Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Jaring Pengkhianatan
Gua Laba-Laba menganga di sisi tebing seperti mulut raksasa yang gelap. Bau amis yang menusuk dan aroma pembusukan menyeruak dari dalam, membuat perut mual.
"Kau di depan," perintah Liu Mang sambil menendang punggung Li Wei. "Kalau ada jebakan jaring, tubuhmu cukup berguna untuk membersihkannya."
Zhang Hu tertawa, kapak besarnya disandarkan di bahu. "Jangan mati terlalu cepat, Nak. Setidaknya bertahanlah sampai kami menemukan sarang utamanya."
Li Wei tidak membantah. Ia berjalan masuk ke dalam kegelapan, tangannya memegang obor. Namun, di balik lengan bajunya, jari-jarinya sudah siap menggenggam gagang Pedang Baja Hitam.
Di dalam gua, suasananya aneh.
Sangat sepi.
Biasanya, gua laba-laba dipenuhi oleh Laba-Laba Pekerja (Lapis 1-2) yang merayap di dinding. Tapi mereka sudah berjalan seratus meter, dan tidak ada satu pun monster yang terlihat. Hanya jaring-jaring tebal setebal lengan manusia yang menggantung di langit-langit.
Giok Dao Abadi di dada Li Wei mulai berdenyut dengan ritme yang cepat dan menyakitkan.
[Bahaya Fluktuasi Qi Lapis 7.]
Mata Li Wei menyipit. Lapis 7? Informasi misi mengatakan maksimal Lapis 2!
"Berhenti," kata Li Wei tiba-tiba.
"Siapa yang menyuruhmu berhenti, sampah?" bentak Zhang Hu. "Maju!"
"Ada yang salah," kata Li Wei tenang, suaranya menggema di dinding gua. "Tidak ada laba-laba kecil. Ini berarti ada predator dominan yang memakan mereka semua, atau menakuti mereka."
Liu Mang mencibir. "Jangan sok tahu. Mungkin mereka sedang tidur. Cepat jalan atau aku potong telingamu!"
Namun, sebelum Li Wei sempat bergerak, tetesan cairan kental jatuh dari langit-langit gua, tepat di bahu baju zirah Zhang Hu.
Sssss...
Asap putih mengepul. Logam baju zirah itu meleleh dalam hitungan detik, menembus kulit.
"AAAARGH!" Zhang Hu menjerit, menepuk bahunya yang melepuh.
"Di atas!" teriak Li Wei sambil melompat mundur.
Dari kegelapan langit-langit gua, delapan mata merah menyala terbuka serentak.
Tubuh raksasa turun perlahan dengan benang sutra. Itu bukan laba-laba biasa. Ukurannya sebesar kereta kuda, dengan cangkang hitam mengkilap yang memiliki pola wajah hantu di punggungnya. Kakinya yang berbulu tajam seperti tombak.
Ratu Laba-Laba Wajah Hantu (Ghost-Face Spider Queen). Tingkat: Qi Condensation Lapis 7 Puncak.
Aura yang dipancarkannya membuat udara di dalam gua terasa berat.
Wajah Liu Mang pucat pasi. Kakinya gemetar. "L-Lapis 7? Mustahil! Laporan misi bilang ini misi Tingkat D!"
Ratu Laba-laba itu mendesis, suaranya melengking menusuk telinga. Ia tidak memberi waktu untuk berpikir. Ia melompat turun, mengincar Zhang Hu yang terluka.
"Sial! Lari!" Liu Mang berbalik hendak kabur.
Tapi kemudian, otak liciknya bekerja. Laba-laba itu lebih cepat dari mereka. Jika mereka lari bersamaan, mereka akan mati semua. Dia butuh pengalihan. Dia butuh umpan.
Mata Liu Mang tertuju pada Li Wei.
"Maafkan aku, Junior!" teriak Liu Mang.
Ia mengayunkan telapak tangannya, menembakkan gelombang angin pendorong ke punggung Li Wei. Tujuannya jelas Mendorong Li Wei ke arah mulut laba-laba agar dia dan Zhang Hu bisa kabur saat monster itu sibuk makan.
"Mati untuk kami!"
Li Wei tersenyum dingin. Dia sudah memprediksi ini sejak mereka melangkah masuk gua.
Saat dorongan angin itu datang, Li Wei tidak menahannya. Sebaliknya, ia menyalurkan Qi ke kakinya.
[Langkah Api Hantu: Fase Kedua - Jejak Asap!]
Tubuh Li Wei menjadi kabur. Alih-alih terdorong lurus ke arah monster, ia menggunakan momentum serangan Liu Mang untuk melakukan gerakan menyamping yang ekstrem, meluncur di dinding gua, dan mendarat di belakang Liu Mang.
"Apa?!" mata Liu Mang terbelalak. Targetnya hilang.
Sekarang, yang berdiri paling dekat dengan Ratu Laba-laba adalah... Liu Mang dan Zhang Hu.
Ratu Laba-laba itu, yang kehilangan target pertamanya, melihat dua daging gemuk di depannya. Ia menyemprotkan jaring putih lengket.
Plok!
Kaki Zhang Hu terjerat. Raksasa itu meraung, mencoba memotong jaring dengan kapaknya, tapi jaring Lapis 7 terlalu alot.
"Liu Mang! Bantu aku!" jerit Zhang Hu.
Liu Mang tidak menoleh. Ia lari sekuat tenaga ke arah pintu keluar. "Persetan denganmu! Tahan dia!"
Namun, di mulut gua yang sempit, sesosok bayangan berdiri menghalangi jalan.
Li Wei.
Dia berdiri santai, pedang hitamnya terhunus, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
"Minggir!" teriak Liu Mang panik. "Atau kubunuh kau!"
"Kau ingin membunuhku?" tanya Li Wei datar. "Bukankah tadi kau ingin aku jadi umpan? Sekarang gilaranmu."
Li Wei menendang sebuah batu besar di dinding gua, memicu runtuhan kecil yang menutup sebagian jalan keluar. Bukan menutup total, tapi cukup untuk memperlambat siapa pun yang ingin lewat.
Liu Mang terhenti. Di belakangnya, jeritan Zhang Hu berakhir dengan suara krek basah saat kepala raksasa itu digigit putus oleh Ratu Laba-laba.
Sekarang, monster itu menoleh ke arah Liu Mang.
"TIDAK! JANGAN!"
Liu Mang mengeluarkan semua jimat dan senjatanya, melemparkannya dengan putus asa. Ledakan api dan es menghantam cangkang laba-laba itu, tapi hanya meninggalkan goresan kecil.
Kaki tajam laba-laba itu menembus dada Liu Mang. Ia diangkat ke udara, meronta-ronta sebentar, lalu mati dengan mata melotot penuh penyesalan.
Dua senior yang berniat membunuh juniornya, kini tewas di tangan monster yang mereka remehkan.
Li Wei melihat pemandangan itu tanpa emosi.
"Karma," bisiknya.
Kini, Ratu Laba-laba menjatuhkan mayat Liu Mang dan menatap Li Wei.
"Kau kenyang?" tanya Li Wei sambil mengalirkan Qi Lapis 5 penuh ke pedangnya. Bilah pedang itu berdengung, diselimuti aura lima warna yang berputar. "Sekarang giliranku mengambil hadiahnya."
Ratu Laba-laba menerjang. Kecepatannya mengerikan.
Li Wei tidak mundur. Ia mengaktifkan Visi Giok.
Dunia melambat. Di mata Li Wei, tubuh monster itu transparan. Ia melihat aliran Qi di dalam tubuh laba-laba itu. Titik terlemahnya bukan di mata, tapi di sambungan halus antara kepala dan perutnya—titik simpul saraf.
Li Wei melesat maju, merunduk di bawah sabetan kaki tombak.
Wush!
Ia berguling di tanah, menggoreskan pedangnya ke lantai batu untuk menciptakan percikan api.
"Elemen Api: Tebasan Pembelah Sutra!"
Li Wei melompat vertikal, menusukkan pedangnya tepat ke titik simpul yang ia lihat.
CROT!
Pedang Baja Hitam menembus cangkang. Li Wei memutar gagangnya dan meledakkan Qi Api di dalam tubuh monster itu.
SKREEEE!
Ratu Laba-laba menjerit memilukan. Organ dalamnya terbakar dari dalam. Ia meronta, mencoba menusuk Li Wei, tapi Li Wei sudah melompat mundur, mendarat dengan anggun di atas batu.
Monster itu kejang-kejang, memuntahkan darah hijau, lalu ambruk. Mati.
Gua kembali sunyi.
Li Wei menghela napas panjang, menyeka keringat dingin. Pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh detik, tapi menghabiskan setengah Qi nya. Jika dia tidak punya Visi Giok untuk melihat titik lemah, dia pasti kalah dalam adu tenaga.
"Lapis 7 memang keras," gumamnya.
Pertama, ia mengambil Kantung Penyimpanan milik Liu Mang dan Zhang Hu.
"Uang suap dari Wang Jian, pil penyembuh, dan beberapa senjata. Lumayan. Anggap saja ganti rugi mental."
Kedua, ia membedah Ratu Laba-laba. Ia mengambil Inti Monster (Monster Core) yang berwarna ungu gelap barang langka yang sangat mahal dan kantung racunnya.
Terakhir, Li Wei melakukan sesuatu yang penting.
Ia mengambil cakar laba-laba itu dan menggores tubuhnya sendiri. Beberapa luka di lengan, robekan di baju. Ia membuatnya terlihat seperti ia baru saja lolos dari maut dengan susah payah.
Ia menatap mayat Liu Mang dan Zhang Hu.
"Laporan Misi Informasi intelijen salah. Muncul Monster Lapis 7. Dua Senior berkorban dengan gagah berani untuk menahan monster agar Junior bisa lari mencari bantuan. Sayangnya, mereka gugur. Junior berhasil membunuh monster yang terluka parah berkat keberuntungan."
Li Wei tersenyum tipis. Cerita yang sempurna. Sekte tidak akan peduli pada dua murid luar yang mati, apalagi jika ada hasil (bangkai monster) yang dibawa pulang.
Li Wei berjalan keluar gua, menyeret potongan kepala Ratu Laba-laba sebagai bukti. Cahaya matahari sore menyambutnya.
"Wang Jian," batin Li Wei. "Kau mengirim dua anjing, dan aku mengirim balik kabar kematian mereka. Aku ingin lihat wajahmu saat aku kembali hidup-hidup."