Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadangan dari Jakarta
Malam itu, Yasmin duduk di kamarnya, menatap jendela rumah yang menghadap ke kebun teh. Hembusan angin malam membawa aroma tanah basah dan daun teh yang masih lembap. Hatinya gelisah, meski ia tahu percakapan dengan Ragnar sebelumnya membawa sedikit ketenangan. Namun ada perasaan yang tak bisa ia hapus—sebuah ketakutan yang datang dari masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Yasmin menatap layar sejenak sebelum mengangkatnya.
“Yasmin?” suara perempuan di ujung sana terdengar tegas namun lembut.
“Halo… siapa ini?”
“Namaku Clara,” jawab suara itu. Seketika, jantung Yasmin berdegup kencang. Clara—mantan Ragnar, sosok yang sudah lama membayangi hidup Ragnar dan kini menampakkan dirinya kembali.
“Clara… maksudmu?” Yasmin berusaha tetap tenang.
“Ya. Aku ingin bicara. Bukan untuk menyakiti kamu. Tapi agar kamu tahu… ada hal-hal tentang Ragnar yang mungkin belum kamu ketahui.”
Yasmin menarik napas dalam. “Aku sudah tahu sebagian, tapi kalau tujuannya untuk menakut-nakuti aku, aku tidak takut.”
Clara tertawa tipis. “Aku tidak ingin menakut-nakuti. Aku hanya ingin berbicara sebagai perempuan. Ada rahasia yang dia bawa dari masa lalu—rahasia yang bisa memengaruhi hubungan kalian. Aku ingin kamu siap, bukan terguncang.”
Yasmin menatap jendela. Ia tahu Ragnar tidak memberitahunya tentang Clara saat ini, tapi ia juga tahu bahwa masa lalu Ragnar memang tidak bisa disembunyikan.
“Baik… kita bisa bertemu. Tapi aku ingin ini jelas. Tanpa intimidasi, tanpa ancaman.” Yasmin menahan nada tegasnya agar tetap sopan.
Clara tersenyum tipis di ujung telepon. “Setuju. Kita bertemu di kafe dekat Bandung besok sore.”
Setelah menutup telepon, Yasmin menatap langit malam. Hatinya dipenuhi rasa takut dan penasaran. Ia tahu langkah selanjutnya akan menguji kesabarannya—dan mungkin kepercayaannya pada Ragnar.
________________________________________
Keesokan harinya, Ragnar tiba di Ciwidey lebih awal. Mobilnya berhenti di depan rumah Yasmin, tapi ia tidak langsung turun. Ia menatap kebun teh yang basah oleh embun pagi. Ada ketegangan dalam hatinya—perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tahu Clara bisa muncul kapan saja dan memengaruhi hubungan mereka. Namun ia juga tahu Yasmin kuat. Ia berharap perempuan itu cukup sabar untuk menghadapi bayangan masa lalunya.
Yasmin keluar dari rumah, mengenakan gamis hijau lembut dan jilbab krem. Tatapan mereka bertemu. Ada kehangatan, tapi juga ketegangan.
“Kang… kita harus bicara,” Yasmin memulai.
Ragnar menatapnya, lembut namun serius. “Aku tahu, Fi. Aku juga ingin bicara. Tapi aku ingin kau tetap tenang. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan masa laluku menghancurkan kita.”
Yasmin mengangguk. “Aku ingin percaya itu. Tapi malam ini, ada sesuatu yang harus aku hadapi. Clara meneleponku tadi pagi. Dia ingin bicara.”
Ragnar terdiam. Hatinya berdebar, tapi ia menahan nada emosionalnya. “Baik… aku percaya padamu. Aku ingin kau menghadapi ini sendiri. Aku hanya ingin kau tetap aman dan tenang.”
________________________________________
Mereka menuju kafe yang terletak di pinggiran kota Bandung. Di sana, Clara sudah menunggu dengan senyum tipis yang memancarkan campuran percaya diri dan ketegangan. Saat Yasmin duduk, Clara menatapnya lama.
“Yasmin,” Clara memulai, “aku tidak di sini untuk merebut Ragnar darimu. Aku ingin kau tahu… ada sisi lain dari dia yang mungkin belum kamu ketahui.”
Yasmin menatap mata Clara, menahan diri agar tidak terbawa emosi. “Aku siap mendengarkan. Tapi aku tidak ingin kau menakut-nakuti atau memanipulasi aku.”
Clara mengangguk. “Aku hanya ingin bicara jujur. Waktu lalu… aku bagian dari malam kecelakaan itu. Aku marah, aku egois, dan aku… aku gagal memahami dirinya. Aku masih menyimpan penyesalan, tapi itu bukan berarti aku ingin kembali bersamanya. Aku ingin kau tahu apa yang pernah terjadi, supaya kau tidak kaget jika hal-hal dari masa lalunya muncul.”
Yasmin menarik napas panjang. “Baik… aku ingin tahu.”
Clara mencondongkan tubuhnya. “Ragnar bukan hanya berubah karena dia ingin menebus kesalahan. Dia juga ingin hidup baru karena ia merasa kosong tanpa arah. Aku bagian dari kekosongan itu, tapi aku tidak lagi menjadi hambatan. Aku ingin kau tahu ini, supaya kau tidak merasa… terseret oleh bayangan masa lalu kami.”
Yasmin menatapnya, memproses kata-kata itu. Ada rasa lega tapi juga berat. Ia tahu ini ujian yang lebih besar dari sekadar perbedaan budaya atau status sosial. Ini ujian hati, kepercayaan, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu orang lain.
Setelah beberapa menit hening, Yasmin berkata, “Aku mengerti. Dan aku ingin kau tahu… aku tidak di sini untuk bersaing denganmu. Aku di sini untuk memahami Ragnar apa adanya, termasuk masa lalunya. Aku ingin membangun hubungan ini dengan jujur, bukan dengan rasa takut atau cemburu.”
Clara menatapnya lama, seolah menilai kekuatan hati perempuan desa ini. Akhirnya ia tersenyum tipis. “Aku senang mendengar itu. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, selama kau benar-benar kuat menghadapi semua ini.”
Yasmin mengangguk. “InsyaAllah.”
________________________________________
Saat Yasmin kembali ke mobil, Ragnar menunggu di luar. Ia menatap perempuan itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Bagaimana?” tanyanya lembut.
“Baik,” jawab Yasmin. “Dia jujur tentang masa lalu, dan aku merasa lebih siap menghadapi semua itu. Aku tahu sekarang… Ragnar bukan pelarian dari masa lalu. Dia hanya manusia yang mencoba menjadi lebih baik, dan aku ingin melihat itu dengan mataku sendiri.”
Ragnar tersenyum lega. “Fi… aku bangga padamu. Kau kuat. Dan aku bersyukur kau ada di sisiku.”
Namun di Jakarta, Clara menatap layar ponselnya, menatap foto Ragnar dan Yasmin yang baru saja dikirim Rafi. Ada senyum tipis di wajahnya, tapi matanya menampakkan rencana lain yang belum selesai. Ia tahu perjalanan mereka baru saja mulai—dan bayangan masa lalu Ragnar masih akan menimbulkan ujian lain di kemudian hari.
Di Ciwidey, kabut mulai menipis, memberi ruang bagi sinar matahari sore yang hangat. Yasmin menarik napas panjang, menatap kebun teh yang hijau dan luas. Ia tahu ta’aruf ini tidak akan mudah, tapi ia merasa… untuk pertama kalinya, hatinya cukup kuat untuk menghadapi masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan bersama Ragnar.
Dan di sana, di bawah sinar matahari yang mulai meredup, dua hati belajar satu hal lagi: bahwa cinta bukan hanya soal perasaan, tapi soal keberanian menghadapi bayangan masa lalu, kejujuran yang tak tergoyahkan, dan kesabaran yang diuji oleh waktu.