NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Gravitasi yang Bergeser

Matahari sore Jakarta yang terik menyapu area parkir luar kampus, namun suhu di dalam mobil Rolls-Royce Antares tetap terjaga di angka presisi 22°C. Di sana, Profesor yang biasanya hanya menyentuh makanan organik dengan hitungan kalori ketat itu, kini berdiri tegak di samping gerobak biru Bang Jaja. Tangannya yang mengenakan jam tangan mewah seharga satu unit apartemen, tampak canggung memegang dua plastik transparan berisi cilok bumbu kacang dan satu cup besar es boba dengan topping berlebih.

Dari kejauhan, di balik jendela lantai dua gedung rektorat, Clarissa berdiri mematung dengan jemari yang mencengkeram erat bingkai jendela. Matanya memanas menyaksikan pemandangan yang menurutnya mustahil secara logika. "Antares Bagaskara... beli jajanan sampah itu?" bisiknya dengan nada getir yang penuh kebencian.

Pikirannya melayang pada masa lalu, saat ia dan Antares masih bersama. Dulu, Antares tampil begitu sederhana, bahkan cenderung tertutup soal identitasnya sebagai pewaris tunggal dinasti Bagaskara. Clarissa yang ambisius saat itu merasa Antares tidak cukup "menjanjikan" untuk masa depannya; ia menganggap Antares hanya pria jenius yang miskin. Hal itu pula yang membuatnya bersikap dingin, jual mahal, dan akhirnya memilih terbang ke London demi mengejar kakak senior yang terlihat lebih mapan secara finansial.

"Kenapa sekarang kamu jadi begini, Antar?" desis Clarissa pahit. "Kenapa untuk anak kecil itu kamu rela menjatuhkan martabatmu, sementara dulu kamu bahkan tidak pernah memberitahuku siapa sebenarnya kamu?"

Logika Ngidam dan Pipi Tembam

Antares masuk ke dalam mobil dengan napas yang sedikit terengah, aroma saus kacang dan boba langsung memenuhi kabin mewah itu. Ia menyerahkan bungkusan itu kepada Zea dengan wajah datar namun sarat akan kasih sayang yang tersembunyi.

"Ini pesanan kamu. Satu porsi cilok dan boba dengan kadar gula yang menurut saya sangat berbahaya bagi kesehatan," ucap Antares sambil mulai menjalankan mobilnya perlahan.

Zea baru saja ingin membuka plastik ciloknya dengan penuh semangat, namun gerakannya terhenti saat matanya tidak sengaja melirik ke arah kaca spion di sampingnya. Ia terdiam. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memperhatikan pantulan wajahnya sendiri.

"Mas..." cicit Zea tiba-tiba, suaranya berubah sedih.

"Kenapa? Kurang pedas?" tanya Antares tanpa menoleh, fokus pada kemacetan di depan.

"Mas jahat! Mas sengaja ya kasih aku ginian terus?!" Zea tiba-tiba melempar bungkusan cilok itu ke pangkuan Antares. "Lihat deh di spion! Pipi aku makin tembam, Mas! Aku makin mirip bakpao pasar! Ini pasti gara-gara Mas kasih aku makanan micin terus supaya aku kelihatan jelek dan nggak ada cowok lain yang suka!"

Antares menginjak rem secara mendadak karena terkejut. Ia menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut dalam. "Zea, bukankah tadi kamu yang bersikeras—bahkan membawa-bawa nama anak kita—hanya untuk mendapatkan makanan ini?"

"Nggak mau tahu! Pokoknya sekarang aku nggak nafsu! Sekarang Mas yang harus habisin!" Zea mendorong cup boba dan plastik cilok itu ke arah Antares.

"Zea, saya tidak mengonsumsi makanan seperti ini. Kamu tahu itu," tolak Antares tegas.

"Mas harus habisin! Ini kemauan bayinya, Mas! Kata bayinya, dia mau ayahnya juga ikutan gendut supaya aku nggak sendirian! Mas mau durhaka sama anak sendiri sebelum dia lahir?" Zea menatap Antares dengan mata berkaca-kaca yang sangat manipulatif.

Antares menatap plastik cilok yang berminyak dan es boba yang manis itu dengan pandangan ngeri, seolah sedang menatap zat beracun. Namun, melihat bibir Zea yang mulai bergetar siap mengeluarkan tangisan, pertahanannya runtuh seketika.

"Demi Tuhan, Zea... kamu benar-benar merusak seluruh sistem kesehatan saya," gumam Antares pasrah. Dengan ragu, ia mengambil satu tusuk cilok dan memasukkannya ke mulut.

Zea langsung bersorak senang, rasa cemburunya pada Clarissa tadi siang menguap seketika digantikan rasa puas melihat suaminya yang "sempurna" itu kini sibuk mengunyah cilok di dalam mobil mewah. "Pinter! Habisin ya Mas, bobanya juga disedot sampai habis!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!