NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25: Pertaruhan di Meja Rapat

Aroma kopi hitam yang pekat memenuhi ruang rapat kecil di kantor sementara Terra Architecture—yang sebenarnya hanyalah salah satu unit apartemen kosong milik Elang yang disulap menjadi studio kerja. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Matahari Jakarta belum terlalu terik, tetapi keringat dingin sudah membasahi telapak tangan Alana.

Di atas meja kaca, sebuah maket arsitektur berskala 1:100 berdiri megah. Itu adalah desain untuk 'Blue Coral Resort', tiket emasnya untuk masuk ke liga besar sekaligus senjata utamanya untuk menampar wajah ayahnya dengan profesionalisme.

"Mbak Alana, berkas RAB (Rencana Anggaran Biaya) sudah saya jilid tiga rangkap. Lampiran vendor lokal juga sudah lengkap," suara Rini memecah kesunyian. Mantan sekretaris ayahnya itu tampak rapi dengan blazer abu-abu yang sedikit kebesaran, namun matanya memancarkan semangat yang tidak pernah terlihat saat ia masih bekerja di bawah teror Hendra.

Alana mengangguk, menyentuh atap maket yang terbuat dari kayu ulin daur ulang. "Terima kasih, Rin. Pastikan proyektor portabel kita berfungsi. Aku tidak mau meminjam alat dari gedung klien."

Pintu apartemen terbuka. Elang Pradipta masuk tanpa mengetuk. Ia mengenakan setelan jas biru tua yang dipotong sempurna, kontras dengan suasana studio yang penuh kertas kalkir dan potongan gabus maket. Ia tidak tersenyum. Bagi Elang, hari ini adalah hari penagihan janji.

"Pak Gunawan menunggu pukul sembilan tepat," kata Elang datar, matanya menyapu persiapan Alana dengan tatapan menguliti. "Hendra Wardhana membawa tim lengkap. Lima arsitek senior, dua insinyur sipil, dan tentu saja, reputasi tiga puluh tahun."

Alana menegakkan punggungnya, menatap Elang lurus. "Dan membawa proposal dengan anggaran bengkak akibat mark-up material Siska."

"Mengetahui kelemahan musuh itu satu hal. Membuktikan kau lebih baik adalah hal lain," Elang melangkah mendekat, jarinya mengetuk meja tepat di samping maket Alana. "Jangan jual rasa kasihan sebagai anak yang terbuang. Jual kompetensi. Pak Gunawan itu pedagang tua. Dia tidak peduli drama keluargamu, dia peduli uangnya kembali."

"Saya tahu," jawab Alana singkat.

"Bagus. Mobil di bawah. Jangan terlambat."

***

Lobi kantor pusat Gunawan Hospitality terasa dingin dan steril. Lantai granit memantulkan bayangan orang-orang yang berlalu-lalang. Ketika pintu lift terbuka di lantai 20, Alana langsung berhadapan dengan masa lalunya.

Di ruang tunggu VIP, Hendra Wardhana duduk di sofa kulit hitam. Ia dikelilingi oleh stafnya yang sibuk dengan tablet dan tumpukan dokumen tebal. Siska tidak terlihat. Absennya wanita itu mengonfirmasi dugaan Alana: Hendra mulai membatasi gerak-gerik Siska setelah insiden marmer palsu di Gala Dinner. Retakan kecil itu nyata.

Suasana hening seketika saat Alana, Rini, dan Elang melangkah keluar dari lift. Para staf Wardhana Group—yang sebagian besar mengenal Alana sejak kecil—tampak serba salah. Beberapa menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel.

Hendra mengangkat wajahnya. Kantung mata tebal terlihat jelas di wajahnya yang biasanya kencang. Ia menatap Alana dari ujung kaki ke ujung kepala. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada pelukan.

"Saya pikir kamu sudah menyerah main rumah-rumahan," suara Hendra berat, bergema di ruang tunggu yang sunyi. Ia tidak repot-repot berdiri.

Alana berhenti tepat dua meter di depan ayahnya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin melompat keluar, namun wajahnya tetap datar. Ia telah melatih ekspresi ini di depan cermin selama seminggu.

"Saya di sini untuk bisnis, Pak Hendra. Sama seperti Anda," jawab Alana tenang.

Hendra mendengus, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Bisnis? Dengan apa? Kantor yang dipinjamkan oleh laki-laki yang memungutmu?" Hendra melirik Elang dengan tatapan jijik.

Elang hanya memasukkan tangan ke saku celana, santai. "Setidaknya saya memungut berlian yang Anda buang ke tempat sampah, Pak Hendra. Dan hari ini, berlian itu akan memotong kaca jendela Anda."

Belum sempat Hendra membalas, pintu ruang rapat terbuka. Seorang asisten mempersilakan mereka masuk. "Pak Gunawan sudah siap."

Pak Gunawan, pria berusia enam puluhan dengan rambut putih cepak, duduk di ujung meja panjang. Ia dikenal sebagai investor properti yang pelit dan teliti. Ia menatap kedua kubu yang masuk: Kubu Wardhana yang masif dan intimidatif, serta kubu Terra Architecture yang hanya terdiri dari dua wanita muda dan satu investor pendiam.

"Wardhana Group lebih dulu," perintah Pak Gunawan tanpa basa-basi.

Hendra berdiri, memberi isyarat pada kepala arsiteknya untuk memulai presentasi. Seperti dugaan Alana, presentasi Wardhana Group adalah tentang kemewahan klasik. Slide demi slide menampilkan desain resor yang penuh dengan pilar marmer, lampu kristal gantung, dan ornamen emas. Sangat 'Jakarta', sangat mahal, dan sangat tidak cocok untuk resor pantai di Bali yang mengusung konsep alam.

"Kami menggunakan Marmer Statuario impor dari Italia untuk seluruh lantai lobi dan kamar mandi VIP," jelas arsitek senior Hendra dengan bangga. "Ini akan memberikan kesan eksklusif yang tidak dimiliki resor lain di sekitarnya."

Alana melirik Pak Gunawan. Pria tua itu tidak tampak terkesan. Ia justru mengerutkan kening saat melihat halaman estimasi biaya.

"Total anggaran 150 Miliar," kata Hendra mengambil alih, suaranya penuh percaya diri. "Kualitas sebanding dengan harga, Pak Gunawan. Anda tahu rekam jejak saya."

Pak Gunawan mengangguk samar, lalu menoleh ke arah Alana. "Giliranmu. Kau punya waktu dua puluh menit."

Alana berdiri. Ia tidak membawa tim besar. Ia hanya membawa Rini yang dengan sigap membagikan tiga rangkap dokumen tipis ke hadapan Pak Gunawan. Alana menyambungkan laptopnya. Slide pertamanya bukan gambar gedung megah, melainkan grafik analisis iklim dan biaya perawatan.

"Bapak Gunawan," Alana memulai, suaranya jernih membelah ruangan. "Bali memiliki kelembapan udara rata-rata 85 persen. Penggunaan marmer impor seperti yang ditawarkan kompetitor saya terlihat indah di tahun pertama. Namun, di tahun ketiga, pori-pori marmer itu akan menyerap uap garam dari laut. Biaya poles dan kristalisasi ulang akan memakan 2 Miliar per tahun hanya untuk perawatan lantai."

Hendra terlonjak di kursinya. Wajahnya memerah. Arsitek seniornya tampak gelisah.

Alana menekan tombol slide berikutnya. Layar menampilkan desainnya: bangunan yang bernapas, menggunakan kayu ulin bekas, batu andesit lokal, dan atap rumbia modern.

"Terra Architecture tidak menawarkan kemewahan Italia yang asing. Kami menawarkan 'Luxury in Authenticity'. Kami menggunakan pengrajin lokal Bali untuk mengolah batu paras dan kayu. Ini memangkas biaya logistik hingga 60 persen karena tidak ada impor."

Alana menatap tajam ke arah ayahnya sebelum kembali ke Pak Gunawan. "Dan yang paling penting, Pak. Dalam proposal Wardhana Group, harga marmer dipatok di angka 3 juta per meter persegi. Saya memiliki data dari supplier yang sama, harga pasar saat ini hanya 1,8 juta. Ada inefisiensi anggaran—atau mungkin mark-up yang tidak perlu—sebesar 1,2 juta per meter yang Anda bayarkan sia-sia."

Suasana ruangan menjadi sangat tegang, seolah oksigen ditarik keluar secara paksa. Hendra membanting pulpennya ke meja. "Jaga bicaramu, Alana! Kau menuduh saya korupsi?"

"Saya tidak menuduh," Alana menjawab dingin, menunjuk angka di layar. "Saya hanya menyajikan data pembanding. Matematika tidak pernah berbohong, Pak. Anggaran yang saya tawarkan adalah 85 Miliar. Hampir setengah dari tawaran Wardhana, dengan potensi ROI (Return on Investment) dua tahun lebih cepat."

Pak Gunawan membolak-balik dokumen Alana dengan cepat. Matanya yang tadi redup kini berbinar melihat angka-angka itu. Ia menatap Hendra, lalu kembali ke Alana.

"Desainmu..." Pak Gunawan menunjuk gambar maket. "Terlihat sederhana."

"Fungsional, Pak. Dan tahan lama. Wisatawan ke Bali mencari ketenangan alam, bukan lobi hotel yang terasa seperti mal di Jakarta," jawab Alana taktis.

Pak Gunawan menutup map tersebut. Ia bersandar di kursinya, menatap Hendra yang wajahnya kini merah padam menahan amarah.

"Hendra," panggil Pak Gunawan pelan. "Kenapa harga materialmu bisa selisih jauh sekali dengan putrimu? Supplier kalian bukannya sama-sama dari jaringan lama?"

Hendra terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tahu persis siapa yang menyodorkan vendor marmer itu padanya: Siska. Siska yang bersikeras bahwa harga itu wajar karena 'kualitas premium'. Di depan klien, Hendra tidak mungkin mengakui bahwa ia telah dibodohi oleh simpanannya sendiri.

"Mungkin... ada perbedaan spesifikasi teknis yang belum dipahami anak ingusan ini," elak Hendra, suaranya terdengar tidak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.

"Cukup," Pak Gunawan berdiri. "Saya akan pelajari kedua proposal ini. Keputusan akan dikirim via email besok pagi. Rapat selesai."

Ketika mereka keluar dari ruang rapat, lorong menuju lift terasa seperti medan perang pasca letusan. Elang berjalan duluan bersama Rini, memberikan ruang bagi drama keluarga yang tak terelakkan.

Hendra mencengkeram lengan Alana tepat sebelum pintu lift terbuka. Cengkeramannya kuat, menyakitkan.

"Kau pikir kau siapa?" desis Hendra di telinga Alana. Napasnya memburu. "Kau mencoba mempermalukanku di depan klien lamaku? Dengan data curian?"

Alana menepis tangan ayahnya dengan sentakan keras. Ia mundur selangkah, merapikan blazernya yang kusut. Sorot matanya yang dulu penuh permohonan kasih sayang kini telah mati, digantikan oleh dinding es yang kokoh.

"Itu bukan data curian. Itu riset pasar, Pah. Sesuatu yang Papa lupakan karena terlalu sibuk memanjakan wanita yang mengeruk uang perusahaan Papa," ujar Alana dengan nada rendah namun tajam. "Saya tidak mempermalukan Papa. Papa mempermalukan diri sendiri dengan membiarkan Siska mengatur proyek yang tidak dia mengerti."

"Kau..." Hendra mengangkat tangannya, refleks lamanya untuk mengintimidasi.

"Jangan," potong Alana cepat. "Ada CCTV di sudut sana. Dan saya bukan lagi gadis kecil yang bisa Papa usir tanpa uang sepeser pun. Saya kompetitor Papa sekarang. Dan saran saya: cek ulang semua invoice yang ditandatangani Siska bulan lalu. Marmer bukan satu-satunya yang dia palsukan."

Pintu lift terbuka. Elang menahan pintu dengan tangannya, menatap Hendra dengan tatapan peringatan. Alana melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan ayahnya yang berdiri terpaku di lorong dengan wajah pucat pasi.

Saat pintu logam itu tertutup, memisahkan wajah marah ayahnya dari pandangan, lutut Alana akhirnya lemas. Ia nyaris merosot jika Rini tidak sigap memegang bahunya.

"Kamu hebat, Mbak. Sumpah, kamu hebat banget," bisik Rini.

Alana menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya. Ia menoleh ke arah Elang.

"Bagaimana?" tanyanya pelan.

Elang tidak tersenyum, tapi anggukan kecilnya adalah pujian tertinggi yang bisa Alana dapatkan. "Kau baru saja menanam benih keraguan yang permanen di kepala Hendra. Bukan soal proyeknya yang penting sekarang, tapi fakta bahwa kau benar soal mark-up itu. Malam ini, rumah tangganya akan menjadi neraka."

Alana menatap pantulan dirinya di dinding lift. Ia melihat wanita asing di sana. Wanita yang baru saja menikam ayahnya dengan belati bernama kebenaran, dan anehnya... tidak ada rasa sesal. Hanya ada rasa dingin yang membebaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!