Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Selesai jamuan makan siang yang penuh ketegangan, mereka bertiga berdiri di lobi restoran.
Sebuah mobil hitam sudah menunggu untuk mengantar Pak Richard menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Pria tua itu berbalik, menatap Linggar dengan tatapan hangat.
Bagi Linggar, Pak Richard bukan hanya sekadar atasan.
Beliau adalah sosok pelindung sejak orang tua Linggar meninggal dunia beberapa tahun silam.
Richard mendekat dan memeluk tubuh Linggar dengan tulus, sebuah pelukan kebapakan yang membuat mata Linggar sedikit berkaca-kaca.
"Jaga dirimu baik-baik di sini, Linggar," bisik Richard sambil menepuk-nepuk punggung sekretarisnya itu.
Saat melepaskan pelukannya, Richard menatap Linggar dari balik kacamata tuanya.
"Satu pesanku, jangan hanya kerja terus. Luangkan waktu untuk olahraga sedikit agar badanmu lebih bugar, dan yang terpenting lekas cari pasangan hidup. Kamu wanita hebat, jangan biarkan hatimu kesepian terlalu lama."
Linggar hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati di Yogyakarta."
Rangga yang berdiri di samping mereka hanya terdiam, menyaksikan kedekatan itu dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana.
Ia memperhatikan bagaimana Linggar tampak begitu rapuh namun kuat di saat yang bersamaan.
Setelah mobil Pak Richard menghilang di balik tikungan jalan, suasana mendadak berubah.
Kehangatan yang dibawa Pak Richard ikut pergi, menyisakan kecanggungan yang dingin antara Linggar dan Rangga.
"Kita kembali ke kantor sekarang," ucap Rangga dengan suaranya kembali ke mode CEO yang otoriter.
"Ada banyak hal yang harus kita bahas tanpa gangguan Pak Richard."
Di dalam mobil mewah milik Rangga, kesunyian terasa begitu pekat. Linggar duduk di kursi samping kemudi, menatap lurus ke jendela.
Ia baru saja menyadari sesuatu kalau ia kini benar-benar sendirian menghadapi pria yang ia bohongi di dunia maya.
Tiba-tiba, Rangga memecah keheningan dan mengajaknya bicara.
"Nasihat Pak Richard tadi, sepertinya dia sangat menyayangimu."
"Beliau sudah seperti orang tua bagi saya, Pak," jawab Linggar pelan.
"Tapi soal olahraga dan pasangan hidup, sepertinya dia benar. Seorang sekretaris butuh stamina yang kuat untuk mengimbangi jadwal saya yang gila. Dan soal pasangan, apa benar wanita secerdas Anda belum memiliki siapa pun?"
Linggar merasa dadanya sesak saat mendengar perkataan dari Rangga
'Aku punya, Rangga. Pria itu adalah kamu, tapi kamu tidak tahu kalau aku adalah aku," teriaknya dalam hati.
"Saya sedang fokus pada karir, Pak. Lagipula, tidak banyak pria yang bisa menerima wanita dengan fisik seperti saya," jawab Linggar jujur, mencoba memancing reaksi Rangga tanpa sadar.
"Fisik itu relatif, Linggar. Saya sendiri sedang dekat dengan seorang wanita. Dia cantik, sangat cantik bahkan. Tapi yang membuat saya bertahan adalah isi kepalanya, suaranya, dan cara dia memandang dunia."
Linggar memejamkan mata sesaat. Perkataan Rangga adalah pujian sekaligus hukuman baginya.
Rangga memuji "jiwa" Linggar, tapi tetap menggunakan standar "kecantikan" foto Nadya sebagai pemanisnya.
Begitu sampai di lobi kantor, Rangga melangkah keluar lebih dulu. Namun, sebelum masuk ke lift, ia berhenti dan menatap Linggar.
"Siapkan semua laporan keuangan lima tahun terakhir di meja saya dalam satu jam. Dan Linggar, mulai sekarang, jangan panggil saya 'Pak' jika kita hanya berdua. Panggil nama saja, agar komunikasi kita lebih luwes seperti keinginan Pak Richard."
Linggar terpaku di depan pintu lift yang tertutup.
"Panggil nama? Itu adalah hal yang sama yang dilakukan Rangga di aplikasi kencan semalam."
Linggar merasa jerat itu kini semakin kencang melilit lehernya.
Linggar segera bergerak cepat menuju ruang arsip.
Dengan napas yang sedikit memburu karena kelelahan emosional, ia mengumpulkan tumpukan dokumen laporan keuangan lima tahun terakhir.
Sebelum melangkah menuju ruangan CEO, ia berhenti sejenak di mejanya.
Tangannya yang gemetar merogoh laci, mengambil sebotol obat diet yang baru saja ia beli secara daring.
Tanpa air, ia menelan butiran pil itu dengan paksa.
Ia merasa harus berubah dan ingin menjadi 'Nadya' yang diinginkan Rangga di foto itu.
Dengan sisa tenaga, ia melangkah masuk ke ruangan Rangga yang beraroma kayu cendana.
"Duduklah, Linggar," ucap Rangga tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitornya.
Linggar mengangguk kaku dan duduk di kursi hadapan Rangga.
Ia menyerahkan tumpukan map tebal itu. Rangga mulai memeriksa lembar demi lembar dengan sangat teliti.
Suasana ruangan itu sunyi, hanya terdengar deru halus AC dan gesekan kertas.
Tiba-tiba, suhu tubuh Linggar menurun drastis. Jantungnya berdegup tidak beraturan.
Efek samping obat diet yang diminumnya dalam keadaan perut kosong bereaksi hebat.
Pandangannya mulai mengabur, bintik-bintik hitam menutupi wajah Rangga di depannya.
"Pak... Rangga..." rintih Linggar pelan.
Napasnya terasa pendek dan sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
Sebelum Rangga sempat bertanya, tubuh Linggar terkulai lemas dan jatuh dari kursi, menghantam lantai dengan suara yang cukup keras.
BRAK!
"Linggar!!"
Rangga yang terkejut langsung melompat dari kursinya dan berlutut di samping sekretarisnya.
"Linggar! Bangun! Apa yang terjadi?!"
Rangga segera menekan interkom dengan wajah cemas.
"Segera panggil ambulans! Ada keadaan darurat di ruangan saya!"
Mendem teriakan Rangga, beberapa karyawan yang berada di area depan berlarian masuk karena pintu ruangan yang terbuka.
Suasana menjadi gaduh dan di tengah kepanikan itu, seorang karyawan pria bernama Dani justru tertawa kecil sambil berbisik kepada rekan di sebelahnya.
"Aduh, badan seperti gajah begitu pingsan. Siapa yang kuat menggendongnya sampai ke bawah? Bisa-bisa pinggang kita yang patah," celetuk Dani dengan nada merendahkan yang cukup keras.
Langkah kaki Rangga yang hendak mengambil air minum seketika berhenti.
Wajahnya yang tadi cemas berubah menjadi sangat dingin dan kelam.
Ia berbalik, menatap Dani dengan sorot mata yang seakan bisa menusuk jantung.
Rangga menghampiri Dani dengan langkah lebar. Aura otoritasnya meledak di ruangan itu.
"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Rangga dengan suara rendah namun sangat mengancam.
Dani langsung memucat, tawanya hilang seketika.
"E-enggak Pak, maksud saya, kami hanya bingung cara membawanya..."
"Keluar!" bentak Rangga.
"Tunggu surat pemecatanmu sore ini. Perusahaan ini tidak butuh manusia yang tidak punya empati dan hanya bisa menghina fisik orang lain! Jika kamu menganggap berat badannya adalah masalah, maka moralmu yang buruk adalah sampah bagi saya!"
Semua orang di ruangan itu terdiam seribu bahasa.
Rangga tidak memedulikan tatapan semua karyawannya .
Dengan kekuatan yang mengejutkan, ia sendiri yang merengkuh tubuh Linggar, mengangkatnya dengan kedua tangannya tanpa ragu, dan membawanya keluar menuju lift sebelum ambulans datang.
Di dalam dekapan Rangga yang kokoh, Linggar yang tak sadarkan diri tidak tahu bahwa pria yang ia takuti akan menolaknya, justru adalah orang pertama yang melindunginya dari kehinaan.