Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sekar baru saja menyelesaikan shalat subuh di tempat shalat. Badannya masih sedikit gemetar karena dinginnya pagi itu, tanpa melepas mukena ia bergegas ke kamar tidur anaknya untuk melihat Arka yang biasanya masih terlelap.
"Arka..." ucap Sekar panik ketika pandangannya jatuh ke tempat tidur yang hanya tertutup seprai putih bersih, tanpa ada sosok kecil yang biasanya meringkuk di tengahnya, napas Sekar langsung terhenti sejenak. Melangkah cepat ke sisi tempat tidur, menyentuh seprai yang masih hangat tapi kosong. Dia mencari-cari di seluruh kamar, di sudut meja yang biasanya di gunakan untuk Arka bermain, bahkan di kamar mandi, tapi semuanya kosong.
"Arka?! Di mana kamu, Nak?!" panggilnya kencang, air matanya mulai menetes. Keringat dingin muncul di dahinya walaupun sebelumnya kedinginan. Pikiran buruk langsung menghantui benaknya. Ingatan Sekar kembali ke malam tadi sebelum tidur, ia sempat mendengar ketika Luna marah-marah kepada Ilham berencana membawa Arka pergi.
"Jangan-jangan... Luna benar-benar melakukan itu..." gumam Sekar. Tangannya mulai gemetar saat dia mencoba membuka lemari kecil Arka, melihat beberapa baju dan mainan kesukaan masih ada semua, tapi tas kecil yang biasa digunakan Arka bila sedang pergi sudah tidak terlihat.
Tanpa berpikir panjang, Sekar berlari keluar kamar, menabrak kursi kayu di lantai dua depan kamarnya, tanpa merasa sakit. Dia mengetuk pintu kamar Luna dengan keras hingga beberapa kali tapi tidak ada yang membuka..
"Bu Luna, apa Arka ada di dalam?" Tanya Sekar sambil terus mengetuk pintu. Karena terlalu lama tidak ada jawaban, Sekar terpaksa mendorong kenop. Tidak peduli suami istri di dalam sana sedang apa, Sekar mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamar tapi tidak menemukan siapapun di tempat itu.
Hati Sekar seperti diterjang badai. Dia berlari menuruni anak tangga ke ruang tamu, tapi di sana pun sepi. Kemudian berlari ke arah dapur tanganya mengangkat roknya yang menghambat jalannya. "Mbak Rini..." panggil Sekar kepada pengasuh Arka. Ada setitik harapan Arka bersama Rini.
"Rini lagi mandi Sus, ada apa?" Bibi balik bertanya tanpa menoleh karena sedang tanggung.
"Bibi! Tolong!" teriaknya saat memasuki dapur sudah penuh aroma masakan bibi. Bibi yang sedang mengaduk masakan di atas wajan dengan sendok kayu besar terkejut dan segera meletakkan alat masaknya.
"Suster Sekar kenapa menangis begitu?" Tannya bibi khawatir, segera mendekat untuk menopangnya.
"Arka... Arka tidak ada di kamarnya, Bi. Bibi melihat tidak?" Cecar Sekar. Bibi biasanya bangun sebelum yang lainnya bangun, Sekar berharap art itu tahu.
Bibi menggeleng dengan wajah cemas, "Saya tidak melihat, Sus," jujur bibi karena sebelum subuh sibuk di dapur, bahkan saat ini pun belum shalat subuh. Malam tadi Luna berpesan kepadanya agar memasak lebih pagi karena ia akan membawa bekal. "Entah mau pergi kemana Non Luna, tidak bisasanya beliu berangkat pagi-pagi sekali Suster," lanjut bibi.
"Apa mungkin Arka pergi bersama Bu Luna, Bi," Sekar semakin yakin. Jika sampai itu terjadi Sekar akan kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya.
"Apa mungkin Non Luna sudah berangkat, Sus," bibi tidak yakin karena pesanan masakan belum matang. "Saya tanyakan suami saya dulu Sus," bibi meninggalkan dapur membuka pintu depan.
"Tidaaak..." Sekar berteriak sambil berlari menuju kamar mandi belakang di mana Siti sedang mencuci pakaian.
"Siti... Kamu melihat Arka tidak?" Seru Sekar dengan suara serak karena tangisnya semakin kencang.
Siti terkejut hingga ember yang ia pegang jatuh melihat Sekar menangis terisak-isak. "Pagi ini saya belum melihat Den Arka sama sekali, Sus," jujur Siti. Padahal dia sudah mulai mencuci lima belas menit yang lalu tapi belum melihat Arka.
Kaki Sekar terasa lemas, dia menekan dadanya yang seperti akan meledak, rasa khawatir jika Arka dibawa Luna bersama Ilham semakin kuat. "Arka kemana..." Dia jatuh jongkok di depan pintu kamar cuci, wajahnya menunduk. Semua harapan kini telah hancur, ia menyesal kenapa tidak membawa Arka pergi sejak lemarin.
"Suster Sekar kenapa?" Tanya Rini yang baru keluar dari kamar mandi sebelah. Ia segera membantu Siti agar Sekar berdiri, tapi tubuh Sekar terasa berat seperti mencabut pohon.
"Den Arka hilang, Mbak," Siti yang menjawab.
"Hilang?" Rini menatap Siti dengan mata lebar.
"Suster, kita cari ke luar yuk, siapa tahu Arka diajak jalan-jalan Tuan Ilham," kata Rini.
Mendengar kata itu, Sekar pun akhirnya bangkit sendiri. Dengan isak yang memilukan ia digandeng Rini dan membuka pintu depan. Tiba di teras, mendengar Arka sedang menangis di luar pagar. Sekar berlari menerjang pintu pagar yang dalam keadaan terbuka dengan kecepatan luar biasa walau matanya tertutup kabut air mata. Dia melihat anaknya yang dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Luna, Arka menangis meronta-ronta.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan..." Sekar mendekap tubuh Arka, lalu mendorong tangan Luna yang memegangi lengan Arka.
"Apa maksud kamu tidak apa-apa Sekar? Arka itu anak saya, tidak mungkin saya menyakitinya," Luna tidak terima dengan ucapan Sekar.
Sekar tidak menjawab, mengusap-usap bahu Arka yang sudah nyaman di dadanya.
"Mama... Alka nggak mau ikut Mommy... huaaa..."
"Iya sayang... ada Mama..." Sekar berdiri menggendong Arka lalu melempar tatapan dingin ke arah Luna. "Arka tidak mau Bu, jadi jangan dipaksa," Sekar lagi-lagi masih mencoba berbicara halus.
"Sekar, saya mau mengajak Arka jalan-jalan, tapi kenapa kamu khawatir dan curiga seperti itu?" Luna masih belum puas, karena Sekar belum menjawab pertanyaannya. Luna mendekati Sekar dengan wajah kesal. "Kamu ini hanya orang luar, dan kebetulan saja Arka cocok sama kamu, tapi kamu tidak boleh menghalangi saya mau mengajak Arka kemanapun," imbuh Luna dengan nada protes.
Satpam dan bibi yang berada di tempat itu menjadi serba salah. Sebenarnya sejak awal hendak melarang Luna memaksa Arka, tapi takut dipecat majikannya itu. Di sisi lain, mereka sebenarnya hendak membantu Sekar.
"Saya tahu, Bu, tapi jika Arka tidak mau lalu ibu paksa, akan mengganggu mentalnya," Sekar berbicara tidak menatap Luna, tapi tangannya sibuk membersihkan air mata Arka.
Luna masih belum menyerah, lalu menarik tangan Arka lebih kuat, "Aku hanya mau membawa dia keluar sebentar, Sekar! Berikan Arka padaku."
"Nggak mau," Arka merangkul kuat tengkuk Sekar.
"Jangan dipaksa Bu, Arka tidak mau pergi sama, Ibu!" Cegah Sekar dengan suara yang sebenarnya penuh kemarahan.
"Alka nggak mau ikut Mommy Luna ke lual negeli Mama..."jujur Arka sambil menangis. Rupanya Luna rencana membawa kabur Arka ke luar negeri.
"Nggak sayang... kamu tidak akan kemana-mana," Sekar membawa Arka masuk tidak mau berbicara apa-apa lagi kepada Luna.
Dia membawa Arka ke kamar di ikuti Rini lalu mendudukkan di pinggir tempat tidur. "Sayang... Arka kan tidak mau ikut Mommy pergi, tapi bagaimana kalau Arka pergi sama Mama."
"Ikut..." jawab Arka.
Sekar mengangguk tidak bisa nenunggu lagi.
"Suster Sekar yakin mau pergi? Aku ikut ya," Rini tampak memelas.
"Maafkan aku Mbak. Sebaiknya Mbak Rini mencari pekerjaan yang lain saja," Sekar tidak bisa membayar gaji Rini.
"Tolonglah Sus, aku tidak digaji tidak apa-apa, izinkan aku tinggal bersama Suster, setidaknya untuk sementara waktu sebelum saya mendapat pekerjaan," Rini sudah tidak punya siapapun dan tempat tinggal. Jika Sekar boleh, ia ikhlas mengasuh Arka tanpa digaji.
"Baiklah," Sekar pun bekemas-kemas dibantu Rini, setelah rapi meninggalkan kamar.
"Mau kemana kalian?" Tanya seseorang ketika mereka tiba di ruang tamu.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....