Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Kalian mau kemana?" Tanya Ilham yang menggunakan kaos warna putih, celana training, dan sepatu olah raga dengan handuk yang masih menggantung di leher. Pria itu rupanya baru pulang olah raga, menatap Sekar yang menggendong Arka dan membawa koper, pikirannya tidak tenang. Dia khawatir Sekar ada masalah dengan Luna.
Melihat situasi tegang, Rini pamit Sekar hendak mengemas pakaian, begitu Sekar mengangguk, Rini meninggalkan tempat itu. Hanya tinggal Ilham yang masih berdiri mematung, Sekar dan Arka dalam gendongannya.
"Sayang... mau kemana?"
Tidak mendapatkan jawaban dari Sekar, Ilham bertanya kepada Arka yang masih mengantuk di dada Sekar.
"Alka mau pelgi sama Mama kecil saja, nggak mau ikut Mommy ke lual negeli," ujar Arka, merangkul erat tubuh Sekar.
"Apa maksudnya, Sekar? Kalian mau pergi ke mana?" panik Ilham ketika mendengar jawaban Arka.
"Saya sudah tidak bisa membiarkan Arka tinggal lebih lama di rumah ini, Dok," jawab Sekar lembut, tidak mau marah-marah di depan Arka.
"Kenapa Sekar, aku tidak ingin berpisah dengan Arka," Ilham mengusap kepala Arka, mana mungkin ia rela membiarkan putranya pergi.
"Saya sudah bertindak adil, Dok. Tetap tinggal di rumah ini walau pun harus merasakan sakit hati yang digoreskan istrimu. Semua ini saya lakukan hanya demi Arka, tetap mendapatkan kasih sayang kamu, tapi apa? Arka bukan mendapatkan kasih sayang justru ketidak adilan yang ia dapat. Saya tidak ingin Arka menderita, tidak ada jalan lain selain pergi. Untuk kamu, sebaliknya introspeksi diri, bagaimana rasanya kehilangan," Sekar masih juga berbicara lembut, tapi menghujam hati Ilham.
"Jangan begitu Sekar..." ucap Ilham, ia merasa jika Sekar akan membalas dendam kepadanya. Namun, ia tidak berkata keras lagi. Sikap pria itu kepada Sekar berubah 180 derajat.
"Saya tidak mau berpisah dengan Arka untuk yang kedua kalinya, Dok. Baru saja Luna hendak menculik Arka dan membawanya pergi keluar negeri," papar Sekar, segera mengangkat tasnya yang masih berada di depan pintu, menoleh Rini yang tidak juga muncul hendak menunggu di luar saja.
Ilham cepat-cepat mendekat dan menahan lengan Sekar. "Tunggu, Sekar! Jangan pergi. Aku yang akan bertanggung jawab bahwa Luna tidak akan bisa membawa Arka pergi dari rumah ini. Tetaplah di sini Sekar, demi Arka,"
"Tidak Dok, saya harus pergi. Sampai kapanpun Anda tidak akan bisa menasehati Luna. Saya perhatikan Dokter itu ternyata tipikal suami takut istri, sejak kapan?" Sekar tersenyum masam. Ia heran, kenapa sikap Ilham kepada Luna jauh berbeda ketika menjadi suaminya dulu? Jawabannya jelas, karena Luna seorang artis dan harus jaga image di depan publik demi menjaga pamor Luna di dunia keartisan.
"Sekar, bukan begitu..." Ilham berdecak prustasi.
"Saya sudah memberi kesempatan berkali-kali, tapi kamu selalu memilih diam dan hanya bilang akan bicara dengannya. Padahal Dokter tahu bukan, Arka yang harus menerima akibat dari perbuatan Luna!"
Sekar melepas lengannya yang ditahan Ilham. "Mama... Alka ngantuk," lirih Arka, karena jam lima pagi biasanya dia belum bangun.
"Iya, bobo sayang..." Sekar membungkuk membuka resleting tas ambil kain gendongan lalu melilitkan ke badan Arka nyambung ke badannya, hingga posisi anaknya itu nyaman.
Melihat hal itu, Ilham semakin tidak mau kehilangan ibu yang sangat sayang pada anaknya. "Sekar, hanya aku dan kamu yang bisa sayang pada Arka. Ayolah menikahlah denganku, jika kamu menikah dengan Rayyan, tidak akan mungkin bisa sayang seperti aku menyayangi anak kita," ucap Ilham membuat Sekar mengernyitkan kening.
Sekar menatap Ilham tersenyum miring, ada orang seperti Ilham. "Yang menilai diri kita baik atau tidak itu orang lain, Dok. Jika kita mengaku baik tapi di mata orang tidak sesuai mereka akan mentertawakan kita. Satu lagi, jangan pernah lagi berharap saya akan kembali, di saat Anda sendiri pun saya tidak mau, apa lagi ada Luna!" Sekar melengos lalu keluar dari pintu ketika Rini sudah tiba.
"Sekar, tunggu dulu. Kita bisa bicara dengan tenang, cari jalan keluar bersama. Arka butuh aku juga," ucap Ilham tidak mau menyerah, lagi-lagi menahan Sekar, tapi Sekar hanya menepis saja.
Melihat tekat Sekar yang sudah bulat, Ilham membolehkan Sekar membawa Arka pergi, tapi dengan syarat ingin mengantar ke tempat yang akan Sekar tuju.
"Tidak usah repot-repot Dokter Ilham, saya sudah memesan taksi!" jawab Sekar dengan tegas, akhirnya berhasil melepaskan diri. Dia berjalan cepat menuju pintu pagar, kakinya tidak lagi ragu untuk melangkah.
"Tunggu Sekar, sebaiknya kamu ke rumah kita yang dulu. Bibi masih bekerja di sana," Ilham ingin Sekar dan Arka tinggal di rumah yang nyaman. Dia tahu keberadaan mereka dan bisa memantau.
Namun, Sekar sudah tidak menjawab lagi. Ia masuk ke dalam taksi diikuti Rini. Drama pagi rupanya sangat panjang hingga matahari pagi sudah hampir terbit. Dia tidak melihat ke belakang lagi saat taksi berjalan meninggalkan pagar besi, dengan tekad baru untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Arka tanpa rasa takut disakit Luna dan kekerasan.
Ilham berdiri terpaku di depan pagar, menatap taksi yang akhirnya menjauh darinya. Sekar dan Arka akhirnya pergi entah akan kemana. Dengan perasaan menyesal yang mendalam, Ilham masuk ke dalam mobil miliknya.
Melihat bos akan pergi, supir yang baru saja tiba mengetuk kaca pintu mobil. "Biar saya yang membawa, Tuan."
Namun, Ilham kehilangan kiblat, ia tancap gas lalu mengejar taksi dengan kecepatan tinggi.
...~Bersambung~...
entah lah hanya emak yg tau.....