Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Cerai
Pagi itu Nayara bangun lebih awal dari biasanya. Jam lima sudah duduk di tepi ranjang sambil gendong Aldi yang baru selesai nyusu. Matanya menatap dua tas ransel besar yang udah siap di pojok kamar.
Tas itu berisi semua yang dia punya. Baju-baju sederhana. Hijab-hijab lusuh. Perlengkapan Aldi. Beberapa foto kenangan yang masih berharga. Tidak banyak. Tapi cukup buat mulai hidup baru.
Nayara menatap wajah Aldi yang tidur pulas setelah nyusu kenyang. Pipi chubby. Bibir mungil. Mata tertutup rapat. Damai banget.
"Kita akan baik-baik aja, Nak. Mama janji." Nayara cium kening Aldi pelan.
Jam delapan pagi, suara pintu rumah terbuka. Gilang pulang. Nayara dengar suara langkah kakinya di tangga. Naik pelan-pelan. Mungkin capek.
Pintu kamar terbuka. Gilang masuk dengan wajah kusut. Baju kemeja yang sama dengan kemarin. Berantakan. Kancing atas terbuka. Rambut acak-acakan.
Matanya merah. Bau alkohol samar tercium.
Gilang melirik Nayara yang duduk di sofa pojok kamar sambil gendong Aldi. "Lo belum tidur?"
"Udah. Tadi tidur sebentar." Nayara jawab dengan suara datar. Tidak ada emosi. Udah mati rasa.
Gilang jalan ke lemari. Buka pintu lemari. Mau ambil baju ganti.
Tapi dia berhenti. Natap lemari yang setengah kosong.
"Baju lo kemana?" Gilang noleh ke Nayara dengan alis berkerut.
"Udah aku packing." Nayara nunjuk dua tas ransel di pojok kamar.
Gilang natap tas-tas itu. Terus natap Nayara lagi. "Packing buat apa?"
Nayara berdiri. Taro Aldi di box dengan hati-hati. Terus berbalik natap Gilang dengan tatapan tenang. Tenang yang menakutkan.
"Aku mau cerai."
Hening.
Hening total.
Gilang natap Nayara dengan mata membulat. Mulut terbuka sedikit. Kayak tidak percaya apa yang dia dengar.
"Apa? Lo bilang apa tadi?"
"Aku mau cerai sama Mas. Aku tidak bisa lagi bertahan di pernikahan ini." Nayara mengulang dengan suara pelan tapi tegas. Tidak ada gemetar. Tidak ada ragu.
Gilang terdiam beberapa detik. Terus tiba-tiba tertawa. Tertawa keras. "Cerai? Lo serius?"
"Iya. Aku serius." Nayara tidak ikut tertawa. Wajahnya datar.
Gilang berhenti tertawa. Ekspresinya berubah jadi kesal. "Jangan lebay, Nayara. Kemarin cuma salah paham. Lo yang terlalu baper."
"Salah paham?" Nayara tertawa pahit. "Mas bilang Mas tidak pernah cinta sama aku. Mas bilang aku cuma alat. Itu salah paham?"
Gilang mengusap wajahnya kasar. "Gua lagi emosi kemarin. Gua tidak bermaksud bilang begitu."
"Tapi Mas udah bilang. Dan aku percaya itu kejujuran Mas. Karena selama ini Mas tidak pernah jujur sama aku." Nayara berjalan ke arah tas-tasnya. Angkat satu tas. Gendong di punggung.
"NAYARA! LO MAU KEMANA?" Gilang bertanya dengan nada mulai panik.
"Pergi. Aku mau pergi dari rumah ini. Dari Mas. Mulai hidup baru sama Aldi." Nayara angkat tas kedua. Taruh di samping box Aldi.
Gilang jalan cepat. Berdiri di depan pintu kamar. Menghalangi jalan Nayara. "Lo tidak bisa pergi begitu aja!"
"Kenapa tidak bisa? Mas sendiri yang bilang Mas tidak cinta sama aku. Berarti tidak ada gunanya aku bertahan di sini." Nayara natap Gilang dengan mata yang udah kosong dari harapan.
"Gua, gua bisa berubah. Gua janji akan lebih perhatian." Gilang mencoba membujuk. Tapi suaranya tidak meyakinkan. Setengah hati banget.
Nayara tersenyum miris. "Janji lagi. Mas selalu bilang janji. Tapi tidak pernah ditepati. Aku sudah capek percaya janji-janji kosong Mas."
"NAYARA, JANGAN KERAS KEPALA! LO PIKIR LO BISA HIDUP SENDIRIAN BAWA ANAK KECIL?" Gilang berteriak sekarang.
"Aku tidak tau. Tapi aku akan coba. Lebih baik sendirian tapi tenang daripada punya suami tapi menderita tiap hari." Nayara menjawab dengan tenang walau dadanya sesak.
Gilang diam sebentar. Natap Nayara dengan tatapan bingung campur marah. "Lo pikir gua akan setuju cerai?"
"Aku tidak peduli Mas setuju atau tidak. Aku akan ajukan gugatan cerai ke pengadilan. Aku punya hak buat itu." Nayara udah pelajari semua hal tentang perceraian semalam. Browsing lewat ponselnya yang layarnya pecah.
"DENGAN BUKTI APA? LO TIDAK PUNYA BUKTI GUA SELINGKUH!" Gilang balik menyerang.
"Mas udah hancurkan ponselku yang isinya semua bukti. Tapi aku masih bisa minta kesaksian dari orang-orang di hotel kemarin. Banyak yang lihat Mas sama Sandra mesra. Banyak yang rekam video." Nayara udah mikirin semua ini.
Gilang terdiam. Wajahnya pucat sebentar. Dia pasti inget kemarin banyak yang rekam waktu mereka berantem di parkiran hotel.
"Nayara, dengar ya. Kita bisa bicarain ini baik-baik. Jangan buru-buru ambil keputusan." Gilang mencoba nada lembut sekarang. Tapi terdengar sangat dibuat-buat.
"Aku tidak buru-buru, Mas. Aku sudah mikir matang-matang sejak kemarin. Bahkan sejak berbulan-bulan lalu sebenernya. Aku cuma belum berani aja. Tapi sekarang aku sudah berani." Nayara menatap Gilang tanpa kedip.
Air mata mulai menggenang di mata Nayara. Tapi bukan air mata lemah. Ini air mata kelegaan. Lega karena akhirnya punya keberanian buat lepas dari pernikahan toxic ini.
"Aku serius, Mas. Aku tidak bisa lagi. Aku sudah mati di pernikahan ini. Kalau aku tetap bertahan, aku akan benar-benar mati. Dan Aldi akan kehilangan ibunya." Nayara mengulangi dengan air mata yang mulai jatuh.
Gilang natap Nayara lama. Ekspresinya berubah-ubah. Dari marah jadi bingung jadi kesal lagi.
"Terserah lo lah! Mau pergi ya pergi! Gua tidak peduli!" Gilang akhirnya menyerah. Minggir dari pintu. Kasih jalan buat Nayara.
Nayara terdiam. Dadanya sakit dengar kata-kata itu. Walau udah diduga Gilang akan bilang begitu, tetap aja sakit.
"Baik. Terima kasih." Nayara bisik pelan.
Nayara jalan ke box Aldi. Angkat bayinya yang masih tidur. Masukin ke gendongan bayi yang nempel di dada. Aldi gerak sedikit tapi tidak bangun.
Nayara angkat tas kedua. Gendong di bahu.
Sekarang dia bawa dua tas besar dan satu bayi. Berat banget. Tapi dia harus kuat.
Nayara jalan ke pintu kamar. Lewat di samping Gilang yang berdiri diam dengan wajah kusut.
"Nayara," panggil Gilang pelan pas Nayara udah hampir keluar kamar.
Nayara berhenti. Tidak berbalik. "Ya?"
"Lo, lo yakin mau lakuin ini?" Gilang bertanya. Suaranya terdengar ragu untuk pertama kalinya.
Nayara diam sebentar. Menarik napas dalam. "Iya. Aku yakin. Ini keputusan terbaik buat aku dan Aldi."
"Terus, terus Aldi gimana? Dia butuh bapaknya."
Nayara tersenyum pahit walau Gilang tidak bisa lihat. "Aldi butuh bapak yang sayang sama dia. Bapak yang ada buat dia. Bukan bapak yang bahkan tidak pernah gendong dia. Jadi percuma dia punya bapak kalau bapaknya kayak tidak ada."
Kata-kata itu menohok. Nayara bisa dengar Gilang menarik napas.
Tapi Nayara tidak peduli lagi. Dia jalan keluar kamar. Turun tangga dengan susah payah karena bawa barang banyak.
Di ruang tamu, Nayara berhenti sebentar. Natap rumah besar ini untuk terakhir kalinya.
Rumah yang seharusnya jadi sarang cinta. Tapi malah jadi penjara mewah yang dingin.
Rumah yang penuh kenangan buruk. Pertengkaran. Kekerasan. Pengkhianatan.
"Selamat tinggal," bisik Nayara pelan.
Nayara keluar dari rumah. Tutup pintu pelan.
Naik taksi online yang udah dia pesan dari tadi.
"Kemana, Bu?" Supir taksi bertanya.
"Ke, ke rumah orang tua saya di Depok." Nayara ngasih alamat rumah orang tuanya yang udah lama tidak dia kunjungi.
Taksi meluncur keluar dari komplek. Nayara natap rumah mewah itu lewat kaca belakang. Makin lama makin kecil. Sampai hilang di tikungan.
Nayara menatap Aldi yang tidur pulas di gendongannya. Lega. Sedih. Takut. Semua campur jadi satu.
Tapi satu yang pasti.
Dia sudah bebas.
Bebas dari Gilang yang tidak pernah mencintainya.
Bebas dari rumah yang mencekiknya pelan-pelan.
Bebas untuk mulai hidup baru.
Walau tidak tau akan seperti apa.
Tapi apapun itu, pasti lebih baik dari neraka yang baru dia tinggalkan.
***
...**Pesan Penulis:**...
...Wahai para pembaca yang budiman,...
...Cerita ini bukan untuk merendahkan harkat dan derajat seorang wanita. Justru sebaliknya. Ini adalah kisah tentang kekuatan seorang wanita yang bangkit dari keterpurukan. Tentang keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu yang menyakitkan....
...Jadikanlah Nayara sebagai cermin. Cermin untuk tidak terbuai oleh kata-kata manis semata. Karena orang yang benar-benar tulus bukan yang pandai merangkai kata indah, tapi yang menunjukkan perjuangan manis dalam setiap langkahnya. Bukan harta dan tahta yang menjadi ukuran, tapi ketulusan dan perjuangan dalam menjalani komitmen....
...Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 204-205:...
Wa minan-nāsi man yu‘jibuka qawluhū fil-ḥayātid-dunyā wa yush-hidullāha ‘alā mā fī qalbihī wa huwa alad-dul-khiṣām.
(205)
Wa idzā tawallā sa‘ā fil-arḍi liyufsida fīhā wa yuhlikal-ḥartsa wan-nasl, wallāhu lā yuḥibbul-fasād.
..."Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia bersaksi kepada Allah atas apa yang dalam hatinya, padahal dia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling, dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan."...
...Gilang adalah representasi orang munafik yang kata-katanya manis tapi perbuatannya merusak. Yang bersumpah cinta tapi hatinya penuh khianat. Yang berjanji kebahagiaan tapi membawa kehancuran....
...Ingatlah, wahai saudariku yang membaca ini: Pilihlah pasangan yang menunjukkan perjuangan, bukan hanya janji. Yang membuktikan kesetiaan lewat perbuatan, bukan rayuan. Yang takut kepada Allah, bukan hanya takut kehilangan kamu....
...Dan jika kamu sudah terlanjur terjebak seperti Nayara, ketahuilah bahwa tidak ada yang terlambat untuk memilih kebahagiaan. Tidak ada yang salah dengan memilih pergi dari hubungan yang merusak jiwamu....
...Karena Allah tidak pernah menginginkan hambaNya hidup dalam penderitaan abadi....
...Semoga kisah ini memberi pelajaran dan kekuatan....
^^^ Mentari Senja^^^
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭