"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 The First Intrusion
Malam itu di apartemennya, Jungkook tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di dapur pribadinya seperti singa yang terkurung dalam kandang kaca. Di atas meja kerja dapurnya, sebuah kotak makan siang kayu yang dipoles rapi sudah terisi penuh. Bukan sekadar nasi dan lauk, tapi sebuah komposisi rasa yang ia susun dengan penuh perhitungan—Seared Scallops dengan purée kembang kol dan sedikit sentuhan minyak truffle.
Ia tahu itu berlebihan untuk sebuah "bekal", tapi hanya itu alasan yang paling logis yang bisa ia karang untuk menemui gadis itu lagi. Sejak pelukan di restoran, separuh jiwanya terasa tertinggal di telapak tangan Shine. Ada rasa haus yang mencekik, sebuah kekosongan yang hanya bisa diredam jika ia melihat wajah pucat itu lagi.
"Kau gila, Kook," gumam J-Hope yang bersandar di pintu dapur sambil melipat tangan. "Keluarga Kim itu bukan orang sembarangan. Kau masuk ke sana tanpa izin sama saja dengan menyerahkan lehermu ke pisau jagal."
Jungkook tidak menoleh. Ia sibuk mengikat kain pembungkus kotak itu dengan simpul yang sempurna. "Aku tidak peduli, Hyung. Dia butuh asupan yang benar. Wajahnya kemarin... dia seperti orang yang sedang sekarat tapi dipaksa untuk terus hidup. Aku tidak bisa tidur memikirkan itu."
"Atau kau hanya ingin menyentuhnya lagi?" pancing J-Hope dengan nada menyelidik.
Gerakan tangan Jungkook terhenti sejenak. Matanya menatap kosong ke arah kotak makan itu. "Keduanya. Aku ingin dia makan, dan aku ingin memastikan dia tidak kedinginan lagi."
Tanpa menunggu nasihat lebih lanjut dari kakaknya, Jungkook menyambar kunci motornya. Ia tidak menggunakan mobil agar bisa bergerak lebih lincah. Di bawah temaram lampu jalanan Seoul yang mulai sepi, motor hitamnya membelah malam menuju kawasan elit Gangnam, tempat di mana benteng keluarga Kim berdiri angkuh di atas bukit.
Gerbang kediaman Kim terlihat seperti gerbang menuju kerajaan lain. Tinggi, hitam, dan dijaga oleh teknologi canggih serta manusia-manusia yang tidak memiliki selera humor. Begitu Jungkook menghentikan motornya di depan gerbang besi besar itu, seorang pria dengan jas hitam rapi dan tubuh yang jauh lebih besar darinya melangkah maju dari kegelapan.
RM.
Pengawal pribadi Shine itu berdiri tegak, tangannya tertaut di depan tubuh, menatap Jungkook dengan mata yang tidak memancarkan emosi apa pun.
"Kau lagi," suara RM berat dan tenang, namun mengandung ancaman yang jelas. "Restoran sudah tutup, Chef Jeon. Dan ini bukan tempat untuk mengantar pesanan."
Jungkook turun dari motornya, mematikan mesin, lalu menjinjing kotak makan siangnya. Ia tidak gentar, meski ia tahu RM memiliki kemampuan bela diri yang bisa meremukkan tulang rusuknya dalam satu serangan.
"Aku bukan datang sebagai kurir," ucap Jungkook, suaranya mantap. "Aku datang untuk menemui Nona Shine. Aku membawakannya makanan."
RM sedikit menyipitkan mata. "Nona Shine tidak menerima tamu di jam seperti ini. Apalagi orang asing yang baru ditemuinya kemarin. Pergilah sebelum aku harus menggunakan cara kasar."
Jungkook melangkah satu kaki lebih dekat. "Aku tahu dia belum tidur. Aku bisa merasakannya. Dan aku tahu dia tidak akan bisa makan dengan tenang kecuali aku yang memasaknya."
"Kau terlalu percaya diri, anak muda," RM melangkah maju, memangkas jarak antara mereka. Aura intimidasi terpancar kuat. "Di dalam sana, ada koki kelas dunia dan dokter terbaik yang menjaganya. Dia tidak butuh bekal dari restoran kecilmu."
"Tapi mereka tidak bisa memberinya apa yang aku berikan, kan?" Jungkook menantang, merujuk pada energi yang terpancar saat mereka bersentuhan.
Rahang RM mengeras. Ia diperintahkan oleh Jin dan Suga untuk menjauhkan siapa pun yang mencurigakan, terutama pria koki ini. Tanpa peringatan lebih lanjut, RM meletakkan tangannya di bahu Jungkook, bermaksud untuk memutar tubuh pria itu dan memaksanya pergi.
Namun, Jungkook lebih cepat. Ia menggeser tumpuan kakinya, menghindar dari cengkeraman RM dengan gerakan refleks yang tak terduga. Kotak makan siang itu ia pindahkan ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya menepis lengan RM.
"Jangan sentuh aku jika kau tidak ingin masalah ini menjadi berisik," desis Jungkook.
RM sedikit terkejut dengan kegesitan Jungkook. Ia tidak menyangka seorang koki memiliki refleks petarung. "Begitu rupanya. Kau bukan sekadar tukang masak."
RM melayangkan pukulan rendah, sebuah serangan terukur untuk melumpuhkan. Jungkook menangkisnya dengan sikunya, namun kekuatan RM luar biasa. Jungkook terdorong dua langkah ke belakang, punggungnya menabrak tangki motornya. Rasa panas menjalar di lengannya, tapi matanya justru semakin menyala.
Ketegangan fisik itu pecah. RM merangsek maju, mencoba melakukan kuncian pada leher Jungkook. Jungkook merunduk, lalu menggunakan momentum tubuhnya untuk mendorong RM menjauh. Terjadi pergulatan singkat namun intens di depan gerbang. Suara napas yang memburu dan gesekan sepatu pantofel di atas aspal menjadi satu-satunya suara di sana.
"Berhenti!" sebuah suara melengking memecah kegelapan.
Di balik pagar jeruji besi, Shine berdiri. Ia mengenakan jubah tidur hitam yang panjang, wajahnya diterangi oleh lampu taman yang temaram. Rambutnya berantakan, dan matanya terlihat lebar karena terkejut.
"Namjoon-ssi, berhenti! Lepaskan dia!" teriak Shine.
RM segera menarik diri, merapikan jasnya yang sedikit kusut meski matanya tetap waspada pada Jungkook. "Nona, pria ini memaksa masuk. Saya hanya menjalankan tugas."
Jungkook berdiri tegak, mengatur napasnya yang tidak teratur. Rambut hitamnya sedikit menutupi matanya, namun begitu ia melihat Shine, tatapannya langsung melembut. Ia mengangkat kotak makan siang itu seolah-olah itu adalah barang paling berharga di dunia.
"Aku membawakanmu makan malam, Shine," suara Jungkook terdengar lebih lembut, kontras dengan kegarangan yang baru saja ia tunjukkan pada RM. "Kau harus makan. Aku tahu kau merasa hambar tadi pagi."
Shine terpaku di balik pagar. Jantungnya berdebar kencang melihat Jungkook yang berantakan karena berkelahi dengan RM hanya demi mengantarkan makanan untuknya. Ia bisa merasakan aura pria itu dari jarak lima meter—aura yang begitu memabukkan dan penuh energi.
"Buka gerbangnya, Namjoon-ssi," perintah Shine.
"Nona, Tuan Jin dan Tuan Suga akan membunuh saya jika mereka tahu—"
"Aku yang akan bertanggung jawab. Buka!" Shine menekankan suaranya, sebuah otoritas yang jarang ia tunjukkan sebagai seorang Oracle yang biasanya pasrah.
RM menghela napas panjang, kekalahan terpancar di wajahnya. Dengan enggan, ia menekan tombol di remot kontrolnya. Gerbang besi itu berderit terbuka perlahan.
Jungkook melangkah masuk, melewati RM dengan tatapan kemenangan yang tipis. Begitu ia sampai di depan Shine, langkahnya melambat. Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan oleh jarak kurang dari satu meter.
Udara di sekitar mereka seolah mendesis. Shine bisa merasakan panas tubuh Jungkook, dan Jungkook bisa melihat betapa rapuhnya Shine di bawah cahaya remang-remang. Tanpa berkata apa-apa, Jungkook meraih tangan Shine, lalu meletakkan kotak kayu itu di atas telapak tangannya.
Namun, saat kulit mereka bersentuhan, sebuah getaran kuat menyengat keduanya. Shine memejamkan mata, menghirup aroma keringat dan wangi rempah yang melekat pada tubuh Jungkook. Rasanya seperti baru saja mendapatkan oksigen setelah tenggelam di dasar laut.
"Kenapa kau ke sini?" bisik Shine.
Jungkook mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata biru redup milik Shine. "Karena aku tidak bisa bernapas di apartemenku sementara aku tahu kau sedang kelaparan di sini. Makanlah. Aku akan menunggumu di sini sampai kau menghabiskannya."
Di balkon lantai dua, sebuah gorden tersibak. Jin berdiri di sana, menatap pemandangan di bawah dengan tangan yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Suga menyilangkan tangan, matanya menyipit penuh kebencian medis pada pria asing yang sedang memegang tangan adiknya.
"Panggil dia masuk, Hyung," ucap Suga dengan nada dingin. "Jika dia ingin bermain api dengan keluarga Kim, mari kita tunjukkan seberapa panas apinya."
Pertemuan yang tak diinginkan itu baru saja dimulai. Di bawah, Jungkook masih menggenggam tangan Shine, tidak menyadari bahwa di dalam rumah itu, dua singa yang terluka sedang bersiap untuk mencabik-cabiknya.
...****************...