makanya gue baik. Kalau lo lagi waras mah, gue nggak akan melayani lo bak ratu kerajaan." jawab Kaendra enteng. Dia menyerahkan nampan berisi makanan dari rumah sakit, setelah Shahinaz duduk dengan benar.

Shahinaz menerima nampan dari Kaendra, menatap makanan rumah sakit yang tampak hambar di hadapannya. Meskipun begitu, perutnya memang sudah terasa lapar. Dia mengambil sendok, mulai menyendokkan makanan ke mulutnya sambil sesekali melirik Kaendra yang duduk di kursi dekat ranjang.

Kaendra bersandar dengan santai, tetapi sorot matanya masih penuh perhatian. Shahinaz merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu, meskipun dia masih ragu untuk memercayainya. Kaendra selalu terlihat cuek dan sinis, jadi perubahan sikap ini membuat Shahinaz merasa sedikit waspada.

"Gue ngerasa aneh aja," gumam Shahinaz sambil mengunyah makanan. "Seminggu gue kenal lo, lo bukan tipe yang nggak begini."

Kaendra mengangkat bahu, menunjukkan senyum tipis yang agak misterius. "Lo bener. Gue biasanya nggak begitu peduli sama orang. Tapi, lo beda dan pengecualian, lo kan ceweknya Dreven. Mau gimana pun, gue harus memastikan lo aman, karena lo udah menjadi bagian dari kita."

Shahinaz menatapnya dengan curiga. "Karena Dreven doang?"

Kaendra menatapnya sejenak sebelum menghela napas panjang. Gadis di hadapannya sudah terlalu banyak menderita, padahal dia anak baik hati dan positif terhadap lingkungannya dulunya. Bagaimana Shahinaz yang katanya dikenal banyak orang, populer diseluruh penjuru sekolah, lalu mendadak dijauhi oleh semua orang, hingga akhirnya fakta yang terucap dari mulut Dreven sebelum pergi tadi membuatnya sedikit terngiang-ngiang.

Gangguan memori. Dia tidak habis pikir jika Shahinaz mengalami masalah psikis juga, mungkin itu akibat dari dia yang mendadak dihindari dan dicemooh banyak orang. Sudah tertimpa kemalangan karena orang tuanya meninggal, lalu tertampar fakta jika dunia sosialnya selama ini juga menghakiminya dengan sepihak.

"Wihhh, lo bisa nangis juga ternyata." kata Shahinaz sambil tertawa pelan. Bisa-bisanya manusia cuek, sinis, dan sok kegantengan itu tiba-tiba menitikkan air matanya dihadapannya.

Kaendra terkejut mendengar ucapan Shahinaz. Dia mengusap matanya cepat-cepat, berusaha menutupi air mata yang tanpa sadar mengalir. Namun, Shahinaz sudah melihat semuanya.

"Tuh kan, lo ketauan," ujar Shahinaz dengan nada menggoda, walau dalam hatinya dia merasa sedikit terkejut juga. Dia tidak pernah mengira Kaendra bisa menunjukkan sisi emosional seperti ini. "Gue nggak nyangka cowok sangar kayak lo bisa nangis juga."

Kaendra tersenyum pahit, sudah terlihat jelas bahwa dia sangat malu saat ini, "Lo mau punya marga Latucie nggak? Gue anak tunggal, nyokap gue dari dulu pengin punya anak cewek, tapi sayangnya rahimnya harus diangkat. Kalau lo mau, gue bisa ngediskusiin ini sama orang tua gue."

"Lo pengin gue jadi Kakak lo?" tanya Shahinaz yang membuat Kaendra langsung melotot tak percaya.

"Lo yang jadi adik gue bego. Umur gue dua tahun di atas lo!" sungut Kaendra sebal.

"Pasti nyokap lo nyesel ngelahirin cowok bodoh kayak lo kan? Buktinya lo nggak lulus sekolah tahun kemarin." lanjut Shahinaz yang membuat Kaendra ingin sekali menggetok kepala Shahinaz yang terluka sekarang juga.

"Aishhh, udah gue bilangin itu karena gue sama yang lain lagi ngerintis karir. Lagian bokap nyokap gue ngemaklumin gue yang milih nggak ikut ujian waktu itu kok." jelas Kaendra meski masih dengan tatapan sebalnya, "Lo mau nggak jadi Adik gue?"

"Enggak." jawab Shahinaz singkat, padat, dan jelas.

Kaendra menghela napas panjang, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi, "Ya ampun, susah banget sih lo diajak baik-baik. Gue padahal udah ngejelasin panjang lebar loh tadi."

Shahinaz tersenyum tipis, merasa sedikit puas bisa membuat Kaendra kehilangan kesabarannya, "Kenapa sih lo tiba-tiba ngajak gue jadi adik lo? Nggak masuk akal."

"Karena lo butuh keluarga, Sha," jawab Kaendra dengan serius. "Lo mungkin nggak sadar atau nggak mau ngaku, tapi lo butuh seseorang yang bisa lo percaya sepenuhnya Sha, dan gue yakin lo masih butuh peran orang tua juga. Dan gue pikir, gue bisa jadi orang itu buat lo."

Shahinaz terdiam, menatap Kaendra dengan lebih serius. Ada sesuatu dalam nada suara Kaendra yang membuatnya berpikir bahwa dia benar-benar tulus dengan tawarannya. Tapi tetap saja, Shahinaz merasa itu terlalu tiba-tiba dan aneh.

Terlebih dia pernah mendengar kalimat yang persis sama diucapkan oleh Auretheil belum lama juga, itu membuatnya merasa dejavu. Auretheil yang katanya sahabat Shahinaz bertahun-tahun saja bisa menyerangnya dari belakang, itu yang membuatnya sangat waspada sekarang.

"Gue nggak bisa Terima tawaran lo Kaendra," kata Shahinaz membuka suaranya lagi, "Banyak orang terdekat gue yang awalnya baik, tiba-tiba jadi jahat dan menyerang gue dari belakang. Gue nggak mau sakit hati lagi."

Kaendra menganggukkan kepalanya, dia mengerti dan tidak akan memaksa. Namun dari pernyataan Shahinaz barusaja, Kaendra jadi paham satu hal, "Jujur sama gue, pasti yang ngelukain kepala lo itu sahabat lo yang tukang bully itu kan? Yang namanya si Auretheil kalau nggak salah."

Shahinaz terdiam, matanya membelalak kaget mendengar nama yang barusaja disebut oleh Kaendra. Dia tidak menyangka Kaendra bisa menebak dengan tepat, atau mungkin, Dreven yang sudah memberitahu semuanya pada yang lainnya. Tapi Dreven sejak awal menjaganya di sini bukan?

Kaendra melanjutkan pembicarannya, sambil menatap Shahinaz dengan tatapan penuh simpati, "Lo nggak perlu ngomong kalau lo nggak siap, Sha. Gue cuma pengin lo tau kalau lo nggak sendirian, Kayaknya Dreven udah sering ngomong gitu sama lo. Lo udah punya kita sekarang, dan kita janji nggak bakal ngekhianatin lo."

Shahinaz menghela napas panjang. Karena mereka sudah tau pelakunya, tidak ada yang harus ditutup-tutupi lagi bukan?

"Luka ini emang dari cewek itu, tapi kalau dari sisi sengaja apa enggak, dia kayaknya nggak sengaja. Gue ke rooftop emang niatnya dari awal buat ngehindarin kalian dan cari ketenangan. Gue nggak nyangka beberapa menit kemudian ada dua orang masuk dan bertengkar hebat. Gue cuma bisa sembunyi, dan secara nggak sengaja menguping pembicaraan mereka juga." jelas Shahinaz yang akhirnya jujur juga.

"Karena mereka berselisih, dan tuh cewek nggak terima, akhirnya dia ngamuk, ngelempar semua barang di rooftop secara brutal ke segala arah. Dan inilah yang akhirnya terjadi sama gue." lanjut Shahinaz lagi.

Kaendra mendengarkan dengan seksama, tidak ingin memotong Shahinaz yang akhirnya mulai membuka diri. Sorot matanya berubah menjadi serius, tidak ada lagi sisa-sisa dari sifat sinis atau cuek yang biasanya melekat padanya.

"Lo nguping pembicaraan mereka dari awal sampai akhir? Gue jadi kepo, pembicaraan apa yang ngebuat sahabat lo jadi ngamuk brutal begitu." tanya Kaendra, suaranya penuh keingin tahuan tinggi.

Shahinaz menghela nafas panjang, "Pembicaraan yang harusnya nggak gue dengar. Alasan menyakiti dan dalang dibalik kekacauan hidup seseorang, gue pikir tindakan mereka sudah diluar nalar."

Kaendra mengernyit dahinya. Melihat Shahinaz mengatakan dengan cara menggebu-gebu, apa yang dimaksud seseorang itu adalah dirinya sendiri? Kecun yakin jika Shahinaz masih banyak menyembunyikan rahasia besar dari mereka.

"Jadi, apa yang mereka bicarakan sampai bikin lo bilang itu di luar nalar?" Kaendra mencoba menggali lebih dalam, meskipun dia sadar ini mungkin terlalu cepat untuk Shahinaz.

"Nggak ada, lo nggak perlu tau karena itu bukan urusan kita," jawab Shahinaz yang kemudian mengembangkan senyumnya, "Btw, Dreven kemana kalau gue boleh tau? Kok kalian berdua nggak ikut serta ngikutin dia?"

Kaendra menatap Shahinaz sejenak, jelas dia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di rooftop. Namun, dia memutuskan untuk tidak memaksa Shahinaz lebih jauh. Toh, kalau pun ada sesuatu yang besar yang disembunyikan, mungkin Shahinaz akan memberitahunya nanti kepada Dreven, ketika dia sudah siap.

"Dreven lagi ada kepentingan di Mansion Kingsley," jawab Kaendra sambil mengangkat bahu, berusaha terlihat santai meskipun sebenarnya dia juga khawatir. "Dia bilang, ada urusan mendesak yang nggak bisa ditunda. Makanya, kita yang jaga lo dulu untuk sementara."

"Mansion Kingsley? Emang Mansion yang ditinggali sama Dreven sekarang bukan punya Kingsley?" tanya Shahinaz dengan raut heran.

"Bukan, itu Mansion punya Mamahnya sebelum menikah dulu. Lo emang belum di kasih tau sama Dreven?" tanya Kaendra menatap Shahinaz heran, "Terus lo juga belum dikasih tau kalau orang tua Dreven udah pisah?"

Shahinaz terdiam. Apakah itu fakta yang baru saja dia dengar dari sosok Dreven saat ini? Laki-laki itu anak broken home ternyata.

"Lo diam, itu tandanya belum dikasih tau sama si Dreven. Harusnya gue nggak ngomong apa-apa tadi." jawab Kaendra sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.

"Jadi setelah perpisahan orang tuanya, Dreven ikut Mamahnya begitu? Terus kenapa pas gue ke Mansion Dreven, Mamahnya nggak ada?" tanya Shahinaz penasaran. Pasalnya jika dulu ada sosok Mamahnya, Dreven mungkin tidak berani mengurung Shahinaz di dalam Mansionnya bukan?

Kaendra bingung, dia jadi serba salah sekarang.

Tidak seharusnya dia mengatakan hal yang seharusnya Shahinaz belum diizinkan mengerti, kalau begini dia harus menjawab jujur apa bohong saja? Tapi kalau dia mengatakan hal bohong, suatu saat kebohongannya juga akan terbongkar bukan?

Kaendra akhirnya menghela napas panjang, menyadari bahwa dia sudah terlanjur membuka pembicaraan yang seharusnya masih menjadi rahasia. Dia memutuskan untuk terus terang saja, mengingat Shahinaz sudah terlanjur mengetahui sebagian besar.

"Maaf Sha, gue nggak bermaksud bikin lo bingung atau khawatir," Kaendra berkata pelan, "Tapi kayaknya gue emang harus ngasih tau lo semua hal yang berkaitan dengan Dreven, biar kedepannya lo nggak menyinggung, atau membuat kecewa perasaan Dreven juga."

Shahinaz mengangguk pelan, bersiap mendengarkan apa yang akan diungkapkan Kaendra.

"Mamahnya Dreven ada di rumah sakit jiwa Sha. Perselingkuhan Ayahnya membuat psikis Mamah Dreven rusak saat itu. Karena sejak kecil dia cuma dapet kasih sayang dari Mamahnya aja, alhasil dia memilih untuk keluar dari Mansion Kingsley, dia nggak mungkin berjuang sendirian di tempat penuh persaingan dan permusuhan itu." jelas Kaendra dengan suara bisiknya.

Shahinaz terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar dari Kaendra. Rasanya sulit dipercaya bahwa Dreven, yang selalu tampak begitu kuat dan tak bisa diganggu gugat, ternyata menyimpan beban sebesar itu. Dia bisa merasakan bagaimana hati Dreven mungkin terluka begitu dalam, tumbuh besar dengan keadaan keluarga yang kacau balau seperti itu.

"Soal kekuasaan dan kekayaan, Dreven mungkin punya semuanya Sha. Tapi dia kekurangan kasih sayang, itu salah satu alasan kenapa dia jadi dingin dan seolah nggak bisa tersentuh oleh siapapun," jelas Kaendra lagi, "Jadi gue berharap, secepatnya cinta Dreven ke lo bisa saling terbalaskan ya. Gue yakin cinta Dreven ke lo itu murni, dan lo cinta pertamanya selama dia hidup di dunia ini."

Shahinaz tertegun, kata-kata Kaendra bergema di pikirannya. Cinta pertama? Dreven yang dia kenal memang penuh teka-teki, namun mendengar langsung dari Kaendra bahwa dia adalah cinta pertama Dreven membuat hatinya berdebar.

Meskipun begitu, Shahinaz masih belum bisa sepenuhnya mempercayai perasaan Dreven. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam hidupnya yang membuatnya ragu akan ketulusan orang lain, bahkan Dreven sekalipun.

Shahinaz menarik napas dalam-dalam, menganggukkan kepalanya sembari mencoba menenangkan gejolak yang tumbuh di hatinya, "Tapi mau bagaimanapun, gue perlu banyak waktu untuk memahami perasaan seseorang untuk gue sendiri Dra. Banyak orang yang udah nyakitin gue, padahal perasaan gue ke mereka bisa dikatakan tulus dari awal."

Bukan soal Shahinaz dalam novel saja yang disakiti atau dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Dikehidupan sebelumnya, dia juga dikhianati oleh keluarganya sendiri. Bukannya berbela sungkawa melihat orang tuanya meninggal, justru mereka saling berebut harta yang harusnya jatuh dan menjadi miliknya.

Kaendra tersenyum tipis, meskipun dia bisa melihat kebingungan di mata Shahinaz, "Gue paham kok, Sha. Kita nggak akan maksa lo buat membalas perasaan Dreven sekarang. Tapi ingat ya, lo nggak sendiri. Dreven, gue, Vincent, dan Arsenio, kita semua ada di sini buat lo. Jadi, kalau lo butuh tempat buat cerita atau sekadar butuh teman, kita selalu ada."

Shahinaz mengangguk, merasakan sedikit kelegaan. Meskipun banyak pertanyaan yang masih belum terjawab, dia merasa setidaknya ada orang-orang yang masih mau peduli padanya, meskipun dia belum sepenuhnya percaya dengan kehadiran mereka.

Dia hanya berharap, waktu akan membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidupnya sekarang. Meski dia tidak yakin, dia merasa jika kehadiran Dreven dan yang lain pertanda baik untuk dirinya.

Kaendra bangkit dari kursinya, "Gue mau pulang dulu ya, Dreven sebentar lagi juga ke sini kok. Kalau lo butuh apa-apa, tinggal bangunin Arsenio aja. Dia udah tidur lama banget kok, sampai heran gue kerjaan dia hibernasi mulu."

Shahinaz mengangguk sebagai jawaban, dia akhirnya melamun panjang setelah Kaendra pergi. Pikirannya kembali berputar pada Dreven dan semua rahasia Dreven yang baru saja dia dengar.

Ayahnya selingkuh, ibunya gila, keluarganya saling memerangi dan memusuhi satu sama lain. Dia jadi heran, itu bisa disebut keluarga atau bukan ya? Bagaimana cara Dreven menjaga kewarasannya selama ini?

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!