aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 9 — The Edge of Shadows
Volume II — The Weight of Survival
Chapter 9 — The Edge of Shadows
Senja telah berganti menjadi malam. Kota barat kini diterangi lampu darurat yang berkedip lembut, memantulkan bayangan gedung-gedung yang hancur. Suara sirene samar dan aroma asap masih menyelimuti udara, mengingatkan Daniel bahwa bahaya belum pergi sepenuhnya.
Setelah misi sebelumnya, Daniel menenangkan wanita yang ia selamatkan—nama aslinya adalah Selena—di pos sementara. Namun ketenangan itu hanya sesaat. Laporan intel Hunter mengabarkan: sekelompok iblis tingkat tinggi menguasai distrik utara, lebih terorganisir, dan tampaknya menunggu Daniel.
Persiapan Mental dan Strategi
Daniel berdiri di atap pos sementara, menatap distrik utara dari kejauhan. Segel pertama di dadanya berdenyut lembut, menstabilkan tubuhnya, tapi pikirannya masih sibuk. Ia menyesuaikan napasnya, mengingat pelajaran dari latihan kontrol kekuatan: fokus, ketenangan, sinkronisasi tubuh dan pikiran.
Aku tidak bisa gegabah. Jika aku salah langkah, banyak yang akan mati.
Katana di tangannya berkilau di cahaya lampu, menandai ketegasan Daniel. Ia tahu ini bukan sekadar pertarungan fisik: iblis ini lebih cerdik, lebih cepat, dan mereka bisa membaca pola musuh.
Raven memberi dukungan dari jarak jauh, mengawasi setiap gerakan dan memberitahu posisi iblis. Aurelia berdiri di sisi Daniel, matanya merah redup oleh bayangan, tapi tatapannya tegas.
“Kau yakin ingin melangkah sendiri?” tanya Aurelia.
“Aku bisa menangani mereka… tapi aku butuh kau menutup sisi belakangku,” jawab Daniel.
Masuk ke Distrik Utara
Daniel dan Aurelia melangkah ke jalanan yang remuk. Bayangan iblis menari di antara reruntuhan, mendesah dan bergerak cepat. Aroma kegelapan semakin pekat, dan setiap langkah terasa seperti menginjak zona bahaya yang hidup.
Iblis muncul dari arah tak terduga—lebih cepat dari yang Daniel perkirakan. Ia segera menebas salah satu yang mencoba menyerang Selena, sementara Aurelia menutup sisi lain dengan sihir cahaya yang ia pelajari dari latihan sebelumnya.
Pertarungan itu bukan sekadar kekuatan: Daniel harus membaca pola, memprediksi gerakan, dan memprioritaskan target. Iblis lebih dari sekadar monster: mereka bekerja sebagai satu kesadaran.
Jika aku terlalu fokus pada satu musuh, yang lain bisa menyerang Selena atau Aurelia.
Konfrontasi dengan Pemimpin Iblis
Dari bayangan muncul ibu iblis atau komandan iblis tingkat tinggi—makhluk besar, bersayap gelap, aura gelap menyelimuti sekitarnya. Daniel menelan ludah, menyadari bahwa ini adalah pertarungan yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Ia menyesuaikan teknik, menggerakkan katana dengan sinkronisasi penuh dengan segel pertama, menahan setiap serangan mematikan, menangkis dengan presisi. Aurelia mengeluarkan serangan cahaya untuk membuka ruang, sementara Daniel memanfaatkan momentum untuk menebas sayap iblis, memotong sebagian kekuatannya.
Segel pertama… bantu aku tetap fokus! gumam Daniel di dalam hati.
Pertumbuhan Psikologis dan Emosional
Di tengah pertempuran, Daniel menyadari satu hal: pertarungan ini bukan sekadar mengalahkan iblis, tapi juga mengendalikan ketakutan dan rasa bersalahnya. Bayangan warga yang hilang, korban sebelumnya, dan kegagalan yang ia rasakan muncul di pikirannya.
Namun kini, keputusan cepat, fokus, dan ketenangan batin membuatnya bisa menghadapi tekanan itu. Ia tidak panik, tidak terlalu emosional, dan setiap tebasannya adalah hasil sinkronisasi tubuh, pikiran, dan segel pertama.
Perlindungan Selena dan Dinamika Aurelia
Selena bersembunyi di balik reruntuhan, tapi kali ini lebih sadar. Tatapannya mengikuti Daniel, dan ikatan mereka semakin kuat. Setiap gerakan Daniel memberinya rasa aman.
Aurelia di sisi lain, mulai lebih aktif mengeksekusi strategi tempur: menutup jalur iblis, menciptakan cahaya pengalih, dan terkadang menyerang langsung. Daniel menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mereka bukan sekadar rekan, tapi tim yang tak terpisahkan.
Aku tidak bisa menang sendirian. Aku tidak harus.
Kemenangan dengan Harga Terselubung
Setelah pertarungan panjang dan sengit, iblis mundur, menyadari bahwa mereka menghadapi Hunter yang sinkron dan strategis. Daniel dan Aurelia berdiri di reruntuhan, lelah tapi masih waspada.
Selena menghampiri Daniel. “Kau… hebat. Aku… percaya padamu,” katanya dengan lembut. Kata-kata itu membekas di hati Daniel, tetapi ia tahu: pertempuran ini baru permulaan. Antares mengamati, iblis lainnya akan kembali, dan segel pertama masih belum bisa digunakan sepenuhnya.
Daniel menarik napas panjang, menatap langit malam. Cahaya redup bulan menembus reruntuhan, dan ia tersenyum tipis.
Aku bertumbuh. Aku belajar. Dan aku akan terus tumbuh… karena ini bukan hanya tentang aku, tapi tentang semua yang aku lindungi.