NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Malam Penyatuan Yang menyakitkan

Dikamar utama

Jihan duduk di tepi ranjang, mengenakan pakaian tidur sutranya . Ia menghela napas panjang, mencoba untuk siap secara fisik dan mental, serta menenangkan detak jantungnya yang tak karuan.

Matanya melirik ke laci nakas. ponsel miliknya tersembunyi. Jihan teringat ia memutus sambungan dengan Zeiran saat sebelum pernikahan mereka. Ia tak sanggup menjelaskan tragedi ini. Cukup dengan kabar Jinan dan keadaan zeiran baginya sudah cukup. Ia tak ingin menyeret Zeiran lebih jauh ke dalam neraka ini.

Terdengar langkah kaki yang berat, dan familiar di pintu. Pintu terbuka, dan William masuk. Wajahnya dingin.

Jihan segera menunduk, gugup dan gemetar, berusaha keras agar tenang.

William mengabaikan kegugupan Jihan. Ia melangkah ke dekat ranjang, matanya melihat Jihan dari atas hingga bawah. memberikan kesan sensual.

Tatapan William tajam dan liar. kini melihatnya bukan hanya sebagai kontrak, tetapi sebagai objek. Pikiran sebelumnya tentang Anna dihancurkan oleh gairah dan hasrat yang mulai bangkitz, murni dari seorang pria dewasa yang berdiri di depan wanita, yang bahkan ia belum sentuh tetapi itu tubuhnya sudah menegang karena tuntutan biologis yang harus segera dipenuhi.

Jihan mendongak sekilas, melihat tatapan William, sebelum akhirnya ia menunduk kembali.

Tatapan itu lagi, Aku benci tatapan itu. Aku hanya harus bertahan. Batin Jihan.

William mendekat dan duduk disamping Jihan. “ Malam ini, aku tidak ingin ada drama. Aku tidak akan membiarkanmu merusak ini lagi.” suaranya rendah dan penuh peringatan.

Jihan hanya mengangguk, tanpa suara.

William tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mencengkeram rahang Jihan dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu mendongak.

Menyambar bibir Jihan dalam sebuah ciuman yang menuntut, penuh intimidasi. William mendorong tubuh mungil Jihan hingga jatuh terlentang di atas seprai sutra. memperdalam ciumannya, menguasai rongga mulut Jihan dengan dominasi yang tidak bisa dibantah.

Terpaksa. Aku harus melakukannya.Tahan lah Jihan… meskipun aku ingin sekali mendorong pria ini. batin Jihan menjerit di tengah kepasrahan yang menyesakkan.

Tubuh Jihan bergetar hebat. meski tanpa landasan cinta, mulai memicu ketegangan yang asing dalam dirinya. sempat memberikan dorongan kecil di dada William, tapi William melakukan perlawanan itu dengan mudah. mencengkeram pinggang Jihan, menekan tubuh wanita itu agar tidak bergerak, menegaskan bahwa penolakannya adalah hal yang sia sia.

Ciuman William mulai turun, merambat ke rahang lalu menuju ceruk leher Jihan.

"Mmuahh...Slurpp..." Suara kecupan yang basah itu menggema di telinga Jihan.

Membuat Jihan merinding merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Lalu memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya, jemarinya meremas sprei hingga buku-buku jarinya memutih.

Jemari William menarik turun tali gaun tidur sutra itu hingga merosot ke bawah bahu, mengekspos kulit halus Jihan.

Kecupan William mulai turun perlahan, di bagian bahu lalu ke dadanya meninggalkan jejak-jejak merah keunguan.

Dengan gerakan cepat dan tak sabar, William mulai menanggalkan gaun tidur sutra minimalis dan tipis yang membungkus tubuh Jihan dengan mudah.

Tidak….Ini yang aku takutkan. Batin Jihan merasakan perih yang menyesakkan dadanya.

Perlindungan diri Jihan kembali melonjak. Secara refleks, kedua tangannya terangkat menutupi buah dadanya yang polos. Matanya terbuka lebar, menatap William dengan sorot penuh permohonan.

"William...aku takut... Pelan-pelan," suara Jihan bergetar hebat, nyaris pecah.

William mendengus kasar. Ia menepis tangan Jihan dan menekan kedua pergelangan tangan wanita itu ke atas bantal, menguncinya dengan kuat. "Jangan berpura-pura malu lagi, Jihan. Jangan coba-coba menyembunyikan apa yang sudah menjadi milikku secara hukum dan kontrak."

Kini, Jihan terbaring sepenuhnya di bawah tatapan liar William. Pria itu terdiam sejenak, jakunnya naik turun saat matanya yang liar menelusuri setiap inci lekuk tubuh Jihan yang terpampang nyata.

Lekuk tubuhnya yang sangat memikat. Pandangan William tertuju pada keindahan di depannya, gumpalan dua buah dadanya yang kenyal, sebuah pemandangan yang memicu gairah dalam dirinya.

Tubuh yang sempurna untuk melahirkan pewaris Marculles sekaligus untuk melampiaskan hasratku, batin William dengan seringai puas yang dingin.

Jihan segera memalingkan wajah ke samping, memejamkan mata rapat-rapat. Ia tidak sanggup menahan tatapan William yang dipenuhi gairah yang terasa begitu kejam.

William membenamkan wajahnya di gumpalan buah dada Jihan yang kenyal itu dan menghisapnya. Remasan tangannya yang besar dan kuat di buah dada satunya. membuat jantung wanita itu terasa seperti dipompa aliran listrik.

Sensasi basah dan tuntutan kasar dari William membuat Jihan menggigit bibir bawahnya lebih keras lagi, mencoba menahan suara yang nyaris lolos dari kerongkongannya.

Jihan memejamkan mata rapat-rapat, ia merasakan sensor sarafnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit.

Apa ini? Kenapa tubuhku terasa seperti inj, setiap sentuhannya membuatku seolah kehilangan kendali . batin Jihan menjerit, merasa dikhianati oleh reaksinya sendiri.

Kedua tangan Jihan yang dicengkeram William di atas bantal meremas seprai sutra dengan sangat kuat, hingga jemarinya memutih.

"Uhgg..." Sebuah desahan kecil nyaris tak terdengar lolos dari bibir Jihan.

William mendengarnya. Suara kecil itu bagaikan bensin yang menyambar api gairahnya. Hasratnya memuncak. dorongan besar untuk menaklukkan Jihan sepenuhnya.

William mencari tahu di mana letak kelemahan wanita yang tampak begitu angkuh ini.

William melepaskan cengkeraman pada tangan Jihan. Perlahan, tangannya yang besar dan hangat turun, merayap di atas perut rata Jihan, lalu menggenggamnya dengan sedikit tekanan. memberikan ciuman panas dan menjilat area pusar Jihan dengan sengaja, memberikan sensasi basah yang mengejutkan.

Jihan tersentak. Tubuhnya melengkung, nafas nya terengah engah. Seluruh tubuhnya merinding hebat, ia tidak pernah menyangka sensasi seperti ini bisa ada.

Tangan William kemudian turun kebawah, membelai sela-sela paha Jihan dengan gerakan yang sangat lihai. Membuka kedua kaki Jihan, memberikan akses untuk dirinya sendiri.

Ciuman William berlanjut ke area paling sensitif, memainkannya dengan teknik yang sangat lihai.

Jihan, yang baru pertama kali merasakan sentuhan seperti ini, gemetar hebat. Rasa malu yang luar biasa bercampur, ia

benar-benar telanjang dan tak berdaya.

"William... jangan…apa yang kau lakukan di situ? Hentikan...," lirih Jihan dengan suara yang pecah.

William mengabaikan permohonan Jihan , ia meneruskan lebih dalam dan semakin lihai. Ia menunggu pertahanan Jihan hancur melalui kenikmatan yang ia paksakan.

Jihan menggeliat hebat di atas ranjang. Keringat mulai membasahi pelipis dan lehernya.

Tahan, Jihan... jangan keluarkan suara yang memalukan. Ini akan segera berakhir... Jangan menyerah pada rasa sensasi ini... batin Jihan, mencoba menguatkan benteng pertahanannya yang mulai runtuh.

"Ahhhgggg...!" Pertahanan Jihan akhirnya tuntuh suaranya pecah, di bawah kelihaian sentuhan William yang tanpa ampun.

Rasa malu yang luar biasa seketika menyergapnya. refleks menutup mulutnya dengan tangannya. Tanpa menyadari bahwa ia baru saja memberikan

William menyeringai puas melihat kehancuran pertahanan Jihan. Alih-alih berhenti, ia justru memainkannya lebih lihai.

Jihan merasa ada sesuatu yang akan segera keluar dari dalam dirinya. Dengan napas yang terengah-engah, ia mencoba mendorong pelan bahu William agar pria itu menjauh.

"Hentikan... hhh... hhh..." rintih Jihan di sela napasnya yang memburu.

William mendongak, matanya yang gelap karena gairah menatap Jihan dengan intensitas yang mengerikan. "Keluarkan saja, Jangan ditahan," bisiknya serak sebelum akhirnya ia bangkit.

William mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu dengan cepat memperlihatkan dada bidangnya yang atletis. Jihan segera memalingkan wajah ke samping, tak sanggup melihat sosok pria yang kini tanpa sehelai benang pun di depannya. Ia memejamkan mata rapat-rapat.

William kembali ke atas tubuh Jihan , bayangan tubuhnya yang besar menutupi tubuh mungil Jihan. mencengkeram pinggul Jihan dengan kuat, menyesuaikan tubuh wanita itu dan membuka kedua kakinya dengan lebar.

William mencoba menyatukan tubuh mereka, saat memasukkan miliknya yang besar ke dalam milik Jihan. ia merasakan rintangan yang luar biasa. Milik Jihan terasa begitu sempit, membuat William menggeram rendah dengan suara yang terdengar seperti singa yang tertahan.

"Sialan...!" geram William, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. "Kau benar-benar belum pernah disentuh siapapun!!!... sangat sempit."

Jihan merasakan sakit yang luar biasa, berasa tubuhnya sedang dipaksa pecah menjadi dua. Air mata mulai mengalir deras dari sudut matanya yang terpejam.

William menarik napas dalam, mengumpulkan kekuatan, dan dengan satu dorongan penuh ia menembus pertahanan terakhir.

"AAAHHHGGGG! SAKIIIITTTT!"

Jihan menjerit histeris, suaranya pecah menjadi tangisan yang terisak. jemarinya mencengkeram bahu William hingga kukunya meninggalkan bekas di sana.

William mulai menggerakkan pinggulnya. Rasa sempit dan hangat yang menyelimutinya memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ahhh... fuck... hngghhh..." Suara desahannya terdengar serak, rendah, dan penuh kepuasan yang liar. kepalanya ke belakang saat gelombang kenikmatan yang luar biasa.

Di bawahnya, tubuh mungil Jihan, bergoyang mengikuti gerakan William. Jihan menangis terengah-engah.

"S-sakit... William... hhhh... ini sangat sakit," rintih Jihan di sela isak tangisnya. Tubuhnya menegang, mencoba menolak rasa perih yang menghujam jantungnya.

William menunduk, “ Diamlah... kau akan segera terbiasa," bisik William dengan napas memburu di telinga Jihan. "Wanita Alvarezh... kau akan tunduk di bawahku. Kau akan melakukan apa pun yang kuinginkan sampai aku puas. Kau dengar itu? Hnggh... ahh!"

William menyeringai puas melihat kehancuran di wajah Jihan. Ia telah berhasil mengambil hal paling berharga dari wanita Alvarezh. Di dalam pikirannya, setelah Jihan melahirkan pewarisnya lalu akan membuang wanita ini ke jalanan. untuk saat ini, ia akan menghabiskan setiap detik untuk menikmati tubuh ini sampai ia benar-benar puas.

Aihs, sialan! batin William mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa rasanya begitu luar biasa? Sangat nikmat.

Ia membenci kenyataan bahwa tubuh Jihan mampu memberinya kepuasan yang bahkan belum pernah ia rasakan, bahkan dengan kenangan memorinya dengan Anna.

William justru mempercepat gerakannya semakin liar, semakin dalam.

"Hhh... ahhh... dammit... hngghhh!" Desahan kenikmatan William terdengar semakin frustrasi sekaligus puas.

Jihan melirik William dengan mata yang basah oleh air mata, wajahnya pucat pasi menahan perih. "Hikss…kau jahat... kenapa kau melakukan ini padaku..." suaranya melemah, tenggelam dalam dominasi suaminya.

William tidak peduli. Ia justru mempercepat gerakan pinggulnya, memacu tempo yang semakin liar.

"Ahhh... hhh... gila... sangat sempit... hnggh!"William mendesah kencang, suaranya memenuhi kamar yang pengap oleh gairah. “ keluarkan suara mu, aku ingin mendengarnya, jangan hanya menangis”

Hentakan yang semakin cepat itu membuat Jihan terisak keras. Ia mulai meronta-ronta kecil, tangannya memukul bahu William . "Ahgg…Tidak... hhh... pelankan... aku tidak kuat... hiks... William!" Ia terisak keras, mencoba melarikan diri dari sensasi yang menyiksa fisik dan batinnya.

William segera membungkam bibir Jihan dengan ciuman kasar, menelan semua rengekan dan tangisan wanita itu ke dalam mulutnya sendiri.

Brengsek, kau William! batin Jihan memaki di tengah isak tangisnya yang tertahan. Kau menikmati kehancuranku... kau memperlakukan tubuhku seperti barang tak berharga. Aku membencimu...

Ciumannya merambat liar ke leher Jihan, menandai setiap inci yang kini telah menjadi miliknya. Ia menuntun wanita itu untuk mendongak dan mengekspos dirinya lebih dalam.

Setelah puas meninggalkan jejak di sana, William kembali mencium buah dada Jihan. Ia menghisap pucuknya dengan liar, memainkannya dengan lidah dan gigitan kecil yang membuat Jihan kehilangan akal sehatnya.

"Nggghhh... stop... William... nggghhh!" Jihan melenguh pasrah. Serangan bertubi-tubi itu membuatnya tak berdaya.

Saat William merasakan klimaksnya sudah di ujung saraf, ia menghentikan gerakannya sejenak. Otot-otot tubuhnya menegang hebat.

Geraman rendah yang terdengar seperti singa yang terluka, ia mendorong miliknya lebih dalam.

Jihan tersentak hebat. refleks memukul dada William dengan tangan gemetarnya. "Ahhkkk!!"

William mengerang keras saat ia melepaskan cairannya di dalam tubuh Jihan. Jihan bisa merasakan kehangatan yang asing itu memenuhi dirinya, sebuah tanda nyata bahwa benih Marculles telah ditanamkan di rahimnya.

William terengah-engah, keringat menetes dari dahinya ke dada Jihan, sementara ia perlahan melepaskan penyatuannya.

Jihan segera bergeser tubuhnya perlahan untuk menjauh. Ia ingin segera menutupi tubuhnya yang polos dan penuh jejak kemerahan itu dengan selimut.

Jihan menarik kakinya, tangan besar William menyambar pergelangan kakinya dan menariknya kembali ke tengah ranjang.

"Mau ke mana kau?" desis William, suaranya serak namun penuh ancaman.

"Istirahat, aku lelah… ini sudah selesai, bukan?" tanya Jihan dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.

William menyeringai dingin, menatap Jihan dengan tatapan predator yang masih lapar. "Aku belum selesai. Jangan coba-coba menutupi kakimu! Kau harus membayar hutangmu untuk malam pertama yang kau rusak kemarin."

William kembali ke atas tubuh Jihan yang sudah lemas tak berdaya. "Kau mengerti? Malam ini masih panjang, Jihan Marculles!" bentaknya.

Jihan menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata mengalir melewati pelipisnya. Tubuhnya terasa remuk, dan rasa perih itu seolah tak kunjung reda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!