Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Labirin Ingatan dan Benang Tipis Kepercayaan
Isola del Sangue pagi itu tampak seperti lukisan cat air yang pudar. Sisa-sisa badai semalam meninggalkan jejak berupa dahan-dahan pinus yang patah dan permukaan laut yang masih berwarna kelabu. Di dalam kamar utama yang luas, Aruna berdiri di depan jendela kaca besar, menatap bayangannya sendiri. Gaun perak semalam sudah diganti dengan kemeja putih longgar milik Dante yang panjangnya mencapai paha, memberikan kesan rapuh namun provokatif.
Perkataan Luciano di kapal pesiar semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. “Kode itu berkaitan dengan ingatan masa kecilmu.”
Aruna memejamkan mata, mencoba menggali memori dari masa-masa ia masih tinggal di Italia sebelum pelarian besar ibunya. Ia ingat aroma saus tomat yang mendidih di dapur, suara tawa seorang pria yang memiliki tangan besar dan kasar—Adrian, ayahnya. Dan ia ingat sebuah lagu pengantar tidur dalam bahasa Italia kuno yang sering dinyanyikan ibunya saat ia sulit tidur.
Cklek.
Pintu terbuka. Aruna tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma tembakau dan maskulin itu sudah menjadi bagian dari oksigennya sekarang.
Dante berjalan mendekat, langkahnya tidak bersuara di atas karpet Persia yang tebal. Ia berdiri di belakang Aruna, tangan besarnya melingkar di pinggang Aruna, menariknya hingga punggung gadis itu menempel pada dada bidangnya. Dante membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma sabun dan kulit yang selalu membuatnya tenang.
"Kau tidak tidur semalam," gumam Dante. Suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur atau yang tidak tidur sama sekali.
"Bagaimana aku bisa tidur setelah tahu bahwa aku adalah brankas berjalan?" balas Aruna dingin, meski ia tidak menolak pelukan itu. Ia sedang belajar: biarkan musuhmu merasa mereka memilikimu agar mereka lengah.
Dante memutar tubuh Aruna. Matanya yang abu-abu menatap Aruna dengan tajam, seolah sedang mencari kebohongan. "Luciano hanya mencoba meracuni pikiranmu. Jangan percayai apa pun yang keluar dari mulut ular tua itu."
"Tapi dia benar tentang satu hal, bukan?" Aruna mendongak, menatap Dante dengan mata yang dibuat tampak sayu dan penuh keraguan. "Kode itu ada di dalam kepalaku. Dan kau... kau takut jika aku mengingatnya, aku tidak akan membutuhkanmu lagi."
Dante menyempitkan matanya. "Apa yang kau ingat, Aruna?"
Aruna terdiam sejenak, memberikan jeda dramatis. "Hanya potongan gambar. Sebuah rumah dengan pohon lemon. Dan sebuah lagu. Ibuku sering menyanyikannya."
Tangan Dante yang ada di pinggang Aruna mengeras sesaat. Perubahan mikro-ekspresi itu tidak luput dari pengamatan Aruna. Dia tertarik. Dia butuh informasi ini.
"Lagu apa?" tanya Dante, suaranya kini sedikit lebih mendesak.
"Aku belum ingat semuanya," Aruna berbohong dengan sangat natural, sebuah bakat yang baru ia temukan dalam dirinya. "Kepalaku sakit setiap kali mencoba memaksanya. Mungkin... jika aku bisa bicara dengan ibuku tanpa gangguan, ingatan itu akan kembali lebih cepat."
Dante melepaskan pelukannya dan berjalan menuju meja kecil, menuangkan air putih ke gelas kristal. "Aku sudah menjanjikanmu akses itu. Tapi ingat, Aruna... jangan mencoba bermain-main denganku. Aku bisa menjadi pelindungmu yang paling setia, atau mimpi burukmu yang paling nyata."
"Aku tahu siapa kau, Dante," Aruna mendekati Dante, mengambil gelas dari tangannya dan meminumnya sedikit. "Tapi kau juga harus tahu, jika kau ingin kode itu, kau harus membuatku merasa aman. Dan keamanan itu tidak datang dari penjaga bersenjata atau pulau terpencil. Itu datang dari kejujuran."
Dante tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Kejujuran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli di keluarga Valerius."
Sore harinya, Dante harus pergi ke daratan utama untuk mengurus kekacauan yang terjadi setelah pertemuan dengan Luciano. Ia meninggalkan Marco untuk menjaga Aruna. Ini adalah kesempatan yang sudah direncanakan Aruna sejak pagi.
Aruna menemukan Marco di teras samping, sedang membersihkan senjatanya dengan ketelitian seorang dokter bedah. Pria itu selalu tampak seperti mesin, namun Aruna tahu bahwa setiap mesin memiliki celah.
"Marco," panggil Aruna pelan.
Marco mendongak, lalu berdiri dan membungkuk hormat. "Nona Aruna. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku butuh bantuanmu, tapi bukan sebagai penjaga," Aruna duduk di kursi rotan di samping Marco. "Aku butuh informasi yang Dante tidak ingin aku tahu."
Marco kembali duduk, matanya tetap waspada pada sekeliling. "Saya setia pada Tuan Dante, Nona."
"Kesetiaan sering kali adalah nama lain dari ketakutan, Marco. Kau sudah bersamanya sejak kecil. Kau melihat apa yang terjadi pada Isabella. Benarkah dia meninggal karena persalinan?"
Gerakan tangan Marco yang sedang mengelap laras pistol terhenti. Suasana di teras itu seketika menjadi dingin. "Itu bukan urusan Anda, Nona."
"Ini urusanku karena sekarang aku berada di tempatnya! Aku membawa anaknya! Jika Isabella dibunuh karena dia tahu terlalu banyak, apa yang akan terjadi padaku saat Dante mendapatkan kodenya?" Aruna mencondongkan tubuhnya, suaranya berbisik namun penuh penekanan. "Dante bilang ibuku pengkhianat. Tapi bagaimana jika sebenarnya ayahnya, Lorenzo, yang mengkhianati ayu-ku lebih dulu?"
Marco menatap Aruna lama sekali. Ia melihat api di mata gadis itu—api yang sama yang ia lihat pada Adrian dua puluh tahun yang lalu. Akhirnya, Marco mendesah pelan. Ia meletakkan senjatanya.
"Isabella tidak meninggal karena persalinan," bisik Marco, suaranya hampir tak terdengar di antara deburan ombak. "Dia mencoba meracuni Dante karena dia bekerja untuk Luciano. Dante mengetahuinya dan... dia membiarkan Isabella meminum racun itu sendiri. Dia melihat wanita yang dicintainya mati di depannya tanpa menggerakkan satu jari pun."
Aruna menutup mulutnya dengan tangan. Darahnya terasa membeku. Dante bukan hanya pembunuh; dia adalah pria yang bisa menyaksikan orang yang ia cintai mati demi sebuah prinsip kesetiaan.
"Lalu tentang ibuku?" tanya Aruna, suaranya bergetar.
"Ibumu adalah satu-satunya kelemahan Lorenzo. Dan Dante tahu itu," Marco menatap Aruna dengan tatapan peringatan. "Jangan terlalu dalam menggali, Nona. Jika Anda ingin selamat, berikan apa yang dia mau dan pergilah sejauh mungkin. Tapi jika Anda memilih untuk tinggal... pastikan Anda adalah orang yang memegang senjatanya, bukan targetnya."
Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar kembali. Dante sudah pulang.
Marco segera membereskan senjatanya dan berdiri tegak. "Jangan pernah katakan pada siapa pun kita bicara tentang ini."
Malam itu, makan malam terasa sangat sunyi. Dante tampak kelelahan, namun matanya tetap mengawasi Aruna. Setelah makan, Dante mengajak Aruna ke perpustakaan. Ia memberikan sebuah kotak kecil berbahan beludru.
Di dalamnya terdapat sebuah pemutar musik kuno dari perak.
"Ini milik ibumu yang tertinggal di Palermo," ujar Dante. "Mungkin ini bisa membantumu mengingat lagu itu."
Aruna membuka kotak musik itu. Sebuah melodi melankolis mulai mengalun. Lagu itu. Lagu pengantar tidur yang diingatnya. Saat musik itu bermain, Aruna merasakan sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Ia menatap Dante yang berdiri di depannya, menanti reaksinya.
Aruna menyadari satu hal: Dante tidak hanya ingin kodenya. Dia ingin Aruna mengingat masa lalunya agar dia bisa menguasai setiap jengkal sejarah hidup Aruna.
"Aku mengingatnya," bisik Aruna, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku ingat di mana ayahku menyembunyikan kunci fisiknya."
Dante melangkah maju, tangannya gemetar karena antusiasme yang tertahan. "Di mana, Aruna?"
Aruna menatap Dante dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang mencampurkan kasih sayang palsu dan rencana tersembunyi. Ia menarik kerah baju Dante, membawanya mendekat.
"Aku akan memberitahumu. Tapi tidak sekarang. Aku ingin kau membawaku ke makam ayahku di daratan utama. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir sebelum aku menyerahkan segalanya padamu."
Dante terdiam. Ia menimbang-nimbang risiko membawa Aruna keluar dari pulau. Namun, rasa haus akan kode itu dan keinginannya untuk menyenangkan Aruna mengalahkan logikanya.
"Baiklah. Lusa. Kita akan ke daratan," ujar Dante.
Aruna tersenyum—sebuah senyuman yang sangat cantik, namun di baliknya, ia sudah menyiapkan jebakan. Ia telah menghubungi Marco melalui secarik kertas rahasia saat makan malam tadi. Ia tahu bahwa Marco memiliki dendam tersembunyi pada Dante karena kematian adiknya di masa lalu yang juga disebabkan oleh kekejaman Valerius.
Aruna menyadari bahwa di Isola del Sangue, ia tidak lagi menjadi mawar yang dipatahkan. Ia menjadi duri yang sedang menunggu waktu untuk menusuk jantung sang singa.
"Terima kasih, Dante," bisik Aruna sambil mengecup bibir Dante. "Kau sangat baik padaku."
Dante membalas ciuman itu dengan penuh nafsu, tidak menyadari bahwa wanita di pelukannya baru saja menandatangani surat pemberontakannya.