Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Namun, bukan Diah namanya jika apa yang dirinya inginkan belum mampu ia dapatkan. "Ingat, Hana... Saya akan tetap menggugat rumah ini di pengadilan nanti!"
"Silahkan gugat saja jika rasa malu Anda sudah putus! Buatlah diri Anda malu dihadapan Hakim nanti. Saya tunggu!" balas Hana tanpa rasa takut sama sekali.
Merasa kalah telak setelah mengatakan itu, Bu Diah mengajak putrinya-Kayla untuk segera pergi dari rumah Hana.
Hana mencoba menetralkan napasnya terlebih dulu. Seharian ini batinya sangat lelah, mengahadapi modelan keluarga suaminya.
Malam itu, Hana sudah bersiap akan tidur. Ia membuka-mengecek gawainya, dan ternyata ada notif dari rumah sakit yang tadi sempat ia hubungi.
Dalih membukanya, tangan Hana reflek melihat story whatsaap Mona. Dalam potret yang diabadikan sahabatnya itu, menyebutkan 'First day honeymoon' dalam gambar yang tengah Mona abadikan.
Foto Mona bersama sosok pria yang memunggungi camera. Mona tersenyum bahagia bersandar dalam bahu sang pria. Sementara posisi pria menghadap lurus kedepan, tangan kirinya melingkar pada perut Mona.
Deg!
Hana bahkan sampai menegakan kepalanya, ketika kemeja yang dipakai kekasih Mona sama persis milik Dzaki. Dan, ketika Hana memperbesar foto tadi, ia melihat tanda lahir berupa tahi lalat dua pas berada di tengkuk leher pria itu.
"Ya Allah... Jadi, wanita itu adalah Mona? Astaqfirullahaladzim....." tangan Hana bergetar hebat, air matanya kembali menetes bersamaan. Dan selama ini kejanggalan-kejanggalan itu terjawab sudah.
Dan untuk malam ini, Hana bersumpah, bahwa air mata ini adalah air mata terakhirnya untuk menangisi pria kejam seperti Dzaki.
Hana usap kasar air matanya. Ia urungkan niatnya untuk tidur. Wanita cantik itu berjalan ke arah lemari, dan mengambil ijazahnya disana.
SMA Sederajat.
Ijazah itu sudah tergenggam dalam tangan Hana. Jika bukan karena kebaikan Kakaknya, Hana pasti akan putus sekolah, sebab Ibunya tak mampu lagi menyekolahkannya. Bu Laksmi adalah janda dengan 3 anak, di tinggalkan suaminya ketika Hana berusia 2 tahun.
"Aku nggak boleh nangis kaya orang gila lagi. Jika mereka, penghianat saja bisa bahagia diatas penderitaanku. Maka aku juga akan membuat hidupku jauh lebih bahagia. Masa nifasku sudah hampir selesai, dan aku harus segera mencari pekerjaan," gumam Hana penuh semangat.
Hana teringat, ia juga memiliki tabungan di rumah yang ia sembunyikan didalam kaleng bekas lebaran tahun lalu.
Dengan cekatan dan teliti, Hana mengambil kaleng itu yang dirinya simpan di lemari dapur.
Hana segera membuka lingkaran solasi yang dirinya lilitkan sebagai pengerat tutup kaleng. Dan ketika di buka, mata Hana berbinar, rupanya tabunganya itu cukup lumayan banyak.
"Ya Allah, alhamdulillah... Setidaknya, ini dapat menyambung hidup sebelum aku mendapat kerjaan," gumamnya kecil. Dan setelah di hitung, tabungan itu terkumpul hampir 3 jutaan.
Cukup untuk peganganya selama terakhir masa nifas.
Sejujurnya Hana juga masih memiliki tabungan di rekeningnya, namun uang itu dirinya gunakan untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan yang lebih mendesak dilain waktu.
*
*
Pagi itu, Hana sudah rapi dengan penampilan terbaiknya. Sudah lama tidak mengenakan longdress kesayanganya, Hana rasa, perutnya sudah tidak bergelambir lagi. Dengan polesan make up tipis, tas lengan dengan warna senada jilbabnya, Hana sudah siap pergi menuju rumah sakit untuk menemui pihak staff disana.
"Kurus begini di bilang kaya anakan kuda nil... Buta kali tu mata," gerutu Hana yang teringat kalimat tajam Dzaki pada waktu lalu.
Setelah itu, Hana langsung bergegas keluar. Kali ini, Hana berangkat menggunakan motor maticnya, demi menghemat biaya. Lagian juga, perjalanan menuju Rumah Sakit tidak terlalu jauh.
"Bismillah, semoga dilancarkan niat baiku ini, Ya Allah...." bisik batin Hana penuh harap.
Pukul 09.00 keadaan jalanan Yogjakarta sudah tidak terlalu ramai. Jadi, Hana tidak terlalu cemas, karena tubuhnya pun masih masa pemulihan.
Jalanan Yogya kali ini terasa nyaman, sebab aspalnya tadi malam habis diguyur derasnya hujan. Jadi, udara pun tidak terlalu berdebu. Hana menghirup oksigen alami itu dengan tenang, seolah dirinya baru saja kembali terlahir dengan semangat baru.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam lamanya, motor matic yang Hana bawa sudah memasuki halaman parkir rumah sakit.
Rumah Sakit Budi Kasih Yogyakarta.
Hana segera masuk, dan langsung menuju tempat resepsionis untuk memberitahu niat kedatanganya.
"Oh, atas nama Mbak Hana, ya?" wanita berjilbab hijau pastel bertanya.
Hana mengangguk, tersenyum lembut. "Benar, Mbak! Saya ingin bertemu Pak Rifki...."
"Dokter Rifki juga sudah menitipkan pesan pada saya. Katanya suruh Mbak Hana tunggu sebentar. Dokter Rifki masih dalam perjalanan," ujarnya sopan.
Hana kini berjalan menuju ruang tunggu di lobi, agar dirinya dapat melihat Dokter Rifki datang. Sambil membuang bosanya, Hana mengeluarkan gawainya sekedar membaca Novel dari aplikasi yang ada digawainya.
Namun, tiba-tiba dari arah dalam, ruangan Dokter spesialis anak, Hana mendengar suara tangisan bayi yang sangat menyayat.
Oek... Oek....
Deg!
Hana reflek menoleh. Ia bahkan sampai saat ini masih belum dapat melupakan suara tangisan baby Lilia sewaktu lahir dulu.
Disana, seorang wanita tua berpenampilan anggun, tampak sibuk menenangkan bayi itu pada gendongan wanita yang memakai seragam kerja. Hana rasa, wanita yang tengah menggendong bayi itu adalah seorang pelayan.
Jiwa ke'ibuan Hana tergerak. Ia tak tega melihat tangisan bayi tadi yang begitu mengiris hatinya.
"Sayang, cup cup... Cucu oma cantik, nggak boleh nangis lagi, ya!" wanita tua berpenampilan anggun tadi tampak antusias menenangkan sang cucu. Dengan satu tangan yang mencoba memberikan dot yang berisikan susu formula, namun bayi kecil itu menolaknya.
Kedua wanita tadi bahkan hampir frustasi. Namun tiba-tiba....
"Permisi, Bu... Itu, kenapa ya bayinya kok nangis terus?" tanya Hana dengan lembut. Matanya tergerak menatap paras cantik dari bayi tadi.
Wanita tua berusia 55 tahun tadi menjawab, "Ini, Mbak... Cucu saya dehidrasi. Dia tidak mau minum susu formulanya. Badanya agak meriang, dan nangis terus."
"Sepertinya dia ingin minum Asi, Mbak!" Pelayan tadi menimpali.
Hana bertanya dengan hati-hati, "Maaf sebelumnya, Ibunya kemana ya? kok nggak dikasih Asi saja."
"Menantu saya pergi begitu aja, Mbak! Sudah 2 minggu ini, kami nggak tahu kemana perginya. Padahal, cucu saya sudah terlanjur nyaman dengan Asi," jawab Ibu tadi agak melas.
Hati Hana tergerak, ia mencoba menawarkan diri. "Bu... Apa saya boleh menyusi cucu Ibu? Kebetulan, saya habis melahirkan. Asi saya sampai saya donorkan ke rumah sakit. Karena sudah sering banyak yang ke buang juga."
Ibu-ibu tadi agak terkejut. Ia saling tatap sejenak dengan Pelayannya. Tapi wajah Ibu-ibu tadi agak ragu. "Bu... Sudahlah, siapa tahu Non Keira bisa tenang," bisik sang Pelayan.
Sambil menyerahkan, Ibu-Ibu tadi berkata, "Maaf Mbak merepotkan...."