NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Ada yang tak bisa dijelaskan oleh katameski dunia telah menulis berjuta makna tentang indah,segala

metafora kehilangan arah ketika pesonamu melinyas diantara cahaya dan waktu"

 

DI RUMAH KALASH

Malam telah larut, namun suasana di ruang tamu rumah Kalash tetap hangat dengan sinar lampu yang lembut. Biru duduk di kursi besar dengan wajah yang penuh perhatian, sementara Rekai dan Kalash duduk di depannya dengan ekspresi yang serius. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam bersama dan kini sedang membahas tentang apa yang terjadi pada Elona.

“Kita harus benar-benar mencari tahu siapa yang sebenarnya melakukan ini terhadap Elona dan neneknya,” ujar Biru dengan suara yang tegas. “Aku tidak bisa menerima bahwa seseorang melakukan kejahatan semata-mata karena ingin menjauhkan aku dari orang lain. Ini sudah terlalu jauh!”

Rekai mengangguk dengan penuh kesetiaan. “Benar sekali Pak Ketua. Kita tidak bisa biarkan hal seperti ini terus terjadi tanpa ada tindakan yang tepat. Elona adalah teman yang baik dan telah menunjukkan banyak hal untuk kita semua. Dia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.”

Kalash menambahkan dengan nada yang lebih ringan namun tetap tegas. “Sudah saatnya kita mengambil tindakan yang lebih tegas agar tidak ada lagi yang terluka. Kita harus mencari tahu siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini dan memberikan hukuman yang sesuai!”

Biru menghela napas dan melihat ke arah jendela dengan ekspresi yang semakin tegas. “Aku sudah mulai berpikir bahwa ada tangan yang kuat di balik semua ini. Siapa lagi jika bukan mereka yang ingin aku jauh dari Elona?”

Rekai segera menanggapi dengan suara yang penuh kekhawatiran. “Kita harus berhati-hati Pak Ketua. Jika memang benar seperti itu, maka kita perlu mencari bukti yang kuat agar tidak salah sasaran.”

Biru mengangguk dengan mantap. “Betul sekali Rekai. Kita tidak bisa bertindak sembarangan tanpa ada dasar yang jelas. Kita harus mencari bukti yang kuat agar bisa membongkar semua ini dan memberikan keadilan bagi Elona dan neneknya.”

Kalash tiba-tiba tertawa kecil dan melihat ke arah Biru dengan ekspresi canda. “Waduh Pak Ketua, kamu benar-benar serius sekali ya! Seperti sedang menghadapi musuh besar di dunia bisnis aja!” katanya sambil menahan tawa.

Biru hanya memberikan tatapan tajam pada Kalash sebelum kembali fokus pada perbincangan mereka. “Kita tidak bisa menganggap remeh hal ini Kalash. Ada orang yang terluka dan kita harus bertanggung jawab untuk memberikan keadilan.”

Rekai menambahkan dengan suara yang lebih lembut namun tetap tegas. “Kita bisa mulai dengan mencari tahu siapa saja yang memiliki motif untuk melakukan ini. Siapa yang paling dirugikan jika hubungan antara Elona dan Pak Ketua semakin erat?”

Biru terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara yang penuh keyakinan. “Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan beberapa orang di sekitar kita. Kita perlu mencari tahu lebih dalam lagi agar bisa menemukan siapa yang benar-benar bersalah dan memberikan hukuman yang sesuai.”

Setelah beberapa saat berdiskusi, mereka sepakat untuk mencari informasi lebih lanjut tentang siapa saja yang memiliki motif untuk melakukan hal ini. Mereka juga menyepakati untuk membantu Elona

 

DI RUMAH REKAI

Saat malam tiba, Rekai sedang bersiap untuk pergi menjemput Elona dari cafe tempatnya bekerja. Dia mengambil jaketnya dan melihat ke arah ayahnya yang sedang membaca koran.

“Aku akan pergi menjemput Elona dulu ya, Ayah,” ujar Rekai dengan suara lembut. “Kemarin dia tidak bisa pulang karena ada beberapa hal yang perlu diselesaikan di cafe.”

Ayahnya hanya mengangguk tanpa melihat dari korannya. “Baiklah, hati-hati di jalan ya. Jangan sampai terlambat pulang dan membuat ibumu khawatir.”

Setelah mendapatkan izin, Rekai segera pergi menuju cafe tempat Elona bekerja. Saat sampai di sana, dia melihat Elona sedang menyajikan kopi dengan senyum yang hangat kepada pelanggan. Setelah pelanggan pergi, Elona melihat ke arah Rekai dengan ekspresi yang sedikit terkejut.

“Rekai? Apa kamu ada di sini?” tanya Elona dengan suara yang penuh keheranan.

Rekai hanya tersenyum dan mendekat. “Aku mau menjemput kamu pulang dong. Kalau tidak, kamu pasti akan begadang lagi sampai larut malam

Elona hanya bisa mengangguk dengan rasa syukur yang mendalam. “Terima kasih banyak ya Rekai. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara membayar semua bantuan yang kamu berikan padaku.”

Rekai hanya tersenyum lagi sebelum mengajak Elona untuk pergi. Mereka berjalan keluar dari cafe dengan langkah yang santai. Di jalan pulang, mereka tidak banyak berbicara namun suasana tetap hangat dengan candaan kecil yang keluar dari mulut mereka.

Saat mereka sampai di depan rumah Elona, Rekai melihat wajah Elona yang mulai menunjukkan kelelahan. Tanpa berpikir panjang, dia berkata dengan suara yang lembut namun tegas. “Elona, bagaimana kalau kamu tinggal bersama kami saja? Jadi kamu tidak perlu lagi khawatir tentang tempat tinggal atau biaya hidupmu. Kamu bisa fokus pada sekolah dan persiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik.”

Elona terkejut mendengarnya dan melihat ke arah Rekai dengan mata yang penuh keheranan. “Tidak bisa begitu saja, Kak Rekai. Aku tidak ingin menjadi beban bagi keluarga kamu.”

“Tidak akan menjadi beban kok,” jawab Rekai dengan senyum yang hangat. “Kamu adalah bagian dari keluarga kami juga Elona. Sudah lama sekali kan kita seperti ini? Ayah dan Ibuku juga sangat menyukaimu dan pasti akan senang jika kamu tinggal bersama kami.”

Elona terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan penuh rasa syukur. “Baiklah Kak Rekai. Jika memang keluarga kamu tidak keberatan, aku akan menerima tawaran ini dengan senang hati.”

Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah dengan langkah yang lebih ringan. Di ruang tamu, ibu dan ayah Rekai sudah menunggu dengan senyum yang hangat. Mereka langsung berdiri dan memberikan pelukan pada Elona.

“Selamat datang di rumah baru kamu, Elona,” ujar ibu Rekai dengan suara yang penuh cinta. “Kita semua sangat senang kamu bisa tinggal bersama kami.”

Elona hanya bisa menangis dengan rasa syukur yang mendalam. Dia merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Meskipun masa lalunya penuh dengan kesulitan dan kehilangan, namun kini dia memiliki keluarga baru yang selalu siap melindungi dan mencintainya dengan sepenuh hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!