"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pasar Gelap Tinta
Kota Qing-He tidak menyambut mereka dengan kemegahan. Bagi Guiren, kota itu adalah labirin kebisingan, derap ribuan kaki, teriakan pedagang asongan yang saling tumpang tindih, dan aroma tajam dari parit-parit pembuangan yang membusuk.
Di sudut gang yang sempit, tidak jauh dari keriuhan pasar bawah, Guiren duduk bersandar pada dinding bata yang lembap. Di pangkuannya, kepala Xiaolian terasa seperti bongkahan batu panas. Napas gadis itu berat, tersengal-sengal di antara batuk yang kering. Demam akibat perjalanan panjang dan malam-malam tanpa perlindungan telah mulai menggerogoti tubuhnya yang kecil.
"Kakak... dingin," bisik Xiaolian, jemarinya yang pucat mencengkeram kain jubah Guiren yang usang.
Guiren tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya merapatkan dekapannya, meski ia tahu panas tubuhnya sendiri tidak cukup untuk mengusir flu yang bersarang di dada adiknya. Ia meraba sisa koin tembaga di sakunya. Kosong. Koin perak dari Paviliun Yama masih ada di sana, namun menggunakannya di kota seperti ini sama saja dengan menyalakan suar bagi para pemburu.
Ia butuh uang. Dan ia butuh itu sebelum matahari terbenam.
Guiren meraba tabung bambu yang ia bawa dari tebing. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas kasar yang menguning dan sisa arang yang ia simpan. Ia tidak memiliki tinta yang layak, maka ia menggunakan sisa air hujan dari tempayan rusak di dekatnya untuk mencairkan arang tersebut.
Ia mulai melukis.
Ia tidak melukis bunga persik. Ia tidak melukis gerbang desa. Kali ini, ia membiarkan tangannya dipandu oleh rasa perih di perutnya, oleh bayangan tubuh ayahnya-ibunya yang dingin, dan oleh panas demam yang membakar Xiaolian. Ia menuangkan segala abu kebakaran Liu-Shu ke atas kertas itu.
Lukisan itu sederhana, hanya sebuah figur manusia tanpa wajah yang duduk bersimpuh di bawah pohon mati yang dahannya melilit seperti jeratan leher. Tidak ada estetika di sana. Hanya ada garis-garis hitam yang tampak bergerak-gerak seperti cacing tanah, menyerap cahaya di sekitarnya.
Guiren menaruh kertas itu di atas tanah, di depannya. Ia menunggu dalam kegelapan batinnya.
Beberapa jam berlalu. Orang-orang lewat dengan terburu-buru, sesekali melemparkan pandangan jijik pada dua pengemis di sudut gang. Hingga akhirnya, langkah kaki seseorang terhenti.
"Lukisan yang aneh," sebuah suara berat bergumam. Energinya terasa seperti hijau kusam, seorang pria paruh baya, mungkin seorang juru tulis atau kolektor barang antik kelas rendah yang sedang mencari peruntungan di pasar gelap.
"Berapa harganya?" tanya pria itu.
"Cukup untuk obat flu dan satu malam di penginapan," jawab Guiren datar.
Pria itu berjongkok, tangannya hendak menyentuh permukaan kertas. Begitu ujung jarinya mendekati garis arang itu, ia tersentak sejenak. Ia merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk sumsum tulangnya. Ada kesedihan yang tak masuk akal mulai merayap di dadanya, seolah-olah ia baru saja teringat akan kegagalan-kegagalan terburuk dalam hidupnya.
"Seni yang... mengganggu," bisik pria itu, suaranya sedikit bergetar. Namun, ada ketertarikan yang tidak sehat di matanya. Ia merogoh kantongnya dan menjatuhkan beberapa keping perak kecil ke telapak tangan Guiren. "Ambil ini. Jangan katakan pada siapa pun kau mendapatkannya dariku."
Pria itu menggulung kertas itu dengan cepat dan pergi dengan langkah tergesa-gesa, seolah takut lukisan itu akan bicara padanya.
Guiren tidak tahu bahwa malam itu, sang pembeli tidak akan bisa tidur. Pria itu akan terjaga dalam gelap, melihat bayangan pohon mati di langit-langit kamarnya, merasakan keputusasaan murni yang bukan miliknya meremas jantungnya hingga ia menangis tanpa sebab. Lukisan itu bukan sekadar gambar, itu adalah sepotong jiwa Guiren yang terkoyak, yang membawa beban Hukum Kesedihan yang mulai mekar.
Dengan tangan yang gemetar karena letih, Guiren mengumpulkan uang perak itu.
Langkah pertamanya adalah menuju toko obat di ujung jalan. Ia membeli bungkusan rempah pahit dan madu murah. Kemudian, ia memapah Xiaolian menuju sebuah penginapan yang dindingnya penuh retakan, namun setidaknya memiliki atap dan dipan jerami yang kering.
Di dalam kamar yang sempit dan berbau apek, Guiren menyuapkan air hangat ke bibir Xiaolian.
"Minumlah. Kau akan sembuh," bisik Guiren.
Xiaolian menelan obat itu dengan susah payah, matanya yang sayu menatap kakaknya. "Dari mana... Kakak dapat uang?"
"Menjual sesuatu yang tidak berharga," jawab Guiren pelan.
Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu kayu yang lapuk. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari lukisannya masih menempel di ujung jarinya, rasa pahit yang kini menjadi komoditas. Ia telah menjual kesedihannya untuk membeli nyawa, dan ia tahu, ini hanyalah permulaan.
Dunia Qing-He sangat besar, dan ia hanyalah bintik tinta kecil di atas kanvas yang luas. Namun, bintik itu mulai menyebar, meninggalkan noda yang tidak akan bisa dihapus oleh siapa pun.
Jauh di sisi lain kota, di sebuah kediaman yang harum akan aroma cendana, seseorang mulai merasakan riak energi yang aneh dari arah pasar bawah. Sesuatu yang sangat murni, namun sangat gelap.
Guiren memejamkan matanya, mendengarkan napas Xiaolian yang mulai teratur. Ia telah bertahan hidup satu hari lagi, namun ia tahu, lukisan "Keputusasaan" itu akan segera membawanya pada pertemuan yang tidak bisa ia hindari.