Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Aluna melangkah masuk dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke lantai marmer, menciptakan suara gedebuk-gedebuk yang cukup keras sebagai protes. Ia melewati ruang tengah yang sudah sepi, sepertinya Abbas dan Nada sudah masuk ke kamar untuk memberikan ruang bagi mereka.
"Lantai dua. Ujung kiri. Jangan salah masuk kamar orang tua gue kalau nggak mau makin malu," ucap Arlan datar tanpa menghentikan langkahnya menaiki tangga.
"Idih! Siapa juga yang mau masuk kamar orang?! Najis banget! Gue juga tahu mana pintu, nggak usah sok ngatur!" gerutu Aluna sambil mengekor di belakang Arlan dengan jarak sekitar tiga anak tangga jaga-jaga kalau si kulkas itu tiba-tiba mengeluarkan hawa dingin yang bisa membekukannya.
Sesampainya di depan pintu kamar berwarna abu-abu gelap dengan papan kecil bertuliskan 'ARLAN', Arlan membuka pintu tersebut. Aluna masuk dengan ragu, matanya langsung tertuju pada koper pink miliknya yang berdiri sangat kontras di pojok kamar yang serba rapi dan minimalis itu.
"Itu koper gue! Kenapa ditaruh di sini?! Idih, beneran sekamar sama lo!" Aluna langsung memeluk kopernya seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah laut.
Arlan menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang pelan tapi terasa seperti vonis penjara bagi Aluna. Ia melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja belajar.
"Gue nggak minat nyentuh koper lo. Bunda yang taruh di situ," Arlan berbalik, menatap Aluna yang masih berdiri kaku. "Ganti baju sana. Gue mau tidur, jangan berisik."
"Tidur?! Di mana?! Di kasur itu?!" Aluna menunjuk kasur king size di tengah ruangan. "Nggak! Nggak mau! ogah banget kalau gue harus tidur bareng lo!"
Arlan menghela napas panjang, menunjukkan kalau kesabarannya mulai menipis. "Kasur ini cukup buat dua orang. Lo di kiri, gue di kanan. Kalau lo berani lewat garis tengah, gue tendang lo ke lantai. Paham?"
Aluna melotot. "Gue nggak sudi! Pokoknya gue mau bikin pembatas!"
Dengan gerakan cepat, Aluna membuka kopernya. Bukannya mengambil baju tidur, ia malah mengeluarkan semua guling cadangan, bantal-bantal kecil, bahkan tas sekolahnya yang berat. Ia menyusun benda-benda itu di tengah kasur sampai membentuk benteng pembatas yang cukup tinggi.
"Nih! Ini Tembok Berlin versi Aluna! Lo dilarang lewat, dilarang liat, apalagi dilarang napas ke arah sini! Najis!" seru Aluna puas.
Arlan hanya melihat tingkah ajaib itu dengan dahi berkerut, lalu ia mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Seketika, sudut-sudut kamar yang luas itu menciptakan bayangan yang terlihat menyeramkan di mata Aluna.
Aluna tiba-tiba membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat satu hal ia paling benci kegelapan.
"K-kak... nyalain lampunya! Iih... jangan dimatiin!" suara Aluna mendadak menciut.
"Silau. Gue nggak bisa tidur kalau terang," sahut Arlan yang sudah merebahkan diri di sisi kanan.
"Ih tapi ini gelap banget! Nanti kalau ada monster gimana?! Nyalain nggak?! banget pelit banget sama lampu!" Aluna mulai merapat ke arah tembok gulingnya, mencari perlindungan.
Arlan menghela napas lagi, lalu tanpa berkata apa-apa, ia menyalakan lampu meja belajarnya sehingga kamar tidak terlalu gelap gulita. "Gitu aja. Tidur. Kalau lo masih berisik, gue matiin semuanya."
Aluna terdiam, ia langsung masuk ke balik selimut dan memeluk guling pembatasnya dengan sangat erat. Meskipun masih dongkol, setidaknya cahaya remang itu sedikit menenangkannya. Di malam pertamanya ini, Aluna sadar, hidupnya bener-bener sudah berubah total gara-gara si kulkas formalin ini.