Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
***
Rindu hanya tidak mau egois. Ardian terlalu baik untuk menerima dirinya yang tidak sempurna.
Bukankah egois jika membuat Ardian tetap disisinya. Sedangkan diluar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik darinya. Lebih sempurna dari dirinya.
Tanpa berkata apapun lagi, Rindu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ardian pun melajukan lagi mobilnya. Emosinya harus bisa terkendali saat ini. Suasana di mobil itu akhirnya hening cukup lama. Ardian merasa frustasi, haruskah dia membicarakan tentang sesuatu.
Setelah menghela napasnya, Ardian membuka suara. "Rin …."
"Emm?"
"Kamu ingat bagaimana pertama kali kita bertemu?"
Mood Rindu yang tadinya turun, terlihat tertarik. Dia pun mulai mengingat. "Tentu, bagaimana aku bisa lupa?" Kekeh Rindu akhirnya. Kesan pertama itu tidak akan mudah dia lupakan.
"Cewek galak!"
"Dodol resek!"
Mereka saling mengejek dan tertawa pada akhirnya.
***
Zaman putih abu-abu Ardian dan Rindu.
"Astagaaa ... Rindu! Belum bangun juga, ini hari pertama sekolah, kamu masih molor!" Mama menarik selimut Rindu paksa dan menjentikkan air yang dibawanya dari kamar mandi.
"Aaaa ... Aah! Mama, basah nihh!" Rindu tersentak terpaksa bangun dari tidurnya. Dia berusaha duduk dan mengusap mata agar segera terbuka. Sesekali dia menguap menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayutinya.
"Sana mandi cepat, lihat tuh jam."
Rindu ikut melihat arah telunjuk mama dan melotot. Masih setengah sadar Rindu berlari ke kamar mandi. Tubuhnya oleng hampir menabrak lemari pajangan.
"Hati-hati …! Ya ampun anak ini, makanya kalau tidur jangan malam-malam."
"Aaaa … Mama handuknya kelupaan!"
Mama menepuk jidatnya, ada-ada saja kelakuan anak gadisnya setiap bangun tidur. Mama menggeleng lalu mengambilkan handuk baru yang berukuran besar dari lemari.
Pukul 7.30, Rindu bergegas menuruni angkot, berusaha mempercepat pergerakan yang sebenarnya memang sudah terlambat. Senin pertama dia sebagai murid 'SMA KASIH BANGSA'. Hari ini upacara bendera pertama, Rindu terlalu bersemangat karena telah duduk di bangku SMA sekarang. Semalam dia sampai tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk mulai bersekolah. Hingga akhirnya Rindu tidur kemalaman dan terlambat bangun pagi ini.
Rindu berlari ke arah pagar yang hampir menutup. Beberapa siswa yang juga terlambat berhasil masuk di detik-detik terakhir. Rindu berlari secepat mungkin, namun naas, aksinya itu sia-sia. Pagar itu telah tertutup kurang lima langkah lagi darinya. Bapak Satpam tersenyum melambai ke arahnya, senyum kemenangan berhasil membuatnya harus dihukum setelah ini.
"Pak Gatot nyebelin!" rutuknya dalam hati.
Rindu tidak sempat menghentikan langkahnya hingga akhirnya menabrak pagar besi itu.
"Aauuu … ssttt." Rindu meringis sesaat. "Pak, Pak Gatot Ganteng, tolong buka pagarnya, please!" Rindu menyatukan kedua telapak tangannya. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Sedetik kemudian tiba-tiba bahu kanannya di senggol seseorang. "Aauuu ... siapa sih?" Rindu menoleh ke arah orang yang menabraknya barusan.
Siswa laki-laki yang sedang mengatur nafasnya sembari memegangi lutut dan dadanya. "Maaf, Huufftt."
Rindu mengelus pundak yang sedikit merasa nyeri. Lelaki itu telah berdiri tegak dan ikut mengelus pundak Rindu tiba-tiba. Secepat kilat gadis itu menepis tangan orang yang menyentuhnya.
"Iiiiihhhh ... apaan sih! Pegang-pegang sembarangan!"
"I–itu bahu kamu gak apa-apa, maaf aku nggak sengaja."
"Gak apa-apa!" jawab Rindu ketus lalu kembali memohon ke Pak Satpam di seberang pagar. "Pak … tolong buka pagarnya ...." Rindu merengek.
Namun, Pak Gatot menggeleng dan menunjuk ke arah guru yang berdiri tidak jauh dari pagar sambil melipat tangan di dada. Pak Darma—guru BK tersadis sepanjang sejarah SMA itu didirikan. Murid-murid menjulukinya Pak Raden karena kumisnya yang tebal dan panjang mirip Pak Raden. Tampangnya juga sanggar selalu di takuti para siswa. Hobinya menonton drama seperti ini setiap Senin pagi.
"Matilah, itu pasti guru BK, sial banget sih aku pagi ini. Udah telat, bahu aku ditabrak lagi, sekarang terpaksa harus dihukum guru BK," batin Rindu, wajahnya mendadak pucat. Tanpa sadar, dia diperhatikan anak laki-laki di sampingnya.
"Hehe ... mukanya lucu banget," pikir cowok itu.
"Udah telat juga ... ngapain dipikirin, tenang aja aku bakal temani kamu kok," ucap si cowok membuyarkan lamunan Rindu.
"Apaan! Siapa juga yang sudi!"
"Cantik-cantik galak!"
"Suka-suka aku, sana-sana jangan dekat-dekat!" Rindu mengibaskan tangannya menyuruh menjauh.
Bukannya mundur, si pria malah tersenyum aneh, semakin membuat Rindu kesal. "Apaan sih ni cowok, senyum-senyum." Gumam Rindu dalam hati.
"Sepertinya asyik nih, cewek galak yang unik. Boleh juga kalau temenan, nyenengin pasti. Kelihatannya sama-sama anak baru juga, di kelas mana anak ini?" batin siswa laki-laki itu.
Lima menit kemudian mereka dibiarkan masuk bersama beberapa murid lain yang terlambat. Mereka digiring untuk ikut upacara, namun disuruh berdiri paling belakang. Setelah upacara selesai, mereka dijemur selama lima belas menit sambil hormat di hadapan bendera. Lalu mereka disuruh datang ke ruang BK untuk diberi pengarahan.
Pak Darma menyerahkan buku keterlambatan siswa pada salah satu anak. Setelah itu mereka diminta menulis dua puluh lima baris kalimat 'SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TERLAMBAT LAGI' di selembar kertas A4. Kelima anak yang terlambat itu mengisi nama dan kelas masing-masing di buku keterlambatan. Sekilas Rindu melirik pada laki-laki yang menabraknya di depan pagar sedang mengintip tulisannya.
"Apaan sih pake ngintip segala. Mau tau nama aku ya, ajak kenalan dong harusnya!" batin rindu seraya memelototinya. Lalu dia melirik sekilas ke barisan kedua catatan itu. "Ardian putra Moriz, kelas 1-3, awas aku tandai kamu."
"Rindu Pramita, kelas 1-5 ... emm, nama yang cantik, kelasnya juga dekat, baguslah," batin Ardian, dia tersenyum senang setelah berhasil melihat data gadis itu.
"Eerrrmm ... hukuman kalian cukup sampai disini, segera selesaikan apa yang bapak minta. Letakkan saja di atas meja. Lain kali bapak akan menyuruh kalian membersihkan WC jika terlambat lagi."
Semua anak-anak tertunduk mendengar pak Darma memperingatkan mereka.
"Kamu!" Pak Darma menunjuk pada Rindu, sontak membuatnya terkejut. "Saya percayakan sama kamu, jika ada yang tidak mengerjakan kamu harus bertanggung jawab, mengerti!"
"Ba–baik, Pak," jawab Rindu terbata-bata. Lalu Pak Darma menyerahkan kunci ke tangannya. "Waduh, awas aja anak-anak ini kalau buat masalah, aku gak mau di semprot Pak Darma," batin Rindu.
"Semua mengerti!" kata pak Darma tegas.
"Mengerti, Pak!" jawab mereka bersamaan.
"Baiklah saya mau ke kelas dulu."
Setelah pak Darma pergi, anak-anak segera mengambil posisi ternyaman mereka. Dengan duduk di lantai, berjongkok, bahkan ada yang berani duduk di kursi bapak BK yang galak itu. Rindu lebih memilih menulis di luar bersama seorang siswa perempuan yang juga terlambat. Setelah selesai mereka masuk ke kelas masing-masing. Sebelum itu, Rindu memastikan semua kertas telah terkumpul dan menutup pintu ruang BK itu lalu menguncinya. Rindu menyerahkan kunci itu ke salah seorang guru, karena dia tidak tahu Pak Darma ada di kelas mana.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..