Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana bisa?
"Aku selalu bisa mengetahui apapun yang aku mau tuan Darren yang terhormat." balas Hani santai dengan senyum penuh kebenaran.
...--------------------------------...
Flashback on
Malam hari setelah kejadian Hani yang tertabrak oleh mobil Darren. Setelah kembali dari apartemen Sinta, ketika Hani akan beristirahat ia teringat akan perkataan Sinta.
"Masa bener sih kalo tuan Darren itu sebenarnya mafia? apa jangan jangan blood viper musuh dari Steven Lorenzo itu yang dimaksud adalah tuan Darren ya? akhh aku harus cari tau kebenaran nya." ucap Hani penasaran. Ia kemudian segera mengeluarkan laptop milik nya dan menelusuri data pribadi milik Darren.
Tengah malam itu ia melancarkan aksinya, memasukkan kode demi kode rahasia seorang hacker profesional tanpa jejak, deretan kunci kode berukuran kecil memenuhi layar laptop nya hingga akhirnya ia berhasil membobol sistem keamanan yang mengunci data pribadi Darren.
"Semua terasa begitu mudah ditemukan" ucap Hani tersenyum senang, ia kemudian menyalin seluruh data yang ditemukan ke dalam file rahasia milik nya. Setelah itu ia menghapus semua jejak sistem yang ia bobol hingga bersih, karena ia telah menjelma kembali menjadi The Velvet Phantom (datang tanpa suara-pergi tanpa jejak).
Hani mulai membaca seluruh data yang ia temukan mengenai Darren, hingga suatu dugaan nya benar. Bahwa Darren adalah Blood Viper sosok mafia kejam yang merupakan musuh bebuyutan dari Steven Lorenzo De Luca.
Tetapi malam itu berakhir dengan Hani menemukan data diri Darren tanpa membuat sebuah rencana, karena dendam Hani kepada Steven Lorenzo De Luca sudah ia tangani ketika Hani tau bahwa Steven lah memecat dan memfitnah ayah Hani, Hani menyebarkan virus yang mengakibatkan beberapa cabang perusahaan Steven harus bangkrut dan jatuh ke tangan nya, yang kemudian ia jual dengan para investor dari berbagai negara.
Flashback off
Darren dan Jack saling pandang, selama ini tidak ada yang bisa mengetahui data asli kehidupan Darren kecuali Darren sendiri yang memberi tahu pada orang lain.
Hani tersenyum tipis melihat Darren dan Jack yang saling mengisyaratkan bahwa mereka sangat bingung akan hal yang bisa Hani ketahui.
"Sebelum aku mulai bercerita kalian harus berjanji padaku mengenai beberapa hal. Yang pertama, tuan Darren bersedia bekerja sama dengan ku untuk membalaskan dendam kepada Steven ketika aku sudah siap. Yang kedua, kalian berdua harus merahasiakan mengenai diriku yang sebenarnya kepada semua orang. Yang ketiga, kalian tidak boleh memanfaatkan ku ketika kalian sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya. Apa kalian sanggup berjanji akan hal hal itu?" tanya Hani memastikan, ia tidak ingin identitas asli nya terbongkar dan kemampuan nya dimanfaatkan oleh orang lain.
Darren dan Jack memandang serius ke arah Hani. Jack tidak akan menjawab pertanyaan Hani, ia hanya akan setuju sesuai dengan perkataan Darren.
Darren menghela nafas, "Aku dan Jack sanggup menepati janji itu, dan kami tidak akan memanfaatkan dirimu" ucap Darren, sedangkan Jack hanya mengangguk setuju akan ucapan Darren.
Hani tersenyum mendengarkan perkataan Darren yang menyanggupi janji nya, walaupun dibalik senyum itu ia masih sedikit ragu untuk mengatakan identitas aslinya karena pertemuan nya dengan Darren belum terlalu lama.
"Baiklah kalau kalian menyanggupi, tetapi... " Hani menyodorkan jari kelingking nya ke arah Darren untuk ditautkan seperti janji yang sering digunakan oleh anak anak.
Darren yang paham akan maksud Hani langsung menautkan jari kelingking nya yang tampak dua kali lebih besar dari jari kelingking Hani. "Nah jari kelingking om yang satu nya kasih ke om Jack, biar kita bisa janjinya bertiga" ucap Hani.
Darren hanya menuruti saja perintah dari Hani untuk menyodorkan jari kelingking nya kepada Jack, walaupun menurut Darren dan Jack sedikit unik karena kekanak-kanakan tetapi mereka hanya menurut saja.
"Hm kita sudah berjanji" ucap Darren setelah mereka semua menautkan jari kelingkingnya.
Hani kemudian melepaskan tautan jari kelingking nya dan diikuti oleh Darren dan Jack, ia tersenyum penuh rasa ketidakikhlasan. "Beri waktu aku 3 menit untuk mempersiapkan diri om" ucap Hani untuk mengulur waktu.
"Hm" ucap Darren sangat geram, tetapi ia tidak ingin memaksa karena takut Hani tidak jadi mengatakan siapa dia sebenarnya.
Hani memejamkan mata nya sembari menunduk ia terus berdoa dalam hati agar ada alasan yang membuatnya tidak jadi membocorkan siapa dirinya yang sebenarnya sekarang, karena ia belum siap akan hal itu. 'Ya tuhan tolong aku, berikan sebuah hambatan agar aku tidak jadi membocorkan identitas ku' batin Hani dalam dalam.
Sedangkan Darren dan Jack tidak habis fikir tentang tindakan yang dilakukan oleh Hani, mereka saling pandang seolah mengisyaratkan 'apa yang dia lakukan?' dalam benak masing-masing.
Hingga beberapa saat kemudian...
Ceklek
Pintu besar ruangan Darren terbuka, nampak wanita paruh baya berusia sekitar setengah abad dengan tampilan yang elegan melangkah masuk kedalam. Ya, dia adalah Diana Elizabeth Vireaux, mama kandung Darren.
Darren, Jack dan juga Hani menoleh ke arah pintu, dan melihat mama Diana yang berjalan dengan anggun ke arah mereka. Hani bersorak riang dalam hati, karena kehadiran sosok wanita yang ia yakini adalah mama Darren dapat menunda untuk tidak membicarakan identitas aslinya sekarang.
Sedangkan Diana tetap berjalan anggun tanpa menyadari jika Hani duduk disebelah Darren karena tubuhnya yang sangat kecil dibanding Darren. "Darren mama sengaja kesini untuk menanyakan mengenai kerja sama mu dengan klien dari Jepang, mama pikir kamu sudah selesai mee-" ucapan mama Diana terhenti ketika ia sudah berdiri di seberang meja berhadapan dengan sofa yang Darren duduki.
Mama Diana tampak terkejut lantaran melihat gadis cantik nan mungil yang duduk di samping putra nya itu, mama Diana dapat melihat gadis itu yang sedang menatapnya dengan tersenyum. "Ya ampun Darren kamu tidak pernah membawa calon istrimu ini pulang, dan sekarang kau hanya membawa nya datang ke perusahaan" ucap mama Diana yang langsung duduk di sebelah Hani.
Mendengar kata kata 'calon istri' dari perkataan mama Darren membuat Hani sedikit terkejut, ia tidak paham akan maksud ucapan mama Darren, tetapi ia juga bersyukur karena mama Darren datang di waktu yang sangat ia inginkan.
Darren menatap mama Diana jengah, ia gagal mendengarkan pengakuan dari Hani, tetapi Darren juga dapat melihat raut bahagia sang mama ketika berada di dekat Hani.
"Siapa nama mu sayang? kau terlihat cantik dan manis sekali" ucap mama Diana dengan menyentuh tangan Hani lembut.
"S-saya Hani tante" ucap Hanis sedikit gugup karena perlakuan mama Darren yang sangat lembut padanya.
Mama Diana sedikit terkejut sekaligus bahagia. 'Jadi dia benar benar calon menantu ku, Ya ampun dia sangat cantik dan sopan. Darren memang pandai memilih calon istri' ucap mama Diana dalam hati sembari menatap tulus ke arah Hani.
'Ibu' ucap Hani dalam hati ketika melihat tatapan mama Diana yang tulus kepadanya, tak terasa air mata Hani luluh turun ke pipi mulus miliknya.
Mama Diana merasa bingung, apakah tindakan nya salah hingga membuat Hani menangis. "Kenapa kau menangis sayang? apa tante ada berbuat salah? " tanya mama Diana, ia sangat merestui jika Hani benar-benar calon menantunya.
Darren dan Jack saling pandang, mereka tidak mengerti mengapa Hani tiba-tiba menangis.
Hani menyeka air matanya, dan tersenyum tulus ke arah mama Diana. "Saya hanya teringat mendiang ibu saya tante" ucap Hani lirih.
Mama Diana sedikit tersentuh akan pengakuan Hani, ia langsung memeluk Hani membawa ke dalam dekapan nya. Hani sedikit terkejut karena tiba tiba dipeluk oleh mama Darren, tetapi ia bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang sudah lama tak ia rasakan, air mata yang ia tahan-tahan akhirnya lolos begitu saja, ia tak bisa membendung rasa rindu dan penyesalan nya selama ini karena jarang mengunjungi kedua orang tuanya.
Darren dan Jack mengerti mengapa Hani tiba-tiba menangis begitu saja, mereka menyadari bahwa Hani menyimpan luka yang cukup berat setelah mendengarkan isak tangis nya dalam dekapan mama Diana.
"Kau bisa menganggap ku sebagai ibu mu sekarang" ucap mama Diana lembut, sembari mengelus kepala Hani dengan penuh kasih sayang.
Hani melepaskan pelukan mama Diana, ia takut mama Darren risih akan tingkah laku nya. Dapat terlihat jelas mata Hani yang memerah karena menangis, ia tersenyum lalu berkata. "Maafkan saya tante jika membuat anda merasa tidak nyaman" ucap Hani lirih dengan menunduk karena merasa canggung.
Mama Diana tampak tertegun, ia merasakan sebuah kerinduan yang amat terdalam seorang anak pada ibunya.
"Tidak sama sekali sayang, tante tidak keberatan akan hal itu. Dan kau boleh memanggil ku mama mulai sekarang, sama seperti Darren." ucap mama Diana lembut sembari mengusap usap kepala Hani.
"Terima kasih tante" ucap Hani, walaupun sudah diperbolehkan untuk memanggil dengan sebutan mama tetapi Hani merasa canggung akan itu.
Mama Diana hanya tersenyum tulus. 'Gadis ini benar-benar tepat untuk menjadi menantuku, tetapi ia terlihat sangat muda' batin mama Diana.
"Jika mama boleh tau, umur mu berapa sayang? kau terlihat sangat muda" tanya mama Diana penasaran.
"Umur saya 19 tahun tante, dan..kalau saya boleh tau nama tante siapa? " jawab Hani ramah.
Pernyataan Hani membuat mama Diana sedikit terkejut, bagaimana bisa putra nya memiliki calon istri seorang mahasiswa pikirnya.
"Nama tante Diana sayang, Oh ya jadi sekarang kamu berkuliah di mana?" tanya mama Diana lagi, ia harus bisa mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai calon menantu nya itu.
Darren sedikit geram akan mama nya itu, ia gagal mendapatkan informasi mengenai diri Hani yang sebenarnya. Tetapi ketika Darren bisa melihat raut bahagia sang mama, ia hanya bisa pasrah.
Hani sedikit bingung akan menjawab apa, ia takut tante Diana akan menginterogasi dirinya lebih dalam, tetapi ia tidak punya pilihan lain dengan menjawab yang sebenarnya.
"Saya sudah lulus berkuliah sejak berumur 16 tahun tante, dan sekarang saya bekerja di perusahaan Chiper Tech" ujar Hani menjelaskan.
Darren dan Jack terkejut akan itu, walaupun mereka sebenarnya sudah tau umur Hani sewaktu sedang berbincang dimobil malam itu tapi mereka tidak menyangka bahwa Hani sudah lulus kuliah sejak berumur 16 tahun.
Mata mama Diana membulat seketika, ia kaget sekaligus kagum akan calon menantunya. "Hebat sekali kamu sayang, kalau tante boleh tau kamu berkuliah di universitas apa?" tanya mama Diana lagi dan lagi, ia tidak akan melewatkan kesempatan kali ini.
Darren dan Jack pun juga semakin penasaran, mereka hanya mendengarkan tetapi juga menangkap pembicaraan antara Hani dan juga mama Diana.
Hani menghela nafas kasar, 'Apakah gue harus bilang yang sebenarnya sama kaya waktu di interogasi sama pak dika?' batin Hani kesal.
"Saya berkuliah di universitas Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat tante, saya menempuh 2 jurusan sekaligus dalam waktu 4 tahun yaitu Kriptografi dan Computer Engineering. Karena saya sudah lulus SMA sewaktu berumur 12 tahun dengan jalur akselerasi maka dari itu saya bisa menempuh perguruan tinggi dengan usia yang masih cukup muda" ucap Hani panjang lebar, ia sudah malas menjelaskan apa apa lagi.
Darren, Jack dan mama Diana sangat terkejut. "Bagaimana bisa?" tanya mereka bertiga kompak.
Hani menutup mata sembari menepuk jidatnya, ia berharap ada suatu hambatan seperti tadi yabg menyelamatkan kondisi nya kali ini.