di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pesan Berdarah dari Masa Lalu
Dua minggu telah berlalu sejak Ye Yuan menempati Gubuk Bambu di Tebing Utara Puncak Awan Biru.
Selama dua minggu itu, hutan bambu ungu yang tenang dan asri telah berubah menjadi medan perang. Batang-batang bambu setebal paha orang dewasa patah berserakan, tanah berlubang-lubang seperti bekas ledakan ranjau, dan daun-daun berguguran sebelum waktunya.
Di tengah kekacauan itu, sesosok bayangan bergerak.
Bukan berlari, melainkan meledak.
BOOM!
Suara ledakan kecil terdengar dari tanah. Sosok itu menghilang dari satu titik dan muncul sepuluh meter di depan dalam sekejap mata.
BOOM! BOOM!
Dua ledakan lagi. Sosok itu berbelok tajam di udara tanpa menyentuh tanah, kakinya memijak udara kosong yang dipadatkan oleh Qi, menciptakan riak transparan.
"Masih kurang..." desis Ye Yuan. Dia mendarat dengan keras di atas sebuah batu besar, napasnya memburu, keringat membasahi jubah biru murid dalamnya.
Kakinya gemetar hebat. Sepatu kainnya sudah hancur, memperlihatkan telapak kaki yang melepuh dan berdarah.
[Langkah Hantu Asura]
Teknik gerakan ini jauh lebih brutal daripada yang dia bayangkan. Prinsipnya adalah memadatkan Qi dalam jumlah besar di telapak kaki, lalu meledakkannya keluar untuk menciptakan dorongan instan.
Jika tubuh penggunanya tidak sekuat baja, ledakan itu akan menghancurkan tulang kaki sendiri sebelum sempat bergerak. Untungnya, Tubuh Pedang Baja Ye Yuan mampu menahannya, meski rasa sakitnya seperti berjalan di atas paku panas.
"Tapi hasilnya sepadan," gumam Ye Yuan. Dia mengepalkan tangannya.
Dalam dua minggu, dengan bantuan Pil Darah Iblis yang dia serap dari Li Feng dan kepadatan Qi di puncak ini, kultivasinya telah melonjak ke Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Delapan Puncak.
Hanya selangkah lagi menuju Tingkat Sembilan.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perasaan tidak tenang yang terus menghantuinya sejak kemarin malam. Pedang patah di dalam gubuknya terus bergetar gelisah, seolah memperingatkan akan datangnya bahaya.
"Apakah Liu Mei merencanakan sesuatu?" pikir Ye Yuan, menyeka keringat di wajahnya.
Tiba-tiba, dia mendengar langkah kaki mendekat dari jalan setapak. Langkah itu tergesa-gesa.
Ye Yuan segera waspada. Dia menyambar jubah luarnya dan menutupi tubuhnya yang bertelanjang dada.
"Ye Yuan! Kau di sana?"
Itu suara Su Qing, gadis dari Paviliun Pengobatan.
Ye Yuan melangkah keluar dari balik pepohonan bambu. "Ada apa, Nona Su? Apakah aku merusak terlalu banyak bambu?"
Wajah Su Qing tidak terlihat jenaka seperti biasanya. Dia tampak pucat dan khawatir. Di tangannya, dia memegang sebuah gulungan kertas yang diremas kuat.
"Ada surat untukmu," kata Su Qing, napasnya tersengal karena berlari menaiki tebing. "Ditemukan tertancap dengan belati di gerbang utama Puncak Awan Biru pagi ini. Penjaga gerbang tidak melihat siapa yang mengirimnya."
Jantung Ye Yuan berdegup kencang. Firasat buruknya menjadi nyata.
Dia mengambil gulungan kertas itu. Kertas itu murahan, jenis kertas kasar yang biasa dipakai rakyat jelata. Namun, ada noda cokelat kering di sana.
Darah.
Ye Yuan membuka gulungan itu perlahan.
Isinya singkat, ditulis dengan tulisan tangan yang jelek dan tergesa-gesa, seolah penulisnya sedang ketakutan setengah mati:
"Kepada Tuan Muda Ye Yuan,
Orang-orang berjubah hitam datang ke Desa Batu Kapur. Mereka mencari rumah lamamu. Mereka bilang ada harta karun keluarga Ye yang disembunyikan di makam Tuan Tua (Gurumu).
Mereka membakar lumbung desa. Mereka mengancam akan membongkar makam Tuan Tua jika kau tidak datang menyerahkan 'kunci' dalam waktu tiga hari.
Tolong kami... - Kepala Desa Zhang"
Krak!
Tanpa sadar, Ye Yuan meremas gulungan kertas itu hingga hancur menjadi serbuk. Aura membunuh yang dingin dan pekat meledak dari tubuhnya, membuat suhu di sekitar hutan bambu turun drastis.
Su Qing mundur selangkah, kaget. "Ye Yuan? A-apa isinya?"
"Mereka mencari mati," suara Ye Yuan terdengar rendah, seperti geraman binatang buas yang terluka.
Ye Yuan tahu ini jebakan. "Harta karun keluarga Ye" itu omong kosong. Dia yatim piatu yang dipungut oleh gurunya, seorang kultivator pengembara miskin yang meninggal lima tahun lalu. Tidak ada harta. Satu-satunya peninggalan gurunya adalah gubuk reot di Desa Batu Kapur dan sebuah makam sederhana di bukit belakang desa.
Ini adalah ulah Tetua Li.
Si tua bangka itu tidak bisa menyentuhnya di dalam sekte, jadi dia menyerang satu-satunya hal yang Ye Yuan pedulikan di dunia luar: tempat peristirahatan terakhir gurunya dan desa yang pernah memberinya makan.
"Mereka ingin aku keluar dari sekte," kata Ye Yuan dingin.
Su Qing yang cerdas segera mengerti. "Itu pasti jebakan Tetua Li! Ye Yuan, kau tidak boleh pergi. Peraturan sekte melarang murid dalam keluar gunung tanpa izin Ketua Puncak, apalagi kau sedang dalam masa percobaan!"
"Jika aku tidak pergi, mereka akan membongkar makam guruku," potong Ye Yuan. Dia berbalik dan berjalan cepat menuju gubuknya.
"Tapi itu pasti penuh dengan pembunuh bayaran!" seru Su Qing, mengejarnya. "Kau baru Tingkat Delapan! Tetua Li pasti menyewa orang-orang profesional. Ini bunuh diri!"
Ye Yuan masuk ke dalam gubuk, mengambil pedang patahnya, dan mengikatnya erat di punggung. Dia juga mengambil sisa pil pemulih yang dia miliki.
Saat dia keluar, dia menatap Su Qing. Tatapannya membuat gadis itu terdiam.
"Su Qing, guruku memungutku dari selokan saat aku bayi. Dia memberiku nama, memberiku makan, dan mengajariku cara menjadi manusia. Dia meninggal karena sakit demi membelikan obat untukku."
Ye Yuan menyentuh gagang pedang di punggungnya.
"Jika aku membiarkan tulang belulangnya diganggu oleh anjing-anjing Tetua Li hanya demi keselamatanku sendiri... maka aku tidak pantas memegang pedang ini. Aku tidak pantas hidup."
"Ye Yuan..." Su Qing kehabisan kata-kata. Dia melihat tekad yang membara di mata pemuda itu. Tekad yang siap membakar langit.
"Tolong sampaikan maafku pada Peri Mu Bingyun jika aku tidak kembali," kata Ye Yuan.
Tanpa menunggu jawaban, Ye Yuan mengaktifkan Langkah Hantu Asura.
BOOM!
Sosoknya melesat menuruni tebing, meninggalkan bayangan kabur. Dia tidak mengambil jalan utama. Dia melompati jurang, menerobos hutan, menuju gerbang keluar sekte dengan kecepatan penuh.
Tiga Jam Kemudian - Kaki Gunung Sekte Pedang Surgawi.
Ye Yuan berlari seperti setan.
Dia telah meninggalkan wilayah sekte tanpa melapor. Ini pelanggaran berat. Jika dia tertangkap oleh Penegak Hukum Sekte, hukumannya adalah pemotongan meridian atau pengusiran.
Tapi Ye Yuan tidak peduli.
Desa Batu Kapur berjarak setengah hari perjalanan bagi kuda biasa, tapi bagi kultivator dengan teknik langkah khusus, dia bisa sampai di sana dalam dua jam jika dia memaksakan diri.
Hutan lebat di sekitarnya melesat mundur. Angin menampar wajahnya.
Tunggu aku, Guru. Murid tidak berbakti ini datang.
Tiba-tiba, insting Ye Yuan menjerit.
ZING!
Sebuah anak panah hitam melesat dari semak-semak di sisi kanan jalan, mengarah tepat ke pelipisnya.
Ye Yuan tidak berhenti berlari. Dia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Anak panah itu lewat, menggores pipinya, dan menancap di pohon di sebelahnya hingga tembus. Ekor anak panah itu bergetar, mengeluarkan asap hijau. Racun.
"Akhirnya muncul juga," gumam Ye Yuan. Dia berhenti mendadak, kakinya mencengkeram tanah hingga meninggalkan bekas seretan panjang.
Dari balik pepohonan yang gelap, lima sosok berpakaian hitam muncul. Wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang dingin.
Mereka bukan murid sekte. Mereka adalah pembunuh bayaran dari dunia persilatan luar. Aura mereka tajam dan berbau darah.
"Cepat juga kau datang, Nak," kata pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya. Dia memegang sepasang pisau ganda. Auranya berada di Tingkat Sembilan Awal. Empat anak buahnya berada di Tingkat Delapan.
"Tetua Li membayar mahal untuk kepalamu," lanjut si pemimpin, menjilat bibirnya. "Dia bilang, potong kaki dan tanganmu dulu, lalu bawa hidup-hidup ke hadapannya."
Ye Yuan berdiri tegak di tengah jalan setapak. Dia perlahan melepaskan ikatan kain di gagang pedangnya.
"Hanya lima orang?" tanya Ye Yuan datar.
"Hah?" Si pemimpin mengerutkan kening. "Lima orang sudah lebih dari cukup untuk membunuh bocah ingusan sepertimu!"
Ye Yuan menggelengkan kepala. Dia mencabut pedang patahnya. Bilah hitam itu berdengung rendah, seolah mendesis senang karena mencium bau darah para penjahat.
"Kalian salah paham," kata Ye Yuan, matanya mulai bersinar ungu. "Maksudku... hanya lima orang? Pedangku bahkan tidak akan kenyang."
"Sombong! Bunuh dia!"
Kelima pembunuh itu menerjang serentak.
Ye Yuan tidak mundur. Sebaliknya, dia melesat maju menyambut mereka.
Di dalam hutan yang sunyi itu, pesta darah dimulai.
Ye Yuan bukan lagi murid sekte yang terikat aturan. Di sini, di alam liar, dia adalah Asura. Dan Asura tidak mengenal ampun.
[Bersambung ke Bab 10]