Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. LAPORAN
Langit sore tampak muram ketika Alaric duduk di balik meja kerjanya. Cahaya matahari yang menembus jendela tinggi hanya menyisakan garis-garis pucat di lantai marmer. Di ruangan itu, udara terasa berat, bukan karena cuaca, melainkan karena laporan yang kini terbentang di hadapannya.
Gideon berdiri di seberang meja, wajahnya serius, sikapnya tegak seperti biasa. Di tangannya ada setumpuk dokumen yang baru saja ia letakkan.
"Wilayah timur," ucap Gideon akhirnya. "Keadaan di sana jauh lebih buruk dari laporan resmi yang dikirim ke ibukota."
Alaric menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya bertaut di depan dada.
"Jelaskan," perintah Alaric.
Gideon menarik napas pendek. "Informan dari kelompokku mengatakan bahwa benar penguasa wilayah timur dan beberapa petinggi setempat terlibat aktivitas ilegal. Bukan hanya jual beli manusia ... tapi juga monster."
Alis Alaric terangkat tipis. "Jual beli Monster?"
"Benar. Mereka menangkap monster di perbatasan, menjualnya, atau memeliharanya sebagai peliharaan bagi bangsawan tertentu," lanjut Gideon dengan nada dingin. "Beberapa bahkan digunakan untuk arena gelap sebagai bahan taruhan."
Alaric mendecak pelan. "Bodoh."
Gideon terdiam sesaat, lalu mengangkat kepala. "Bodoh? Ah, benar. Mereka sepertinya menyepelekan betapa berbahayanya monster itu."
"Mereka terlalu bodoh, atau mungkin otak mereka sudah hilang," ulang Alaric, suaranya datar namun penuh kemarahan terpendam. "Pantas saja wilayah perbatasan sekarang hancur."
Kali ini Gideon benar-benar terkejut. "Hancur?"
Alaric mengangguk pelan. " Saat akh ke sana kemarin, benteng pertahanan di perbatasan telah disusupi monster. Para penjaga melarikan diri karena tidak sanggup melawan. Hanya beberapa yang masih bertahan."
Gideon mengernyit.
Alaric mencondongkan tubuh ke depan dan melanjutkan, "Salah satu penjaga yang selamat mengatakan bahwa mereka sudah berkali-kali meminta pasokan dan bantuan pada penguasa wilayah. Tapi tidak pernah datang. Bahkan ketika mereka meminta langsung, mereka justru diusir dengan cara yang tidak manusiawi."
Gideon mengepalkan tangan. "Gila. Itu sama saja wilayah timur mencari mati."
"Bukan hanya itu," lanjut Alaric sambil mengelus pelipisnya. "Monster di wilayah utara juga mulai bergerak brutal. Serangan mereka tidak acak. Ada pola. Aku baru saja mendapatkan kabarnya dari Colton pagi ini."
Gideon berpikir sejenak. "Kelompokku juga melaporkan hal aneh. Ada sekelompok orang berjubah terlihat di perbatasan. Bergerak malam hari. Tujuan mereka belum diketahui."
Alaric mengernyit. "Pemicu. Seseorang atau sesuatu sedang menggerakkan monster. Tapi pertanyaannya; siapa yang melakukannya?"
Keheningan jatuh di antara mereka.
"Aku harus bertemu Yang Mulia Kaisar," ucap Alaric akhirnya. "Ini sudah melampaui kewenangan satu wilayah."
"Aku akan mengirim orangku untuk menggali informasi lebih dalam," sahut Gideon tanpa ragu.
"Lakukan," perintah Alaric.
Sore mulai mendingin ketika Alaric meninggalkan ruang kerjanya. Luka di sisi perutnya masih terasa perih, tapi pikirannya kini lebih dipenuhi satu nama.
Liora.
Ia melangkah menuju kamar istrinya, berniat memastikan wanita itu benar-benar beristirahat seperti yang seharusnya. Namun kamar itu kosong.
"Di mana Duchess?" tanya Alaric pada pelayan yang lewat.
"Nyonya berada di ruang kerjanya tadi, Yang Mulia," jawab pelayan itu hormat.
Alaric mengernyit.
Bekerja? Bukankah sudah kukatakan untuk istirahat, batin Alaric.
Pria itu berbalik menuju ruang kerja Liora, namun kembali mendapati ruangan itu kosong, bahkan Sasa yang setia di sisi Liora pun tidak ada.
"Duchess pergi ke mana?" tanya Alaric pada pelayan yang sedang membersihkan koridor di depan ruang kerja Liora.
"Ke tempat para kesatria, Yang Mulia," jawab pelayan itu.
Alaric terdiam sesaat.
Lalu senyum sebal terbit di sudut bibirnya dan berucap, "Aku tidak tahu istriku senakal ini sampai mendatangi markas para serigala."
Alaric berbalik cepat, langkahnya panjang dan tegas menuju sisi lain kastil, ke lapangan latihan para kesatria Ravens.
Dan benar saja.
Di sana, di bawah langit senja, Liora berdiri di sisi lapangan, memegang beberapa lembar dokumen. Ia tengah berbincang dengan seorang pria tinggi berambut gelap, berseragam kesatria hitam, Sir Colton; pemimpin kesatria.
Alaric tidak membuang waktu.
Begitu sampai, ia langsung melingkarkan lengannya di pinggang Liora dari belakang, menarik tubuh istrinya mendekat.
"Akhirnya ketemu juga kau," ucap Alaric.
Liora terkejut.
Seluruh kesatria di lapangan, termasuk Colton, langsung menegakkan tubuh dan memberi hormat. "Yang Mulia Duke."
Alaric mengangkat sebelah tangannya ke arah Colton dan para kesatria sebagai jawaban sapaan mereka.
Liora menoleh cepat ke Alaric,"Kenapa kau ada di sini?"
Alaric menunduk, berbisik di telinganya, "Mencari istriku yang seharusnya istirahat tapi justru bersenang-senang dengan pria lain."
Liora merengut. "Apa maksudmu bersenang-senang? Aku sedang mengobrol dengan Sir Colton."
"Dan apa yang kukatakan soal tidak dekat-dekat dengan pria lain?" suara Alaric rendah, nyaris menggoda. "Haruskah aku menunjukkan betapa pencemburunya aku, huh?"
Liora menyikut perut suaminya itu. "Diam. Atau kau tidak boleh datang ke kamarku lagi. Kita sedang di depan publik."
Alaric terkekeh. "Lihat? Kau bahkan melarang suamimu sendiri."
"Kau menyebalkan," gerutu Liora.
"Aku tahu," ucap Alaric sambil mencium pucuk kepala Liora.
Para kesatria menundukkan pandangan dengan wajah salah tingkah. Beberapa pura-pura sibuk membersihkan pedang. Sir Colton berdeham ringan, begitu pula Sasa, salah satu kesatria wanita yang tampak merah padam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alaric akhirnya.
"Aku ingin menanyai soal kesatria wilayah utara," jawab Liora.
Alaric mengernyit. "Ada apa dengan wilayah utara?"
Liora mengangkat dokumen di tangannya. "Ada kejanggalan di laporan keuangan. Di sini tertulis pasokan lengkap. Tapi ada surat terpisah dari pemimpin kesatria wilayah utara, permintaan senjata dan armor baru sejak beberapa bulan lalu. Surat ini ditujukan langsung padamu tapi tercampur dengan surat laporanku."
Alaric menoleh ke surat di tangan Liora.
Liora menoleh ke Colton. "Aku ingin tahu kondisi terakhir peralatan dan pasokan dari laporan internal."
Alaric mengambil dokumen itu, membaca cepat. Wajahnya terlihat marah ketika selesai membaca, lalu meremas surat itu dengan wajah lebih gelap.
"Sepertinya ada tikus," kata Alaric dingin, "yang mulai berkeliaran di kediamanku di utara hanya karena aku terlalu lama di ibukota."
Sir Colton mengangguk. "Saya juga terkejut, Yang Mulia. Laporan resmi kemungkinan besar dipalsukan. Kita semua tahu betapa pentingnya pasokan dan juga persenjataan di wilayah utara yang dingin itu."
"Kalau begitu," ujar Alaric, "kita akan melakukan perjalanan ke utara untuk membereskannya."
"Akan saya siapkan segalanya," jawab Colton mantap.
Liora hanya terdiam, memerhatikan suaminya yang tampak serius dengan masalah ini.
Alaric menoleh padanya. "Terima kasih. Kau menemukannya lebih cepat dariku."
Liora mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Alaric menyadari satu hal dengan jelas; istrinya bukan hanya wanita yang ingin ia lindungi.
Liora adalah partner terbaik Alaric.
Sampai kabar yang akan datang nanti, harus membuat keduanya diuji dengan kesabaran dalam jarak yang akan memisahkan keduanya.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣