SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan Dan Makian Dari Para Tetangga
Bedil dan Jabrik terus berjalan menyusuri lapak-lapak pedagang yang ramai di pasar Sewon. Kedua lelaki itu menyebrang jalan dengan cuek melewati pedagang buah yang sedang menata manggis dan durian, serta penjual bakso yang sedang menyiram kuahnya dengan api kecil. Akhirnya mereka berdua sampai juga di parkiran pasar yang penuh dengan mobil dan motor yang berantakan.
"Mana? Dimana Kang Bay itu? Dimana dia?" tanya Bedil kepada Jabrik dengan suara sedikit tergesa-gesa, matanya mengelilingi setiap sudut parkiran sambil menggosok-gosok lengan bengkak yang bertato gambar naga merah.
"Entahlah, gue juga nggak tahu bang. Dimana sekarang keberadaannya? Tapi tadi jam delapan pagi gue yakin banget dia nongkrong di warung kopi pojok sana, deket warung nasi. Gue punya saksi lho bang—masyarakat yang lagi ngopi barengnya!" jawab Jabrik dengan wajah penuh keyakinan, tangannya menunjuk ke arah warung yang sudah mulai sepi.
"Dasar otak tempe loe, Jabrik!!! Udah nggak usah bawa-bawa saksi segala. Emang ini ranahnya pengadilan? Ini ranahnya gue, ranah penguasa pasar Sewon! Si Bedil Tato, itu nama gue yang selalu mereka sebut di setiap sudut pasar ini!" ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha... Nanti kalau ketemu Kang Bay alias Bayu Buana, pasti aku kasih pelajaran agar dia tahu siapa yang punya wewenang di sini!"
Sementara itu, Bayu Buana—bapaknya Romi—berjalan menyusuri lapak kaki lima yang penuh dengan aroma berbagai makanan khas pasar. Kemejanya yang sudah lusuh sedikit terangkat angin, menampakkan tubuh kurus tapi berotot akibat sering bekerja keras. Dirinya sedang mencari pekerjaan kasar dan sudah berkeliling hampir setengah pasar sebelum akhirnya berdiri tepat di depan sebuah toko material besar dengan papan nama "UD. MANDIRI BUANA" dekat gerbang utama pasar Sewon.
Tanpa berpikir panjang, Bayu masuk ke dalam toko tersebut dan menghampiri seorang wanita tua yang sedang mencatat barang masuk di meja kasir kecil. Wanita tua itu mengenakan baju batik coklat tua dengan ikat pinggang yang sudah mulai kendur.
"Permisi, selamat siang. Salam Bayu," ucap Bayu dengan sopan, sedikit menundukkan kepalanya.
Wanita tua itu mengangkat kepala, kacamatanya sedikit tergeser ke bawah dahinya. "Ada apa, Bang? Ada yang bisa aku bantu? Abang mau pesan pasir, semen, bata merah, atau kerikil? Kalau mau pesan banyak bisa kita antar gratis lho ke rumahnya," tanya wanita tua itu dengan suara lembut tapi jelas.
"Maaf Bu, aku datang bukan untuk pesan barang, melainkan mencari pekerjaan. Apakah di sini masih ada lowongan pekerjaan kasar serabutan? Aku bisa mengangkat barang, merapikan gudang, atau apa saja yang diperlukan," ucap Bayu sambil mengulurkan tangan untuk menyambut jempol yang sedang ditunjukkan wanita tua itu.
Wanita tua itu memperhatikan Bayu dari ujung kepala hingga ujung kaki—mulai dari topi laki-laki yang sudah pudar warnanya, sampai sepatu kerja yang sobek di ujung jari. "Kamu kuat mengangkat barang dan menurunkan barang berat kayak semen 50 kg per saknya? Kadang kita ada kiriman dari truk, harus cepat nuruninnya sebelum truk lain mau masuk," tanyanya dengan tatapan yang penuh pertimbangan.
"Tentu... tentu aku kuat mengangkat semen seberat 50 kg. Aku dulu pernah kerja di proyek bangunan di daerah Cikupa, jadi sudah terbiasa dengan pekerjaan berat seperti itu," jawab Bayu dengan penuh keyakinan.
"Ya baiklah. Kalau begitu, besok datang lagi ke sini tepat pukul 08.00 pagi. Bawa saja peralatan kerja kamu—sarung tangan dan sepatu yang kuat ya. Gajinya kita bahas besok setelah kamu lihat sendiri pekerjaannya," ucap wanita tua tersebut sambil menuliskan nama Bayu di buku catatan kecilnya.
"Terima kasih... terima kasih banyak Bu, sudah mau menerima aku jadi tukang panggul di toko material ini. Aku janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan Bu," ucap Bayu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena rasa lega yang luar biasa.
"Sudahlah, abang nggak perlu terlalu banyak berterima kasih. Nama aku Bu Siti saja. Yang perlu abang ingat adalah bekerja dengan baik, semangat, jujur, dan amanah. Kalau kamu kerja bagus, mungkin bisa jadi pekerja tetap di sini lho," pesan Bu Siti sambil mengangkat bahu dengan ramah.
Saat sore hari menjelang maghrib, beberapa tetangga mendatangi rumah orang tua Romi yang terletak di gang dalam komplek rumah susun sederhana di belakang pasar. Mereka berjalan beramai-ramai dengan wajah muram, beberapa membawa tongkat kayu atau ember plastik seolah sudah siap untuk mengambil barang. Mereka bersepakat akan mengambil dan merampas barang-barang milik Bayu dan Susi jika keduanya tidak bisa membayar hutang yang sudah jatuh tempo tiga kali lipat pada hari itu.
"Bayuuu! Susiii!!! Cepat kalian keluar!" teriak Pak Slamet—tetangga sebelah yang juga pemilik warung kredit di gang itu—dengan suara lantang dan keras agar terdengar sampai ke dalam rumah yang pintunya sudah mulai mengeluarkan asap dari kompor memasak.
"Ayooo cepat kalian berdua keluar! Kami akan menghitung mundur dari angka 3. Jika kalian tidak mau keluar, jangan salahkan kami jika masuk dengan paksa dan mengambil apa saja yang ada di dalamnya!" ucap Bu Sri—istri Pak Slamet yang sedang memegang buku catatan hutang dengan wajah merah memerah karena marah.
Sebelum mereka mulai menghitung mundur, pintu rumah berderit dengan suara keras—KREEEEEK—dan keluar seorang bocah berusia 6 tahun dengan rambut yang sedikit kusut dan baju kaos yang sudah mulai pudar warnanya. Dia adalah Romi Arya Wisesa, anak satu-satunya Bayu dan Susi.
"Maaf, Ibu dan Bapak mau mencari siapa?" tanya Romi dengan nada yang sangat sopan, kedua tangannya menyilang di depan dadanya sambil berdiri dengan tegak walau tubuhnya sedikit gemetar karena takut.
"Heei kamu, Romi! Tolong suruh orang tua kamu keluar dan hadapi kami di sini sekarang juga! Kalau tidak keluar, jangan salahkan kami jika menjarah semua barang yang kalian punya—mulai dari kulkas sampai televisinya!" ucap Pak Joni—tetangga dari rumah sebelah kanan yang juga pernah meminjamkan uang kepada Bayu.
Saat itu juga, Bu Yati—seorang ibu berbadan bulat dan pendek yang harus berjalan dengan menopang pinggangnya—berjalan dengan susah payah lalu langsung berteriak sangat kencang hingga suara nya bergema di gang sempit itu.
"Woooi Bayu, keluar loe setan iblis! Jangan bisa nya janji-janji doang! Bulan lalu kamu bilang besok mau bayar, bulan ini kamu bilang sama saja! Dasar nggak tahu diri, tukang tipu! Kalau tidak bayar, kamu harus menyerahkan sepeda motor kamu yang masih baru itu!"
Seorang laki-laki separuh baya bernama Pak Edi juga ikut berteriak marah dan kesal, tangannya yang sedang merokok hampir terbakar karena dia menggigitnya terlalu kuat. "Heei kampret! Cepatlah kalian berdua keluar, hadapi kami, bayar hutang kalian sebanyak tiga juta rupiah itu! Jangan jadi orang pengecut yang hanya bersembunyi di dalam rumah saja!"
Romi melihat dan mendengar semua kejadian itu hingga sangat ketakutan. Dia buru-buru menutup pintu lagi dengan suara pelan agar tidak membuat mereka semakin marah, lalu berlari masuk kamarnya yang kecil dan bersembunyi di bawah meja belajarnya. Di sana dia hanya bisa menangis pelan sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
Di luar kamar, Bayu dan Susi bingung harus berbuat apa. Mereka sudah menghitung semua uang yang ada di rumah—hanya ada lima ratus ribu rupiah, jauh dari jumlah hutang yang harus dibayar. Berdiskusi mungkin tidak akan menyelesaikan masalah dengan cepat dalam keadaan yang seperti ini, karena emosi yang sudah memuncak membuat setiap kata akan terasa seperti tuduhan. Akhirnya keduanya keluar rumah dengan wajah pucat, membuka pintu perlahan, dan menghampiri mereka dengan langkah yang berat.
"Dasar suami istri penipu! Mau pinjam uangnya aja saat sedang kesusahan, tapi sekarang sudah dapat kerjaan malah nggak mau bayar hutangnya!" sindir Bu Sri sambil mengibaskan buku catatan hutangnya ke arah Bayu.
"Kami mohon maaf kepada semua orang. Bukan maksud kami tidak mau membayar, tapi tolong beri kami sedikit waktu lagi agar kami bisa mengumpulkan uangnya—besok aku sudah mulai kerja di toko material, jadi minggu depan pasti bisa bayar sebagian dulu," kata Bayu dengan suara pelan tapi jelas sebelum pembicarannya langsung dipotong.
"Buat apa kasih waktu kepada kalian berdua? Sudah tiga kali kami kasih kesempatan, akhirnya tetap saja jawabannya 'nanti-nanti'! Menyebalkan kalian berdua itu! Kalau tidak bayar sekarang juga, kami langsung ambil barang saja!" ucap Pak Slamet sambil sudah mulai menginjak-injak tanah dengan kasar.
Perdebatan semakin lama semakin panas. Beberapa laki-laki separuh baya sudah terlihat naik pitam; kata-kata yang mereka lontarkan tidak terkontrol lagi dan mulai keluar kata-kata yang tidak pantas.
"Dasar suami istri culas! Sengaja mau menipu kita semua dengan cerita kesusahan yang tidak jelas. Harusnya kalian itu di laporkan ke polisi dan di penjara!" teriak Pak Joni.
"Woooi, jarah aja barang-barang yang ada di dalam rumahnya! Jika mereka berani melawan, gebukin aja sampai mereka sadar diri! Udah cukup lama kita ditipu oleh mereka!" ucap salah satu laki-laki muda yang baru saja datang dan tampaknya ingin memanfaatkan situasi.
"Ayoo siap-siap kita habisi dan jarah barang-barangnya! Ambil kulkasnya dulu yang masih bagus!" ucap Bu Yati sambil sudah mulai bergerak mendekati pintu rumah.
"Jaraaah... Jaraaah... Jaraaaah! Ambil semua barang-barang suami istri sialan itu! Ayooo jaraaaaah!!!" teriak laki-laki muda itu dengan suara yang menggema, membuat beberapa tetangga lain keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi. Suasana menjadi kacau dan tidak terkendali—beberapa sudah mulai memasuki halaman rumah Bayu.
"STOP! Berhentiiii!!!" teriak seseorang dengan suara yang kuat dan jelas, membuat semua orang berhenti apa yang mereka lakukan. Yang berteriak adalah Ketua RW, Pak Harmoko, dengan langkah tenang dan wibawa yang terpancar dari sorot matanya yang tajam. Di belakangnya ada Pak Heri—Rukun Tetangga yang juga teman baik Bayu—serta dua orang hansip kampung yang memegang pentungan kayu dengan tatapan yang tegas.