Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Malam Teror di Desa
Malam itu, Desa Durian Berduri seharusnya tertidur dalam pelukan damai setelah tangisan bayi-bayi yang hilang kembali mengisi rumah-rumah kecil mereka. Lilis meringkuk hangat di pelukan Sari Wangi, napas kecilnya teratur seperti irama lagu pengantar tidur yang lama tak terdengar. Di rumah-rumah lain, ibu-ibu memeluk anak mereka lebih erat, seolah takut mimpi buruk malam sebelumnya akan kembali mencuri. Tapi hutan di belakang desa tak pernah benar-benar diam. Pohon durian liar berdiri seperti penjaga bisu, duri-durinya berkilau samar di bawah bulan sabit, dan angin malam membawa aroma kemenyan yang semakin pekat—bau yang manis tapi menyengat, seperti napas seseorang yang belum rela pergi.
Bayang-bayang mulai bergerak di pinggir hutan. Bukan bayang pohon yang bergoyang karena angin, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih lambat, seperti tangan-tangan tak kasat yang merayap mencari mangsa. Bau kemenyan itu merembes ke desa, menyusup melalui celah-celah jendela bambu, menyelimuti rumah-rumah seperti kabut dingin. Di rumah Pak Kades, Daeng Tasi terbangun tiba-tiba, tangannya langsung meraih botol kecil berisi air suci dari sumur masjid yang sudah dibacakan doa kyai. Di sampingnya, Bang Jaim sudah duduk tegak, mata terbuka lebar, telinganya menangkap suara tawa serak samar dari kejauhan—tawa yang sama seperti yang didengar Sari malam itu.
“Dia belum pergi,” bisik Daeng Tasi, suaranya rendah tapi tegas. “Dendamnya masih hidup.”
Tak lama, jeritan pertama terdengar dari pinggir desa. Seorang ibu muda berlari keluar rumah, kain sarungnya kusut, wajahnya pucat ketakutan. “Anakku! Dia tenggelam di sungai! Aku lihat sendiri—dia kebawa arus darah!”
Warga mulai keluar rumah, obor-obor menyala satu per satu. Tapi ketika mereka berlari ke sungai kecil di belakang desa, tak ada apa-apa. Air sungai mengalir jernih seperti biasa, tak ada darah, tak ada tubuh anak kecil yang hanyut. Sang ibu menangis tersedu, “Aku lihat dia... anakku... dia panggil aku dari air merah...”
Jeritan serupa terdengar dari rumah-rumah lain. Seorang ayah melihat bayang putrinya kecil tenggelam di genangan air hujan di halaman belakang, meski putrinya tidur nyenyak di bale. Seorang nenek melihat cucunya berjalan ke hutan sambil tertawa, tapi ketika dikejar, bayang itu lenyap menjadi kabut. Ilusi kecil itu menyebar seperti asap: bayang anak-anak tenggelam di sungai, di genangan, di ember air mandi—semua ilusi yang membuat orang tua panik, berlari keluar rumah di tengah malam dingin.
Daeng Tasi dan Bang Jaim berlari ke arah jeritan terdekat—rumah Mbok Jum. Di halaman belakang, Mbok Jum berlutut di tepi genangan air hujan, tangannya meraih ke arah bayang cucunya yang tampak hanyut di air keruh. “Cucuku! Tolong! Dia kebawa arus!”
Daeng Tasi maju, botol air suci di tangan kiri, sementara Bang Jaim mulai melantunkan mantra leluhur Bugis-Makassar dengan suara rendah tapi kuat:
“Bismillah... ya Allah, potong tali dendam yang mengikat jiwa tersiksa. Lunakkan hati yang keras, kembalikan kedamaian pada yang hilang. Ya Rahman, ya Rahim... lepaskan ilusi dari mata hamba-Mu...”
Daeng Tasi membuka tutup botol, menuangkan air suci ke telapak tangannya, lalu menyemprotkannya ke genangan air itu sambil mengikuti mantra. Air suci menyentuh genangan—dan seketika, bayang cucu Mbok Jum bergoyang seperti gambar di air yang diaduk. Bayang itu memudar pelan, air kembali jernih, dan jeritan Mbok Jum berubah menjadi tangis lega. “Dia... dia hilang... tapi cucuku di dalam rumah! Dia aman!”
Warga yang berkumpul melihat dengan mata terbelalak. Ilusi itu runtuh seperti kabut yang ditiup angin. Di rumah lain, ketika Daeng Tasi dan Bang Jaim berlari menyusul, hal yang sama terjadi: semprotan air suci + mantra membuat bayang anak tenggelam lenyap, genangan air kembali bening, dan orang tua tersadar bahwa anak mereka aman di bale tidur.
Malam itu, serangan ilusi kecil berhasil dihentikan. Desa berkumpul di halaman rumah Pak Kades, wajah-wajah mereka campur antara ketakutan dan harapan. Sari Wangi memeluk Lilis erat-erat, air matanya jatuh ke rambut bayi itu. “Dia belum pergi... tapi dia lemah sekarang.”
Daeng Tasi berdiri di depan warga, botol air suci di tangan. “Ini bukti. Hipotesis kami benar. Nenek Gerandong adalah ‘mutasi gaib’ dari dendam—kekuatannya dari rasa sakit yang terpendam. Tapi senjata kami—mantra leluhur dan air suci—bisa melemahkannya. Bukan dengan membunuh, tapi dengan memotong ‘energi’ dendamnya.”
Bang Jaim menambahkan, suaranya mantap. “Dia dengar doa kita di masjid. Dia lihat pengorbanan Siti Aisyah. Sekarang... dia mulai goyah. Kita harus terus tunjukkan pengertian. Besok pagi kita masuk hutan lagi. Kita bicara. Kita akhiri ini dengan damai.”
Warga mengangguk pelan. Ketakutan masih ada, tapi harapan lebih besar. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah kejadian, desa tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan—meski di hutan, angin masih membawa tawa serak yang samar, tapi kali ini terdengar lebih lemah, lebih ragu.
Seolah Nenek Gerandong sedang mendengar... dan mulai mempertanyakan dendamnya sendiri.
***