Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa Arman ke markas dan interogasi
Sejenak Wawan terdiam dengan penuh kebingungan.
Ia tak merasa melakukan apapun sejak tadi, tapi tiba-tiba saja misinya telah selesai.
'Ah, terserah lah. Yang penting aku bisa segera keluar dari tempat ini.' Tak mau ambil pusing, Wawan lebih memilih jalan paling mudah.
Yaitu menurut dan segera keluar dari rumah ini.
"Maaf, semuanya. Tapi sepertinya saya tidak bisa duduk di sini terlalu lama!" Wawan segera bangun dari tempat duduknya.
Bersamaan semua orang juga ikut bangun.
"Begitu ya... Kami paham kesibukan anda, jadi kami tidak akan menahan anda di sini terlalu lama!" Ucap salah satu orang yang sebelumnya sudah pernah bicara dengan Wawan.
"Ya... Tapi kapan-kapan mampir lah lagi ke sini, aku akan dengan senang hati menyambut anda. Mas Wawan!" Ucap Sasya sambil tersenyum.
Wawan mengangguk dingin dan kemudian segera pergi.
Tanpa halangan apapun ia keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil yang mana di sana sudah ada Lukman.
Wawan agak terkejut sebenarnya.
Tapi karena ekspresinya sulit berubah jadinya tidak ada yang sadar akan keterkejutan Wawan saat ini.
'Oh... Pantes misinya selesai cepat tanpa aku melakukan apa-apa, ternyata mas Lukman sudah membereskan misinya.' Begitulah pikir Wawan.
Ia mengira kalau misi tadi sepenuhnya di tangani oleh Lukman.
Padahal mah tidak begitu juga.
Malahan. Lukman juga berpikir kalau misi tadi sepenuhnya di tangani oleh Wawan.
"Kalian pergi duluan. Aku akan menyusul dari belakang setelah membersihkan jejek kita!" Kata Lukman.
Ia segera keluar dari mobil dan menuju motor bebeknya.
"Ayo, kita juga harus pergi!" Setelah itu Raisya mengemudikan mobil mereka menjauhi tempat itu.
Beberapa saat kemudian.
Di dalam ruangan interogasi yang gelap dan kosong terlihat Arman Setiawan telah di ikat di sebuah kursi.
Pada awalnya ia masih pingsan, tapi tak lama ia mulai sadar dan menyadari kalau dirinya sedang ada di tempat lain.
"Hah!?..." Ia kebingungan hingga melihat-lihat sekitar dengan panik.
Ia juga mencoba membebaskan diri tapi karena tali yang mengikatnya terlalu kuat jadi Arman tak bisa meloloskan diri.
"Aku di mana!?..."
"Hey! Apa ada orang!?"
"Cepat lepaskan aku!!" Teriaknya sambil terus berusaha meloloskan diri sebisanya.
Mendengar ada suara ribut-ribut di dalam ruangan, orang yang ada di luar pun masuk untuk memeriksa.
"Oh. Anda sudah sadar rupanya!" Orang yang masuk memeriksa adalah Lukman.
Liman melangkah masuk dengan langkah yang santai hingga akhirnya ia duduk berhadap-hadapan dengan Arman.
"Siapa kamu? Kenapa aku ada di sini dalam keadaan terikat!?" Arman bertanya dengan nada tinggi.
Raut wajahnya tampak tegang dan panik.
"Santai. Anda sekarang sedang berada di markas organisasi kami!"
"Dan alasan kenapa anda dalam keadaan terikat... Agar anda tidak melakukan hal-hal yang merepotkan ketika kami mengintrogasi anda!" Kata Lukman dengan sorot mata yang tajam.
Secara tidak langsung tatapan matanya mengistirahatkan agar Arman dapat diam dan berkerjasama dengannya.
Karena kalau tidak...
Lukman mungkin akan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan pada Arman.
"Baiklah...!"
"Pertanyaan pertanyaan pertama.... Dimana semua tabung subsidi yang kalian gelapkan itu!?" Awalnya Arman diam dan memalingkan pandangannya.
Tapi, ketika Lukman tiba-tiba saja bangun Arman yang ketakutan pun langsung buka mulut. "Iya, iya. Aku akan bicara sekarang...!"
"Semua tabung yang asli ada di pabrik tua yang sudah di tinggalkan yang terletak sangat jauh dari kota!"
Lukman pun duduk kembali.
Ia lanjut bertanya pada Arman. "Berapa banyak yang ada di sana!?"
"... Kurang lebihnya hanya ada 1500 tabung!" Alis mata Lukman langsung berkerut ketika mendengarnya.
Itu karena jumlah yang hilang dengan jumlah yang di sebutkan oleh Arman itu sangat jauh berbeda.
"Hah?... Kenapa cuma ada segitu!?"
"Aku dengar kalau tabung yang hilang itu sampai jutaan, lalu kenapa kau cuma punya segot!?" Arman sejenak diam lagi.
Ia tampaknya ragu untuk bicara.
Tapi, keraguannya tak bertahan lama...
Brakk!!
"Iya, iya. Aku akan bicara!" Nyalinya seketika ciut ketika Lukman menggebrak meja yang ada di hadapan mereka dengan kuat.
"Awalnya aku punya 5000 buah, tapi sisanya sudah si ambil duluan oleh atasanku dan aku tidak tahu di bawa kemana!"
Lukman masih merasa kalau jumlah itu terlalu sedikit. "Itu masih terlalu sedikit. Apa benar kau cuma punya 5000 tabung saja!?"
"Yang terlibat dalam kasus sebesar ini mana mungkin cuma aku saja!"
"Aku tidak tahu pasti tapi yang jelas. Pihak yang terlibat sangat banyak dan beberapa memiliki status yang cukup tinggi di pemerintahan!"
Sejenak Lukman terdiam.
Ia paham ketika Arman mengatakan semua itu.
Karena mana mungkin kasus sebesar ini tidak ada campur tangan pihak pejabat yang jahat dan egois.
Lanjut, Lukman melakukan interogasi tapi tidak banyak yang bisa Lukman dapatkan karena ternyata Arman hanya karakter kecil di dalam kasus ini.
Segera ia melaporkan semua informasi yang ia dapatkan pada atasnya yaitu si komandan.
Mendengar itu komandan hanya bisa menghela nafas dan mengelus-elus keningnya dengan ekspresi yang rumit.
"Haah... Hama di negara ini benar-benar sudah sangat banyak hingga ada di tahap membuatku hampir putus asa!" Ucapnya dengan nada yang dalam.
Lukman sendiri hanya bisa diam.
Ia paham kesulitan dan kemarahan komandannya pada saat ini.
"Jadi apa yang akan kita lakukan pak? Haruskah kita minta bantuan atasan untuk menangani masalah ini!?" Tanya Lukman.
"Tidak. Tidak ada gunanya melakukan semua itu karena kita sendiri tidak tahu siapa saja yang ada di pihak kita dan siapa saja yang jadi lawan kita!"
"Akan lebih baik kalau kita tangani saja masalah ini dengan orang-orang yang bisa kita percaya!" Lukman segera mengangguk.
Bahkan, Lukman juga berpikir seperti itu sejak tadi.
Ia lebih memilih untuk mengerjakan misi sulit ini dengan sedikit orang namun bisa di percaya, ketimbang dengan banyak orang tapi berpotensi menjadi pengkhianat.
"Untuk sekarang kalian bisa istirahat selama beberapa waktu hingga saya panggil kembali bertugas!" Komandan pun bangun dan mengenakan seragamnya.
"Biar masalah tabung ini saya yang tangani dengan teman-teman saya yang bisa saya percaya!"
Sebelum komandan pergi, Lukman terlebih dahulu menanyakan sesuatu. "Tapi pak. Bukannya kita harus menyelesaikan tugas ini dalam batas waktu tertentu!?"
Sejenak komandan diam.
Kepalanya terangkat dan ia menghela nafas dalam-dalam. "Kamu tahu sendiri seberapa besar masalah ini. Mana mungkin kita bisa selesaikan dalam waktu sesingkat itu!?"
"Jika begitu... Bukannya anda akan di desak oleh atasan karena tidak mampu mengerjakan misi ini!?" Kata Lukman.
"Mau bagiamana lagi?!"
"Aku mungkin akan di marahi atau bahkan jabatanku akan di copot, tapi... Sebelum itu aku akan buat kesepakatan dengan para atasan untuk memberi kita waktu lebih banyak untuk menyelesaikan misi ini!"
"Bisa atau tidak kita menyelesaikan misi ini akan di tentukan ketika aku mendapatkan tambahan waktu!"
"Kalian istirahat saja, karena. Sekarang adalah giliranku untuk bekerja dan menjalankan tugasku sebagai komandan markas ini!" Dengan gagah berani ia meninggalkan ruangan.
Lukman di sana hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa.