Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi Kosong
Keputusan itu akhirnya diambil. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan dinginnya angin Amsterdam dan kesepian di atas houseboat, Takara memilih untuk melipat jubah sarjananya dan memasukkan seluruh kenangannya ke dalam koper. Ia akan pulang ke Brisbane. Kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, ke tempat di mana pohon jacaranda gugur dengan warna ungu yang sama seperti saat ia pertama kali bertemu Jake.
Tentu saja, orang pertama yang ia beri tahu adalah Jake.
📲 Takara: Jake, gue udah pesan tiket. Minggu depan gue balik ke Brisbane. Gue kangen Ibu, kangen rumah, dan... ya, kangen suasana di sana.
Butuh waktu beberapa menit sampai ponselnya bergetar hebat. Bukan pesan teks, melainkan panggilan video. Begitu layar terhubung, wajah Jake muncul dengan ekspresi yang sangat kontras: perpaduan antara senang, haru, namun didominasi oleh rasa iri yang sangat kentara.
"Ra! Lo serius?" seru Jake. Ia tampak sedang berada di dalam mobil, sepertinya dalam perjalanan menuju lokasi syuting. "Wah, gila... gue iri banget! Gue bener-bener iri sampai mau nangis rasanya."
Takara tertawa kecil melihat wajah cemberut Jake yang terlihat seperti anak kecil yang tidak diajak main. "Kenapa iri? Lo kan tiap tahun juga ada tur ke Australia."
"Beda, Ra! Lo pulang buat tinggal di sana, buat napas tenang, buat makan masakan Ibu lo. Sedangkan gue kalau ke sana cuma buat kerja, tidur di hotel, terus pindah ke bandara lagi," keluh Jake sambil menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. "Gue kangen banget duduk di halaman belakang rumah lo sambil dengerin suara burung di pagi hari. Gue kangen jalan kaki ke supermarket tanpa harus pakai masker dan topi."
Takara terdiam sejenak. Ia bisa merasakan betapa beratnya beban popularitas yang Jake pikul. Bagi dunia, Jake adalah pangeran yang memiliki segalanya, tapi bagi Takara, Jake hanyalah seorang pemuda yang merindukan kebebasan sesederhana berjalan di trotoar Brisbane.
"Gue bakal kirimin lo foto setiap sudut kota yang lo kangenin, Jake," janji Takara lembut.
"Jangan! Nanti gue makin nggak fokus latihan karena pengen terbang ke sana sekarang juga," potong Jake sambil tertawa pahit. "Tapi... titip salam buat Ibu lo ya. Dan kalau lo sempat, mampir ke rumah gue. Leah sama Ibu pasti seneng banget lihat lo bawa ijazah S1 lo."
Ada keheningan yang canggung namun hangat di antara mereka. Lewat layar ponsel, mereka saling menatap. Jarak mereka saat ini adalah Amsterdam dan Seoul, namun sebentar lagi jarak itu akan berubah menjadi Brisbane dan Seoul. Secara geografis mungkin lebih dekat, namun secara realita, mereka tetap berada di dua dunia yang berbeda.
"Lo tahu nggak, Ra?" suara Jake melunak, matanya menatap Takara dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu berdesir.
"Meskipun gue nggak bisa ikut pulang, tahu kalau lo ada di Brisbane entah kenapa bikin gue ngerasa lebih tenang. Setidaknya, 'rumah' gue sekarang nggak lagi berpindah-pindah di atas air sungai di Belanda. 'Rumah' gue udah balik ke titik koordinat yang seharusnya."
Takara menahan napas. Kalimat Jake selalu saja berhasil mengacak-acak pertahanannya.
"Gue bakal nunggu lo di sana, Jake. Entah kapanpun lo punya waktu buat pulang yang beneran, gue ada di sana."
"Janji ya?"
"Janji."
Sore itu, Takara duduk di dek houseboat-nya untuk terakhir kali, menatap matahari terbenam yang memantul di permukaan kanal. Ia merasa lega. Perjalanannya di Amsterdam adalah babak pendewasaan, tapi Brisbane adalah tempat di mana hatinya berada.
Ia mulai membayangkan hidupnya di Brisbane nanti. Meniti karier sebagai arsitek muda, menghabiskan waktu bersama ibunya, dan tentu saja, menjadi penjaga kenangan bagi Jake. Ia akan tetap menahan perasaannya, tetap menjadi "sahabat" yang setia menanti di koordinat yang sama, sampai suatu saat nanti Jake tidak perlu lagi merasa iri karena ia sendiri sudah berada di sana, di sampingnya.
———
Udara Brisbane yang hangat dan aroma pohon eucalyptus yang khas menyambut Takara begitu ia melangkah keluar dari gerbang kedatangan. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan belasan jam dari Amsterdam mendadak sirna saat matanya menangkap sosok ibunya yang melambai dengan penuh semangat, berdiri bersisian dengan Ibu Jake dan Leah.
"Kak Takara!" Leah berteriak, mengabaikan sopan santun di tengah keramaian bandara.
Gadis muda itu berlari dan langsung menghambur ke pelukan Takara, mendekapnya begitu erat seolah takut Takara akan terbang kembali ke Eropa. Takara sempat terhuyung ke belakang, namun ia segera membalas pelukan itu dengan penuh kasih. Ia bisa merasakan bahu Leah yang sedikit bergetar.
"Aduh... adek aku... you missed me so much, ya?" bisik Takara sembari mengusap lembut rambut Leah yang kini sudah tumbuh panjang.
Leah tidak segera melepaskan pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Takara, terisak pelan. "Aku kangen banget main bareng sama kakak-kakak aku. Sejak kak Jake pergi ke Korea dan Kakak ke Belanda, rumah ini rasanya sepi banget. Aku sendirian, Kak..." gumam Leah dengan suara yang teredam.
Hati Takara mencelos. Ia melirik ke arah Ibu Jake yang berdiri tak jauh dari mereka, menatapnya dengan mata yang juga berkaca-kaca. Kehilangan dua orang sekaligus, Jake dan Takara, ternyata meninggalkan lubang yang besar bagi Leah.
"Sekarang aku bakal di Brisbane kok, setidaknya untuk waktu yang lama. Aku mau melamar kerja di sini," kata Takara setelah Leah mulai tenang.
Mendengar itu, wajah Leah langsung cerah. "Serius, Kak? Kakak nggak akan balik lagi ke rumah apung yang goyang-goyang itu?"
Takara tertawa renyah, kali ini tawanya terasa lepas, tanpa beban yang sering ia rasakan di Amsterdam. "Nggak, Leah. Ijazah arsitek aku sudah siap dipakai buat bangun gedung-gedung keren di sini. Jadi, mulai sekarang, lo bakal bosen karena tiap hari ketemu gue."
Ibu Jake mendekat, membelai pipi Takara dengan sayang. "Kami senang sekali kamu pulang, Takara. Kamu tahu kan, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu, sama seperti dulu."
"Terima kasih, Tante. Rasanya benar-benar seperti pulang ke rumah yang sebenarnya," jawab Takara tulus.
Malam harinya, Takara duduk di kamar lamanya yang masih terasa sangat akrab. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat jendela kamar Jake di rumah sebelah yang tertutup rapat. Kamar itu kini dingin dan kosong, hanya berisi tumpukan barang kenangan yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengejar mimpi di belahan dunia lain.
Takara mengambil ponselnya, memotret pemandangan jendela kamar Jake yang terkena sinar lampu jalanan Brisbane.
📲 Takara: [Image sent]
📲 Takara: Gue udah di rumah, Jake. Leah nangis bombay tadi di bandara. Sekarang gue lagi liatin jendela kamar lo.
📲 Takara: Brisbane masih sama, yang beda cuma lo nggak ada di sini buat balikin bola tenis yang lewat pagar.
Takara menatap pesannya yang hanya berstatus centang satu. Jake mungkin sedang di atas panggung atau sedang tertidur pulas karena kelelahan. Di tengah kebahagiaan kepulangannya, ada satu ruang kosong yang tetap tidak bisa terisi. Ia berada di Brisbane, di tempat mereka tumbuh bersama, namun separuh dari jiwanya masih tertinggal di Seoul.
———
Takara bukan tipe orang yang suka berlama-lama dalam nostalgia. Baginya, cara terbaik untuk menghargai perjuangan ibunya dan gelar yang baru saja ia raih adalah dengan segera membuktikan diri. Hanya sehari setelah mendarat, koper-kopernya bahkan belum sepenuhnya dibongkar, namun laptopnya sudah menyala sejak fajar menyingsing.
Ia mengirimkan lamaran ke salah satu firma arsitektur paling bergengsi di Brisbane, sebuah perusahaan yang dikenal dengan desain-desain modernnya yang tetap ramah lingkungan. Tak butuh waktu lama bagi tim HRD di sana untuk terpaku pada portofolio Takara. Pengalamannya di Amsterdam, kota dengan arsitektur paling menantang di dunia, serta keterlibatannya dalam proyek restorasi houseboat dan bangunan kanal, membuat profilnya menonjol seperti berlian di antara tumpukan dokumen lainnya.
"Amsterdam memberikan gue perspektif yang beda, dan sekarang saatnya gue kasih itu buat kota ini," gumam Takara penuh tekad.
Setelah menutup laptopnya dengan perasaan lega, Takara memutuskan untuk keluar sejenak mencari udara segar. Ia berjalan menyusuri trotoar yang sudah sangat ia hafal, menuju sebuah kedai kecil di pojok jalan yang dindingnya mulai mengelupas, namun aromanya tetap sama selama sepuluh tahun terakhir.
Kedai "Auntie May". Tempat itu adalah saksi bisu ribuan percakapan antara dirinya dan Jake.
Takara membeli sekantong besar cinnamon sugar donuts dan dua botol minuman soda rasa jahe, pesanan wajib mereka setiap kali pulang sekolah. Ia duduk di bangku taman yang menghadap ke arah sungai, lalu merogoh ponselnya. Ia mengambil foto kedai itu, lengkap dengan sekantong donat yang masih hangat dan berasap.
📲 Takara: [Image sent]
📲 Takara: Tebak gue lagi di mana? Auntie May masih inget sama gue, Jake. Dia bahkan nanya, "Mana cowok kurus yang biasanya ngabisin donat gratisan?"
📲 Takara: Rasanya masih sama. Manis, hangat, dan bikin kangen.
Takara tidak berharap Jake akan membalas dengan cepat. Di Seoul saat ini mungkin sudah lewat tengah malam, atau mungkin Jake sedang berada di tengah gladi resik yang melelahkan. Namun, hanya butuh dua menit sampai ponselnya bergetar panjang.
📲 Jake: YA AMPUN RA!!! Gue bisa nyium bau kayu manisnya dari sini! 😭
📲 Jake: Auntie May beneran nanyain gue? Bilang ke dia, "cowok kurus" itu sekarang udah jadi "cowok sibuk" yang pengen banget terbang ke sana cuma buat minta donat gratisannya lagi.
📲 Jake: Gue iri banget, beneran. Di sini gue cuma makan dada ayam hambar buat persiapan konser. Gue rela nuker semua makanan mewah ini demi satu kantong donat itu dan duduk di sebelah lo sekarang.
Takara tersenyum manis, jemarinya lincah mengetik balasan.
📲 Takara: Makanya, kerja yang bener biar cepet kelar turnya. Oh iya, gue udah submit lamaran ke firma besar di sini. Doain ya!
📲 Jake: Pasti diterima. Kalau mereka nggak terima lo, berarti mereka nggak tahu cara nilai talenta hebat. Semangat, Arsitek gue! Gue harus balik ke set, bentar lagi giliran gue take. Save some donuts for me in your memory, okay?