Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diagnosis Dokter
Pesawat mendarat di Jakarta dengan goncangan keras yang seolah menyambut Amara kembali ke realitas yang pahit. Langit ibu kota mendung, mencerminkan suasana hatinya. Dia langsung naik taksi online, menyuruh pengemudi menuju RSIA Bunda di Kuningan.
Setiap lampu merah terasa seperti penyiksaan. Tangannya yang menggenggam ponsel berkeringat dingin, memandangi foto Luna di layar—foto terakhir sebelum dia berangkat ke Jogja, dengan senyum lebar dan mata berbinar.
Rumah sakit itu megah dan steril. Bau disinfektan menusuk hidungnya segera setelah dia melangkah masuk. Suara dering monitor, bisikan perawat, dan langkah cepat dokter menciptakan simfoni kecemasan. Amara menuju ke lantai delapan, unit perawatan anak.
Saat dia mendorong pintu kamar 814, pemandangan itu menghantamnya seperti pukulan di solar plexus.
Luna terlihat lebih kecil dari biasanya di atas tempat tidur rumah sakit yang besar. Wajahnya pucat, dengan semburat merah di pipi yang ternyata adalah ruam ringan berbentuk kupu-kupu (malar rash) yang sekarang jelas terlihat.
Selang oksigen masih di hidungnya, infus di tangan kanannya, dan monitor jantung berdetak dengan stabil di sampingnya. Matanya tertutup.
Di samping tempat tidur, duduk Rafa. Dia bersandar di kursi plastik, mengenakan kaus dan celana training yang kusut. Matanya merah, berkerut oleh kelelahan dan kurang tidur. Dia sedang memegang tangan Luna yang tidak terpasang infus, mengusap-usap punggung tangan kecil itu dengan lembut.
Ibu Marni duduk di kursi di sisi lain, tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya tertuju pada cucunya, penuh dengan keputusasaan yang dalam.
Rafa menoleh saat mendengar pintu berderit. Matanya yang lelah bertemu dengan mata Amara. Ada kelegaan sekilas, lalu tertutup oleh badai emosi lain yang lebih gelap.
Amara hampir tidak berjalan, tapi berlari kecil ke sisi tempat tidur. Dia berlutut, tanpa peduli lantai yang dingin, dan mencium dahi Luna yang masih hangat meski demamnya sudah turun sedikit.
"Luna... Mama datang, Sayang," bisiknya, suaranya bergetar.
Luna menggerakkan kelopak matanya, lalu membuka mata. Matanya yang biasanya cerah kini terlihat redup, seperti kaca yang buram. Tapi saat melihat Amara, sedikit cahaya muncul.
"Ma..." suaranya serak, kecil. "Mama datang."
"Iya, Sayang. Mama ada di sini." Amara menggenggam tangan Luna, menghindari area infus. "Mama di sini sekarang."
Luna tersenyum lemah, lalu tertidur lagi, seolah kehadiran Amara memberikannya izin untuk beristirahat dengan tenang.
Amara bangkit, menghadapi Rafa.
"Kondisinya bagaimana?"
"Demam turun sedikit berkat steroid. Tapi dia lemas. Dokter akan datang jam satu siang untuk bicara soal hasil tes lanjutan."
Rafa berdiri, tubuhnya kaku. "Ayo kita bicara di luar."
Mereka keluar ke lorong yang sepi. Suasana tegang di antara mereka terasa padat.
"Kamu sampai cepat," ucap Rafa, tanpa nada tertentu.
"Penerbangan pertama." Amara melihatnya.
"Kamu terlihat hancur."
"Dan kamu terlihat seperti baru turun dari gunung dengan karya seni," balas Rafa, dan ada sengatan kecil di nada bicaranya. Amara terkesiap.
"Rafa, aku—"
"Tidak, lupakan," potong Rafa, mengusap wajahnya.
"Aku lelah. Aku khawatir. Aku…" Dia menarik napas dalam. "Mari kita tunggu dokter."
Jam satu siang tepat, dr. Arini, spesialis reumatologi anak, memasuki ruangan. Dia perempuan paruh baya dengan wajah bijak dan mata yang tajam namun penuh belas kasih.
Setelah memperkenalkan diri, dia mengajak Rafa dan Amara ke ruang konsultasi kecil di dekatnya.
Mereka duduk berhadapan dengan dokter di meja kecil. Dr. Arini membuka file Luna yang tebal.
"Saya akan langsung pada intinya," mulainya, suaranya tenang namun tegas.
"Berdasarkan gejala klinis—demam tinggi, ruam malar, radang sendi ringan yang dia keluhkan minggu lalu—ditambah dengan hasil laboratorium yang sangat spesifik, kami sampai pada diagnosis."
Dia menatap mereka berdua. "Luna menderita Systemic Lupus Erythematosus, atau SLE. Ini adalah penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehatnya sendiri."
Kata-kata itu menggantung di udara ber-AC yang dingin. Systemic Lupus Erythematosus. Kronis. Autoimun.
"Artinya… apa?" tanya Amara, suaranya nyaris tak terdengar.
"Artinya, ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan," jelas dr. Arini.
"Tujuan pengobatan adalah mencapai remisi—keadaan di mana penyakit tidak aktif, tidak ada gejala. Luna akan membutuhkan pengobatan jangka panjang, mungkin seumur hidup: kombinasi obat imunosupresan, steroid, dan obat untuk melindungi organ-organ seperti ginjal dan jantung dari serangan lupus."
"Biayanya?" tanya Rafa, langsung pada titik yang paling menakutkan.
Dr. Arini menghela napas. "Signifikan. Obat-obatan khusus, pemeriksaan darah rutin setiap bulan, kontrol ke spesialis setiap 2-3 bulan, kemungkinan rawat inap jika ada flare (kekambuhan).
Asuransi mungkin menanggung sebagian, tapi tidak semua, terutama obat-obatan baru yang lebih efektif. Dalam setahun, bisa mencapai ratusan juta rupiah."
Ratusan juta. Angka itu seperti batu nisan yang dijatuhkan di atas meja. Amara merasa pusing. Rafa mendekatkan kepalanya ke tangannya, bahunya turun.
"Penyebabnya?" desis Amara. "Apa… karena stres? Karena…" Dia tidak bisa melanjutkan. Karena perceraian kita?
"Penyebab pasti SLE belum diketahui," jawab dr. Arini dengan hati-hati.
"Faktor genetik berperan, juga pemicu lingkungan seperti infeksi virus, paparan sinar matahari berlebihan, atau stres fisik/emosional yang berat bisa memicu munculnya penyakit pada orang yang memang rentan. Tapi perlu ditegaskan, ini bukan kesalahan pola asuh atau kondisi keluarga."
Penegasan itu seharusnya melegakan. Tapi tidak.
"Jadi, stres bisa memicu?" tanya Rafa, mengangkat wajah. Matanya berbinar dengan emosi yang tertahan.
"Itu salah satu kemungkinan pemicu, di antara banyak faktor lain yang kompleks," jawab dokter.
Rafa menatap Amara. Di matanya, Amara melihatnya: sebuah pertanyaan yang tak terucap, sebuah tuduhan yang mulai mengkristal. Kamu pergi. Stres karena kepergianmu. Ini salahmu.
Dr. Arini melanjutkan dengan rencana perawatan: Luna akan dirawat setidaknya seminggu lagi untuk stabilisasi. Mereka akan mulai dengan terapi steroid dosis tinggi, lalu dikurangi perlahan. Dia memberikan brosur, rekomendasi grup pendukung orang tua anak dengan lupus.
Konsultasi berakhir. Mereka kembali ke kamar Luna seperti orang berjalan menuju tempat eksekusi.
Luna masih tidur. Ibu Marni melihat wajah mereka dan tahu. "Apa katanya?" tanyanya, suaranya gemetar.
"Penyakit autoimun. Kronis," jawab Rafa singkat. Ibu Marni memejamkan mata, bibirnya komat-kamit berdoa.
Rafa menarik Amara keluar lagi, kali ini menuju area taman kecil di lantai dasar rumah sakit. Di sana, di bawah bayangan pohon palem, pertengkaran yang sudah mendidih akhirnya meledak.
"Ratusan juta setahun," geram Rafa, suaranya rendah namun penuh amarah. "Ratusan juta. Kita baru saja membagi harta, aku harus menjual mobil, dan sekarang ini?"
"Kita akan cari jalan," kata Amara, mencoba tenang.
"Jalan? Apa jalanmu? Kembali ke Jogja? Meninggalkan kami lagi?" Rafa membelalak.
"Stres, kata dokter. Stres bisa memicu. Luna stres karena ibunya pergi tiga bulan! Dia mencoba menjadi dewasa, dia tidak mengeluh, tapi dia anak-anak, Amara!"
"Jadi ini salahku?" Amara membalas, suaranya mulai meninggi. "Kau yang mendukungku pergi! Kau yang bilang 'ini kesempatanmu'!"
"Karena aku ingin kau bahagia! Aku tidak tahu akan berakhir seperti ini!" Rafa berteriak, lalu menurunkan volume, menyadari mereka di tempat umum.
"Aku… aku jaga dia setiap hari. Aku pastikan dia makan, antar jemput, bantu PR. Tapi ternyata dia sakit dan aku tidak sadar! Aku pikir hanya demam biasa!" Suaranya pecah oleh rasa bersalah. "Aku tidak becus. Aku ayah yang tidak becus."
"Jangan bilang begitu," protes Amara, air matanya mengalir. "Ini bukan soal siapa yang salah. Ini penyakit! Dokter bilang bukan kesalahan pola asuh!"
"Tapi kau pergi! Dan sekarang dia terbaring di sana!" Rafa menuding ke arah atas, ke kamar Luna.
"Apa gunanya karya senimu, Amara? Apa gunanya pameran dan residensi mewah itu jika anakmu sakit dan kau tidak ada di sisinya?"
Tuduhan itu seperti tamparan. Amara mundur selangkah, terhantam. Itu adalah ketakutan terdalamnya yang diucapkan dengan keras oleh mantan suaminya.
"Kau tidak adil," isaknya. "Aku juga hancur melihatnya seperti itu."
"Kau hancur SEKARANG. Tapi dua hari yang lalu kau masih di studio idamanmu, menjahit karya besarmu!" Rafa memutar badan, tidak sanggup memandangnya.
"Aku harus memanggilmu. Aku harus menelepon dan mengacaukan hidup barumu yang sempurna. Maafkan aku."
Sarkasme itu menyayat. Amara ingin membalas, ingin menyalahkan Rafa juga. Tapi dia terlalu lelah, terlalu hancur.
Mereka berdiri dalam keheningan bermusuhan, hanya suara lalu lintas dari jalan raya di bawah yang mengisi jarak di antara mereka.
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Amara akhirnya, suaranya hampa.
"Kau putuskan," jawab Rafa, masih membelakang. "Kau mau kembali ke Jogja, silakan. Aku dan Ibuku akan urus Luna. Kau kirim uang saja dari penjualan karyamu yang mahal itu."
"Rafa, tolong…"
"TOLONG APA?!" Dia berbalik, matanya basah.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa! Aku takut! Aku takut kehilangan dia! Dan aku marah… aku marah pada segalanya, termasuk padamu! Dan itu tidak rasional, tapi aku tidak bisa menghentikannya!"
Pengakuan jujurnya itu meluluhkan sedikit tembok kemarahan Amara. Dia melihat pria di depan dirinya—bukan mantan suami yang dingin, tapi seorang ayah yang panik, takut, dan merasa gagal.
"Kita… kita tidak boleh bertengkar," kata Amara, menarik napas dalam-dalam. "Luna butuh kita berdua. Solid."
"Solid?" Rafa tertawa getir. "Kita tidak pernah solid, Amara. Bahkan saat bersama pun tidak. Apalagi sekarang."
"Kita harus belajar. Untuk dia." Amara melangkah mendekat, perlahan.
"Aku tidak akan kembali ke Jogja. Tidak sekarang. Aku akan tinggal di sini, bergantian jaga denganmu. Kita hadapi ini bersama."
Rafa menatapnya, mencari tanda kebohongan. "Dan residensimu? Karyamu?"
"Akan kuerahkan nanti. Setelah kondisi Luna stabil. Edo mengerti."
Rafa mengangguk pelan, amarahnya surut digantikan oleh kelelahan yang luar biasa.
"Baik. Kita bergantian jaga. Kita dengarkan dokter. Kita hitung biaya. Kita… kita coba untuk tidak saling menyalahkan lagi."
Itu bukan rekonsiliasi. Itu adalah gencatan senjata yang rapuh di medan perang yang sama sekali baru.
Mereka naik lift kembali ke lantai delapan. Di dalam kamar, Luna terbangun. Dia melihat mereka masuk, melihat wajah mereka yang masih basah dan merah.
"Papa, Ma… kalian bertengkar?" tanyanya lemah.
"Tidak, Sayang," jawab Amara cepat, mendekat dan membelai rambutnya. "Kami hanya… berdiskusi."
"Tentang penyakitku?"
Amara dan Rafa saling pandang. "Iya," jawab Rafa, duduk di sisi lain tempat tidur.
"Kamu punya kondisi khusus, Luna. Namanya lupus. Tapi kamu akan baik-baik saja. Papa dan Mama akan pastikan itu."
"Apakah sakitnya akan lama?" tanya Luna, matanya besar dan takut.
"Kita akan minum obat rutin, dan kamu akan jadi superhero kecil yang bisa mengendalikannya," ucap Amara, mencoba tersenyum. "Kita akan melalui ini bersama. Janji."
Luna melihat dari Amara ke Rafa, lalu mengulurkan kedua tangannya. Tanpa perlu kata-kata, Amara dan Rafa masing-masing memegang satu tangan putri mereka.
Di ruangan rumah sakit yang steril itu, di atas tempat tidur yang dikelilingi oleh monitor dan selang, sebuah ikatan baru mulai terbentuk.
Bukan ikatan cinta romantis, tapi ikatan yang lebih primitif dan kuat: ikatan dua orang tua yang akan berperang mati-matian untuk anak mereka, meski di antara mereka masih ada retakan, sakit hati, dan saling tuduh yang belum terselesaikan.
Perang melawan lupus baru saja dimulai, dan pertempuran pertama mereka adalah untuk tetap bersatu di garis depan, meski fondasinya sendiri masih bergetar.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.