NovelToon NovelToon
Jejak Sang Raja Legenda Prabu Munding

Jejak Sang Raja Legenda Prabu Munding

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Spiritual / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: lintang88

Tidak semua raja menaklukkan dunia dengan pedang .
Sebagian cukup hanya dengan meninggalkan jejak pedang nya.
Nama Prabu Munding Jayananta mencuat melebihi puncak gunung.
Di jaman para raja berkuasa,nama itu membuat darah bergejolak.
Para raja datang ke hadapan nya , ada yang menantang banyak pula yang memohon perlindungan.
Jejak Sang Raja adalah kisah tentang penaklukkan dengan sedikit perang, bagaimana kekuatan di tangan orang yang tepat membawa keberkahan.
Kekuatan yang menjadi legenda tanpa diminta. sebab Legenda itu adalah keyakinan...
Jejak sang raja juga seri ke tiga, lanjutan dari 2 kisah sebelumnya ;

Tahta berdarah sang pangeran

Pendekar mesum berambut perak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lintang88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Bolo Dewe

Hari masih gelap, jauh dari terang

Serombongan orang, setidak nya ada lebih dari lima puluhan orang yang terdiri dari lelaki perempuan berbagai usia bahkan ada banyak anak anak berjalan perlahan menyusuri jalan pinggiran sungai.

Arah mereka berjalan melawan arus sungai, mereka pergi ke arah hulu.

Mereka adalah penduduk kampung Wates yang tengah melarikan diri.

Kondisi gelap ditambah banyak dari rombongan ini anak anak dan orang tua renta membuat mereka berjalan sangat lambat

 6 orang prajurit Dolopo yang sedang mencari-cari prajurit Gumarang melihat rombongan ini, dengan cepat mereka berlari mengejar.

" Berhenti.....!! "

Rombongan ini terpaksa berhenti, Parwati mencari sudut tergelap, tangan nya di pinggang, dia bersiap menghunus golok nya.

Jika ke adaan memaksa, dia siap membunuh 6 prajurit itu.

" kalian warga kampung Wates , kenapa kalian lari ??"

" kami takut terjadi perang tuan, kami hanya warga kampung biasa .."

Para prajurit itu mengamati mereka satu persatu, memeriksa dengan cermat wajah wajah dan tampang mereka .

 Parwati sudah bersembunyi, mudah baginya menyembunyikan diri dari pengamatan 6 prajurit ini,

Matanya tajam mengawasi setiap gerakan prajurit Dolopo

Jika para prajurit ini melakukan hal buruk terhadap warga kampung nya, Parwati siap mengirim mereka ke alam baka.

" Sebaiknya kalian ikut kami terlebih dahulu, kami sedang melakukan pengejaran,harap kalian maklum, biar nanti komandan kami yang memutuskan.."

Penduduk kampung saling berpandangan, darja yang sudah bergabung dengan warganya maju ke depan

" aih.. bagaimana ya..kami benar benar takut tuan...bisakah kalian lepaskan kami saja??"

" aduh.... bukannya kami tidak mau.. kami hanya prajurit, tolong kalian mengerti...!"

Penduduk masih tak bergerak, prajurit Dolopo kelihatan sudah hilang sabar,

Dari kegelapan Parwati sedang memikirkan cara bagaimana mengatasi para prajurit itu, ketika secara tidak sengaja dia melihat tanda yang dikenakan para prajurit Dolopo.

" ahhh ..sialan...mereka aliansi majayan !! Ya sudahlah... menyerah saja dulu...!"

Parwati mengorek tanah basah, sedikit menyamar kan penampilan nya, mengendap ngendap dia masuk kembali dalam rombongan, dengan gerakan yang dibuat sehalus mungkin dia mempelopori bergerak, mengikuti arahan prajurit Dolopo yang sudah mulai kehilangan kesabaran.

" ayoo..jalan..jangan mempersulit kami .. .!!" Salah seorang prajurit sudah tidak sabar, secara kebetulan dia mendorong Parwati agar mau berjalan..

" I...iya ..kami jalan..." Parwati berkata ,dengan langkah dibuat terburu buru,dia sengaja menabrak tubuh darja

" Ikuti saja mau mereka, pecayalah...kita tidak akan kenapa napa paman.." bisik Parwati pada Dirja, paman sekaligus ketua kampung Wates ini.

Darja mengangguk pasrah, " kita kembali dulu...!" Teriak nya...

Pelarian orang orang kampung Wates gagal total, mereka digiring pulang prajurit dolopo.

Sementara itu di kampung Wates komandan pasukan Dolopo yang menunggu mulai tidak tenang, hari semakin malam, pasukan nya belum ada satupun yang pulang.

" Bunyikan tanda, tarik mereka pulang', hari semakin malam , takut nya malah akan terjebak...!!"

Menjelang tengah malam, semua orang yang di luar kampung Wates datang, termasuk rombongan darja.

Rombongan ini dihadapkan langsung pada komandan prajurit Dolopo,

Parwati terkejut sekaligus senang, dia mengenal komandan pasukan ini

" aihh..dia Sanjaya, masih bolo Dewe.." guman hati Parwati.

" Kalian semua boleh pulang , istirahat lah...besok , semua datang lagi berkumpul disini...ingat ..jangan bertindak ceroboh...atau terpaksa kami tindak tegas .!" seru komandan itu pada warga kampung Wates.

Setelah diminta pulang orang orang ini malah berkumpul dirumah darja,mereka tidak berani pulang,

Melihat hal itu Parwati kemudian berkata

" paman paman sekalian...turuti apa kata mereka , kalian pulang .. istirahat lah, tidak perlu khawatir berlebihan...

" aduh ..neng .. bagaimana jika besok kami...

Parwati langsung menyela tidak membiarkan orang itu melanjutkan bicara.

" aihhh paman... pikirkan ini, jika memang prajurit Dolopo ingin kita mati apakah mereka akan susah payah menggiring kita ke sini? di tepian sungai bukankah mereka bisa melakukan itu..??

Sudahlah paman paman...percaya saja, tidak akan terjadi apa apa dengan kalian ..!!"

Tak percuma Parwati menyandang jabatan komandan pasukan,ucapan nya lugas dan tegas dia berhasil menenangkan warga yang ketakutan.

Mereka membubarkan diri, mencoba istirahat selagi masih ada waktu.

Sementara Parwati malah sebaliknya, setelah membersihkan diri, Parwati keluar,dia menuju rumah yang dijadikan markas para prajurit Dolopo ini.

" berhenti...!!"

Dua penjaga menghadang, Parwati berdiri tenang, ketika penjaga datang, Parwati menyerahkan sebuah lencana.

" ahh... prajurit majayan !!...maaf siapakah nyai..ada keperluan apa ya tengah malam begini .?"

" saya Parwati...mohon di maafkan ada kepentingan mendesak, saya harus bertemu ketua Sanjaya secepatnya..."

Parwati membungkuk hormat, sekaligus memperlihatkan tanda gelang Bahar yang melingkar di tangan kanannya..

Kedua penjaga tentu saja melihat gelang itu, serta Merta mereka berlutut memberi hormat

" ketua Parwati...mohon dimaafkan...!"

Ya ... bangunlah...tolong sampaikan saja kedatangan saya pada ketua Sanjaya..

" Siapa yang datang mencari ku malam malam begini??"

Suara berat terdengar dari dalam rumah, tak lama seorang pria berbadan kekar keluar..

Orang inilah yang bernama Sanjaya

Dua prajurit penjaga berbalik badan, memberi salam..namun mereka tidak digubris, komandan mereka malah berlari...

" waduhh.... waduhh...ketua Parwati... salam ketua...!!"

Sanjaya memberi hormat militer pada Parwati, dia tentu saja kenal , di akademi Militer majayan, satu tahun penuh dia mendapat bimbingan dari Parwati , bisa dibilang Parwati itu gurunya.

Dua orang kemudian masuk ke dalam, berunding tentang orang orang kampung Wates ini

Berkat Parwati, akhirnya pada ke esokan harinya, penduduk kampung Wates di ijinkan pergi mengungsi.

Hingga setelah melakukan perjalanan tiga hari, tepat di siang menjelang sore mereka sudah sampai kampung Kaliabu.

" katanya kampung ini sudah kosong Ki?"

" Setahuku ya begitu ..terakhir ke sini ke adaan nya memang masih kosong ..kenapa jadi ada orang?? ada penguasa nya juga??

" sudahlah paman...kita tunggu dan lihat saja

Parwati menyela pembicaraan,

Ketika mereka sampai dan ingin masuk gerbang, mereka di hadang 2 orang pemuda.

Walau hanya dua orang pemuda, tidak ada sedikitpun rasa gentar , dengan berani mereka menghadang rombongan darja

Cekcok mulut sempat terjadi, 2 pemuda itu tidak mengijinkan warga kampung Wates masuk ,mereka berkata

" Maaf paman paman...kampung ini sudah ada yang punya, jika ingin tetap masuk, paman paman tunggu lah sebentar, tunggu kami melaporkan nya terlebih dahulu.

darja dan yang lain sempat tidak terima, namun Parwati menenangkan mereka semua.

" mohon tunggu sebentar, dan maaf pintu gerbang terpaksa kami tutup terlebih dahulu "

tak berbasa basi lagi, dua pemuda itu segera bertindak

" Krietttt...." gerbang kampung kaliabu pun tertutup ,

darja dan orang orang nya ingin mencegah, sekali lagi tindakan mereka itu di halangi Parwati , dengan tegas dia berkata

" Tenang paman, tenang ...kita tidak tau ada apa di dalam sana ..

Bagaimana jika penguasa kampung ini orang yang pemarah dan kuat, kan bisa jadi bahaya ...lebih baik tunggulah sebentar.."

Sebenarnya bukan hanya itu alasan Parwati mencegah darja bertindak gegabah, Sebagai prajurit elite dan seorang pendekar, walau samar , Parwati masih dapat merasakan aura berbahaya yang terpancar di kampung Kaliabu ini, bahkan aura itu sangat dia kenal ..!!

" aura ini seperti aura panglima Umbara...apakah kampung ini di jaga siluman harimau juga ya??"

" aishh... seandainya iya, semoga saja semua berjalan lancar ..!"

Parwati mendesah pelan sambil mengelus cincin kepala harimau di jari manisnya.

1
anggita
top lah... 👍
Lintang88: terimakasih suhu..🙏
total 1 replies
anggita
saran saja, tiap awal paragraf/alinea sebaiknya pakai huruf besar🙏
Lintang88: hatur nuhun saran nya..🙏
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan👍💪🙏
Batsa Pamungkas Surya
lnjiuuut
Lintang88: 👍 siappp..
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
siapakah yg akan menyelesaikan kekacauan ini..?
nantikan kisah selanjutnya pd episode yg akan datang
SAMPAI JUMPA.....
Lintang88: 😄😄..sabar ya .👍
total 1 replies
Rhaka Kelana
nah gitu dong jadi pemimpin harus tegas, berwibawa dan bijaksana jangan lembek serta mudah terpengaruh 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!