Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Psikologis
Aku tidak tau berapa lama aku duduk di lantai ruang makan yang hancur itu.
Mungkin sejam. Mungkin dua. Mungkin lebih.
Waktu terasa tidak bergerak. Atau mungkin aku yang berhenti merasakan waktu.
Yang kurasakan cuma dingin. Dingin dari lantai marmer yang meresap ke tulang. Dingin dari dalam diri yang membuat aku mati rasa.
Pecah an kaca masih berserakan. Ada yang menancap di telapak tanganku tapi aku tidak merasakannya. Atau mungkin aku merasakan tapi tidak peduli lagi.
Sampai pintu terbuka.
Leonardo mask. Dia sudah ganti baju. Kemeja hitam rapi. Celana bahan abu gelap. Rambut disisir rapih lagi. Seperti amarahnya tadi tidak pernah terjadi.
Tapi matanya... matanya masih dingin.
Dia berjalan mendekatiku. Berhenti tepat di depanku yang masih duduk meringkuk di lantai.
"Berdiri," perintahnya dengan nada datar.
Aku tidak bergerak. Tidak punya tenaga. Tidak punya keinginan.
"Nadira. Berdiri."
Kali ini nadanya lebih keras.
Aku mencoba berdiri dengan kaki gemetar. Hampir jatuh lagi tapi tangannya menangkap lenganku. Menarikku berdiri dengan paksa.
"Ikut aku," ucapnya sambil menyeretku keluar dari ruang makan.
Aku terpaksa mengikuti dengan kaki yang terasa berat seperti timah. Kami naik tangga. Tapi bukan ke kamarku. Kami masuk ke ruang kerjanya.
Ruangan besar dengan meja kayu solid di tengah. Rak buku di dinding. Komputer besar di atas meja. Dan layar televisi besar di dinding.
Andrey sudah ada di sana. Berdiri di samping komputer dengan kabel di tangannya. Menghubungkan sesuatu ke layar televisi.
Leonardo mendorongku duduk di sofa kulit hitam yang menghadap ke layar.
"Aku mau tunjukkan sesuatu padamu," ucapnya sambil berdiri di sampingku. "Sesuatu yang seharusnya membuat kau paham posisimu."
Andrey menekan tombol di laptop. Layar televisi menganga
Dan aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti total.
Video.
Video ayah dan ibu.
Mereka duduk di kursi. Tangan terikat di belakang. Mulut tidak dibungkam tapi wajah mereka pucat. Mata merah seperti habis menangis.
Di belakang mereka berdiri dua orang berjas hitam dengan senjata di tangan.
"Tidak..." bisikku. "Tidak... tidak... ini tidak mungkin..."
"Oh, ini sangat mungkin," balas Leonardo dengan nada tenang. Terlalu tenang. "Mereka ada di Jakarta. Di sebuah gudang milik salah satu koneksi ku. Aman. Untuk sementara."
Di layar, ayah menatap kamera. Bibirnya bergetar.
"Nadira..." suaranya pelan. Gemetar. "Nadira, kalau kau lihat ini... kumohon... kumohon turuti apa kata dia... jangan... jangan buat masalah..."
Ibu menangis. Bahunya bergetar hebat. "Sayang... maafkan kami... maafkan ibu dan ayah... ini semua salah kami... kami yang buat kau harus..."
"CUKUP!" teriakku. Aku tidak tahan lagi. "Matikan! Matikan videonya!"
Tapi Leonardo malah memberi isyarat pada Andrey. Video terus berjalan keraskan volume.
Salah satu pria berjas mendekat ke ayah. Menodongkan pistol ke kepalanya.
"TIDAK!" aku melompat dari sofa. Tapi Leonardo menahanku. Tangannya menggenggam lenganku dengan kuat.
"Tonton," bisiknya di telingaku. "Tonton baik-baik apa yang bisa terjadi kalau kau tidak dengar aku."
Di layar, pria itu menekan pistol lebih dalam ke kepala ayah. Ayah memejamkan mata. Bersiap mati.
Ibu menjerit. "JANGAN! KUMOHON JANGAN!"
Lalu video berhenti.
Freeze di momen itu.
Pistol di kepala ayah. Ibu yang menjerit. Dua detik sebelum eksekusi.
Aku jatuh berlutut. Kaki ku tidak kuat lagi menopang tubuh.
"Lepaskan mereka..." aku memohon sambil menangis. "Kumohon... lepaskan mereka... mereka tidak salah apa-apa... ini semua salahku... bunuh aku saja... kumohon jangan sakiti mereka..."
Leonardo berjongkok di depanku. Tangannya mengangkat daguku dengan paksa. Memaksaku menatap matanya.
"Aku tidak mau bunuh kau," ucapnya pelan. "Dan aku juga tidak mau bunuh mereka. Tapi itu semua tergantung padamu."
"Apa... apapun... aku akan lakukan apapun..."
"Bagus." Dia tersenyum tipis. "Yang pertama. Putuskan semua kontak dengan Arman Prasetya. Kalau dia hubungi kau lagi, kau abaikan. Kalau dia kirim pesan lagi, kau hapus tanpa baca. Kalau dia coba apapun untuk hubungi kau, kau laporkan padaku. Mengerti?"
Aku mengangguk sambil terisak.
"Kedua," lanjutnya. "Kau akan berhenti mencoba kabur. Berhenti berencana. Berhenti berharap. Karena tidak ada jalan keluar. Tidak ada penyelamat. Hanya ada aku. Dan kau. Selamanya."
"Ya... ya aku mengerti..."
"Ketiga," suaranya turun lebih rendah. "Kau akan mulai bersikap seperti istri yang sebenarnya. Bukan seperti tawanan. Kau akan tersenyum saat aku minta. Bicara saat aku minta. Menemani aku saat aku minta. Dan yang paling penting..."
Tangannya bergerak ke leherku. Mengusap dengan lembut tapi aku tahu ada ancaman di balik belaian itu.
"Kau akan berhenti membenciku," bisiknya. "Atau setidaknya, kau akan berpura-pura tidak benci. Karena kebencian itu... itu yang membuat semuanya jadi rumit."
Aku tidak bisa berhenti menangis. Tidak bisa berhenti gemetar.
"Aku... aku tidak bisa... aku tidak bisa berpura-pura..."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
Aku tersentak. Jatuh ke samping. Pipi ku panas. Perih.
Leonardo tidak pernah memukulku sebelumnya. Tidak pernah.
Tapi sekarang...
"KAU BISA!" teriaknya. Amarahnya muncul lagi. "Kau akan bisa! Karena kalau kau tidak bisa, aku tekan tombol ini..."
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menunjukkan layar yang menampilkan aplikasi panggilan video. Kontak bernama "Jakarta Team 1."
"Dan dalam lima detik, ayahmu mati. Peluru di kepalanya. Lalu ibumu. Lalu semua orang yang pernah kau kenal. Satu per satu. Sampai kau paham bahwa aku tidak main-main."
Tangannya bergerak ke tombol panggilan. Jarinya siap menekan.
"JANGAN!" aku meraih tangannya. Mencengkeram dengan putus asa. "Jangan... kumohon jangan... aku... aku akan lakukan... aku akan lakukan semuanya... aku janji... kumohon jangan sakiti mereka..."
Leonardo menatapku lama. Lalu dia menurunkan ponselnya.
"Bagus," ucapnya sambil menyimpan ponsel kembali. "Ini yang aku mau dengar sejak awal."
Dia berdiri. Menatapku yang masih berlutut di lantai dengan pipi merah bekas tamparan.
"Sekarang, aku kasih kau pilihan sederhana," lanjutnya dengan nada yang kembali tenang. Tenang yang mengerikan. "Aku atau mereka. Kau bisa memilih untuk tetap melawan aku, tetap berharap kabur, tetap kontak dengan pria bodoh itu. Dan konsekuensinya adalah ayah dan ibumu mati."
Dia berhenti sejenak. Membiarkan kata-katanya meresap.
"Atau," dia melanjutkan. "Kau bisa memilih untuk menerima takdirmu. Menerima bahwa kau sekarang Nyonya Valerio. Istriku. Milikku. Dan sebagai gantinya, aku lepaskan orang tuamu. Aku biarkan mereka hidup tenang dengan uang yang cukup untuk sisa hidup mereka. Tanpa ancaman. Tanpa bahaya."
Dia berjongkok lagi di depanku. Tangan nya menyentuh pipi ku yang masih perih.
"Jadi," bisiknya. "Apa pilihanmu, sayang?"
Aku menatapnya lewat air mata yang tidak berhenti mengalir.
Ini bukan pilihan.
Ini ultimatum.
Ini... ini pembunuhan jiwa secara perlahan.
Tapi apa yang bisa kulakukan?
Kalau aku pilih melawan, ayah dan ibu mati.
Kalau aku pilih menyerah... aku yang mati. Bukan secara fisik. Tapi secara mental. Emosional. Spiritual.
Aku akan jadi boneka hidup yang bernapas tapi tidak punya jiwa.
Tapi setidaknya... setidaknya ayah dan ibu selamat.
Setidaknya mereka bisa hidup.
Walau aku harus mati dari dalam.
"Aku..." suaraku serak. Hampir tidak keluar. "Aku pilih... aku pilih mereka..."
Leonardo tersenyum. Senyum kemenangan.
"Itu artinya?"
"Aku... aku akan... aku akan berhenti melawan..." setiap kata terasa seperti menikam diriku sendiri. "Aku akan... jadi istri yang... yang kau mau..."
"Dan?"
"Dan aku... aku akan putuskan kontak dengan... dengan Arman..."
"Bagus." Dia mengusap air mataku dengan ibu jari. "Lihat? Tidak susah, kan? Kalau kau dari awal mau dengerin, semua ini tidak perlu terjadi."
Dia berdiri. Memberi isyarat pada Andrey.
Andrey mengetik sesuatu di laptopnya. Lalu menunjukkan layar pada Leonardo.
Leonardo mengangguk. Lalu menatapku.
"Aku baru saja kirim perintah untuk lepaskan orang tuamu," ucapnya. "Tapi mereka tidak akan langsung pulang ke rumah. Mereka akan dipindahkan ke tempat aman. Tempat yang akan aku pantau. Sebagai... jaminan."
Jaminan. Sandera dengan nama lain.
"Selama kau patuh, mereka aman," lanjut Leonardo. "Selama kau jadi istri yang baik, mereka akan hidup dengan nyaman. Tapi kalau kau coba sesuatu yang bodoh lagi..."
Dia tidak perlu selesaikan kalimatnya.
Aku sudah paham.
Ayah dan ibu sekarang jadi senjata terbesarnya untuk mengontrolku.
Aku tidak punya pilihan lagi.
Sama sekali tidak.
Leonardo mengulurkan tangannya padaku. "Sekarang berdiri. Bersihkan air matamu. Dan tersenyum."
Aku menatap tangannya. Tangan yang sudah membunuh entah berapa orang. Tangan yang baru saja menampar pipiku. Tangan yang menggenggam kehidupan orang-orang yang kusayangi.
Tapi aku tidak punya pilihan.
Aku meraih tangannya. Dia menarikku berdiri.
"Tersenyum," ulangnya.
Aku mencoba tersenyum. Tapi yang keluar cuma lengkungan bibir yang kaku dan dipaksa.
"Lebih natural," perintahnya sambil mengusap pipiku. "Bayangkan kau sedang bahagia. Bayangkan kau mencintaiku."
Mencintai monster.
Bagaimana aku bisa bayangkan itu?
Tapi aku coba. Aku paksa otot wajahku untuk tersenyum lebih lebar. Lebih... hidup.
Leonardo menatapku lama. Lalu dia tersenyum puas.
"Bagus," ucapnya sambil mencium keningku. "Ini yang aku mau. Istri yang cantik. Yang patuh. Yang tidak akan kemana-mana."
Dia memelukku. Pelukan yang seharusnya hangat tapi terasa seperti jerat yang mengencang.
"Sekarang kita mulai lagi," bisiknya di telingaku. "Mulai dengan bersih. Kau Nyonya Valerio. Istriku. Dan aku akan tunjukkan pada dunia betapa sempurnanya kau di sisiku."
Aku berdiri di sana. Dipeluk oleh monster yang menghancurkan hidupku sambil bilang dia mencintaiku.
Dan yang paling menyedihkan adalah...
Aku tidak bisa lakukan apa-apa.
Tidak bisa melawan.
Tidak bisa kabur.
Tidak bisa berharap.
Karena setiap perlawanan berarti kematian buat orang-orang yang kusayangi.
Jadi aku hanya bisa berdiri di sana.
Dipeluk.
Dikontrol.
Dihancurkan perlahan dari dalam.
Sambil tersenyum.
Sambil berpura-pura.
Sambil mati sedikit demi sedikit setiap harinya.
Ini bukan hidup.
Ini bertahan.
Bertahan dalam neraka yang tidak punya pintu keluar.
Bertahan dengan harapan yang sudah mati tapi tubuh yang masih dipaksa bernapas.
Bertahan sebagai boneka yang punya detak jantung tapi tidak punya jiwa lagi.
Dan Leonardo...
Leonardo akhirnya mendapat apa yang dia mau sejak awal.
Kepemilikan total.
Kontrol absolut.
Istrinya yang tidak akan pernah kemana-mana.
Karena dia tidak cuma mengurung tubuhku.
Dia mengurung semua yang kusayangi.
Dan dengan begitu, dia mengurung jiwaku untuk selamanya.