“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Om kenapa diam saja? Cepat katakan, Om setuju tidak dengan syarat saya?"
Cahaya menatap Jeremy dengan mata yang masih sedikit sembab.
Meskipun tubuhnya masih lemas di atas ranjang, bibirnya sudah mulai bisa mengeluarkan senjata andalannya, mengomel.
Jeremy menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Om!" rengek Cahaya.
"Iya, iya! Aku setuju! Puas kau?"
"Apapun yang saya minta, Om nggak boleh nolak?" ucap Cahaya lagi, ia memastikan tidak ada celah bagi pria kaku di depannya ini untuk mangkir dan berbohong.
"Iya, Nona Cerewet. Selama itu tidak membuat perusahaanku bangkrut dan tidak menyuruhku menari balet di tengah alun-alun Milan, akan aku penuhi!" gerutu Jeremy dengan wajah ditekuk.
Ingin rasanya Jeremy berteriak, bahkan memukul samsak tinju saat ini. Jeremy menyesal, kenapa juga dia harus berucap seperti itu tadi?
"Bibir bodoh! Harusnya kau tidak kelepaskan!" Jeremy memaki dirinya sendiri dalam hati.
Cahaya tersenyum lebar, senyum pertama yang terlihat sangat tulus sejak ia pingsan tadi. Ia mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil ke arah Jeremy.
"Kalau begitu, janji kelingking dulu."
Jeremy menaikkan satu alisnya, menatap jari itu seolah-olah itu adalah benda purbakala yang aneh.
"Untuk apa jarimu itu? Kau mau aku menariknya sampai patah?"
"Iiiih! Tautkan jari Om di sini juga! Ini namanya janji suci. Di Indonesia, kalau sudah begini artinya tidak boleh diingkari," paksa Cahaya, ia menggoyang-goyangkan kelingkingnya seperti cacing di depan hidung Jeremy.
"Cih! Kau benar-benar mirip bocah. Elio saja tidak sekekanak-kanakan ini," cibir Jeremy. Namun, meski mulutnya mengomel, tangan besarnya tetap bergerak pelan, menautkan kelingkingnya yang kokoh ke kelingking Cahaya yang rapuh.
"Om sudah janji! Awas saja sampai Om mengingkarinya, saya sumpahin Om bakal ketiban sial seumur hidup! Saham Om anjlok, mobil Om mogok, dan Om bakal jomblo selamanya!" ancam Cahaya dengan sungguh-sungguh.
"Kau menyumpahiku?! Setelah aku menyelamatkanmu dari pingsan konyolmu itu?" Jeremy melotot, merasa tidak percaya ada orang yang berani menyumpahinya tepat di depan wajahnya.
"Ya makanya jangan coba-coba ingkar!" balas Cahaya tak mau kalah.
Tok tok!
Jeremy buru-buru menarik jarinya saat mendengar suara pintu diketuk. Martha masuk membawa senampan sup ayam hangat yang aromanya langsung memenuhi ruangan.
"Tuan, ini supnya sudah siap. Biar saya saja yang menyuapi Nona Cahaya, sepertinya Tuan harus istirahat," ucap Martha dengan nada sopan.
"Tidak usah!" sahut Jeremy cepat. Ia menyambar mangkuk sup itu dari nampan Martha dengan gerakan cekatan. "Biar aku saja. Kau pergi saja urus yang lain."
Martha mematung di tempat, matanya berkedip berkali-kali menatap tuannya.
"Tuan... anda mau menyuapi sendiri?"
"Memangnya aku kelihatan seperti mau mandi pakai sup ini? Cepat keluar, Martha!" usir Jeremy, wajahnya mendadak kikuk.
Martha mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia tertawa geli. Tuannya benar-benar sudah kesambet roh cinta sepertinya, batin Martha sebelum menutup pintu dengan rapat.
"Ayo, buka mulutmu. Jangan sampai sup ini dingin sebelum sampai perutmu," perintah Jeremy sambil mengaduk sup itu dengan canggung. Ia meniup sesendok sup dengan kaku
Ya, sebuah pemandangan yang sangat tidak cocok dengan citra dinginnya, yang biasanya memegang dokumen miliaran dolar.
"Pelan-pelan, Om! Panas!" protes Cahaya saat Jeremy menyodorkan sendok terlalu cepat.
"Cerewet sekali. Ini sudah ditiup! Kau ini pingsan karena kurang gizi atau kurang perhatian sih sebenarnya?" omel Jeremy, tapi tangannya tetap bergerak telaten meniup kembali sup itu sebelum diarahkan ke mulut Cahaya.
"Dua-duanya! Puas?" Cahaya menerima suapan itu, matanya menatap Jeremy yang sedang berkonsentrasi penuh pada mangkuk sup.
Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, lebih hangat daripada sup yang Cahaya makan.
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, seorang bocah kecil berdiri dengan piyama dinosaurusnya. Elio terbangun karena haus, tapi langkahnya terhenti saat melihat cahaya lampu keluar dari kamar Daddy-nya.
Elio mengintip lewat celah kecil pintu. Mata Elio berbinar saat melihat Daddy-nya sedang duduk di tepi ranjang, menyuapi Cahaya dengan sabar. Ia melihat Daddy-nya yang biasanya kaku, kini sesekali mengelap sudut bibir Cahaya dengan tisu.
Elio tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. Ia tidak jadi masuk, ia lebih memilih bersandar di tembok koridor sambil memeluk bonekanya erat-erat.
“Terima kasih, Tuhan... akhirnya daddy nggak galak lagi dan sebentar lagi Lio bakalan punya mommy yang cantik,” bisik Elio dalam hati dengan penuh kebahagiaan.
Bagi Elio, pemandangan di dalam kamar itu jauh lebih indah daripada kembang api tahun baru.
Ia kembali ke kamarnya dengan langkah riang, siap bermimpi tentang liburan bertiga yang dijanjikan Cahaya tadi.
Sementara itu di dalam kamar, perdebatan masih berlanjut.
"Om, mau satu suapan lagi tapi ayamnya yang banyak!"
"Kau ini ngelunjak ya? Makan saja apa yang ada di sendok ini!"
"Om kan sudah janji tadi! Kelingking! Inget kelingking!"
Jeremy mendengus pasrah sembari mencari potongan ayam di dalam mangkuk.
"Sial! Aku benar-benar baru saja menandatangani kontrak paling merugikan dalam sejarah hidupku," gumamnya.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭