Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.13
Malam itu, bulan tertutup awan tebal, menciptakan kegelapan sempurna bagi mereka yang berniat jahat.
Shen Yu berdiri di kaki Puncak Herbal, mengenakan pakaian hitam ketat yang ia beli di pasar gelap. Wajahnya tertutup kain hitam, hanya menyisakan sepasang mata yang tajam dan waspada.
"Ambil Bunga Bulan Ungu yang mekar di Taman Roh Terlarang. Jangan tinggalkan jejak. Jangan gagal."
Perintah bayangan utusan Tetua Mo masih terngiang di telinganya.
Shen Yu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan mata sejenak, mengaktifkan mode "pendengaran" yang diajarkan Su Ling.
Dunia visual meredup, digantikan oleh peta suara.
Kresek... (Langkah kaki penjaga di sisi barat, jarak 50 meter). Huuu... (Angin bertiup di celah bebatuan timur). Guk... (Napas berat anjing penjaga di gerbang utama).
"Jalur timur aman," gumam Shen Yu.
Ia bergerak seperti hantu. Tubuhnya melesat di antara bayang-bayang pepohonan. Teknik langkah kakinya masih kasar, namun berkat Qi yang ia tekan seminimal mungkin dan bantuan pasif Giok Retak yang menyamarkan auranya ia berhasil menyusup melewati garis pertahanan pertama.
Taman Roh Terlarang terletak di dekat puncak, area khusus yang dialiri mata air spiritual alami.
Saat ia mendekati gerbang taman, seekor Anjing Roh Runcing (Spirit Spiked Dog) setinggi pinggang manusia tiba-tiba mengangkat kepalanya. Telinganya bergerak. Hidungnya mengendus bau asing.
Anjing itu membuka mulutnya, bersiap menyalak keras untuk memberi peringatan.
Sret!
Shen Yu melompat keluar dari semak. Sebelum suara keluar dari tenggorokan anjing itu, tangan Shen Yu sudah melesat.
Tinju Penghancur Batu.
Jari telunjuk dan tengah Shen Yu menusuk tepat di bawah leher anjing itu, di titik vital pita suaranya.
Tuk.
Suara yang terdengar hanya seperti ketukan jari di meja kayu.
Mata anjing itu melotot. Ia mencoba menggonggong, tapi tidak ada suara yang keluar. Pita suaranya telah hancur dari dalam.
Shen Yu tidak berhenti. Tangan kirinya menghantam batok kepala anjing itu dengan telapak terbuka. Gelombang Qi spiral merusak otak makhluk itu seketika.
Anjing itu ambruk tanpa suara. Mati.
Shen Yu menyeret bangkainya ke semak-semak. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja membunuh aset sekte. Tidak ada jalan kembali sekarang.
Ia melompati pagar taman. Aroma herbal yang sangat kuat langsung menyergap hidungnya. Di tengah taman yang dikelilingi bebatuan alam, terdapat sebuah kolam air panas yang memancarkan uap tebal.
Dan tepat di pinggir kolam itu, tumbuh setangkai bunga berwarna ungu neon yang berpendar indah di kegelapan.
Bunga Bulan Ungu.
"Itu dia," batin Shen Yu girang.
Ia mengendap-endap mendekat. Kabut dari kolam air panas sangat tebal, membatasi jarak pandang hingga hanya dua meter.
Shen Yu berjongkok di tepi kolam, tangannya terulur untuk mencabut bunga itu beserta akarnya.
Ciprat.
Suara air bergerak.
Tangan Shen Yu membeku di udara.
Itu bukan suara ikan. Itu suara seseorang yang bangkit dari dalam air.
Jantung Shen Yu berhenti berdetak. Sialan. Intelijen Tetua Mo sampah! Dia tidak bilang ada orang di sini!
Angin bertiup pelan, menyingkap sedikit tirai kabut.
Di tengah kolam, hanya berjarak lima langkah dari Shen Yu, berdiri seorang gadis.
Ia membelakangi Shen Yu. Punggungnya putih mulus bagaikan giok suci, rambut hitam panjangnya basah dan menempel di kulit, menjuntai hingga pinggang. Uap air menari-nari di sekitar bahunya yang ramping.
Shen Yu menahan napas sekuat tenaga. Ia mengenali aura dingin yang memancar dari gadis ini bahkan tanpa melihat wajahnya.
Gu Xian'er. Putri tunggal Ketua Sekte Awan Putih. Jenius dengan Akar Roh Es yang terkenal dingin dan kejam pada laki-laki. Tingkat kultivasinya? Setidaknya Pemurnian Qi Tahap 8.
Jika Shen Yu ketahuan, dia akan mati bukan karena aturan sekte, tapi karena dibekukan menjadi patung es.
Mundur. Aku harus mundur, teriak batin Shen Yu.
Tapi Bunga Bulan Ungu itu ada tepat di depan jarinya. Jika ia pulang tangan kosong, Tetua Mo yang akan membunuhnya.
Maju mati, mundur mati.
Shen Yu menggertakkan gigi. Ambil dan lari!
Dengan gerakan kilat, Shen Yu mencabut bunga itu dan memasukkannya ke dalam Kotak Giok Penyimpanan.
Krak.
Akar bunga itu patah dengan suara kecil.
Di keheningan malam, suara itu terdengar seperti ledakan petir.
Gu Xian'er berbalik seketika.
Wajahnya yang cantik namun sedingin glasier menatap langsung ke arah Shen Yu. Matanya membelalak kaget melihat sosok berpakaian hitam berjongkok di tepi kolam pribadinya.
Waktu seolah berhenti satu detik.
Shen Yu (mata melotot): "..." Gu Xian'er (wajah memerah karena marah dan malu): "..."
"MATI!!!"
Teriakan Gu Xian'er memecah langit malam.
Air kolam di sekitarnya meledak. Qi elemen Es yang mengerikan menyembur keluar dari tubuhnya. Uap air di udara seketika membeku menjadi ratusan jarum es yang tajam.
Wusss! Wusss! Wusss!
Jarum-jarum es itu melesat ke arah Shen Yu seperti hujan badai.
"Sial!"
Shen Yu berguling ke belakang dengan panik. Jarum-jarum es itu menancap di tanah tempat ia berjongkok tadi, membekukan rumput dan bebatuan seketika. Jika ia terlambat sedetik saja, ia sudah menjadi saringan daging beku.
Gu Xian'er melompat keluar dari air, jubah mandi putih melayang dan membungkus tubuhnya dalam sekejap mata. Tangannya membentuk segel tangan.
"Pencuri cabul! Jangan harap bisa lari!"
Sebuah Pedang Es raksasa terbentuk di atas kepalanya, memancarkan tekanan yang membuat Shen Yu merasa sesak napas. Perbedaan kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi.
Shen Yu tidak berpikir untuk melawan. Ia melempar bom asap (buatan pasar gelap) ke tanah.
Poof!
Asap hitam pekat meledak, menghalangi pandangan.
"Trik murahan!" dengus Gu Xian'er. Ia mengayunkan tangannya, dan Pedang Es itu menebas membelah asap.
BOOOM!
Tanah terbelah. Pohon-pohon tumbang. Tapi tidak ada mayat Shen Yu di sana.
Shen Yu sudah melompat ke jurang di sisi tebing, menggunakan pepohonan rimbun untuk mematahkan kejatuhannya. Ia meluncur turun dengan nekat, tubuhnya tergores ranting dan duri, tapi ia tidak peduli.
Di atas tebing, Gu Xian'er berdiri dengan napas memburu. Wajah cantiknya merah padam karena amarah yang meluap. Ia merasakan sisa aura pencuri itu. Aura yang lemah, tapi anehnya sulit dilacak.
"Lolos..." desisnya, tangannya meremas udara hingga membeku. "Siapapun kau... aku akan menemukanmu. Dan aku akan mencungkil matamu!"
Di dasar jurang, Shen Yu mendarat di tumpukan daun busuk dengan keras.
"Uhuk!"
Ia memuntahkan sedikit darah. Tulang rusuknya terasa retak akibat dampak tekanan Qi Gu Xian'er tadi. Tapi tangannya masih mencengkeram erat Kotak Giok berisi Bunga Bulan Ungu.
Ia tertawa kecil, tawa gila bercampur rasa syukur.
"Aku masih hidup," bisiknya. "Dan aku melihat... sesuatu yang seharusnya tidak kulihat."
Wajahnya memanas mengingat punggung giok itu, tapi ia segera menampar pipinya sendiri.
"Fokus, bodoh! Sekarang kau diburu oleh wanita paling berbahaya di sekte!"
Shen Yu segera bangkit, menelan pil penyembuh luka (buatan sendiri), dan berlari kembali ke asramanya melalui jalur tikus, berdoa semoga tidak ada yang melihatnya pulang dengan pakaian compang-camping.