Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN
04:30 AM. Safehouse "Alpha Zero".
Dini hari di perbatasan Bogor dan Sukabumi selalu membawa kabut yang cukup tebal untuk menyembunyikan dosa apa pun. Di dalam gudang, cahaya biru dari puluhan monitor masih berpendar, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton.
Bimo sudah mendengkur di atas sofa butut di sudut ruangan, dikelilingi oleh bungkus mie instan dan kabel kabel yang menjuntai.
Raka tidak tidur. Ia sedang duduk di meja kerja kayu, membongkar modul komunikasi Liquid Shadow untuk memastikan tidak ada frekuensi yang bocor. Namun, perhatiannya teralihkan oleh suara ketikan yang ritmis dan pelan dari arah meja utama.
Di sana, Liana duduk dengan kaki terlipat di kursi, sebuah kebiasaan lama yang tidak pernah hilang. Ia mengenakan kaos oversized milik Raka yang ia temukan di lemari cadangan kaos hitam polos yang tampak terlalu besar di tubuhnya yang ramping.
Rambut pendeknya berantakan, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, menambah kesan bahwa ia hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengejar tenggat skripsi, bukan seorang peretas paling dicari di Asia Tenggara.
Siapa sebenarnya Liana?
Jika Raka adalah pedang yang dingin dan presisi, maka Liana adalah api yang cair. Lahir di keluarga diplomat, Liana menghabiskan masa kecilnya berpindah pindah dari London ke Berlin, lalu ke Tokyo. Ia tidak belajar teknologi karena obsesi mekanis seperti Raka ia belajar teknologi karena bahasa adalah hobi pertamanya. Baginya, kode komputer hanyalah bahasa lain puisi dalam bentuk logika yang bisa memerintah mesin untuk melakukan keajaiban.
Raka memperhatikan Liana dari jauh. Ia teringat pertama kali mereka bertemu di Unit 09. Liana adalah satu satunya perempuan di kelas kriptografi yang berani menantang instruktur senior tentang kelemahan protokol RSA.
Saat itu, semua orang meremehkannya. Tapi tidak dengan Raka. Raka melihat cara otak Liana bekerja melompat lompat, kreatif, dan penuh intuisi kontras dengan otak Raka yang linier dan metodis.
Mereka menjadi tim bukan karena mereka mirip, tapi karena mereka saling melengkapi. Raka membangun temboknya, Liana memastikan pintu rahasianya tetap tersembunyi.
Liana tiba tiba berhenti mengetik. Tanpa menoleh, ia berkata, "Kau tahu, memperhatikan orang dari kegelapan itu sedikit menyeramkan, Raka. Bahkan untuk ukuran seorang hantu."
Raka terkejut kecil, namun ia tidak menunjukkan kegugupan. Ia bangkit dan berjalan mendekat dengan dua cangkir cokelat panas di tangannya. "Aku hanya sedang mengkalibrasi sensor gerakku. Kau bergerak terlalu banyak saat mengetik."
Liana berputar di kursinya, menerima cangkir itu dengan kedua tangannya, menghirup uapnya dengan mata terpejam. "Cokelat panas? Sejak kapan seorang robot militer menyimpan cokelat di gudangnya?"
"Bimo yang membawanya. Katanya glukosa bagus untuk stabilitas saraf," jawab Raka sambil duduk di meja di samping Liana.
"Apa yang sedang kau cari, Li?" tanya Raka, matanya melirik ke layar yang penuh dengan barisan kode hijau.
"Masa lalu kita, Raka," suara Liana melunak. Ia menggeser layarnya, memperlihatkan sebuah foto digital yang sudah sangat buram.
Itu adalah foto tim Unit 09 saat perayaan ulang tahun unit tersebut, sebulan sebelum insiden Lembah Hitam. Di sana ada Raka yang tampak kaku, Liana yang tertawa lebar, Bimo yang jauh lebih kurus, dan Kolonel Yudha yang berdiri gagah di tengah.
"Aku meretas server arsip lama yang sudah mati. Aku ingin tahu apa yang dilaporkan negara tentang kita setelah ledakan itu," lanjut Liana.
"Mereka mencatat kita sebagai K.I.A (Killed In Action). Pahlawan yang gugur dalam kecelakaan latihan," sahut Raka tanpa ekspresi.
"Bukan itu yang menarik," Liana menunjuk pada satu baris data terenkripsi di pojok dokumen. "Lihat catatan medis Yudha. Dua minggu sebelum operasi Lembah Hitam, dia menerima suntikan serum eksperimental. Sesuatu yang disebut Neural Link."
Raka mengerutkan kening. "Yudha bukan hanya sekadar mentor kita, Li. Dia adalah subjek uji coba pertama untuk sistem Aegis. Dia menghubungkan otaknya secara langsung dengan jaringan satelit itu."
Liana menatap Raka, matanya berkaca kaca di balik kacamatanya. "Itulah kenapa dia tidak bisa berhenti, Raka. Dia bukan lagi pria yang mengajari kita cara menembak atau meretas. Dia sudah menyatu dengan sistem itu. Membunuh Aegis berarti membunuh Yudha."
Raka terdiam. Ia memandang tangan Liana yang memegang cangkir cokelat dengan erat. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan Liana bukan hanya sekadar rekan kerja atau mantan kekasih. Liana adalah bagian dari jiwanya yang ia tinggalkan di Lembah Hitam.
"Li," panggil Raka pelan.
"Ya?" jawab Liana.
"Dulu... di Tokyo, saat kita libur misi selama tiga hari. Kau pernah bilang ingin berhenti dan membuka toko buku di pinggir pantai. Apa kau masih menginginkannya?"
Liana tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sedih namun manis. "Toko buku kecil dengan kopi yang terlalu mahal dan kucing yang tidur di atas rak. Ya, aku masih memimpikannya. Tapi di dunia yang dipantau Aegis, tidak ada tempat untuk buku kertas, Raka. Semuanya akan jadi digital, dingin, dan bisa dihapus dalam sekejap."
Liana menggeser duduknya, mendekat ke arah Raka hingga bahu mereka bersentuhan. "Kau tahu apa yang paling aku benci selama sepuluh tahun ini? Bukan karena aku harus bersembunyi. Tapi karena aku tidak punya siapa siapa untuk diajak bertengkar soal kode."
Raka meletakkan cangkirnya dan, dengan gerakan yang ragu namun tulus, ia melingkarkan lengannya di bahu Liana. Liana menyandarkan kepalanya di dada Raka, mendengarkan detak jantung pria itu yang biasanya stabil, tapi kini sedikit berpacu.
"Aku di sini sekarang," kata Raka. Kalimat itu sederhana, namun bagi Liana, itu adalah janji paling kuat yang pernah ia dengar.
"Sudah cukup sentimentalitasnya," Liana mendongak, matanya kembali bersinar dengan kecerdasan yang tajam. Ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Ayo kita bicara soal misi pelabuhan. Baju selammu siap?"
"Hampir. Aku perlu memastikan sensor tekanan di pergelangan tangannya tidak terpengaruh oleh arus air asin," Raka kembali ke mode operasional, namun ia tidak melepaskan rangkulannya di bahu Liana.
"Aku sudah memodifikasi scrambler sonar di Liquid Shadow mu," kata Liana sambil mengetik dengan satu tangan di laptopnya. "Jika kau berenang dengan ritme tertentu, sensor pelabuhan akan mengira kau hanyalah seekor lumba lumba yang sedang tersesat."
"Lumba lumba?" Raka menaikkan alisnya. "Kau ingin aku menari di dalam air seperti lumba lumba?"
"Kenapa tidak? Aku ingin melihat seorang hantu militer melakukan gerakan akrobatik di bawah laut," goda Liana. Ia mencubit pelan pinggang Raka, membuat pria itu sedikit tersentak.
"Kau sangat menyebalkan, Liana." ucap Raka.
"Tapi kau menyukainya." seringai Liana.
Raka tidak membantah. Ia memang menyukainya. Interaksi manusiawi yang tidak kaku ini adalah bahan bakar yang ia butuhkan untuk menghadapi apa yang ada di depan.
"Bim! Bangun!" teriak Raka ke arah sofa. Bimo tersentak bangun, hampir jatuh dari sofa sambil menggumamkan sesuatu tentang firewall. "Siapkan truk. Kita berangkat ke pesisir dalam tiga puluh menit."
"Ah, Raka... kau benar benar tidak punya perasaan," keluh Bimo sambil mengucek matanya. "Setidaknya biarkan aku menghabiskan mienya dulu."
Liana tertawa lebar, dan Raka merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Pagi itu, saat kabut mulai menipis di luar gudang, mereka bukan lagi sekadar pelarian yang ketakutan. Mereka adalah sebuah tim. Sebuah keluarga kecil yang retak namun sedang menyusun kepingannya kembali.
Raka memakai jaket taktisnya, memeriksa Glock nya sekali lagi, dan menatap Liana yang sedang sibuk mengemasi peralatan elektroniknya. Perjalanan menuju pesisir utara akan berbahaya. Misi infiltrasi pertama ini adalah ujian untuk semua teknologi yang mereka bangun.
"Siap, Li?" tanya Raka di depan pintu.
Liana mengambil tas ranselnya, berjalan melewati Raka, dan sempat mengecup pipi pria itu sekilas sebelum melompat ke dalam truk. "Selalu siap, Kapten Hantu."
Raka terpaku sejenak, meraba pipinya yang terasa hangat, lalu tersenyum tipis kali ini benar benar tersenyum sebelum menutup pintu gudang dan menguncinya selamanya. Protokol Sunyi telah berubah menjadi Protokol Balas Dendam, dan dunia tidak akan pernah tahu apa yang akan menimpa mereka.