NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Mulai Diketahui

Naura tidak tidur semalam.

Matanya terbuka menatap langit langit kamar sampai pagi. Pikirannya tidak bisa berhenti. Terus berputar putar seperti kaset rusak yang diputar ulang terus menerus.

Reaksi Nathan kemarin.

Wajahnya yang pucat.

Tangannya yang gemetar.

Suaranya yang serak saat sebut nama Mahira.

Isakan yang Naura dengar dari balik pintu.

Semua itu terus berputar di kepala Naura sampai kepalanya pusing. Sampai dadanya sesak. Sampai napasnya berat.

Jam lima pagi Naura menyerah. Dia bangun dari ranjang dan duduk di tepi sambil memeluk lutut.

Dingin.

Kamarnya dingin meski penghangat menyala.

Atau mungkin yang dingin itu hatinya?

Naura tidak tahu lagi.

Dia berjalan ke jendela. Menarik gorden. Langit masih gelap dengan sedikit semburat jingga di timur. Matahari belum terbit tapi burung burung sudah mulai berkicau.

Hidup terus berjalan.

Meski Naura hancur di dalam.

Naura mandi dan berganti baju. Turun ke bawah jam enam pagi. Bi Ijah baru mulai masak sarapan. Terkejut melihat Naura sudah bangun.

"Nyonya bangun pagi sekali. Biasanya jam delapan baru turun"

"Tidak bisa tidur Bi"

Bi Ijah menatap Naura dengan pandangan khawatir. "Nyonya sakit?"

"Tidak... cuma... cuma banyak pikiran..."

Naura duduk di meja makan sambil minum air putih. Tenggorokannya kering. Seperti ada yang menyumbat.

Jam tujuh Nathan turun.

Naura langsung berdiri. Jantungnya berdegup kencang.

Nathan terlihat berantakan. Rambutnya acak acakan. Mata merah. Wajah kusut. Seperti tidak tidur semalam.

Sama seperti Naura.

Tapi beda alasan.

Nathan tidak tidur karena memikirkan Mahira.

Naura tidak tidur karena memikirkan Nathan yang memikirkan Mahira.

Ironis.

Nathan duduk di ujung meja. Jauh dari Naura. Seperti biasa.

Bi Ijah menyajikan sarapan. Nasi goreng. Telur. Jus jeruk.

Mereka makan dalam diam.

Hanya bunyi sendok garpu yang beradu dengan piring.

Naura melirik Nathan berkali kali. Ingin bicara. Ingin tanya. Tapi takut.

Takut Nathan marah.

Takut Nathan pergi.

Takut jawaban yang akan dia dengar.

Tapi rasa penasaran lebih kuat dari takut.

"Nathan..." suara Naura pelan. Hampir berbisik.

Nathan tidak jawab. Terus makan tanpa lihat Naura.

"Nathan aku mau tanya sesuatu..."

Nathan meletakkan sendoknya. Keras. Bunyi logam di piring terdengar tajam.

"Apa?"

Dingin.

Sangat dingin.

Naura menarik napas dalam. "Kamu... kamu kenal Mahira?"

Hening.

Nathan menatap Naura dengan tatapan tajam. Tatapan yang membuat Naura ingin mundur. Ingin lari. Tapi dia bertahan.

"Kenapa kamu tanya?"

"Kemarin... kemarin aku lihat reaksimu saat ketemu Mahira... kamu terlihat... terlihat seperti..."

"Seperti apa?"

"Seperti... seperti kamu kenal dia... sangat kenal dia..."

Nathan tertawa sinis. Tawa yang tidak ada lucunya. "Kamu tidak perlu tahu"

"Tapi aku istrimu..."

"Istri kontrak" Nathan memotong cepat. "Istri kontrak yang dibayar untuk diam dan tidak ikut campur urusan pribadiku"

Setiap kata Nathan seperti tamparan.

Tapi Naura tidak menyerah.

"Aku cuma... cuma pengen tahu... Mahira sahabatku Nathan... dan kamu suamiku... aku berhak tahu kalau kalian punya masa lalu..."

Nathan bangkit dari kursi. Berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuh. "Masa lalu yang tidak perlu kau tahu. Masa lalu yang bukan urusanmu. Masa lalu yang..."

Suaranya tercekat.

Naura bisa melihat rahang Nathan mengeras. Bisa melihat matanya berkaca kaca.

"Yang apa Nathan?" Naura ikut berdiri. "Masa lalu yang masih kamu cintai?"

BRAK!

Nathan membanting kursi sampai jatuh.

Naura tersentak kaget.

"Jangan sok tahu tentang perasaanku!" Nathan berteriak. "Kamu tidak tahu apa apa! Kamu tidak tahu betapa sakitnya! Kamu tidak tahu betapa hancurnya aku saat dia pergi!"

Dia.

Mahira.

Nathan bicara tentang Mahira.

Air mata Naura jatuh. "Aku... aku cuma pengen mengerti..."

"Mengerti apa?! Kamu mau mengerti kenapa aku tidak bisa mencintaimu?! Karena hatiku sudah dimiliki orang lain! Karena cintaku sudah diberikan pada wanita yang tidak akan pernah kembali! Atau setidaknya aku pikir begitu... sampai kemarin..."

Nathan mengusap wajahnya kasar.

"Sampai dia datang lagi... sampai dia berdiri di depanku lagi... sampai aku lihat wajahnya lagi..."

Suara Nathan bergetar.

Naura menangis makin keras. "Jadi... jadi Mahira itu..."

"Cinta hidupku" Nathan menyelesaikan kalimat Naura. "Wanita yang aku cintai lima tahun. Wanita yang meninggalkanku tanpa penjelasan. Wanita yang membuat aku tidak bisa mencintai siapapun lagi"

Dada Naura remuk.

Hancur berkeping keping.

"Lalu aku apa?" suaranya keluar terbata bata di antara tangis. "Lalu pernikahan kita apa?"

Nathan menatap Naura dengan tatapan dingin. "Kontrak. Hanya kontrak. Tidak pernah lebih. Tidak akan pernah lebih"

Nathan berjalan keluar.

Meninggalkan Naura yang jatuh berlutut di lantai ruang makan.

Menangis sejadi jadinya.

Bi Ijah keluar dari dapur dengan mata berkaca kaca. Dia memeluk Naura yang menangis.

"Nyonya... Nyonya menangis... jangan menangis Nyonya..."

Tapi Naura tidak bisa berhenti.

Tidak bisa.

Karena sakit sekali.

Mendengar langsung dari mulut Nathan bahwa dia mencintai Mahira.

Mendengar Nathan bilang Naura bukan siapa siapa.

Mendengar Nathan bilang pernikahan mereka tidak akan pernah lebih dari kontrak.

Naura menangis sampai tidak ada air mata lagi.

Sampai matanya bengkak.

Sampai napasnya sesak.

Lalu dia bangkit dengan kaki lemas. Naik ke kamar. Mengunci pintu.

Meraih ponselnya.

Jari gemetar saat mencari nama Mahira di kontak.

Naura harus tahu.

Harus tahu kebenaran dari Mahira langsung.

Telepon diangkat setelah nada sambung ketiga.

"Halo Naura?" suara Mahira ceria. Terlalu ceria untuk pagi hari.

"Mahira... aku... aku mau tanya sesuatu..."

"Iya? Kenapa suaramu serak? Kamu sakit?"

"Tidak... aku cuma... cuma pengen tahu... kamu dan Nathan... kalian dulu pernah pacaran?"

Hening di seberang.

Lama.

Terlalu lama.

Lalu Naura dengar tarikan napas panjang.

"Kamu... kamu sudah tahu?"

Jadi benar.

Mahira dan Nathan pernah bersama.

Naura menutup mulut dengan tangan untuk tahan isakan.

"Nathan bilang?" Mahira bertanya lagi.

"Iya... dia bilang... bilang kamu cinta hidupnya..."

Mahira tertawa pelan. Tapi tawanya terdengar sedih. "Itu dulu Naura... lima tahun lalu..."

"Cerita dong... aku... aku mau tahu..."

Mahira mendesah panjang. "Oke... oke aku cerita..."

Naura duduk di tepi ranjang sambil telepon menempel di telinga.

"Aku dan Nathan ketemu enam tahun lalu. Di sebuah acara charity. Kami langsung klik. Ngobrol berjam jam. Dia ngajak aku makan malam. Terus kencan lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya kami jadian"

Suara Mahira terdengar nostalgia.

"Kami bersama selama setahun. Setahun yang paling bahagia dalam hidupku. Nathan itu... dia dingin di luar tapi hangat di dalam Naura. Dia perhatian. Dia romantis. Dia sempurna..."

Setiap kata Mahira seperti pisau yang menusuk dada Naura.

"Lalu kenapa kalian putus?"

"Keluargaku... keluargaku harus pindah ke luar negeri. Ayahku dapat tawaran kerja di sana. Aku harus ikut. Aku bilang ke Nathan tapi... tapi dia marah. Dia bilang aku egois. Bilang aku tidak cukup cintai dia kalau bisa ninggalin dia gampang begitu..."

Suara Mahira mulai bergetar.

"Kami bertengkar hebat. Aku pergi tanpa pamit yang bener. Tanpa bilang aku akan balik. Tanpa bilang aku tetap cinta sama dia..."

Mahira menangis.

Tangis yang terdengar di telepon.

Tapi entah kenapa...

Entah kenapa Naura merasa ada yang janggal.

Tangisan itu terdengar... dipaksakan?

"Dan sekarang... sekarang aku balik ke Jakarta... aku pikir Nathan sudah move on... aku pikir dia sudah bahagia... ternyata dia nikah sama kamu... sama sahabatku sendiri..."

Mahira terisak.

"Maafkan aku Naura... maafkan aku... aku tidak bermaksud mengganggu pernikahanmu... aku tidak bermaksud bikin kamu sakit... aku tidak tahu... beneran tidak tahu..."

Tapi ada sesuatu di nada bicara Mahira.

Sesuatu yang membuat Naura ragu.

Mahira bilang tidak tahu tapi dia sudah kaget saat Naura sebut nama Nathan di kafe dulu.

Mahira bilang tidak bermaksud ganggu tapi dia datang ke mansion.

Mahira bilang maaf tapi kenapa terdengar seperti tidak tulus?

"Kamu... kamu masih cinta Nathan?" Naura bertanya pelan.

Hening lagi.

Lama.

"Aku... aku tidak tahu Naura... perasaanku bingung... lima tahun itu lama tapi... tapi kemarin saat aku lihat Nathan lagi... ada sesuatu di dadaku yang... yang bergetar..."

Mahira menangis lagi.

"Tapi aku tidak akan ganggu kalian! Aku janji! Kamu sahabatku! Aku tidak akan rebut suami sahabatku sendiri! Aku tidak sejahat itu!"

Kata kata Mahira terdengar meyakinkan.

Tapi Naura tetap merasa ada yang tidak beres.

Intuisinya berteriak ada bahaya.

Tapi Naura tidak tahu bahaya apa.

"Oke Mahira... aku... aku percaya kamu..."

"Terima kasih Naura... terima kasih sudah percaya... aku sayang kamu... kamu sahabat terbaikku..."

Telepon ditutup.

Naura menatap layar ponsel yang gelap.

Ada yang tidak beres.

Tapi apa?

Naura tidak bisa menjelaskan.

Cuma feeling.

Feeling yang membuat dadanya tidak tenang.

Dia berbaring di ranjang sambil memeluk bantal.

Pikiran kacau.

Hati remuk.

Nathan mencintai Mahira.

Mahira mantan Nathan.

Mahira sahabat Naura.

Segitiga yang tidak seharusnya ada.

Segitiga yang akan menghancurkan Naura.

Karena bagaimana Naura bisa bersaing dengan Mahira?

Mahira cantik.

Mahira kaya.

Mahira punya sejarah dengan Nathan.

Mahira cinta pertama Nathan.

Sementara Naura?

Naura hanya istri kontrak.

Istri yang tidak dicintai.

Istri yang tidak diinginkan.

Air mata Naura jatuh lagi.

Membasahi bantal.

Dan di luar kamar, hujan mulai turun.

Hujan deras yang seolah ikut menangis.

Menangis untuk Naura yang terjebak.

Terjebak di antara cinta dan kontrak.

Terjebak di antara sahabat dan suami.

Terjebak di antara bertahan atau menyerah.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah...

Naura bertanya pada diri sendiri...

Apakah satu miliar rupiah itu cukup untuk membayar semua sakit ini?

Apakah nyawa ibu yang terselamatkan itu sebanding dengan hancurnya hati Naura?

Apakah pengorbanan ini ada ujungnya?

Atau Naura akan terus tenggelam dalam kesedihan sampai kontrak dua tahun berakhir?

Dan yang paling menakutkan...

Apakah Naura akan bertahan selama dua tahun?

Atau dia akan hancur duluan sebelum kontrak berakhir?

Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepala Naura.

Tidak ada jawaban.

Hanya kegelapan.

Dan tangis yang tidak pernah berhenti.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!