Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Turnamen Murid Baru dan Pengkhianatan di Balik Jubah Putih
Pagi hari di Akademi Pedang Langit disambut oleh suara terompet kerang raksasa yang mengguncang salju dari dahan-dahan pohon pinus. Hari ini adalah Turnamen Murid Baru, sebuah ajang unjuk gigi bagi para pangeran dan jenius sekte untuk memperebutkan posisi di Paviliun Inti. Namun bagi Ranu, ini hanyalah hari di mana ia harus menyapu lebih banyak sampah karena kerumunan penonton yang datang.
"Ranu! Cepat selesaikan sapuanmu di tribun barat! Pertandingan akan segera dimulai!" teriak Pengawas Tejo dengan wajah ketus.
Ranu mengangguk patuh sambil mengayunkan sapu lidinya dengan gerakan yang ritmis. "Siap, Senior! Sampah-sampah ini akan bersih sebelum kau sempat berkedip!"
Di tengah arena, ribuan mata tertuju pada Nara. Gadis itu berdiri dengan anggun, busur hitamnya tersampir di punggung.
Lawannya adalah seorang putra bangsawan dari Benua Timur yang sedari tadi memamerkan pedang berlapis emasnya. Namun, pertandingan berakhir dalam hitungan detik.
Tanpa menarik busurnya, Nara hanya menggunakan gerakan kaki yang sangat cepat untuk muncul di belakang lawannya dan menempelkan jarinya ke leher sang pangeran.
"Pemenang: Nara!" teriak wasit.
Sorakan penonton membahana, namun perhatian Ranu teralih bukan pada kemenangan Nara, melainkan pada tribun khusus para tetua. Di sana, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah putih yang sangat agung, Penatua Wisesa. Meskipun ia tersenyum, Ranu melihat ada noda hitam yang sangat tipis di pupil matanya—sebuah tanda infeksi dari cacing kehampaan Langit Kesepuluh.
"Begitu rupanya," gumam Ranu. "Pengkhianatnya bukan di luar, tapi duduk di kursi kehormatan."
Turnamen berlanjut hingga mencapai puncaknya, namun suasana tiba-tiba berubah mencekam. Saat Pangeran Lingga memberikan sambutan sebagai murid teladan, Penatua Wisesa berdiri. Bukannya memberikan pujian, ia justru mengeluarkan sebuah lonceng kecil berwarna ungu gelap.
TING...
Suara lonceng itu tidak terdengar nyaring, melainkan terasa seperti dengungan ribuan serangga di dalam kepala. Seketika, beberapa murid yang sedang berada di arena berteriak histeris. Tubuh mereka mengejang, kulit mereka mengeras menjadi cangkang hitam, dan mata mereka berubah menjadi putih kosong.
"Manusia Kerak! Mereka berubah di dalam akademi!" teriak massa yang panik.
Penatua Wisesa tertawa, suaranya kini terdengar seperti tumpang tindih dengan suara iblis. "Akademi ini terlalu lama bersembunyi di balik kesucian palsu! Hari ini, Naga Bumi di bawah gunung ini akan menjadi tunggangan bagi tuanku yang baru!"
Penatua Wisesa menghantamkan telapak tangannya ke lantai tribun. Sebuah retakan besar menjalar hingga ke tengah arena, dan uap hitam pekat menyembur keluar. Naga Bumi yang selama ini tersegel mulai meraung, getarannya membuat bangunan-bangunan akademi runtuh satu per satu.
Pangeran Lingga segera menghunus pedangnya, mencoba menyerang Wisesa, namun ia dihalangi oleh belasan murid yang sudah berubah menjadi monster. Nara pun terkepung. Di tengah kekacauan itu, tak ada yang memperhatikan seorang murid luar berpakaian abu-abu yang masih memegang sapu lidi.
Ranu menghela napas panjang. Ia menjatuhkan sapu lidinya.
"Aku benar-benar ingin makan siang dengan tenang hari ini," ucap Ranu pelan. "Tapi sepertinya kalian tidak memberiku pilihan."
Ranu melangkah menuju retakan yang menyemburkan uap hitam. Setiap langkahnya membuat tanah yang tadinya bergetar hebat mendadak tenang kembali.
Ia melewati kerumunan monster tanpa menyentuh mereka, namun setiap makhluk yang berada dalam radius tiga meter darinya tiba-tiba hancur menjadi debu putih.
Pangeran Lingga, yang sedang berjuang keras, tertegun melihat pemandangan itu. "Dia... murid luar itu?"
Ranu kini berdiri di tepi retakan raksasa. Ia menatap ke bawah, ke arah mata naga raksasa yang mulai terbuka di dalam bumi, mata yang kini dipenuhi oleh urat-urat hitam kehampaan.
"Bintang Pertama: Pemurnian Inti Bumi," bisik Ranu.
Ranu tidak melompat, ia hanya menjatuhkan setetes darah dari ujung jarinya ke dalam retakan itu.
Darah itu tidak berwarna merah, melainkan emas murni yang bersinar seperti bintang kecil. Begitu tetesan itu menyentuh punggung naga, sebuah ledakan cahaya putih menyapu seluruh puncak gunung, menghapus semua uap hitam dan mengubah Penatua Wisesa kembali menjadi manusia yang kini lunglai tak berdaya.
Kekacauan berhenti seketika. Naga Bumi kembali tenang dan jatuh ke dalam tidur yang lebih dalam. Ranu segera memungut kembali sapu lidinya sebelum cahaya memudar.
"Wah, gempa bumi yang luar biasa!" teriak Ranu dengan nada bodoh sambil berpura-pura jatuh terduduk. "Untung saja pilar ini kuat, kalau tidak saya sudah jatuh ke bawah!"
Pangeran Lingga mendarat di depan Ranu, napasnya tersengal. Ia melihat retakan yang kini sudah tertutup oleh energi emas yang samar. Ia kemudian menatap Ranu yang sedang mengelap keringat dengan ujung jubahnya yang kotor.
"Kau... apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Lingga dengan suara bergetar.
"Saya? Saya tadi hanya berdoa agar tidak mati, Senior. Eh, lihat! Penatua Wisesa pingsan, mungkin dia kelelahan karena berteriak tadi," jawab Ranu sambil menunjuk ke arah tribun.
Meskipun Ranu berusaha berakting, Lingga kini yakin sepenuhnya. Tetesan darah emas tadi, ketenangan bumi yang mendadak, dan hancurnya para monster tanpa disentuh—semuanya merujuk pada satu orang.
"Nara benar," bisik Lingga dalam hati. "Dunia ini tidak sedang dijaga oleh tentara, tapi oleh seorang dewa yang menyamar menjadi pelayan."
Namun, di tengah keheningan pasca-badai, sebuah tawa dingin terdengar dari langit. Langit yang tadinya cerah mendadak terbelah lebih lebar dari sebelumnya. Sebuah tangan raksasa berwarna abu-abu, dengan kuku-kuku yang panjangnya seperti menara, mulai meraba keluar dari retakan langit.
"Wira Candra... kau pikir dengan membersihkan kuman di bumi ini tugasmu selesai?" suara itu bergema, jauh lebih kuat dari Sang Prahara. "Aku adalah Jenderal Kehampaan Pertama: Sang Penelan Surya. Sambutlah malam yang abadi!"
Ranu menatap tangan raksasa itu, lalu menatap sapu lidinya yang kini patah menjadi dua. "Sial. Sastro benar, aku seharusnya membawa sapu cadangan."
......................