Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Arka si Agen Ganda
"Hahaha! Gila, gercep banget si Dokter. Emang laki-laki sejati!"
Suara tawa Arka yang menggelegar memenuhi ruang tengah penthouse. Remaja tujuh belas tahun itu sedang berguling-guling di sofa kulit buatan Italia seharga ratusan juta seolah itu adalah kasur kosan. Kakinya menendang-nendang udara saking girangnya, matanya tidak lepas dari layar ponsel.
Alea, yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah yang jauh lebih segar berkat istirahat total semalam, langsung mengernyitkan dahi. Efek sup ayam dan "ciuman kening" misterius dari Rigel semalam memang ampuh. Demamnya turun drastis, tapi mood-nya pagi ini langsung terganggu oleh suara berisik adiknya.
"Arka! Pagi-pagi udah kayak orang kesurupan!" tegur Alea sambil melipat tangan di dada. Dia mengenakan piyama sutra maroon, rambut panjangnya diikat asal namun tetap terlihat elegan. "Lo ngapain ketawa sendiri? Obat lo abis?"
Arka terlonjak kaget. Dengan gerakan refleks yang mencurigakan, dia langsung menyembunyikan ponselnya ke balik bantal sofa.
"Eh, Kak Al! Udah bangun, Tuan Putri?" sapa Arka dengan cengiran lebar yang terlalu manis. "Gimana? Udah sembuh? Udah nggak pusing? Atau malah pusing mikirin... ehem... tamu tak diundang semalam?"
Pipi Alea memanas sekilas mengingat kejadian semalam. Sentuhan tangan Rigel di keningnya masih terasa nyata. Tapi gengsinya sebagai Ratu Saham menolak untuk mengakui itu di depan adiknya yang bermulut ember.
"Biasa aja. Gue sembuh karena imun gue kuat, bukan karena tamu siapa tuh namanya," elak Alea sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. "Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo chatting sama siapa sebahagia itu? Pacar baru? Atau lo lagi judi bola? Ngaku sama Kakak."
"Fitnah! Gue anak sholeh, Kak. Ini lagi bahas... tugas kelompok. Biasa, proyek pelajar," jawab Arka asal.
Mata Alea menyipit. Insting detektifnya menyala. "Tugas kelompok kok ketawanya kayak om-om dapet lotre? Siniin HP lo."
"Dih? Kepo amat. Privasi, Kak! Pelanggaran HAM!" Arka mendekap bantal itu erat-erat.
"Arka Adijaya Ardiman," panggil Alea dengan nada rendah yang mengandung ancaman pemblokiran kartu kredit. "Siniin. Atau gue telepon Papa bilang lo bolos kuliah minggu lalu."
Wajah Arka pucat. "Ah, mainnya lapor Papa! Curang!"
Memanfaatkan momen kelengahan Arka, Alea menerjang maju. Dengan gerakan cepat warisan latihan karate semasa SD, dia menyambar ponsel dari balik bantal sebelum Arka sempat menguncinya.
Hap!
"Dapet!" seru Alea penuh kemenangan.
Dia langsung menatap layar ponsel yang masih menyala. Aplikasi WhatsApp terbuka lebar.
Mata Alea membelalak saat membaca nama kontak yang sedang bertukar pesan dengan adiknya.
Dokter Ipar (Rigel)
Darah Alea mendidih seketika.
"ARKA! Apa-apaan nama kontak ini?!" pekik Alea, menunjuk layar ponsel tepat ke muka adiknya. "'Dokter Ipar'? Sejak kapan gue setuju lo iparan sama dia?!"
Arka nyengir tanpa dosa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya kan namanya usaha, Kak. Manifesting itu penting. Siapa tau doa gue dikabulin Tuhan."
"Lo jual info gue ke dia, kan?! Ngaku!" tuduh Alea. Jarinya dengan cepat men-scroll layar ke atas. "Gue mau baca! Lo pasti laporin semua kegiatan gue ke dia! Lo mata-mata ya?!"
"Eits! Jangan!" Arka panik. Dia melompat, mencoba merebut ponselnya kembali.
Tapi Alea lebih gesit. Dia membalikkan badan, melindungi ponsel itu.
"Diem! Gue mau baca!" Alea menekan layar.
Namun, sebelum mata Alea sempat membaca satu kalimat pun, layar ponsel itu berkedip. Arka menekan tombol lock dan volume bersamaan dari samping saat berebut tadi, memicu fitur penghapusan pesan otomatis yang sudah dia setting untuk keadaan darurat.
Layar menjadi hitam, lalu menyala lagi.
Chat with Dokter Ipar (Rigel) cleared.
Alea melongo menatap layar kosong itu.
"Lo hapus?!" teriak Alea frustrasi. "Arka! Lo bener-bener sekongkol sama Dokter Kulkas itu!"
Arka menghela napas lega, lalu merebut kembali ponselnya dengan santai. "Udah, Kak. Nggak ada yang perlu dibaca kok. Orang isinya biasa aja."
"Biasa aja apanya?! Lo pasti ngomongin gue!"
"Geer banget sih, Kak," Arka memutar bola matanya, mulai melancarkan taktik provokasi level dewa. Dia duduk kembali di sofa, membuka toples keripik kentang. "Dokter Rigel tuh nggak nanyain Kakak. Dia nanyain orang lain."
Alea terdiam. Alisnya bertaut. "Orang lain? Maksud lo?"
"Iya. Tadi tuh dia curhat. Minta saran sama gue. Kan gue playboy berkualitas, jadi dia berguru cara deketin cewek."
"Siapa ceweknya?" tanya Alea cepat. Jantungnya berdegup tidak enak. Ada rasa nyeri yang aneh, bukan di lambung, tapi di ulu hati.
Arka mengunyah keripik dengan dramatis sebelum menjawab.
"Namanya Suster Citra."
"Hah?"
"Suster Citra. Itu lho, perawat senior di poli bedah saraf tempat dia kerja," Arka mengarang bebas dengan wajah sangat meyakinkan. "Cantik banget, Kak. Sumpah. Putih, tinggi, terus suaranya... beuh, lembut kayak kapas. Kalau ngomong kayak lagi nyanyi ninabobo."
Arka melirik kakaknya. Wajah Alea mulai berubah warna. Dari pucat menjadi merah padam. Rahangnya mengeras.
"Terus?" tanya Alea dingin.
"Ya gitu. Dokter Rigel bilang, Suster Citra itu tipe idealnya banget. Penurut, nggak banyak protes, pinter masak, dan yang paling penting..." Arka memberi jeda untuk efek dramatis. "...nggak bossy. Nggak kayak Kakak yang dikit-dikit ngancem mau beli rumah sakit atau mecatin orang."
Jleb.
Alea merasa ada batu besar menghantam dadanya.
"Bohong," sanggah Alea, suaranya bergetar. "Semalam dia... dia ngerawat gue. Dia masakin gue. Dia..." Dia cium kening gue! Alea menelan kalimat terakhir itu kembali ke tenggorokan.
"Ya itu kan kewajiban dokter, Kak. Professional service. Sumpah profesi," potong Arka enteng. "Jangan baper ah. Dokter Rigel itu orangnya emang tanggung jawab. Tapi kalau soal hati? Dia bilang Suster Citra itu 'rumah' banget buat dia."
Alea mengepalkan tangannya di samping tubuh. Kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa cemburu membakar akal sehatnya. Rasanya panas, sesak, dan ingin meledak.
Bayangan Rigel tersenyum manis pada wanita lain—wanita yang "lemah lembut" dan "penurut"—membuat darah Ratu Saham mendidih. Dia tidak pernah kalah dalam bidding saham, dan dia tidak terima kalah dalam urusan ini. Apalagi kalah dari seseorang yang cuma modal "nurut".
"Emang secantik apa sih susternya?!" semprot Alea tiba-tiba, suaranya naik satu oktaf.
Arka menahan tawa mati-matian. Umpannya dimakan mentah-mentah.
"Wah, spek bidadari turun dari kayangan, Kak. Kalau dia lewat di lorong RS, pasien koma aja bisa bangun buat siul. Kakak mah lewat."
"Kurang ajar!"
Alea menyambar bantal sofa dan memukulkannya ke kepala Arka bertubi-tubi.
"Lo bohong kan?! Lo pasti bohong! Nggak mungkin selera Dokter Kulkas itu serendah itu! Dia butuh cewek yang setara! Yang pinter! Yang bisa baca grafik saham!"
Alea berhenti memukul, napasnya memburu. Matanya berkilat marah, tapi ada genangan air di pelupuknya. Dia menatap Arka dengan tatapan mematikan.
"Suster mana?! Tunjukin fotonya sekarang! Gue mau liat! Lebih cantik dari gue?!" teriak Alea histeris, harga dirinya sebagai wanita tercantik di lingkup bisnis Jakarta terusik hebat. "Cari fotonya, Arka! Gue mau scan mukanya! Berani-beraninya dia nikung gue!"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....