Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Para Nelayan
Keesokan harinya, setelah menerima banyak hadiah atau bayaran dari obat penawar penyakit tersebut, rombongan desa Suning sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Awalnya Tuan Bupati datang untuk meminta mereka untuk tinggal beberapa hari lagi. Tapi Aruna menolak, mereka sudah terlalu lama menunda perjalanan, dan kemungkinan besar rombongan pengungsi yang ada di belakan akan tiba.
Aruna juga sudah melihat, bagaimana perubahan warga Kota Yinzi setelah meminum obatnya, semuanya mengalami perubahan, makanya dia ngotot untuk melanjutkan perjalanan, dia hanya meninggalkan resep ramuan untuk pemulihan.
"Baiklah, kalian tetap harus berhati-hati!" Ucap Tuan Bupati dengan perasaan enggan. Dia masih sangat was-was dengan kondisi warganya, tapi dia juga tidak ingin memaksa Aruna untuk tetap tinggal.
Setelah kepala Desa mengucapkan perpisahan, Rombongan Desa Suning akhirnya melanjutkan perjalanan, yang disusul kereta Tuan Bupati dari belakang. Kali ini semua orang menggunakan kereta kuda yang diberikan oleh bupati. Total kereta ada 15 dan tiga ekor koda tanpa gerbong, yang tunggangi oleh Aruna, Ozian dan Ji Yong.
Banyak Warga yang mengantar kepergian mereka, termasuk bocah yang pertama kali Aruna temui, dia sudah menunggu di pintu gerbang, setelah melihat rombongan Desa Suning dia langsung beranjak dan melambaikan tangannya.
"Kak Aruna terma kasiiiiih...." Dia berteriak dengan keras, tapi suaranya tenggelam dengan kebisingan tapak kuda dan gerbong kereta.
"Kak Aruna sampai jumpaaaa..!"
"Kak Arunaaaa..!" suaranya serak karena berteriak, tapi nadanya terdengar sedih. Entah kapan dia bisa bertemu dengan dermawannya.
Aruna yang memiliki insting yang tajam segera mencari sumber suara. Dan akhirnya dia meliha bocah itu di atas batu yang tinggi, di belakang pintu gerbang. Jika dia tidak memanjat batu, dia akan tenggelam diantara banyaknya orang.
Aruna tersenyum dan melambaikan tangannya. "Ye Baosi!" Aruna menyebut tanpa bersuara, dia juga sudah memberi banyak bantuan kepada bocat tersebut.
Ye Baosi adalah namanya, melihat gerakan mulut Aruna tangis yang dia tahan-tahan akhirnya pecah. Tidak ingin dilihat Aruna dalan keadaan seperti itu, akhirnya dia berlari pulang.
****
Dua minggu berlalu, rombongan Desa Suning kembali melewati satu Kota dan beberapa Desa. Perjalanan sangat lancar tanpa hambatan, di kota itu mereka tidak bertemu dengan pengungsi mungkin mereka sudah berjalan jauh, apalagi mereka tertahan selama lima hari di kota sebelumnya.
Dan selama perjalanan, mereka tidak lagi melihat bangkai manusia, itu berarti wabah tersebut tidak menular ke Kota lainnya. Tapi dia merasa bukan tidak ada bangkai di jalan, tapi ada seseorang yang sudah mengurus bangkai tersebut, ternyata masih ada yang berhati baik.
Desa yang mereka jumpai saat ini terlihat sedikit makmur, mereka hidup dengan baik. Dari penjelasan Kepala Desa, Desa mereka tidak jauh dari laut, jadi sebagian penghasilan mereka berasal dari tangkapan laut.
Karena Aruna ingin membeli banyak hasil laut, mereka melewati jalan yang berbeda. Di pinggir laut ada banyak nelayan yang baru berlabu, ada banyak hasil tangkapan walau mereka hanya menggunakan perahu kecil.
Saat tiba, ada dermaga kecil yang di gunakan para nelayan untuk memilah hasil laut mereka. Aruna meminta mereka berhenti dari jarak lumayan jauh, dan meminta memasang tenda karena mereka akan menginap di situ, betapa bahagianya nge camp di pinggir pantai.
"Eh Nona, kenapa Anda di sini?" tanya seorang Nelayan dengan bingung. Dermaga sangat jauh dari kota, kenapa ada gadis Kota di sini? Apakah dia tersesat?
Aruna menyapa sambil tersenyum, "Salam Paman, saya dengar dari Desa ada dermaga dekat sini, jadi kami sengaja datang untuk melihat, sekalian untuk membeli sebagai perbekalan kami selama perjalanan.
Mendengar penjelasan Aruna, para Nelayan langsung mengerti. Mereka tidak lagi asing mendengar tentang perbekalan, karena hampir semua orang yang lewat pasti akan mengatakan hal yang sama. Apalagi saat ini ada banyak pengungsi yang lewat, mereka datang ke laut dan mencari kerang yang ada di pinggiran, dan membeli hasil laut sebagai perbekalan mereka untuk beberapa hari.
"Oh ternyata Nona ingin beli hasil laut, kalau begitu silahkan lihat ada banyak tangkapan kami." pinta Nelayan yang pertama menyambut Aruna.
"Baik Paman.!" Balas Aruna dengan raut bahagia, dia sudah melihat banyak seafood yang masih hidup, dia langsung menelan ludah saat membayangkan malam ini makanan mereka akhirnya berbeda dari sebelumnya.
"Yaa, tapi setelah membelinya, Nona segera pergi dari sini. Jangan mendirikan tenda di pinggir pantai!" jelasnya sambil melirik rombong Desa Suning yang sedang memasang tenda.
Aruna heran, tapi kemudian langsung sadar di tempat ini ada yang tidak beresa. "Paman, apakah ada masalah?"
Nelayan itu tidak ingin menyembunyikannya, mau bagaimanapun Aruna dan rombongannya hanya sekedar mampir untuk berteduh, "Nona, setiap malam ada bandit laut yang akan datang dengan perahu besarnya. Mereka tidak membunuh kami, tapi mereka meminta hasil tangkapan kami di bagi dua, jika kami terbunuh mereka yang akan rugi. Dan para bandit itu hanya akan membunuh orang-orang yang tidak ingin membagi hasil tangkapannya!"
Aruna tersentak, ternyata dari zaman dulu sudah ada namanya bajak laut. "Terus bagaimana dengan kami yang hanya lewat?" tanya Aruna.
"Hmm, namanya juga bandit, pasti selalu berbuat jahat. Beberapa hari yang lalu, ada rombongan pengungsi yang nekat untuk menginap di pinggir pantai, padahal kami sudah memperingatkan mereka."
"Apakah bandit itu membunuh orang?"
Nelayan itu menggeleng, "Tidak, mereka hanya menculik pria muda yang bertubuh besar dan sehat!" jawabnya sambil menghela nafas berat.
Meski anak muda yang diculik itu bukan anak mereka, mereka tetap bersedih. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka juga takut untuk melawan, mereka hanya berusaha untuk mengingatkan untuk tidak menginap di pinggir pantai, tapi mereka malah tidak percaya, bahkan berkata kasar kepada Nelayan.
Katanya, para Nelayan itu tidak punya hati. Ingin menguasai hasil laut itu sendiri, padahal mereka hanya memgambil kerang yang di pinggir saja. Para Nelayan tidak marah, karena itu sudah hal biasa terjadi.
Aruna makin merasa ada yang tidak beres, hanya menculik para lelaki, dan sebelumnya bandit yang ada di gunung hanya menculik para gadis, apakah mereka satu kelompok dan membagi tugas?
"Paman terima kasih atas informasinya. Tapi kami akan tetap menginap, jika para bandit itu datang, kami akan melawannya."
Para Nelayan tidak terkejut lagi dengan jawaban Aruna, karena hampir jawaban mereka sama semua jika diperingatkan.
"Baiklah, kami tidak memaksa. Hmm,, kalau boleh tau apakah Nona sudah memilih ingin membeli apa? Harganya tentu lebih murah daripada yang ada di pasar kota"
Ada banyak jenis ikan, harganya mulai dari ~
Ikan : 20 - 50 koin tembaga per kg nya
Kepiting. : 100 - 150 koin
Udang : 100 - 200 koin
Cumi-cumi : 50 - 150 koin
Aruna melirik udang yang ada di tong kayu, ternyata harga 200 koin tembaga ternyata bukan udang kecil, tapi lobster yang lumyan besar. Menurutnya harga itu sangat murah, belum lagi mereka hanya menggunakan perahu kecil, dan hasil tangkapan harus dibagi dua, sungguh sia-sia.
"Paman, aku ingin membeli semuanya. Silahkan hitung berapa totalnya! Jangan sampai ada yang tertinggal!" Kata Aruna dengan santai.
Tapi ucapan santainya itu malah membuat para Nelayan terkejut. Bukan tidak senang Karena hasil tangkapan mereka langsung diborong, tapi Aruna sedang dalan perjalanan untuk mengungsi, bukankah ikan-ikan itu akan mati dan membusuk.
"Kalau boleh tau, bagaimana cara Anda membawa dan menyimpannya? Apakah Nona memiliki batu pendingin?" Batu itu ada macam bentuk, barang yang sangat langkah, karena batu tersebut diambil langsung di puncang gunung es.
Dahulu kala, ada seseorang yang berhasil selamat dari puncak gunung tersebut dan tanpa sengaja membawa sebuah batu berukuran bola kasti. Awalnya dia hanya ingin menyimpan sebagian hiasan di dalam ruang kerjanya karena bentuk bagian dalamnya sangat unik, seolah-olah ada salju di dalam batu tersebut.
Orang tersebut baru menyadari ada yang aneh setelah beberapa hari, ruang kerjanya terasa sejuk, meski cuaca sangat panas. Setelah ditelusuri, ternyata batu itulah penyebabnya.
Berita itu langsung tersebar luas, sehingga banyak yang berbondong-bondong untuk naik kepuncak gunung es. Hasilnya hanya beberapa orang yang berhasil, karena untuk untuk naik gunung bukan hal yang mudah, belum lagi ada banyak bintang buas yang menjaga puncak tersebut.
Orang yang berhasil mendapatkan batu tersebut, langsung menjualnya dengan harga yang mahal. Namun, ada banyak korban kerena ke serakahan mereka sendiri. Sehingga Kaisar saat itu mengeluarkan Dekrit : Hanya orang-orang yang memiliki tenaga dalam yang diperbolehkan naik kepuncak gunung es. Bagi yang melanggar akan dihukum penjara selama 10 tahun.
Aruna tidak tau sama sekali tentang batu pendingin, tapi itu pasti sesuatu barang yang bisa mengawetkan makanan laut. "Ya, aku memilikinya!" jawabnya dengan sedikit berbohong, dia tidak punya batu pendingin, tapi dia punya yang berbentuk lemari.
Para Nelayan tidak bertanya lagi, mereka hanya sedikit iri, seandainya mereka juga memiliki batu pendingin mereka tidak perlu takut lagi jika hasil laut mereka akan membusuk.
Para Nelayan akhirnya menghitung semua hasil tangkapan mereka, ada sekita 10 tong kayu yang berukuran besar, awalnya mereka menghitung lima tong saja, karena sisanya akan diberikan kepada bandit laut.
Namun, Aruna meminta menghitung semuanya. Masalah para bandit itu akan menjadi urusannya, setelah rapat kecil akhirnya mereka menjual semuanya. Entah kenapa mereka memiliki sedikit harapan kepada Aruna, mereka sudah lelah dengan para bandit yang meresahkan. Jika mereka memberi laporan ke pemerintah mereka hanya mengatakan untuk melakukan apa yang para bandit inginkan.
Setelah menghitung semua dan hasilnya :
Ikan ada 5 tong dengan 70 kg, kepiting 30 kg, cumi 28 kg, udang 32 kg. Aruna meminta mereka untuk menghitung dengan jumlah yang paling berat, seperti ikan 50 koin per kg nya. Setelah dijumlah totalnya - 18 tael 600 koin tembaga.
Iklan : 3 tael 500 koin tembaga
Kepiting : 4 tael 500 koin tembaga
Udang : 6 tael 400 koin tembaga
Cumi. : 4 tael 200 koin tembaga
Setelah menerima uang itu, para Nelayan sangat gembira, mereka mengucapkan terima kasih banyak dengan Aruna, belum lagi Aruna membulatkan jadi 20 tael, jumlah uang yang sangat banyak. Selama ini, mereka hanya mendapat 5 tael dari pengepul yang ada di pasar. Lima tael itu harus di bagi lagi untuk lima orang.
"Apakah malam ini ada Nelayan yang akan balik?" tanya Aruna, mumpung dirinya berada di dermaga, dia ingin membeli jumlah besar.
"Tidak, biasanya mereka akan balik sekitar pukul 4 pagi dan tiba di dermaga setelah matahari terbit!" jelasnya.
"Oh baiklah Paman, aku akan menunggu mereka besok pagi." Rombongan Desa Suning akan menginap selama 2 malam.
Sebelum pergi, para Nelayan kembali mengingatkan Aruna untuk tetap berhati-hati, apalagi Aruna gadis yang sangat cantik, sangat mustahil para bandit itu tidak tergoda. Sebelumnya dua dari mereka akan tinggal menjaga hasil tangkapan sampai para bandit datang, tapi karena sudah habis terjual mereka tidak perlu tinggal lagi.
***
Malam harinya, Akhirnya Aruna menikmati makan malamnya dengan berbagai macam seafood, semua seafood di masak sekaligus di tambah beberapa sayuran. Mereka makan sambil bercanda gurau dan menikmati angin malam dari pantai.
Aruna menghela nafas lega melihat mereka semua baik-baik saja, dia cuman sedikit khawatir, jangan sampai ada di antara mereka yang alergi. Setelah memastikan mereka baik-baik saja, Aruna akhirnya menceritakan apa yang dikatakan para Pelayan kepadanya.
Jadi Aruna meminta orang-orang yang ingin maju untuk melihat perkembangan bela diri mereka selama latihan.
Ozian langsung berdiri tanpa mengatakan apapun, dia merasa kekuatannya makin meningkat semenjak meminum beberapa pil pemberian Aruna, begitupun dengan yang lainnya.
Sekitar sepuluh orang yang maju untuk melawan termasuk Aruna, tapi dia hanya akan maju jika yang lainnya tidak mampu melawan para bandit.
Sekitar pukul 1 malam, akhirnya para bandit yang mereka tunggu datang juga. Terlihat dua kapal berlabu di dermaga. Awalnya hanya ada dua orang yang turun untuk langsung mengangkat jatah mereka, tapi keduanya tidak melihat para Nelayan yang menunggu seperti sebelumnya, bahkan tong-tong yang berjejer semuanya kosong.
Merasa ada yang janggal, dua orang itu meminta semua kawannya untuk turun dari kapal, mereka semua berjumpah 15 orang.
"Sungguh berani, apa mereka tidak sayang nyawa lagi?" Sosok pria yang berbadan tinggi besar meraung dengan marah. "Apa kalian sudah periksa dengan baik?"
"Ketua, kami sudah periksa semuanya! Memang tidak ada Nelayan yang menunggu, atau jangan-jangan mereka belum balik!"
"Hmm, tidak pernah terjadi seperti itu, ada banyak Nelayan di sini, dan biasanya mereka bergiliran untuk memberi jatah. Kemungkinan ada sesuatu yang terjadi!" tebaknya dengan berpikir logis.
Semunya terdiam dan mengangguk, seseorang diantara mereka tanpa sengaja melirik jauh ke pinggir pantai, dia terkejut "Ketua, lihat! Di sana ada mendirikan tenda lagi"
Sang Ketua juga melihatnya, memang jika tidak diperhatikan dengan baik, mereka tidak bisa melihatnya, karena rombongan Desa Suning memasang tenda di tikungan jalan. dan api yang mereka lihat juga terlihat sudah hampir padam.
"Hahaha,, tidak masalah, kita tidak dapat tangkapan laut tapi malam ini kita mendapat tangkapan lain. Baiklah, untuk malam ini aku akan memaafkan para nelayan itu, tapi tidak untuk lain kali, hmm.." ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Ketua kita memang sangat beruntung.."
"Ya ya,, Baru beberapa hari yang lalu kita mendapat tangkapan, dan sekarang kita mendapatkannya lagi. Bukankah itu keberuntungan yang luar biasa?"
"Benar, Ketua kita memang yang paling beruntung"
Sang ketua langsung berdiri tegak membusungkan dada menerima semua pujian dari anak buahnya. "Hmm,, mari pergi lihat.!"
Akhirnya mereka menuju ke arah tenda penginapan rombongan Desa Suning. Sang Ketua berjalan di tengah-tengah, lima orang di depan dan yang lainnya berada di belakang sang Ketua.
Makin dekat ke tenda, sang Ketua merasa ada yang tidak beres, biasanya jika ada yang menginap dan mendirikan tenda pasti ada di antara mereka untuk berjaga malam, tapi yang dilihat sekarang tidak ada seorangpun yang berjaga terlihat sunyi dan sepi.
Sang Ketua meminta mereka untuk tidak langsung menerobos masuk. meskipun para anak buah bingung dengan tingkah sang Ketua, mereka tetap patuh sambil memperhatikan area sekitar, tak lama mereka mendengar suara ketawa dari arah belakang tenda, mereka pun menuju ke sana.
Para bandit berhenti tepat 5 meter dari Aruna dengan kawan-kawan sang ketua sangat gembira melihat 10 orang remaja cantik dan tampan, sehat dan kuat. Mereka semua adalah target mereka selama ini.
Meski selama ini mereka tidak pernah menculik para gadis karena itu adalah kesepakatan, tapi tidak untuk kali ini, gadis-gadis yang ada di depan mereka ini benar-benar sangat cantik jika dia melanggar aturan mungkin bos besar tidak akan memberinya hukuman. Begitulah yang ada di pikiran sang ketua.
"Siapa kalian?" tanya Ozian dengan dingin.
"Waaow,, benar-benar tubuh idaman!" ucap sang Ketua dengan kagum saat melihat postur tubuh Ozian yang sudah berdiri!"
"Ya Ketua, kali ini tangkapan kita benar-benar luar biasa!"
"Hahaha hahah" para bandit itu tertawa dengan tertawa terbahak-bahak tidak peduli dengan pertanyaan Ozian.
Aruna memicingkan matanya saat mendengar bandit itu memuji tubuh Ozian. apakah para pria yang mereka tangkap dijadikan pemuas nafsu pada kaum pelangi? dengan pikiran liarnya itu tiba-tiba Aruna merasa merinding sekujur tubuhnya.
lanjut thorr💪💪💪