Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Lily Wood
Begitu bayangan itu mengangguk semu, sepasang tangan menarik Jemima ke dasar bumi kuat-kuat.
"Aaarrggghhhh!" Kertas tulisan tangan Lily masih dia genggam erat.
Jemima tahu dia akan kembali ke restoran dan benar saja, dia mendarat kasar di lantai ruang ganti karyawan yang terbuat dari vinyl.
"Aduuh!" Gadis itu mengaduh dan mengusap-usap tubuh bagian bawah belakang dan lengan atasnya.
Setelah rasa sakitnya berkurang, Jemima cepat-cepat memeriksa catatan kecil yang diberikan Lily dan catatan itu masih ada dalam genggaman tangannya.
"Ini bukan mimpi! Aku tidak gila! Aku bertemu ibuku!" desis Jemima seorang diri.
Setengah nyawa Jemima masih berada di dalam ruangan itu dan setengah nyawa sisanya lagi, berada di ruang ganti.
Dia terus melamun sambil melihat kertas lecak dengan tulisan acak-acakan di genggaman tangannya.
Sampai Ashley dan Kai menepuk pundak Jemima kencang.
"Hoi! Kau baik-baik saja, Jem? Kami pikir kau hanya tersisa tubuh saja," kata Ashley menyeringai.
Kai duduk di sisi Jemima dan mengusap punggungnya. "Kau benar-benar baik-baik saja, Jemi? Wajahmu pucat sekali."
Jemima memandang kedua temannya bergantian. Lalu, dia menyeringai dan memeluk mereka satu per satu.
Air matanya menetes dan wajah pucatnya kembali berwarna. "Aku bertemu ibuku."
"Di mana? Bukankah ibumu, ...?" Ashley tak melanjutkan pertanyaan karena Jemima sudah kembali memeluknya.
Jemima memperlihatkan kertas lecak yang sedari tadi dia genggam erat (sekarang sudah nyaris sobek). "Ibuku ada di ruangan itu!"
"Kau ingat sosok bayangan yang kau sebut hantu? Itu ibuku, Ashley! Dia Lily Wood, cucu nenek!" kata Jemima bersemangat.
Ashley terdiam dan Kai menegang.
“Apa kau yakin itu ibumu, Jem?” tanya Kai pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Jemima mengangguk lagi. "Aku yakin, dia ibuku!"
Sepanjang hari itu, Jemima bekerja seperti bayangan. Tangannya bergerak otomatis dengan cepat, senyumnya sumringah, dan tatapan matanya seolah memiliki kilatan cahaya.
Ada rasa rindu dan haru memenuhi Jemima sepanjang hari itu. Relung hatinya yang sedari dulu kosong, secara ajaib kini terisi penuh.
Malam itu juga, sesudah jam kerja usai, Jemima segera menuju rumah Catherine.
Wanita tua itu mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tegang sejak Jemima menyebut satu nama itu.
Walaupun baru saja kembali dari berobat, Catherine tetap mendengarkan cerita Jemima dengan baik.
“Lily,” ulang Catherine pelan, nyaris seperti bisikan. Tangannya yang keriput mengeratkan cangkir teh hangat di genggaman.
Ruangan itu sunyi cukup lama, sampai akhirnya Catherine menghela napas panjang dan memejamkan mata.
“Kau ingat permintaanku saat itu, kan? Tolong temukan Lily dan sahabatku. Kau telah menemukan keduanya dalam waktu singkat, Jemi," ucap Catherine pelan.
Dengan tangan sedikit gemetar, dia mengangkat cangkir dan menyesap teh chamomilenya. "Aku akan bercerita sedikit tentang Lily kita ini. Tidak apa-apa, kan?"
Jemima mengangguk. "Tidak masalah, Nek."
Catherine tersenyum kecil, tatapan matanya kosong menembus dinding ruang keluarga.
Ingatan wanita itu terlempar ke puluhan tahun silam.
Beberapa tahun lalu, Lily Wood dikenal sebagai gadis yang cantik di kantor tempatnya bekerja.
Dia selalu datang tepat waktu, berpakaian rapi, dan jarang berbicara kecuali jika memang perlu.
Leon memerhatikan sejak hari pertama Lily bekerja di sana. Tidak hanya Leon yang memerhatikan gadis itu sebenarnya.
Awalnya hanya sapaan ringan, lalu perhatian kecil yang terasa menghangatkan.
Namun, Lily menolak dengan sopan. Dia hanya tersenyum kaku, mundur satu langkah, dan menjaga jarak.
Semakin Lily menolak, Leon semakin agresif maju untuk mendekati Lily.
Pada suatu hari, mereka lembur. Seperti biasa, Leon mendekati Lily sambil bersiul. "Hei, maukah kau makan malam bersamaku nanti?"
Lily menggeleng. "Aku ingin segera pulang setelah ini, Tuan Shadow. Maafkan aku."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang," kata Leon pantang menyerah.
Namun, lagi-lagi Lily menggeleng. "Tidak perlu, Tuan Shadow. Temanku akan datang menjemput. Terima kasih atas tawaranmu."
Leon berdecih. "Cih! Aku tau siapa yang akan menjemputmu! Si Lopez itu, kan? Dia bukan temanmu, dia pesuruh keluargamu!"
"Jangan-jangan kau tertarik kepadanya?" tanya Leon dengan wajah mengejek.
Anehnya, wajah Lily memerah. "Tidak usah ikut campur, Tuan Shadow! Siapa yang kusukai atau tidak, itu bukan urusanmu!"
Lily berdirinya dan merapikan meja kerjanya. Dia benar-benar sudah kesal sekali kepada Leon.
Tetapi, Leon tidak beranjak dari sana. Dia terus memerhatikan wanita muda itu tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun.
Ketika Lily sudah selesai merapikan meja, dia meminta Leon untuk memberikan jalan. "Permisi, Tuan. Aku mau pulang."
"Bagaimana kalau aku tidak mau memberikan izin kau untuk pulang? Aku seniormu, Nona Wood," kata Leon menyebalkan.
Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Ruangan kantor itu sudah sepi dan hanya tersisa mereka berdua di sana.
"Ini sudah sangat malam dan nenekku sudah menunggu. Jadi, izinkan aku lewat," pinta Lily dengan sopan.
Namun, Leon hanya menyeringai lebar. Dia mengusap lengan Lily sambil menatap wanita muda itu. "Aku ingin bermain denganmu sebentar."
"Kau pulang denganku atau aku akan menahanmu semalaman di sini? Jawab dengan cepat!" kata Leon. Wajahnya menyeramkan dan tampak lapar. "Tik tok, tik tok, waktumu terus berjalan, Nona Wood Sayang."
Lily menelan salivanya kasar. "Kumohon, aku ingin pulang sendiri."
Leon tersenyum mengerikan. Senyum yang membuat perut Lily mengeras. “Jangan terlalu jual mahal, Nona Wood."
"Aku ingin tau seberapa cepat pangeranmu akan datang menyelematkanmu, hehehe." Leon mendorong Lily ke kursi kerja dan menindih tubuh mungil itu.
Lily tidak sanggup berteriak karena tangan Leon membungkam mulutnya dengan kencang.
Yang dia tahu, malam itu terasa menyakitkan. Luka yang Leon ciptakan, tidak pernah bisa membuatnya kembali menjadi seorang Lily Wood yang anggun dan terhormat.
Malam itu, Adrian Lopez menjemputnya. Pria tampan itu terkejut melihat pakaian Lily compang-camping dan wajah cantik itu dipenuhi air mata.
"Apa yang terjadi padamu, Lily?" tanya Adrian dengan mulut yang terasa pahit dan lidah kelu.
Tanpa perlu Lily menjawab, Adrian sudah mengetahui jawabannya saat melihat Leon keluar sambil tersenyum puas dan melambaikan tangan ke arahnya.
Laki-laki itu berteriak di tengah kegelapan malam dengan lantang. "Sebentar lagi, dia menjadi milikku, Lopez! Hahaha!"
"Tidak akan kuserahkan Lily kepadamu, Shadow! Tidak usah bermimpi! Aku yang akan mengambil tanggung jawabmu setelah ini!" kata Adrian bersumpah.
Kabar buruk itu pun datang menghampiri keluarga kecil Wood dalam waktu beberapa minggu.
"Siapa ayahnya?" tanya Catherine geram saat melihat dua garis merah di alat test kehamilan Lily.
Lily diam tak menjawab. Dia tahu neneknya yang keras dan tegas akan menikahkan dia dengan Leon.
Suara Catherine semakin meninggi. "Lily, jawab nenekmu! Dengan siapa kau melakukan ini?"
Air mata Lily sudah mengalir seperti anak sungai dan tepat saat itu, bel pintu kediaman Wood berbunyi.
Kepala pelayan membuka pintu itu dengan wajah pucat. Secercah senyum muncul di wajahnya saat melihat Adrian di depan pintu. "Nona sedang, ...."
"Aku tau. Boleh aku masuk, Bi?" tanya Adrian sopan.
Kepala pelayan itu mempersilakan Adrian masuk. Adrian pun segera menghampiri Catherine dan Lily.
Dia dapat mendengar suara Catherine dengan jelas. "Nyonya Wood, aku ayahnya!"
"Maaf, aku telah menodai cucu kesayanganmu. Aku akan berta-, ....."
Belum sempat Adrian menyelesaikan kalimatnya, tangan Catherine sudah mendarat di pipi pemuda itu.
"Berani-beraninya kau merusak cucuku yang berharga, Lopez! Kau hanya anak yatim piatu yang aku percaya untuk menjaga cucuku!" Tangis Catherine keluar seperti meraung.
Dunianya runtuh dalam hitungan jam. Dia jatuh bersimpuh di depan Lily dan menutupi wajahnya.
Sayangnya, kejutan pagi itu belum berakhir. Bel pintu kayu beraroma oak kembali berbunyi.
Kepala pelayan kembali berlari membukakan pintu dan seorang pria masuk dengan gaya pentantang petenteng serampangan.
"Wah, sepertinya aku ketinggalan kabar bahagia, ya," kata pria itu.
Lily dan Adrian menoleh dengan cepat ke arah suara itu. "Shadow?"
Adrian mencengkeram leher Leon Shadow dengan kencang. "Mau apa kau ke mari, Shadow? Kau tidak berhak menginjakkan kaki ke rumah ini! Keluar kau sekarang juga!"
Namun, Leon tersenyum ke arah Catherine. Dia menganggukan kepalanya, memberi salam. "Nyonya Wood, bagaimana kabar Anda? Sehat?"
"Siapa kau?" tanya Catherine. "Adrian, lepaskan dan kembali ke tempatmu!"
Adrian memandang Catherine tak percaya. "Ta-tapi, Nyonya, ...."
Adrian pun melepaskan cengkeramannya dan Leon tersenyum puas. Dia berjalan mendekati Lily dan mencium pucuk kepala wanita cantik itu.
"K-kau ayah dari, ... Benarkah?" tanya Catherine terkejut.
Leon mengangguk. Senyumnya menyebalkan sekali saat itu. "Ya, aku ayah bayi dalam perut wanita yang kucintai ini."
"Aku masih ingat betul bagaimana kami membuat buah hati kami tercinta. Malam itu, angin dingi-, ...."
"Stop! Kalian harus menikah secepat mungkin! Aku akan mengatur pernikahan kalian!" Catherine mengambil keputusan cepat.
Saat dia menyelesaikan kalimatnya, Lily dan Adrian berteriak putus asa.
"Nenek, aku tidak mau menikahi dia! Izinkan aku menjelaskan apa yang terjadi, Nek," tangis Lily.
Adrian pun ikut bersuara. "Nyonya, jangan lakukan itu! Jangan nikahkan mereka berdua!"
Namun, keputusan Catherine sudah bulat sempurna. Tak ada seorangpun yang dapat mencegah pernikahan itu.
Pernikahannya dengan Leon bagaikan neraka untuk Lily.
Leon bukan pria baik. Dia pria brengsek dan kejam yang pernah Lily kenal, bahkan dia melarang Catherine atau Adrian menemui Lily.
Saat itu, dia mulai mencari teman berbicara dan karena tidak ada seorang pun di sana, dia hanya sanggup memainkan kalung opal cantik yang selama ini dia pakai.
Sampai suatu hari, setelah Jemima Shadow lahir, kalung opal itu terasa sangat berat dan panas.
Kondisi fisik dan mental Lily seolah terkuras habis. Dia menjadi sangat kurus, pucat, tatapan matanya pun kosong.
Tangisan Jemima terkadang menjadi pemicu Lily untuk menggores pergelangan tangannya dengan cutter.
Lily melepaskan kalung Opal dan berbaring di samping kalung itu.
Dia kemudian memegang kalung itu dan sambil berbisik dia berkata, "Aku ingin pergi dan menghilang. Bisakah kau sembunyikan aku?"
Catherine menghela napas panjang dan mengakhiri ceritanya.
Setetes air matanya terjatuh di pangkuannya. "Sejak saat itu, kami tidak pernah melihat ibumu lagi, Jemi."
"Nek, boleh aku memeluk Nenek? Aku tidak tau bagaimana rasanya hatiku saat ini, tapi aku merasa sangat sesak dan berat," tanya Jemima dengan suara tercekat.
Catherine mengangguk dan memeluk cicitnya itu. Keduanya menangis dan tenggelam dalam lautan luka tanpa ujung.
Malam itu menjadi malam kelam untuk keduanya. Mereka seolah merasakan pahit dan sepi yang dirasakan oleh Lily Wood.
***